
Setelah Aliza menjerit Al langsung mengangkat Aliza dan di pindahkan ke atas kasur untuk siap melakukan ritual indah pengantin baru
" Bismillahirrohmanirrohim.. allahumma jannibnas syaitona wajanibissyaitonaa ma rozaktanaa" Doa sama sama mereka ucapkan dengan hikmat dan
Otong kembali masuk gua kesayangannya, sekarang giliran Al yang bersuara, begitu juga dengan Aliza yang sudah lupa kehidupan pahit dunia, hanya saja kenikmatan surga dunia
Al makin bergerak maju mundur, dengan mengeluarkan suara yang menurut Zula cukup Horor bila mendengar
Sekarang keduanya sama sama mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa,
Hingga Al kembali terjatuh dan tertidur di sebelah Aliza
Mereka saling berpelukan dan sampai mimpi Indah menghampiri keduanya, hingga terlupa waktunya sarapan
Kini Semua anggota keluarganya pada sarapan di restoran hotel, tapi tinggal al dan Aliza saja yang belum turun untuk sarapan
" Gak bisa di hubungi mati paling ponselnya" ucap Zula karena berkali kali menelfon tapi tidak ada jawaban
" Udah lah, mereka lagi enak enak gak usah di ganggu" jawab El yang santai
" Sok tau," jawab Rizqy yang tak jauh darinya
" Pengantin baru Om, apa lagi, Om dulu gimana?" tanya Balik El yang tidak mendapat jawaban dari Rizqy karena prifasi
" Udah sarapan dulu, nanti Abang biar cari sendiri kalau laper " ucap Jihan gak perlu bingung bingung, karena dia yang hamil besar udah kelaperan begitu juga dengan Luna yang sama sama Hamil juga hampir sama dengan usia kanduangan Jihan saat ini
" Bibik Udah laper juga tuh" ucap Jihan pada Luna
" Para bumil kalau udah siang kayak gini harus cepet cepet makan" ucap Rizqy yang sangat faham gimana istrinya saat sedang Hamil
" Om Rizqy nih ganas ya, gak lihat anak masih kecil kecil, udah lanjut produksi aja" ucap El mencibir Rizqy
" Mumpung Om masih muda El, kalau udah tua susah produksinya" Jawab Rizqu ngasal menbuat mereka semua tertawa
" Besok lahiran di jawa aja ya Lun, biar sama sama kita" ucap Jihan mengajak Luna agar tetap di Jawa
" Jangan lah mbak, kasian ibuk repot nanti, " jawab Luna yang sudah 2 kali merepotkan Ibu mertuanya saat melahirkan
" Gak apa apa, biar kumpul" jawab Jihan dan hanya di senyumi Luna
" Terus mbak kira kira resepsi kapan soal Al? Ada resepsi juga?" tanya Rizqy yang kemungkinan akan lama di jawa kalau Al jadi resepsi
" Tanya Abahnya, Gue udah males mikir mikir lagi, " jawab Jihan santai dan memang sudah males mikir yang sepele
Sepele katanya, ya menurut Jihan resepsi itu gak penting,asal udah ijab syah cukup, tapi mana tau mau di adakan resepsi juga di acara khajad walimah pertamanya
Karena sebelumnya cuman akikah Al doang, selebihnya sama sekali enggak ada walimah walimah lainnya, sunatan Al dan El, cukup Jihan yang menemani, dan Zain cuman tau kabarnya setelah keduanya di khitan, ya karena masih ada masalah berat dulu yang mereka alami
" Gak repot sih sebenarnya, Orang Umi tinggal duduk di atas pelaminan sama Abah, nyalami tamu kan udah, apa yang merepotkan Umi" jawab Zula karena tau sekarang semua pekerjaan Uminya yang handle dia
" Lagian untuk persiapannya kan juga bukan Umi yang ngurus, Umi tenang aja, santai slow tanpa banyak pikiran, serahkan kita pada sistem pemikiran keluarga Nazula Lailal Musthofa" Sambung El sambil menunjuk Ke Zula
" Boleh minta uplause?" ucap Zula membanggakan dirinya membuat mereka semua tertawa dan tepuk tangan
" Tapi kenapa jadi sistem pemikiran sih julukannya, otak gue kayak google aja" ucap Zula gak terima julukannya
" Udah... Itu cukup membanggakan" jawab Luna pada Keponakannya
" Sebulan setelah pulang dari sini nanti Resepsi, Usia kandungan Umi masih 8 bulan kan, masih belum waktunya lahiran, kalau cuman duduk aja aman kan?" ucap Zain seolah menjawab tentang resepsi Pernikahan Al dan Aliza
" Dimana? Di rumah juga?" tanya Jihan lagi
Sebenarnya pernikahan jarak satu bulan itu persiapan seharusnya udah matang semuanya, dan tinggal beberapa persen yang harus di benahi
" Jangan... Rumah tuh sebenarnya prifasi, cuman tamu aja lah, itu cuman di ruang tamu, Zula gak kebanyang dengan banyaknya wali santri nanti yang hadir gimana ancurnya , bukan berarti gak mau di kotori, tapi sekali kali cri suasana lain lah, jangan membebankan santri dalam hal ini" jawab Zula yang sepemikiran dengan Uminya yang gak pernah mau merepotkan santri
" Ula dulu kalau di pondok, ada hal hal seperti itu, Ula paling males, soale kumpul dengan para orang orang sedeng, apa lagi anaknya Om Rizqy" ucap Zula lagi dengan penuh dendam ke Nada
" Udah dia udah taubat di tengah hutan" jawab El yang pastinya memantau Tari dan Nada
" Besok kalau ada acara akhirus sanah atau haflah, udah kita pinjem gedung atau hotel aja, gak rugi kalau Abah pinjamkan itu, gak akan kueang banyak harta abah" ucap Zula lagi yang males berantakan di matanya
" Siap buk, sistem " jawab El ngasal
" Ini mana makanannya gak datang datang" ucap Jihan mungkin sudah kepaleran
" Gue kalau udah menikah besok maunya tinggal di rumah yang kecil aja, udah cukup dapur mini, kamar 2, satu kamar dan satu tempat kerja dan ruang ganti, ruang tamu simpel udah, yang penting rapi" ucap Zula masih melanjutkan ceritanya
" Gak boleh pegi dari rumah kata Abah, denger gak?" ucap Jihan yang Zain selalu menahan anak anaknya yang untuk tidak tinggal di tempat lain walaupun sudah punya suami maupun anak,
Apa lagi Zula anak kesayangannya psti akan menjadi prioritas utama, sampe sekolah aja di tungguin,
" Kan Ula ikut suami Mi, tinggal di Turky, " jawab Zula sembali memancing emosi Zain
" Gak usah nikah sama Maulana kalau gak tinggal di Indonesia" ucap Zain cepat langsung esmosi
" Dia lho anak tunggal bah, ya ngikut lah sama Suami" jawab Zula lagi masih ngeyel
" Gak usah kalau kayak gitu Il, Abah sama Umi masih sanggup nyariin kamu suami yang mau tinggal di Indonesia, masih sanggup ngasih makan kamu juga" Banrah Jihan juga yang gak tau kalau ternyata Zula ngerjain mereka
" Kwkwkwkwkwkw.. Sabar bah sabar Mi, jangan langsung emosi nanti darah tinggi gak baik untuk kesehatan jantung" ucap Zula ngakak mendengar emosinya abah dan Uminya