Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Pesan terakhir untuk Zula


“ Ya Loe jangan gitu juga kali Lq, kasian Ryan, udah jomblo loe aniyaya” jawab El seolah membela Ryan


“ Apa hubungannya sama Gue, “ bantah Zula


“ Ya adalah dia lho atasan elo,” jawab El lagi


“ Bodo Amat, atasan gak pernah pengertian sama anak buahnya, maunya di mengerti aja” bantah Zula lagi


“ Lah Gimana mau mengerti, orang dia aja gak mengerti siapa Elo sebenarnya” jawab El dan Zula mengerucut


“ Tau lah.. pokoknya bodo amat, pecat pecat saja lah, kerjaanku masih banyaj juga selain di perusahaan” jawab Zula sambil ngomel keluar


Hari hari sudah di lewati, seharian sudah Abah Hasan dan Umi Zahra kembali ke rumah, santri yang mau ikut kilatan semakin bangak, dan banyak juga santri baru yang ikut sowan ke Ndalem


Abah Hasan, dan Umi Zahra sudah semakin sehat semakin segar, dan membuat anak anaknya yang jauh sudah tidak khawatir untuk meninggalkannya


Mereka berniat pulang, tapi Zain dan Jihan menahan, bukan hanya mereka saja, tapi Abah Hasan dan Umi Zahra juga menahan mereka untuk pulang


Seperti saat ini, Baha’ dan Fani sudah beberapa kali mengajukan, tapi di tolak secara halus oleh kedua orang tua yang membesarkan mereka


Tidak seperti biasa, Umi Zahra bila sering kali diminta sama anaknya pasti akan emosi tapi kali ini hanya bilang ..


“ Jangan pulang dulu, sese kali kira sahur bareng sama sama, udah puluhan tahun kalian gak sahur bareng Abah umi, kali ini aja, soalnya tahun depan gak tau gimana” jawab Abah Hasan saat menasehati kedua anaknya


Mereka belum sadar apa yang kedua orang tuanya ucapkan, cuman Jihan, El dan Zula yang di beri kesadaran akan hal itu, secara Jihan dan El yang mengetahui kondisi yang sebenarnya


Dan mereka yang lain, hanya melihat kondisi kedua orang tuanya yang sehat segar seperti sedia kala, bahkan yang menemui semua wali santri saat sowan beliau berdua saja


“ La... Ula...” kini Abah Hasan berteriak memanggil Zula


“ Iya mbah Abah” jawab Zula yang sedang minum di dapur


“ Kamu gak kemana mana nak hari ini?” tanya Abah Hasan lembut sama Zula


“ Enggak dong, kan Ula mau berada di dekat mbah Abah sama Mbah Umi aja” jawab Zula sambil menampilkan senyum manisnya


Abah Hasan tersenyum dan mengelus lembut kepala Zula


“ Mbah Abah mau apa?? Mau Ula pesenkan apa? Mau makan apa?” tanya Zula lembut penuh pengertian


“ Umi..?” tanya Abah Hasan pada umi Zahra


“ Coba tanya yang lain, pengen apa? Nanti sore kita makan bareng bareng, kan besok sudah puasa” jawab Umi Zahra agar meminta penapat pada cucu cucunya yang lain


Zula kemudian melakukan panggilan pada grub yang pada pelencar malam ini


Mungkin mereka butuh hiburan jadi sebelum puasa di malam ini mereka juga jalan jalan, biar gak bosen di rumah terus


Sambil menunggu jadwal pulang kerumah masing masing dan juga sebelum puasa


Zula hanya pengen fokus ke nenek kakeknya seperti yang uminya katakan, dan gak mau lengah atau terlewat sama sekali


“ Assalamualaikum...” ucap semuanya kompak dan satu persatu pada mengangkat telfon dari Zula di grub keluarga


“ Waalaikumsalam...” jawab Zula dan Umi Zahra tersenyum melihat kerukunan anak cucunya


