
Kini Abah Hasan langsung di bawa ke ruangan khusus keluarga besar Zain dan Jihan.
Peralatan semua sudah disiapkan semuanya sesuai yang El minta sebelumnya
El dan Jihan kompak dalam bekerja sama menangani Abah Hasan, di bantu dengan beberapa perawat yang mendampingi mereka
Untuk penanganan keluarga Jihan gak pernah mau menggunakan mahasiswa magang, makin ribet dan lama
Semua anggota keluarga sedang menunggu di tempat sebelahnya, atau di ruangan lain, bukan di luar seperti keluarga pasien lainnya
Cukup lama hampir 3 jam penanganannya, dan saat ini waktu sudah menunjukkan jam 5 sore
Dan akhirnya Jihan dan Zain kembali ke kamar tempat mereka menunggu
" Assalamualaikum..." Ucap Jihan dan el barengan, dengan baju dinas yang sudah di lepas
" Waalaikumsalam.." jawab semuanya ramah
" Gimana sayang?" tanya Zain sigap
" Bentar Ya Bah, Umi sholat dulu keburu habis waktunya" jawab Jihan meminta mukena pada Aliza
Jihan dan El sholat berjamaah, karena waktu sudah sangat sore dan waktu sholat asar akan segera habis
Mereka masih berbincang, Umi Zahra juga tidur di salah satu tempat tidur yang ada di ruangan tersebut
Abah' Adam beserta istri dan anak anaknya juga berada di sana
Seperginya Baha' dan Adam mereka langsung menyusul menggunakan mobil, dan mereka sampai 20 menit yang lalu
Kini Fani juga sudah di panggil, dan Zain mengirimkan tiket pesawat untuk mereka, secara jauh ya, kalau ada apa apa takut ketinggalan jadi Zain gak sabar kalau mereka harus bawa mobil, dan langsung mengirim tiket pesawat untuk mereka
Padahal anak anak Fani dan cucu mereka sangat buanyak... Entah habis berapa puluh juta untuk membeli tiket tersebut
Untung penumpang di salah satu maskapai yang mereka timpangi tidak penuh dan penuh karena tertolong keluarga dari Hamzah dan Fani
Tak lama, ada petugas rumah sakit yang mengucap salam dan membuka pintu tersebut kemudian mempersilahkan masuk semua keluarga Fani yang sudah sampai
" Assalamualaikum..." Ucap Hamzah dan di susul anak istri menantunya
" Waalaikumsalam..." jawab Semua yang ada di sana
Mereka salaman semua dan seperti akan mengadakan hajatan di sana
Untung ruangan tersebut sangat luas, karena dulu Zain mengusulkan, suatu saat nanti dan ternyata saat ini terjadi dan di tempati juga
Tiba bersalaman dengan Umi Zahra, Fani langsung menangis gugu, sebagai anak perempuan Fani paling gak bisa melihat abah Uminya sakit
Sama sama sudah tua, Fani ikut merasakan kalau hal itu sangat menyedihkan dan tidak bisa membendung air mata lagi
Umi Zahra membalas pelukannya dan mengelus lembut punggung Fani, serta berbisik sesuatu karena Umi Zahra gak bisa bersuara keras lagi
Beberapa saat kemudian Jihan dan El sudah selesai sholat dzikir dan tentunya berdoa,
Jihan mendekat pada Umi Zahra, dan mencium tangannya karena tadi juga belum sempat, dan tentunya menguatkan Umi Zahra yang sama sama dalam kondisi tidak sehat lagi
" Umi udah pasrah Nak, Apa yang terjadi sama Abah, Hanya kepada Allah.. Umi meminta pertolongan, dan kepada kalian yang sebagai lantaran" ucap Umi Zahra pada Jihan
Jihan hanya tersenyum dan menggenggam tangan Umi Zahra
" Gimana sayang keadaan Abah?" tanya Zain lagi
Sebenarnya ini harusnya di sampaikan pada anak anaknya saja, bukan rame rame seperti ini gak enak juga di dengarnya dan yang lain juga tidak akan faham bila di jelaskan
" Apa perlu kita berunding sendiri Han?" Tanya Baha' yang bisa menebak raut wajah Jihan
Jihan tidak langsung mejjawab dan berfikir sejenak untuk menjawabnya, takutnya nanti sebagian ada yang tersinggung dan lain sebagainya seolah tidak boleh tau penyakit Abah Hasan
