Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Kami sama Perempuan


Di perjalanan Zula seolah sudah gak sabar ingin segera sampai ke lokasi,


" Kok ya pas ya pak Ryan" Ucap Zula pada Ryan


" Apanya yang Pas?" tanya Ryan lagi


" Pas Lah, pas Maul, bikin acara Ultah pas gue datang kasih kejutan tanpa kabar" jawab Zula sudah membayangkan betapa terkejutnya Maulana saat dia datang nanti


" Iya lah... " jawab Ryan singkat, dan Jiwa jomblonya meronta ronta


Zula mencep karena tau respon jomblo di sebelahnya itu memang kurang mengenakkan banget


Tak lama mobil mereka sampai di parkiran hotel XZ, mereka turun dengan Zula yang menenteng tasnya dan juga kado special untuk Maulana


"Wow... Seumur umur gue belum pernah di rayakan ulang tahun gue" Ucap Zula pada Ryan yang berjalan menuju lokasi acara


Karena biasanya kalau acara sepeeti itu di laksanakannya di aulanya, jadi mereka langsung bertanya di mana aula hotelnya dan langsung berjalan ke sana


Zula sangat happy banget, dan menahan rindu yang dia tahan selama ini, rindu mendalam karena sudah beberapa bulan tidak ketemu


Terkhir di acara pernikahan Al dan Aliza dia berjumpa


Tiba saatnya mereka sampai di pintu utama dan melewati scuriti dan Zulq serta Ryan mengangukkan kepalanya untuk menyapanya


Saat tepat di depan pintu Zula meluruskan pandangannya dan dia melihat sosok calon suaminya yang ada di depan sana dengan di gandeng sosok gadis dengan memakai pakaian pengantin, dan menerima salam salaman dengan para tamu yang hadir


Deg.... Jederrr


Bagai sambaran petir yang langsung menyambar hati dan jantungnya


Seketika dadanya sesak dan pengen menangis, Ryan belum menyadari hal itu dan masih mengajak Zula masuk


" Ayo... Kok berhenti" ucap Ryan dengan Pandangan Zula yang masih luruh ke arah Maulana dan Aufi


" Gue sedang mimpi ini kan pak?" tanya Zula dengan suara gemetar menahan tangis air mata


" Enggak... Apaan sih" jawab Ryan belum faham dan kemudian mengikuti arah mata Zula yang sama sekali tidak berkedip


" Astagfirullahal adzim..." Ucap Ryan langsung menarik Zula dari depan pintu


Bukan hanya Zula saja yang Syok, tapi Ryan juga, Ryan pernah berada di posisi seperti Zula, dan pastinya sangat sakit


Tapi tidaj sesakit Zula, karena dulu dia mencintai seseorang cuman hanya batas mencintai saja, karena cintanya tak terbalas, dan orang yang dia cintai ternyata sudah menjadi milik orang lain


Zula kini berada di sebelah pintu masuk Aula hotel, dan agak jauh Ryan sengaja menariknya ke sana, untuk memghibur Zula


" Loe sini bentar, gue cari tahu kebenarannya" ucap Ryan dan Zula sama sekali tidak menjawab dan terjongkok menghadap tembok


Tangisan Zula semakin menjadi, DERAI AIR MATA kehancuran dalam hatinya mulai berkucuran,


Ryan kini sudah selesai bertanya pada pak scurity yang bertugas, dan benar itu Maulana yang benar menikah dengan salah satu gadis yang di sebutkan cuman dia lupa siapa namanya tadi


" Udah kita pulang aja" Ucap Ryan menghampiri Zula


" Jadi ini benar pak? Benar kalau Maulana yang menikah?" tanya Zula dengan tangisan yang belum berhenti


Ryan tidak menjawab sama sekali, dan hanya menggandeng Zula yang tangisannya semakin deras dan menusuk hatinya


" Dia gak pernah menyakiti gue pak Ryan, dia selalu sayang dan lembut sama gue, ini gak mungkin" Ucap Zula makin menangis dan masih tidak percaya


" La.... Dia bukan jodoh Elo, Elo harus terima ini, makanya ayo pulang, gue gak mau elo semakin terpukul di sini" ajak Ryan menenangkan Zula


Tapi Justru Zula semakin menangis dan berkali kali memukul tangannya ke tembok, Ryan sempat menahannya tapi pelampiasannya ke tembok tidak ber arti apa apa dan bahkan tidak terasa mungkin


Cukup lama Ryan menunggu dan menenangkan Zula yang sedang menangis bahkan Ryan sendiri gak peduli dengan.pandangan tamu yang baru hadir maupun mau pulang yang mepihat mereka berdua


Sampai akhirnya Zula terhenti dan berdiri dengan mengelap air matanya kasar


" Kita pulang ya" ucap Ryan lagi setelah Zula berdiri dan tidak menangis lagi


" Enggak... Gue mau lanjut tujuan gue ke sini" jawab Zula kekeh


" Gak perlu kita pulang aja" jawab Ryan masih mencegah


" Plis pak Ryan.... Temani gue, gue mau menyelesaikan masalah ini" jawab Zula memohon


Ryan akhirnya mau setelah Zula terus memohon, dengan hati yang sangat sakit sekali, Zula berjalan masuk kedalam dangan tetap membawa kadonya, dan dia gak peduli pandangan orang lain tentang matanya yang sembab akibat setelah menangis


Zula menundukkan kepalanya dan Ryan juga mengikuti para tamu yang berjejer antri untuk bersalaman pada ke dua mempelai


Sampai akhirnya Zula dan Ryan sampai di atas panggung pelaminan, dan bersalaman pada kedua orang tua Aufi sampai di kedua mempelai


