
Kini El dan Heny sama sama di ruangan ICU, dan hanya mereka saja yang ada di sana,
El kembali mengajari Heny untuk menangani pasiennya, dan bahkan meminta Heny agar mempraktikkannya langsung
" Makasih dokter" ucap Heny sambil tersenyum
" Sama sama, manjanya mana? Kan udah jadi adek gue, bukan asisten gue" jawab El kembali menggoda Heny
" Sekarang udah besar dan udah gak manja lagi" jawab Heny dan El tersenyum
" Okey, Bentar lagi udah mau jadi bu dokter, betul gak boleh manja lagi, manjanya sama Mas Tunangan ya" jawab El dan Heny mengangguk
" Gue belum punya tunangan El, lupain elo aja susah, mikir tunangan" jawab Heny dalam hati
" Okey... Ayo keluar, biar Istirahat pasiennya" ucap El lagi dan Heny tetap diam malah melamun
" Apa mau jadi cucunya? Mau nemenin di sini aja?" tambah El lagi
" Eh.. Enggak..." jawab Heny cepat
" Kalau enggak.... Ayo dong... Keluar, malah melamun" jawab El dan Heny langsung salah tingkah
El dan Heny beriringan keluar dari ruangan pasien tersebut yang mana keluarganya sudah menunggi di luar ruangan
Ceklek pintu terbuka dan keluarga langsung mendekat
" Dokter gimana keadaan orang tua kami?" tanya salah satu anaknya
" Ibu anak dari bapak Tamrin?" tanya El yang sudah kenal pasiennya
" Iya dokter saya anaknya" jawab keluarga pasien lagi
" Mari kita sama sama berdoa dan ber ikhtiar ya buk, pak, semoga Allah memberikan mukjizat dan pertolongan bagi bapak Tamrin, karena saat ini kondisi beliau masih kritis dan koma" jawab El menjelaskan
" Baik dokter terimakasih, " jawab lainnya dan El tersenyum
" Mari pak Buk, kalau mau ada yang mendampingi dan menjaga pasien, bisa menemui petugas ICU dulu ya pak buk, biar di siapkan pakaian dan lainnya" ucap El sebelum pamit pergi
" Siap dokter sekali lagi trimakasih" jawabnya dan El kembali tersenyum
" Saya permisi dulu ya buk pak, mari" ucap El pamit dan di ikuti oleh Heny di belakangnya
Heny dan El berjalan beriringan menuju ruangan masing masing,
Di sisi lain, Ailza kini sudah berangkat praktik ke rumah sakit dan di antarkan oleh Soni seperti biasa, setahu orang tua Ailza, Ailza ngontak atau ngekos di tempat dekat rumah sakit,
Dan mereka tidak mengetahui tentang Ailza yang ternyata ngontrak dan ngekost bareng Soni serumah, selayaknya pasangan suami istri
" Muuuuuaaaaaccch......" Kecupan pamitan selalu mereka terima saat hendak berpisah karena Soni harus kerja di sebuah kantor juga
Di sisi lain, Zain kini tertidur menjaga baby Bibi, yang sudah bangun sedari tadi karena haus,
Tapi tangisan bayi Bibi tidak terdengar oleh Zain yang masih tertidur pulas
Jihan masih memompa asinya, sedangkan Zula masih belum kembali karena setelah mengirim file ke email Ryan justru malah di beri kerjaan lagi, yang artinya Zula juga tetap kerja
Oeek..... Oeek.... Oeek......
