Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Melas


Kini Zain dan Jihan sudah memasuki komplek rumah mereka, begitu juga mobilnya kemudian memasuki pekarangan rumahnya,


" Mobil Al kok belum ada ya Bah, apa belok dulu dia tadi?" tanya Jihan yang belum melihat mobil Al parkir


" Entah, Iya paling Mi, mampir main dulu" jawab Zain dan Jihan mengangguk


" Biar lah, udah besar juga kok" jawab Zain lagi


" Udah seharusnya kita punya cucu ya bah, Al udah mau 27 lho, gak nikah nikah," ucap Jihan sambil berusaha melepas seat belt nya yang sepertinya susah


" Abah aja dulu 30 Umi masih mau" jawab Zain enteng


" Abah ganteng sih"


" Jadi kalau jelek gak mau?"


" Ya enggak lah, enak aja Umi cantik gini dapat suami jelek, apa kata netizen" jawab Jihan santai dan Zain mulai cemberut


" Kenapa cemberut? kan abah ganteng" jawab Jihan gombal dan Zain kembali tersenyum


Zain kembali mendekat dan mencium bibir Jihan lembut, karena kalau sedang berduaan, dari dulu sampai tua sekarang, Zain selalu mengincar dan selalu gemes dengan bibir Jihan, yang super cerewet suka ngomelngomel


" Kenapa? susah?" tanya Zain karena Jihan jarang pake seat belt, kalau saat pergi dengan anak anaknya, apa lagi dia sering di belakang, dan Jihanpaling males juga di tahan dengan seat belt


" Iya Nih, susah banget kayak perawan aja" jawab Jihan nyeplos membuat Zain geleng kepala


Zain mendekat dan membantu melepas seat belt Jihan, sambil berbisik ketelinga


" Seperti Umi yang selalu rasa perawan" jawab Zain tepat di telinga Jihan


" Sempit dong" jawab Jihan memancing


" Yuk..." ajak Zain girang


Jihan mendekat dan bersandar ke dada Zain dengan penuh kemesraan


" Jangan Abah, masih sore, nanti malam aja" ucap Jihan dan


Plak...


Tangan cantik dan enteng Jihan memukul pelan dada bidang Zain


" Aduh sayang, kok malah di tonjok sih" keluh Zain manja


" Mau lagi? lebih keras?" tanya Jihan menawarkan dan Zain tidak menjawab


" Udah ah... Ayok keluar capek nih" ucap Jihan dan Zain turun bersamaan denga Jihan yang buka pintu sendiri


Mereka berjalan menuju pintu utama, dengan Zain yang selalu menggandneg dan merangkul pundak Jihan dengan mesra,


" Kita sholat dulu ya, habis itu Umi masak yang banyak" ucap Zain lagi dan tidak di jawab Jihan


" Assalamualaikum wr wb" ucap keduanya saat membuka pintu rumahnya


Karena walaupun di rumah kita tidak ada orang sama sekali, tapi sebaiknya selalu mengucapkan salam saat masuk kemanapun,


Karena masih ada makhluk lain yang ada di sana, tanpa kita ketahui


" Kok masak banyak " ucap Jihan kaget gak seperti biasanya


" Hari ini semua anak anak kita capek bekerja Mi, apa lagi putri bungsu kesayanga Abah, kasian dia capek kerja seharian" jawab Zain teringat putri kesayangannya


" Iya lah, putri kesayangan, Umi juga capek kali bekerja seharian, Mana nih yang masakin untuk Umi" keluh Jihan sambil bercanda tentunya


Karena Jihan juga sadar diri, itu kewajiban sebagai seorang ibu dan istri, yang harus memenuhi kebutuhan asupan makanan untuk anak dan juga suaminya


" Semua tangan Umi ini, " tambah Jihan sambil rebahan di sofa ruang tengah


Zain sebenarnya gak tega, tapi gimana lagi, Dia dan anak anaknya hanya mau masakan Uminya, dan bisen masakan resto, harus tangan Uminya walaupun di tumah mereka juga udah ada embak


" Maaf ya sayang, Umi tau sendiri kan?" jawab Zain ikut berbaring di dekat Jihan


" Iya iya Bah, " jawab Jihan santai


" oh ya Bah" ucap Jihan tiba tiba terlintas di pikirannya


Jihan langsung bangun dan membuat Zain ikutan kaget dan duduk tegak


" Kenapa?" Tanya Jihan serius


" Tadi abah minta pada Umi untuk bantuin abah kan, ngomong sama anak anak terutama sana Zula, " ucap Jihan mengitarakan pikirannya


" Iya kenapa?" tanya Zain lagi sambil mengangguk


Kemudian Jihan mengutarakan semua pikiran yang terlibtas barusan dan Zain mengangguk serta siap mengikuti ide Jihan


Setelah itu mereka sama sama kekamar dan mandi bareng lanjut sholat berjamaah dan Jihan siap temput di dapur


Zain anteng di kamar lanjut dengan pekerjaannya yang masih numpuk, serta siap menjalankan ide dari Umi Jihan


Jihan kini di bantu embak untuk masak, Jihan hanya bagian memasak saja, untuk meracik di bantu dengan 2 embak yang bekerja di sana


Saat hendak magrib ke tiga anaknya baru pulang, di mana di saat Uminya sedang menyiapkan untuk makan malam mereka di meja makan


" Waalaikumsalam.... baru pulang dari mana aja?" tanya Jihan pada ketiga anaknya


" Dari butik seleksi model dan beberapa kerjaan lainnya, " jawab Al karena ada tugas di butik juga