Maulana sangat syok.. Dan langsung menangis saat melihat kedatangan Zula tanpa sepengetahuannya


" Selamat ya mbak" Ucap Zula pada Aufi yang belum mengetahui siapa yang hadir di hadapannya kali ini


Suasana udah semakin malam tamu tidak banyak lagi, dan mungkin Zula adalah tamu terakhir yang hadir


" Terimakasih" jawab Aufi sambil tersenyum


Ryan di sebelah Zula sudah ikut deg degan dengan apa nanti yang Zula katakan pada Maulana, apakah Zula akan mengamuk dan berkata kasar sama seperti yang dia terima setiap hari di kantor


" Sayang..." Ucap Maulana dengan DERAI AIR MATA yang gak bisa di bendung lagi


Zula henya tersenyum dan tidak menjawab iya, seperti biasanya, Zula menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan


" Huh....... Selamat ya, " Ucap Zula terhenti , dia masih berusaha menetralkan perasaannya dan berkali kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan


" Huh..... Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, ... Huh.... Mawadah, Huh.... Warohmah,.. Huh Dan Istiqomah.." Ucap Zula terbata bata dengan lisan yang gemeteran untuk tidak menangis di hadapan Maulana


Maulana menggelengkan kepalanya , dia gak bisa berkata apa apa lagi, kedatangan Sosok wanita yang di cintainya membuatnya lemas, tak berdaya


Zula tau ini pasti ada sesuatu, tapi sudah.. Dia gak butuh cerita atau penjelasan tentang itu, senua sudah terjadi dan dia sudah terluka


" Jaga dia, sayangi dia, dan cintai dia sama seperti kamu dulu pernah menyayangiku, jangan pernah sakiti hatinya, seperti kamu menyakiti hatiku saat ini, dia perempuan yang sama , aku sama dia, sama sama perempuan, dan sama seperti Bundamu, yang melahirkanmu" ucap Zula dengan akhir hembusan panjang dari lisannya


" Sekali lagi selamat menempuh hidup baru, dan selamat Ulang tahun" ucap Zula sambil memberikan kotak jam tangan yang dia bawa


Maulana menerimanya tapi lidahnya kelu tidak bisa menjawab dan berkata apa apa pada Zula, dia hancur saat ini, hatinya hancur juga melihat sosok wanita idamannya yang selalu dia jaga perasaannya menangis di hadapannya


Zula kemudian melepas cincin tunangan yang pernah Maulana berikan kepadanya dan meminta jari tangan Aufi, kemudian memasangkan cincin tersebut ke jari manis Aufi


" Selamat ya..." Ucap Zula lagi dan bersalaman kemudian berjalan ke arah Abi dan Bundanya Maulana


Di sana Bunda dan Abi Maulana sudah menangis dan langsung memeluk Zula, yang kali ini sudah melepas cincin yang pernah merema sematkan di jarinya itu artinya Zula sudah melepas tuangannya


" Maafkan Bunda sayang.... Maafkan abi Juga , ini bukan kemauan kami, maafkan Maulana" Ucap Bunda Maulana dalam pelukan Zula


Zula kembali menangis karena bendungan yang dia buat jebol saat pertama Bunda Maulana memeluknya


Zula tidak berkata apa apa lagi, dia hanya menangis saja tanpa mengangguk sekalipun


Maulana ikut kembali dan bahkan sampai jongkok dan bersujud di kaki Zula


" Pak Ryan.." Panggil Zula agar Ryan segera membantu Maulana berdiri


Ryan langsung membantunya dan memegangi dan membantu Maulana agar berdiri


Maulana sudah kembali berdiri dan tangisannya tak kunjung berhenti, dia sakit hati sendiri melihat sosok Zula yang menangis di pelukan Bundanya


Zula gak mau lama lama di sana, justru semakin menyakiti hatinya


" Maafkan aku sayang.." Ucap Maulana hanya kata maaf dan maaf yang bisa di ucapkan,


Maulana kembali hendak bersujud tapi Ryan langsung mengangkatnya


" Terimakasih Abi, bunda, Maul, yang dulu pernah menerima dan menyayangi Zula, Zula minta maaf, kalau selama ini Zula ada salah sama kalian, sekali lagi selamat ya" Ucap Zula dan bersalaman pada Bundanya saja


Karena dari awal mereka kenal Zula hanya menyalami bundanya saja, bahkan sampai sekarang karena mereka belum mukhrim


Zula langsung pergi tanpa memanggil Ryan, Ryan sengaja berdiri dan hendak menyampaikan sesuatu pada Maulana dan keluarganya


Melihat kepergian Zula dengan tangisan, dan melihat tangisan anak dan cucunya, kakek dan nenek Maulana akhirnya mendekat untuk mengetahui siapa wanita tadi


Setelah mendekat pas Ryan hendak bicara


" Tadi Zula kemari ingin memberi kejutan sama Maul, kami sudah 3 hari di sini karena tugas kerja, awalnya mengira kalau acara ini adalah acara ulang tahun Maul, dan dia sudah menyiapkan kado yang katanya setiap hari Maul tanyakan, yaitu kapan dia siap di ajak menikah, dan dia sempat bercerita bahwa, tahun tahun ini, terserah kalian, Zula siap menikah dengan Maul, itu yang mungkin belum Zula katakan tadi, jadi sekalian sampaikan, saya permisi dulu" Ucap Ryan pergi dan Maulana langsung ambruk dan sangat syok tak sadarkan diri


Di saat jawaban yang selalu dia tunggu, ternyata jawaban itu harus hangus karena kejutan yang mengejutkan dari Zula