Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Kondisi Abah


Kini Abah Hasan langsung di bawa ke ruangan khusus keluarga besar Zain dan Jihan.


Peralatan semua sudah disiapkan semuanya sesuai yang El minta sebelumnya


El dan Jihan kompak dalam bekerja sama menangani Abah Hasan, di bantu dengan beberapa perawat yang mendampingi mereka


Untuk penanganan keluarga Jihan gak pernah mau menggunakan mahasiswa magang, makin ribet dan lama


Semua anggota keluarga sedang menunggu di tempat sebelahnya, atau di ruangan lain, bukan di luar seperti keluarga pasien lainnya


Cukup lama hampir 3 jam penanganannya, dan saat ini waktu sudah menunjukkan jam 5 sore


Dan akhirnya Jihan dan Zain kembali ke kamar tempat mereka menunggu


" Assalamualaikum..." Ucap Jihan dan el barengan, dengan baju dinas yang sudah di lepas


" Waalaikumsalam.." jawab semuanya ramah


" Gimana sayang?" tanya Zain sigap


" Bentar Ya Bah, Umi sholat dulu keburu habis waktunya" jawab Jihan meminta mukena pada Aliza


Jihan dan El sholat berjamaah, karena waktu sudah sangat sore dan waktu sholat asar akan segera habis


Mereka masih berbincang, Umi Zahra juga tidur di salah satu tempat tidur yang ada di ruangan tersebut


Abah' Adam beserta istri dan anak anaknya juga berada di sana


Seperginya Baha' dan Adam mereka langsung menyusul menggunakan mobil, dan mereka sampai 20 menit yang lalu


Kini Fani juga sudah di panggil, dan Zain mengirimkan tiket pesawat untuk mereka, secara jauh ya, kalau ada apa apa takut ketinggalan jadi Zain gak sabar kalau mereka harus bawa mobil, dan langsung mengirim tiket pesawat untuk mereka


Padahal anak anak Fani dan cucu mereka sangat buanyak... Entah habis berapa puluh juta untuk membeli tiket tersebut


Untung penumpang di salah satu maskapai yang mereka timpangi tidak penuh dan penuh karena tertolong keluarga dari Hamzah dan Fani


Tak lama, ada petugas rumah sakit yang mengucap salam dan membuka pintu tersebut kemudian mempersilahkan masuk semua keluarga Fani yang sudah sampai


" Assalamualaikum..." Ucap Hamzah dan di susul anak istri menantunya


" Waalaikumsalam..." jawab Semua yang ada di sana


Mereka salaman semua dan seperti akan mengadakan hajatan di sana


Untung ruangan tersebut sangat luas, karena dulu Zain mengusulkan, suatu saat nanti dan ternyata saat ini terjadi dan di tempati juga


Tiba bersalaman dengan Umi Zahra, Fani langsung menangis gugu, sebagai anak perempuan Fani paling gak bisa melihat abah Uminya sakit


Sama sama sudah tua, Fani ikut merasakan kalau hal itu sangat menyedihkan dan tidak bisa membendung air mata lagi


Umi Zahra membalas pelukannya dan mengelus lembut punggung Fani, serta berbisik sesuatu karena Umi Zahra gak bisa bersuara keras lagi


Beberapa saat kemudian Jihan dan El sudah selesai sholat dzikir dan tentunya berdoa,


Jihan mendekat pada Umi Zahra, dan mencium tangannya karena tadi juga belum sempat, dan tentunya menguatkan Umi Zahra yang sama sama dalam kondisi tidak sehat lagi


" Umi udah pasrah Nak, Apa yang terjadi sama Abah, Hanya kepada Allah.. Umi meminta pertolongan, dan kepada kalian yang sebagai lantaran" ucap Umi Zahra pada Jihan


Jihan hanya tersenyum dan menggenggam tangan Umi Zahra


" Gimana sayang keadaan Abah?" tanya Zain lagi


Sebenarnya ini harusnya di sampaikan pada anak anaknya saja, bukan rame rame seperti ini gak enak juga di dengarnya dan yang lain juga tidak akan faham bila di jelaskan


" Apa perlu kita berunding sendiri Han?" Tanya Baha' yang bisa menebak raut wajah Jihan


Jihan tidak langsung mejjawab dan berfikir sejenak untuk menjawabnya, takutnya nanti sebagian ada yang tersinggung dan lain sebagainya seolah tidak boleh tau penyakit Abah Hasan