Tapi walaupun berkali kali di sakiti sama sekali tidak ada dendam yang Jihan torehkan pada anak anak Abah Hasan dan Umi Zahra


" Besok mau makan apa? Sebelum puasa makan bareng rame rame seru dong" ucap Zula mendapat jawaban tepuk tangan girang dari mereka


" Seafood aja" jawab mereka kompak


" Bener ya... Besok harus masak sama sama lho" ucap Zula lagi


" Gak apa apa, asal jangan loe yang masak La" jawab El yang sudah ikut gabung


" Yang ada jadi kebakar semua" tambah El mengundang gelak tawa lainnya


" Okey siap... Seafood ya..." Ucap Zula dan mereka kompak menjawab setuju


Makanan mahal itu memang banyak di sukai orang orang, bagi yang tidak punya Alergi


Ya Alergi enak di awal sakit fi akhir, seperti gatel dan asma yang biasa menyerang


Tapi bagi keluarga Jihan dan Zain gak ada pantangan sama sekali dan aman bagi mereka kalau dapat pantangan langsung obat menanti


" Seafood mbah, mau gak?" tanya Jihan lagi


" Mau tapi dagingnya yang lembut ya Nak, Mbah Umi sama mbah Abah, giginya masih utuh tapi gak ada tenaga ngunyah" jawab Umi Zahra sambil bercanda


Benar gigi Umi Zahra dan abah Hasan masih utuh, cuman kalau mengunyah yang agak alot dan keras tidak kuat lagi


" Okey siap mbah, " jawab Zula semangat membuat senang kedua nenek kakeknya


Tak lama rasa sumringah dari Abah Hasan dan Umi Zahra menyurut


" Mbah kenapa?" tanya Zula pelan


" Hem... Kamu, kalau punya sifat sama kayak Umimu ya nak" ucap Umi Zahra pelan


" Umimu sosok wanita yang sama sekali gak punya dendam sama siapapun" jawab Umi Zahra lagi


" Kenapa Memang Mbah?" tanya Zula balik


" Dulu, saat pertama Umi ke sini, dan menjadi keluarga ini seolah semua menolak, Pakde dan Budemu sama sekali tidak mau menerima Umimu sebagai anggota keluarga, menatap sinis mereka karena bukan dari keluarga priyayi" jawab Umi Zahra kembali ber wajah teduh


" Bukan Pakde dan Bude saja yang dulu pernah benci sama Umimu, tapi Mbah Abah dan mbah Umi juga pernah membuat kesalahan, apa lagi abahmu, paling banyak" tambah Umi Zahra dan Zula mendengarkan dengan seksama


" Tapi sedikit pun Umimu gak pernah dendam dengan kami, Umimu selalu memberi yang terbaik pada kami semua, bahkan menjaga dan menutup Aib kami secara rapat, tanpa mencari pembelaan sama sekali" tambah Umi Zahra lagi dan tak terasa air mata Umi Zahra meleleh di pipinya


" Sebesar kesalahan kami semua, seolah Umimu gak pernah merasa ada apa apa, gak pernah menganggap sebagai masalah, dan biasa saja tanpa ada rasa dengki sama sekali" tambah Abah Hasan lagi


" Jarang ada wanita seperti itu, kami harap kamu sebagai penerus Umimu ya, mempunyai sifat yang luar biasa seperti umimu, " tambah Abah Hasan lagi


" Di saat lontaran kasar sudah kami semua ucapkan kepadanya, pembelaan dan menutup aib kami masih Umi kamu lakukan, padahal dia bisa aja membalas sakit hatinya yang mungkin makin mendalam bila di ingat , " ucap Umi Zahra


" Hanya itu pesen mbah, insyaallah akan menjadikan hidupmu lebih nyaman, orang yang tidak bersalah, dan tidak cari masalah, insyaallah akan tetap tenang" tambah Umi Zahra dengan pesan Abah Hasan dan Umi Zahra kepadanya agar tidak mempunyai beban