Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Masih Rezeki


Zula begitu terharu dengan jawaban Ryan yang ingin menjadikan dirinya sebagai ratu, dan bener banget moment seperti itu adalah moment impian setia wanita


" Memang Abang TR ku ini, ih.. Pengertian banget sama keinginan calon istrinya" Batin Zula dalam hati


"Baik kalau itu ke inginan pak Ryan, saya juga setuju, sekalian saya akan umumkan siapa putri Abah ini" Ucap Zain dan Ryan mengangguk


Dalam hati Ryan sama sekali gak ada pertanyaan kenapa Zula begitu, dan dia tau kalau Zula pasti punya asalan tertentu


" Kira kira kalau mau lamaran kapan pak Ryan?" tanya Aliza yang ingin membantu Zula sama seperti Zula membantu dirinya


" Maaf mau di buat acara yang seperti apa kira kira sayang?" tanya Ryan pada Zula terlebih hadulu


" Maaf banget ya pak Zain buk Jihan, bukannya gimana, maaf banget, dan bukannya saya pengen mengulur ngulur waktu, tapi bener saya perlu mengumpulkan dana dulu, untuk lamaran insyaallah kalau boleh, 3 hari yang akan datang gimana? " tanya Ryan meminta pertimbangan


" Dan untuk pesta pernikahan mohon maaf banget, insyaallah beberapa bulan ke depan gimana? Masalahnya Putri bapak sama ibuk ini cukup mahal, jadi saya gak mau memberi mahar yang asal asalan, beliau sangat berharga bagi saya, " jawab Ryan yang akhirnya blak blakan, toh sama Zain dan Jihan yang setia kali ketemu sudah seperti teman sendiri


" Maaf, pak Zain dan Buk Jihan gak mempermasalahkan tentang keadaan saya seperti ini kan?" tanya Ryan yang mana kembali deg degan, takut di tolak


Zain dan Jihan saling pandang dan menatap Ryan kembali


" Pak Ryan, harta bukan ukuran bagi kami, bapak ini lebih dari cukup" Ucap Jihan memberi jawaban


Dan Jihan melihat wajah Ryan sudah cukup melas camput takut makin mengenaskan dan gak tega nuga melihat calon menantunya melas gitu


" Pak Ryan ini kaya lho, La.." Ucap Zain dan memanggil putrinya


" Hem..." jawab Zula kaget


" Gak matre kan?" goda Zain dan Zula mengerutkan keningnya


" Apaan sih bah, matre apanya dia aja udah bangkrut kok, apa yang mau di matrein?" jawab Zula ngasal dan Ryan tersenyum menatap Zula


Ryan tau kalau Zula kadang kadang suka asal nyeplos aja ngomongnya


" Oh enggak... Iya ya, maaf" jawab Zain dan membuat keheningan dan ketegangan kembali mencair


" Tapi sebenarnya dia kaya, kaya banget, di usia muda sudah punya segalanya, bisnis ment yang bagus" saut Jihan yang tau semuanya


Ryan hanya mengaminkam ucapan Jihan dan juga Zain, dalam hati berdoa rezekinya seperti Zain dan Jihan


" Coba tolong Ambilkan Al El, berkas berkasnya" Ucap Zain pada kedua anak mereka


Karena memang saking banyaknya berkasnya Zain meminta kedua anaknya untuk mengambilnya


Tak lama Al dan El datang dengan membawa dua box yang di persiapkan sama Irfan sebelumnya, bahkan berangkasnya juga


" Pak Ryan,... Sekarang manggilnya jangan pak lagi ya, Saya manggil anda Nak, dan anda manggil saya Abah, begitu juga dengan Umi dan lainnya" Ucap Zain sebelum menyampaikan sesuatu


Ryan mengangguk menyetujui dengan pernyataan Zain barusan


" Nak Ryan... Abah minta maaf sebelumnya, Abah sudah merepotkan kamu dalam hal ini, dan kasarannya abah sudah menguji dan mengetes nak Ryan" ucap Zain dan Ryan mengangguk saja


" Sebenarnya masalah pinalty dengan mantan, itu tanggung jawab Abah, karena Abah adalah orang tua Zula, sekaligus pemilik perusahaan " ucap Zain dan kembali hening