" Oh... ya udah sana buruan naik, gak usah salim dulu, mandi sholat jamaah" ucap Jihan karena kebiasaan Jihan kalau anak dari luar apa lagi kerja seharian, harus bersih bersih dan steril paling penting


Pas di adzan magrib ketiganya sudah bersih dan siap melaksanakan sholat berjamaah


Kali ini Ak sebagai imamnya, Zain sengaja gak keluar, karena ini ada misi bagi Zain untuk anak gadis mrengkelnya


El dan Al sudah bisa di setir, beda dengan Putri kesayangannya dulu


Seusai sholat Zula celingak celinguk kayak ada yang kurang, walaupun semua mbaknya ikut jamaah juga, begitu juga dengan akang santo tukang kebunnya juga


Tapi Zula tidak langsung bertanya, dan berfikir kalau abahnya ada urusan di luar atau ngisi tausyiah di luar juga padahal Zain masih di kamar anteng sholat sendirian


Habis magrib mereka punya kegiatan magrib mengaji, dan sehabis jamaah isya' mereka lanjut untuk makan malam bersama


Di meja makan hanya ada Jihan dan ke 3 anaknya


" Mi, abah undangan di mana?" tanya Zula tiba tiba


" Iya, apa ada ketemu klaen?" tanya Al lagi


El lanjut makan karena pertanyaan udah di wakilkan aadek dan abangnya


" Abah di rumah, gak kemana mana kok" jawab Jihan santai


" Lho kok gak ikut jamaah dan makan bareng kita, abah kenapa?" tanya Zula mulai panik


" Entah, sejak pulang dari kantor diem aja kok, Umi juga heran, murung di kamar kayak anak gadis aja" jawab Jihan seperti ber drama karena memang berdrama


Tanpa BABIBUBEBO, Zula langsung menggeser kursinya dan berdiri untuk berjalan menghampiri abahnya, ya namanya mereka sama sama CINTA DUNIA AKHIRAT


" Kenapa sih Mi?" tanya El kepo


" Suut.... Itu Misi Abah, diam dulu, nanti Umi cerita habis makan, jangan kalian ikuti ya, " ucap Jihan dan membuat mereka makin kepo


Ceklek....


Pintu terbuka perlahan


" Assalamualaikum" ucap Zula sambil masuk ke kamar abah uminya


" Waalaikumsalam" jawab Zain pelan sesuai intruksi Jihan sore tadi


Ya Jihan memberi arahan pada Zain agar terlihat murung dan sedih kalau Zula masih merengkel dan gak mau di atur abahnya


" Abah kenapa? Abah sakit?" tanya Zula lembut sambil mendekat dan kemudian menempelkan tangannya di leher abahnya


Zain tidak menjawab dan bahkan ingin menangis melihat anak perempuan satu satunya


" Kok abah nangis kenapa? ada apa abah?" tanya Zula lagi udah mulai kebawa perasaan


" Maafin Abah" ucap Zain lembut dan makin membuat Zula panik


" bah..." ucap Zula lirih


" 16 tahun kita terpisah, tanpa mengetahui satu sama lain siapa abah dan siapa kamu nak, " ucap Zain lirih


" Dan itu membuatmu menderita di luar sana tanpa adanya nama abah dalam hidupmu, dan sekarang sampai saat ini, kamu seolah sudah terbiasa dengan tidak adanya abah di sampingmu" ucap Zain lagi


" Enggak... Abah ngomong apa itu" selak Zula cepat


" Abah gak sanggup melakukan ini, tali abah gak bisa menolak permintaanmu" jawab Zain dengan DERAI AIR MATA yang mengalir deras


" Sehari Abah melihatmu, menanggapi semua tamu, yang berbeda karakternya, yang gak semua ramah dan banyak pula yang sadis, itu cukup membuat abah sakit hati, rasanya abah ingin mati aja, karena sampai saat ini masih ada orang yang meremehkanmu, jutek padamu juga, " tambah Zain langsung mengutarakan semua perasaannya


Sampai situ Zula sudah tau dan peka gimana perasaan abahnya dan maksud abahnya seperti apa


" Udah cukup ya bah, cukup Zula sayang abah, okey mulai nanti pagi Zula aka nurut sama abah, Zula mau di pindahkan kemana saja okey, 1 syarat Zula minta bah, 1 aja ya" ucap Zula kembali memohon


" Zula masih mau nyamar jadi karyawan, bukan langsung jadi putri abah, plis deh, nanti kalau Zula udah jadi pembisnis hebat Zula akan mengakui semuanya, ada Misi Zula satu.itu aja" jawab Zula tidak menjelaskan kalau dia akan mengerjai dan balas dendam dengan Ryan


" Kenapa?" tanya Zain yang awalnya gembira mendengar ucapan Zula kini kembali teduh


" Ada misi Zula, ya bah ya.... Kan persentasi Zula tadi bisa di buat alasan untuk memindah jabatan Zula" jawab Zula sambil mata berbinar dan akhirnya Zain kembali menyetujui


________


Keesokan harinya Zula di panggil ke ruangan Zain, beserta dengan Irfan dan Juga Ryan


" Jadi gini Zula, saya memanggil kamu kesini, sudah pasti itu ada hubungannya dengan persentasi dan hasil kerjamu kemaren" ucap Zain membuar Ryan dag dig dug


Dia sangat kesal dan takut juga malau posisinya di gantikan oleh Ryan


" Jadi saya minta sama kamu, untuk jadi asisten Ryan mulai hari ini dan seterusnya" tambah Zain dan


" APA" ucap Zula dan Ryan kompam