Suara tangisan baby Bibi terdengar sampe luar, tapi karena kamar Umi Jihan kedap suara dan di tutup serta di kunci, sehingga tidak terdengar apa apa
Saat itu Aliza sedang lewat hendak ke kamarnya, karena cukup pusing dan rasanya mau mual saat mencium bau amis dari ikan yang di masak
Dan setelah melewati kamar baby Bibi Aliza mendengar tangisan bayi yang ada di dalam sana
Aliza mendekat karena penasaran, dan pintu kamar tersebut terbuka sedikit dan Aliza membukanya
Dan melihat baby Bibi yang sedang menangis dan Abah Zain yang masih tertidur pulas
Aliza seketika langsung mendekat dan mengambil baby Bibi dari tempat tidur
Aliza tau pasti Abah Zain sangat kecapean seperti ceritanya pagi tadi, yang sudah 2 hari tidak tidur dan Aliza menggendongkannya sambil mengayun ngayunkannya
" Cup cup cup.... Sayang.... Kenapa dek? Haus ya.... mau nen?" ucap Aliza menenangkan baby Bibi
Saat Aliza sedang mengayun ngauun baby Bibi, Jihan masuk sambil membawa ASI yang sudah dia pompa
" Assalamualaikum..." ucap Jihan lirih dan Melihat Aliza yang menggendong baby Bibi
" Waalaikumsalam..." jawab Aliza lirih dan menoleh ke arah Jihan
" Sayang... Tuh Umi, Umi bawa nen,... Haus ya... Mau nen Umi" ucap Aliza dan Jihan mendekat
" Eh... Kenapa sayang... Sayangnya Umi" ucap Jihan mendekat dan mengambil bqby Bibi dari gendongan Aliza , dan belum melihat Zain yang masih tertidur pulas
Biasanya Zain paling gak bisa kalau tidur dengar suara, mungkin karena kecapean jadi sampai tidak mendengar apa apa
" Udah dari tadi bangunnya Mbak?" tanya Jihan lirih
" Gak tau Umi, tadi Liza Lewat , mau ke kamar denger suara baby nangis, jadi Liza mendekat dan mengambilnya" jawab Liza bercerita
" Oalah... Abahnya mana nih? " ucap Jihan mencari keberadaan Zain
" Itu..." tunjuk Aliza pada Zain yang masih tidur
" Masyaallah..... Kok bisa bisanya dia yang enak tidur sih" kesal Jihan mulai ngeromet dan makin membuat Baby Bibi menangis
" Enggak enggak sayang.... Enggak Umi gak marahin Abah, " jawab Jihan dan aliza tersenyum karena Jihan mengira gara gara dia mau ngomelin Abahnya Bibi kembali menangis
" Tak bangunin dulu Abahnya Mbak, ini tolong" ucap Jihan kembali memberikan Baby Bibi pada Aliza
" Ayok ikut tante yuk.... Sini" ucap Aliza sambil menerima baby Bibi
" Kok tante sih, kakak dong.... Nanti baby Al junior baru panggil baby, Om, " jawab Jihan lembut
" Oh iya ya Mi... kakak sayang... Bukan tante" jawab Aliza dan membuat keduanya tertawa
" Ini ASI nya sayang... Kamu duduk aja di sana" ucap Jihan sambil menunjuk ke arah sofa , dan Aliza mengangguk
Aliza duduk dan memberikan dodot ASI pada baby Bibi, dengan lembut
" Bisa kak?" tanya Jihan lagi dan Qliza mengangguk
" Udah biasa ngurus baby ya kak? Lincah banget" ucap Jihan memerhatikan gerakan Aliza sudah terbiasa
" Dulu sebelum Liza kerja dan kuliah di yayasan mas, Liza nyambi Umi, momong anak tetangga, yang Ibunya kerja di pabrik" jawab Aliza apa adanya
" Kalau gak gitu kalau ibunya sebagai guru dan pegawai lainnya, Aliza yang momong saat mereka pergi kerja, " tambahnya lagi
" Oh... Pernah jadi baby suster? Pantesan lincah, gek perlu di ajarin lagi malah" jawab Jihan kagum dan malah duduk di sebelah Aliza, bahkan terlupa kalau mau bangunin Zain yang sangat teledor
" Dulu Umi tuh paling kagok kagoknya ibu ngurus baby, Umi punya baby Al tuh Umur 19 tahun, gendong aja kualahan, bersihkan pup aja kadang masih bingung, tapi untungnya ada tente, tau kan mbah Charir yang stan bay selama Umi lahiran, jadi aman... Ada yang ngajarin, " Ucap Jihan bercerita
" Umi malah pernah, saat Al dulu, habis imunisasi kan, demam dia, nangis, gak ada siapa siapa di rumah, Umi bingung di kasih nen gak mau, di gendong masih nangis terus, sampe Umi gak tau harus gimana, .. Akhirnya ikut nangis juga, dan nelfon Abahnya yang masih di kantor suruh pulang" tambah Jihan lagi teringat pertama kali punya anak , dan Aliza menanggapinya sambil tersenyum
" Kata abahnya Umi terlalu kecil untuk punya baby," tambah Jihan bercerita dan Aliza serta Jihan menggelangkan kepalanya kompak
" Umi jawab, Ya Abah yang salah, kenapa anak kecil di nikahi, dan di ajak bikin anak" tambahnya Aliza dan Jihan kembali tertawa
" Astagfirullah.... Tuh orangnya, Eh... Umi mau bangunin tadi" ucap Jihan yang kembali teringat