Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Umi kebanggaan


Al kemudian mengunci kamarnya dan masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat 2 rokaat sebelum bersunah rosul,


Aliza selesai sholat melihat Al berada di belakangnya langsung faham dan lanjut berdiri untuk melanjutkan sholat 2 rokaat yang seperti di lakukan Al,


Setelah sholat tak lupa dzikir dan berdoa, kemudian Al memeluk Aliza dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Aliza dengan lembut


Wajah Al sudah nempel denganmukena Aliza , dan sesekali mencium bagian leher Aliza yang masih tertutup dengan mukena


Aliza sudah merasakan desiran darah yang membuatnya makin merasakan ke nikmatan,


Setelah itu, Aliza memutarkan tubuhnya dan menghadap ke arah Al,


Sebelum Al pulang tadi, Aliza sempet browsing di internet untuk melayani suami yang baik dan benar saat suami sudah berulah


Ya kita memang tidak tau, atau berawal dari kebodohan yang tidak kita mengerti, agar kita mengerti salah satunya cari tau atau belajar, agar tau mana yang benar dan mana yang perlu di lakukan


Aliza siap mempraktekkab semuanya di depan suaminya yang sudah kelihatan sepertiga akalnya karena syahwad yang bergejolak


Aliza tersenyum dan membelai wajah Al, dengan kedua tangannya


" Mas Al...." ucap Aliza lembut


" Iya sayang..." jawab Al tak kalah lembut


" Apa mas Al mau memberi nafkah batin untuk Adek?" tanya Aliza lirih dan lembut sambil menatap mata Al


" Iya sayang... Adek sudah siap?" jawab Al dan Aliza mengangguk


" Bismillahirrohmanirrohim... Allahumma jannibnass syaitonaa wajanibiss syaitona,.. Ila akhirihi..." ucap keduanya kompak berdoa sebelum ber sunah rosul


Mereka malanjutkan apa yang menjadi kewajiban keduanya dengans angat pelan dan menikmatinya


Setelah selesai mereka tidak langsung tidur bahkan tidak tertidur sama sekali, mereka masih di tutup sama selimut dan mereka mulai memperkenalkan diri satu sama lain


Kedekatan yang cukup singkat membuat mereka harus memperkenalkan diri jati dirinya dan kepribadian mereka masing masing


" Mas... Boleh Liza tanya?" tanya Aliza pada Al


" Kenapa sayang?" jawab Al lembut


" Hem... Tapi ini snagat sensitif, Aliza sebenarnya takut" jawab Aliza masih ragu ragu


" Jangan takut, Mas ini sekarang suamimu lho, kita harus saling terbuka" jawab Al lembut


" Kenapa?? Ada apa?" tanya Al meyakinkan


" Masalah Ula" jawab Aliz takut takut


Al hanya tersenyum karena Al tau semU orang akan bertanya tentang hal itu, apa lagi orang yang baru mengenal Ula dan juga keluarganya


Ula yang tiba tiba ada di antara mereka


" Sebelum mas jawab, mas boleh tanya gimana kehidupan Ula di pesantren dulu?" tanya Al balik


" Masak mas gak tau? Dia dulu kan manjadi bahan bullyan," jawab Aliza lagi


" Iya makanya dulu mas dekati Zula karena penasaran ada apa dengan ini anak, pinter cantik kaya, tapi sifatnya kok kaku" jawab Al lanjut berterus terang


" Maksudnya?" tanya Aliza kurang faham


" Mas dulu naksir lho sama Ula sayang, sekarang laki laki mana yang gak naksir sama tuh anak, pinternya kelewat batas, cantik manis, tapi sifatnya yang sangat kaku membuat Mas penasaran" jawab Al malah nostalgia


" Dulu Zula ketahuan jadi adek Mas, itu karena Mas sama El rebutan Zula, kok bisa apa gak cerita sebelumnya?" tanya Aliza justru penasaran


