Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Waspada


Setelah mengambil berkas dan laptot Zula yang bawa berkas dsn laptopnya sedangkan Ryan menggendong baby Bibi, mereka dengan sopan dan permisi melwwati para tamu dan juga Jihan dan Zain


Pandangan kedua orang tua Zula itu tak lepas dari mereka, dalam hati tak sengaja terlintas doa kalau mereka di jadikan pasangan yang SAMAWA dan Istiqomah


" Masyaallah... " ucap Jihan dan Zain bareng dan mereka saling pandang


" Kenapa?" tanya Zain pada Jihan


" Lha abah kenapa?" tanya Jihan balik dan mereka tersenyum


Tak lama tamunya pamit pulang karena sudah cukup lama, dan setelah pulang mereka berjalan menuju ruang kerja Zain


" Kenapa tadi Bah?" tanya Jihan sopan


" Tadi gak sengaja abah batin kalau mereka berjodoh Mi" jawab Zain pelan


" Zula sama Ryan?" tanya Jihan dan Zain mengangguk


"Kalau Umi gimana?" tanya Zain balik


" Sama " jawab Jihan terkikik geli


" Amin..." Ucap keduanya dan kini sampai di ruang kerja Zain


Zula masih mengotak ngatik laptop Ryan dan Ryan berdiri di sebelahnya dengan menggendong baby Bibi yang masih aktif mau turun


" Assalamualaikum..." Ucap Zain dan Jihan saat masuk


" Waalaikumsalam..." jawabZula dan Ryan


Ryan mulai kembali sungkan sedangkan Zula tetap santai


" Haduh... Mau ikut kerja ini?" ucap Jihan pada baby Bibi


" Ayo sama Umi, Abang Ryan biar kerja dulu sama Kakak dan Abah" Ucap Jihan mengambil baby Bibi


Zula terkikik di saat Jihan memanggilkan Ryan pada baby Bibi dengan panggilan Abang


" Kenapa?" tanya Zain yang mendengar tawa Zula


" Enggak.. Udah tua di panggil Abang, Om" jawab Zula lanjut mengotak ngatik laptop Ryan dan Ryan masih berdiri di sebelahnya dan mendekat


" Gue masih muda La" bantah Ryan masih gak terima


" Iya lah.." jawab Zula santai dan mereka lanjut bekerja sama dengan akrab kompak dan akur


Zain dan Jihan melihat dengan seksama, teringat keduanya dulu saat masih muda saling bekerja sama seperti itu


Sampai akhirnya Zain menerima berkas yang sudah beres dan tinggal di tandatangani


" Trimakasih pak" ucap Ryan setelah menerima kembali berkasnya


" Sama sama, " jawab Zain ramah


" Oh ya Pak Ryan, hem.. Tahun baru mau kemana?" tanya Zain lagi


" Gak kemana mana pak, Jomblo gak kenal tahun baru" jawab Ryan bercanda


" Kasiannya yang jomblo" Ucap Jihan ikut nyaut


" Ada temannya Buk" jawab Ryan sambil melirik ke Zula dan membuat mereka tersenyum


" Gimana memangnya pak?" tanya Ryan pada Zain


" Hem.. Al tuh sebenarnya ada tugas ke Australia, tapi karena Aliza sudah mau melahirkan jadi di suruh gantiin Zula, tapi karena Zula gak ada temannya, gimana kamu mau gak kira kira menemani Zula? Soalnya El dan kami sendiri gak bisa? " Ucap Zain menawarkan


" Betul pak Ryan, saya juga harus ikut hadir di pertemuan di pelatihan di Jakarta juga, minta tolong ya" Sambung Jihan lagi


" Baik pak.. Insyaallah saya siap" jawab Ryan tanpa keberatan sama sekali, bahkan tanpa menanyakan masalah ongkos dan biaya, apa lagi upah


Entah mengapa Ryan tuh selama mengerti Zula sering galau dan drop fia seolah gak tega dan pengen menjadi seseorang yang selalu ada untuk Zula


______________


2 Hari kemudian mereka berangkat ke Australia, tapi tidak menggunakan pesawat jet pribadi melainkan mereka menggunakan pesawat biasa


Kumpulan dari para penyalur beasiswa dari berbagai Universitas di Dunia nanti akan bergabung di sana