Padahal kan bukan itu alasannya, cuman namanya orang banyak ya, pasti pikirannya berbeda beda


" Hem.... Udah pada makan belum sih? Kok kayaknya Umi udah mulai lapar nih" ucap Jihan mengalihkan pembicaraan


Zain langsung bisa menangkap arah bucaranya Jihan yang mengalihkan


" Tante gimana keadaan Mbah Abah?" ucap Aisyah yang malah makin kepo


" Insyaallah Mbah abah baik baik saja, dan kita sama sama Berdoa, untuk kondisi mbah abah saat ini" jawab Jihan yang akhirnya membuka suara


Ya mau gak mau Jihan menjawab dengan sebuah doa saja, dari pada di kira ngumpet ngumpet


" Ayo sama sama kita doakan Mbah abah, yang biar di pimpin oleh pakde Baha' " saut Hamzah dan akhirnya Baha' berdoa dan di aminkan oleh anak cucu cicit dari Abah Hasan


Mereka semua berdoa dengan khusuk, dan para kaum ibu sudah meneteskan air matanya, hingga doa selesai


Terdengar suara qori' dari masjid rumah sakit, membuyarkan mereka semua yang mana anak anak udah mulai bosan dengan suasana disana


" Apa mau pulang ya ke rumah mbah Zain? Yang dekat sini" ucap Al pada salah satu anak dari Ibrahim yang maish bayi


" Oh iya.. Biar di jemput sama mobil ya, ajak kerumah sana aja, bareng bareng, " saut Jihan yang hampir terlupa punya rumah besar di daerah sana


" Iya ya... Mbah Zain siapkan mobilnya dulu, tapi sebagian pake mobil rumah sakit dan kantor ada juga, tinggal nunggu di luar, makan udah di siapkan piha' resto, tadinya mau di antar ke sini tapi biar di siapkan di rumah aja" jawab Zain yang sat set semuanya dan akhirnya mereka semua siap siap pindah ke rumah Zain


Tak rerkecuali Aliza dan Zula juga yang siap untuk kembali ke rumah lamanya


" Di mana sih dek? Rumah yang mana?" bisik Aliza yang masih sama Baby Bibi


" Ada rumah kami dulu di sini mbak, Abah kerjanya di kantor, Umi di RS jadi biar gak jauh" jawab Zula dan Aliza mengangguk


" Baby... Mau nen dulu gak? " ucap Jihan saat melihat Aliza berdiri


" Oh iya... Nen dulu ya, sambil nunggu mobil" ucap Aliza mendekat pada Jihan


Kini di ruangan tersebut hanya tertinggal anak anak Abah Hasan dan anak anak Zain saja


Yang lain sudah pada pergi untuk kerumah Zain dan Jihan


" Gimana sayang?" tanya Zain lembut


" Begini Bah... Abah sebelumnya sudah seperti ini, dan kejadian ini sudah ke 3 kalinya, cadangan struk manusia paling banyak 3 kali bah, dan ini sudah ke tiga kali" ucap Jihan mulai menjelaskan


" Di tambah mbah Abah punya penyakit jantung, sudah pernah pasang ring dan beberapa oprasi lainnya bah, dan saat ini kondisi jantungnya yang makin parah" ucap El menyaut sebagai specialis jantung


" Kita memang gak tau takdir Allah kapan, untuk di kedokteran seperti itu pengetahuannya, ya kita sama sama berdoa Bah pakde Bude, mbah dan semuanya, untuk kesembuhan mbah Abah" tambah El lagi


" Dan saat ini kondisi mbah Abah itu masih kritis, dan harus di awasi 24 jam, dan kalau mau menunggu cukup 1 orang saja," tambah El lagi


Mereka tidak bisa berkata lagi, dan hanya mendenagarkan selebihnya pasrah dan tawakal pada Allah SWT, di tambah mbah Abah yang sudah semakin sepuh tentunya


Umi Zahra juga hanya menangis lirih karena suaranya sudah tidak bisa luat lagi


" Jadi kita sementara semuanya di sini dulu, kumpul dulu, dan jangan ada yang pulang kerumah dulu, takutnya nanti ada apa apa jauh semua rumahnya" jawab Jihan yang sudah ada pandangan lain untuk selanjutnya


" Mudah mudahan mbah Abah segera melewati masa kritisnya" ucap El lagi dan di aminkan semuanya