" Cerita kami kan saling terbuka, cuman waktu itu mas kan kenal Zula saat ngajar di kelas, sedangkan El kenal lewat sosial media, yang sering kami ceritakan ternyata 1 wanita yang sama, " jawab Al dan Aliza sempat kaget


" Karena Mas sering di tolak, mas lanjut pake jalur pribadi, sama Abah dong, dan mau gak mau Zula tetap mwnerima abang, eh... Tuh anak ternyata nyamannya sama El, dan bilang sama El lanjut El pulang ngamuk, kami berantem sayang, sampe El baku hantam, tau sendiri Umi, haduh paling benci kalau anak anaknya bertengkar, Umi marah dan langsung tanya apa penyebabnya, El menjawab dan bahkan sampai kemana mana, jadi umi penasaran ceweknya yang mana, dan kompak Mas sama El meberikan ponsel dan melihat hal itu Umi berteriak tidak, dan menjatuhkan ponsel El yang di pegang" ucap Al bercerita panjang


" Terus terus, Umi terduduk las dan kaku, langsung mengakui semuanya, makin rame sayang, saat ketemu Zula, Abah haru cuman Umi yang masih trauma dan takut merasa sangat bersalah, kami bahkan sampe gak ngontrol emosi dan mencaci maki umi, umi sampe ketakutan gak mau menbuka matanya" jawab Al lanjut cerita


" Dari situ kami tau apa masalahnya, kami tau giman kejadiannya, karena ternyata ujian dari rumah tangga Abah Umi, yang mana Abah punya trauma sama masa lalunya, dan hal itu menjadikan Umi sebagai pelampiasan" tambah Al dan Aliza masih setia mendengarkan


" Umi gak bisa melek, karena taku, dan Abah gak mau menjelaskan, Abah masih kaku, tau sendiri Abah tuh bucin banget sama Umi, akhirnya kesaksian atau saksinya di panggil untuk menjelaskan semuanya, dan di situ kami tau kalau ternyata semua bukan salah kedua orang tua kita, semua karena takdir Allah SWT" tambah Al lagi


" Mudah mudahan rumah tangga kita selalu istiqomah baik baik saja ya Mas, " ucap Aliza sebenarnya masih penasaran masa lalu Abah sama Umi mertuanya gimana bisa sampai Zula di lalaikan


" Adek masih penasaran masalahnya apa?" tanya Al dan Aliza polos dan mengangguk


" Mas tuh paling sedih kalau mau cerita, kami orang kaya sayang, kami orang berada, cuman kehangatan dan kenikmatan dengan semua yang kami miliki itu belum lama" jawab Al lagi


" Perusahaan Abah besar begitu juga dengan Umi, semua merek bangun berdua dari 0, yang mana dulu Abah menikah sama Umi hanya sebagai pemilik sekolah dan karyawan di tingkat daerah, tapi ke suksesan suami kan ada psa doa seorang istri, tapi sikap tempramen mulut Abah membuat Umi harus berjuang sendiri, membesarkan anak anaknya" tambah Al lagi


" Umi nikah sama Abah di usia yang sangat muda, 16 tahun belum lulus SMA, semua kuliah abah yang biayai, di saat 1 penghianatan datang Umi pergi, karena setelah lama umi mencari kebenaran sama sekali gak terbukti, dan umi memergoki langsung di depan mata sudah berkali kali sampe pegel, dulu mas tuh tempatnya pindah pindah, baby susternya juga gaonta ganti, di situ lah istimewanya seorang ibu, " tambah Al


" Sesuliat apapun Umi, se sengsara apapun Umi, selalu membawa anak anaknya saat dia pergi, pokoknya anak itu jadi prioritas utama, mulai unur 20 tahun sampe 27 tahun, Umi montang manting sendiri, hingga akhirnya kesabarannya di ganti oleh Allah dengan kebahagiaannya saat ini"Tambah Al bangga pada sosok Umi