Padahal kan bukan itu alasannya, cuman namanya orang banyak ya, pasti pikirannya berbeda beda
" Hem.... Udah pada makan belum sih? Kok kayaknya Umi udah mulai lapar nih" ucap Jihan mengalihkan pembicaraan
Zain langsung bisa menangkap arah bucaranya Jihan yang mengalihkan
" Tante gimana keadaan Mbah Abah?" ucap Aisyah yang malah makin kepo
" Insyaallah Mbah abah baik baik saja, dan kita sama sama Berdoa, untuk kondisi mbah abah saat ini" jawab Jihan yang akhirnya membuka suara
Ya mau gak mau Jihan menjawab dengan sebuah doa saja, dari pada di kira ngumpet ngumpet
" Ayo sama sama kita doakan Mbah abah, yang biar di pimpin oleh pakde Baha' " saut Hamzah dan akhirnya Baha' berdoa dan di aminkan oleh anak cucu cicit dari Abah Hasan
Mereka semua berdoa dengan khusuk, dan para kaum ibu sudah meneteskan air matanya, hingga doa selesai
Terdengar suara qori' dari masjid rumah sakit, membuyarkan mereka semua yang mana anak anak udah mulai bosan dengan suasana disana
" Apa mau pulang ya ke rumah mbah Zain? Yang dekat sini" ucap Al pada salah satu anak dari Ibrahim yang maish bayi
" Oh iya.. Biar di jemput sama mobil ya, ajak kerumah sana aja, bareng bareng, " saut Jihan yang hampir terlupa punya rumah besar di daerah sana
" Iya ya... Mbah Zain siapkan mobilnya dulu, tapi sebagian pake mobil rumah sakit dan kantor ada juga, tinggal nunggu di luar, makan udah di siapkan piha' resto, tadinya mau di antar ke sini tapi biar di siapkan di rumah aja" jawab Zain yang sat set semuanya dan akhirnya mereka semua siap siap pindah ke rumah Zain
Tak rerkecuali Aliza dan Zula juga yang siap untuk kembali ke rumah lamanya
" Di mana sih dek? Rumah yang mana?" bisik Aliza yang masih sama Baby Bibi
" Ada rumah kami dulu di sini mbak, Abah kerjanya di kantor, Umi di RS jadi biar gak jauh" jawab Zula dan Aliza mengangguk
" Baby... Mau nen dulu gak? " ucap Jihan saat melihat Aliza berdiri
" Oh iya... Nen dulu ya, sambil nunggu mobil" ucap Aliza mendekat pada Jihan
Kini di ruangan tersebut hanya tertinggal anak anak Abah Hasan dan anak anak Zain saja
Yang lain sudah pada pergi untuk kerumah Zain dan Jihan
" Gimana sayang?" tanya Zain lembut
" Begini Bah... Abah sebelumnya sudah seperti ini, dan kejadian ini sudah ke 3 kalinya, cadangan struk manusia paling banyak 3 kali bah, dan ini sudah ke tiga kali" ucap Jihan mulai menjelaskan
" Di tambah mbah Abah punya penyakit jantung, sudah pernah pasang ring dan beberapa oprasi lainnya bah, dan saat ini kondisi jantungnya yang makin parah" ucap El menyaut sebagai specialis jantung
" Kita memang gak tau takdir Allah kapan, untuk di kedokteran seperti itu pengetahuannya, ya kita sama sama berdoa Bah pakde Bude, mbah dan semuanya, untuk kesembuhan mbah Abah" tambah El lagi
" Dan saat ini kondisi mbah Abah itu masih kritis, dan harus di awasi 24 jam, dan kalau mau menunggu cukup 1 orang saja," tambah El lagi
Mereka tidak bisa berkata lagi, dan hanya mendenagarkan selebihnya pasrah dan tawakal pada Allah SWT, di tambah mbah Abah yang sudah semakin sepuh tentunya
Umi Zahra juga hanya menangis lirih karena suaranya sudah tidak bisa luat lagi
" Jadi kita sementara semuanya di sini dulu, kumpul dulu, dan jangan ada yang pulang kerumah dulu, takutnya nanti ada apa apa jauh semua rumahnya" jawab Jihan yang sudah ada pandangan lain untuk selanjutnya
" Mudah mudahan mbah Abah segera melewati masa kritisnya" ucap El lagi dan di aminkan semuanya