" Maka dari itu, Abah ucapkan ribuan terimakasih, nak Ryan sudah berranggung jawab untuk kenyamanan anak Abah, sudah bersedia untuk menemani dan selalu ada untuk anak Abah" Ucap Zain lagi dan Ryan masih mengangguk


Ryan belum menerima dan melongo melihat hal itu, seolah mimpi, hal itu begitu cepat pergi dan kali ini begitu cepat kembali


" Ini Semua surat surat ranah maupun rumah dari aset pak Ryan, yang mana kemaren Pak Irfan menawarkan kepada kami, dan kami beli, kini kami kembalikan lagi" tambah Jihan ikut andil mengembalikan pada Ryan


" Enggak pak... Saya murni tanggung jawab atas keputusan sepihak saya" ucap Ryan masih menolak


" Bukan masalah itu pak, sebelum bapak mau mutuskan kontrak kerja, kami semua sudah mau memutuskan hal itu, di mana setelah kami tau apa yang terjadi sama Zula, tapi Zula masih baik karena pilatynya itu masih Triliyunan, dan mikirin pada pekerjanya juga, jadi justru pinalty cukup ringan saat kalian sudah menyerah" saut Al menjelaskan


" Terima pak Ryan, kalau gak mau nerima gue lho yang nerima" saut El yang sama sekali gak faham masalah bisnis


" Ambil sayang" Pinta Zula lembut


Akhirnya Ryan menerima semuanya dan kembali menangis haru karena ini masih rezekinya


" Cie dapat bujang kaya" goda El pada Zula


" Iya lho La, juragan kos kosan sama perum" sambul Al meledeki adeknya


Karena sebenarnya Ryan memang punya usaha, mulai dari kos kosan, penginapan, dan juga perumahan mulai dari ukuran mini yang berkisar 20 unit, sampai yang 2 lantai yang lebih dari 3 blok, atau 30 unit


Begitu juga kos kosan yang dekat dengan kampus, dengan 20 pintu


Jadi cukup banyak aset Ryan yang di beli Zain, sehingga bisa membayar gantinya yang berkisar ratusan milyar


Itupun belum cukup dan dia masih ngicil lebih dari 1.5 tahun untuk melunasi itu semua


" Babah ih,.. Malu sama calonnya" senggol Aliza pada suaminya


" Alah Ryan aja kok, kayak siapa saja" jawab Al santai


Ryan mendengar hanya tersenyum karena memang mereka itu sudah akrab dan sangat biasa dan santai


" Pak Ryan, syarat untuk jadi adek gue, boleh dong satu unit rumahnya, di dekat rumah sakit biar gak jauh" ucap El menggoda Ryan


" Terlantar anda, ngemis gitu, rumah abah sama umi kan ada, segitunya" saut Zula sadis


" Gurau lho la, pelit amat jadi orang, orang Ryan juga kan baik pelit" jawab El santai dan Ryan hanya tersenyum


" Dan ini pak Ryan, ini adalah tabungan bapak yang baru, yang mana, selama 1.5 tahun ini gaji dari potongan bapak kami masulkan ke sini, dan uang dari tabungan bapak juga kami masukkan ke rekening ini, jadi bapak tetap dapat gaji tanpa potongan sama sekali" Ucap Jihan menyodorkan buku tabungannya yang tentunya sangat buanyak


Ryan gak tau harus jawab apa, yang ada dia hanya gemeteran menerima buku tabungan yang nominalnya sangat fantastis


" Terimakasih Umi Abah" Ucap Ryan dan kambali berjongkok di hadapan kesua calon mertuanya itu


" Umi nitip Zula, jaga dia baik baik, bahagiakan dia dengan kamu yang selalu ada untuknya, bukan dengan harta" jawab Jihan mengelus pundak Ryan dengan air mata haru yang sudah menetes


Zain kembali membantu Ryan untuk duduk di atas kembali dan tersenyum mengelus Ryan


" Kita Nikah akhir bulan ini saja ya sayang, Abang udah ada uang lagi, banyak banget" jawab Ryan karena pas bulan ini adalah awal bulan sekitar tanggal 7


" Boleh ya Abah Umi?" Ucap Ryan lagi dan makin kebelet