Dan ini baru kali pertama Zula dan Ryan datang ke sana


Mungkin beberapa hari mereka akan berpisah, dalam arti lain tujuannya


Karena mumpung Ryan di Australia dan tempat kerjanya juga dekat dia meminta jadwal untuk di majukan pertemuannya


Awalnya Dari Pihak Australia yang hendak ke Indonesia cuman karena sekalian jadi Ryan yang meminta di majukan


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Zula akhirnya sampai di bandara tujuan dan mereka langsung mengambil bagasi dan lanjut ke hotel tempat menginap


Sesampainya di hotel mereka masuk ke kamar masing masing, tapi sebelum berpisah sepeeti biasa Ryan memesan nanti setelah sholat akan di tunggu di lobi


Dan benar karena di sini cuaca dangat dingin di akhir tahun menjelang Natal dan tahun baru salju mulai turun di sana, jadi yang keluar harus pake jaket tebal


Selesai sholat Zula sudah berpakaian baju tebal hendak keluar jajan bersama dengan Mantan Musuh yang sekarang jadi Bestie


Saat menunggu Zula yang belum datang juga, Ryan sempat melihat Maulana yang juga ada di sana, karena dia mewakili dari Universitas di Turky yang mana dia dan Istrinya mewarisi keluarga atau dari kakek mereka yang sebagai penyalur juga


" Maul" Ucap Ryan saat Maulana hendak keluar juga


" Ryan" jawabnya langsung mengenalinya


" Kesini sama siapa? " tanya Maul yang menggandeng tangan istrinya


Ryan terdiam kalau dia bilang sama Zula bisa habaya nanti Zula makin gak konsen kerjanya


" Sendiri" jawab Ryan cepat dan gugup


" Lagi liburan?" tanya Ryan balik


" Enggak karja, untuk penyaluran beasiswa di Universitan YX" Jawab Maulana lagi


Ryan mengangguk dan memerhatikan Maul yang seolah sudah menerima istrinya dan terlihat cukup mesra


" Oh.. Okey.." jawab Ryan singkat


" Zula ?" tanya Maulana singkat dan Aufi sama sekali tidak keberatan, dia menyadari kalau suaminya sulit


Ya tapi dia tau, dia harus berusaha kalau memang mau mendapatkan cinta seutuhnya dari suaminya itu, toh sang mantan juga sudah gak respon lagi, dan pastinya Lana akan kambali ke pelukannya


" Sehat" jawab Ryan singkat


" Oh ya, Saya permisi dulu ya, mau ke toilet" jawab Ryan yang harus cari cara gimana nanti Zula tidak ketemu sama Maulana


Maulana mengangguk dan langsung pergi keluar dari Hotel


" Hem.... La.. Kita pindah hotel aja yuk" Ucap Ryan saat Zula keluar dari Lift tepat saat Ryan hendak naik Lift


"Lha kenapa?" tanya Zula bingung


" Di sini angker, kita cari yang lain yang viewnya bagus" jawab Ryan memveri alasan


Kalau sampai Zula ketemu dengan Maul apa lagi nginap di hotel yang sama, yang ada kerjaannya berantakan dan Zula drop


" Kita cari yang nyaman aja, yang bagus" ucap Ryan nampak Gugup


" loe kenapa sih gugup gitu?" tanya Zula mulai curiga


" Gak apa apa dingin gue, di sini gak ada penghangat suhunya " jawabnya makin aneh alesannya


" Ayo La kita kembali ke atas dan pindah Hotel" jawab Ryan dan Zula gak tau harus apa, dan akhirnya mengikuti kemauan Ryan juga untuk segera beberes cek out dan pindah hotel,


Padahal cukup mahal dan belum di gunakan juga harus pindah hotel, ya Ryan rela keluar uang dari pada patnernya gak beres makin repot dia


Mending keluat uang dari pada kerepotan nangani Zula yang harus galau dan nangis lagi


Setelah sampai di hotel yang baru mereka makan malam di salah satu restoran yang cukup nikmat halal dan cukup untuk menghangatkan tubuh mereka


Ryan sudah mengubah jadwal pertemuannya, intinya dia akan ngawal Zula sampai selesai urusan Zula, soalnya Zula tugasnya berada di lokasi yang sama dengan Maulan Ryan takut saat sedang fokus fokusnya Zula terganggu dengan keberadaan Maulana di sana