
Maul terdiam, dan entah mengapa, hatinya tidak terima kalau Ryan yang jadi suami dari Zula
" Jangan ajak dia berantem terus" ucap Maul menasehati
" Kira kira kalau gue masih musuhan sama Zula, gue bisa jadi suami Zula gak??" tanya balik Ryan yang jengkel
Masalahnya Saat Zula sakit Maul diam, seolah gak mau tau gak ada usaha untuk kembali dapat maaf Zula, penyembuhan Zula dia juga gak tau
Ryan cukup jengkel saat bertemu dengan Maul saat ini, rasa sakit Zula waktu itu kembali terbayang dan ingin rasanya memejukan tangannya untuk menghantam Maul, sebagai balasan sudah pernah menyakiti istrinya
" Terimakasih banyak, sudah memutuskan Zula waktu itu, sudah menggores hati Zula pada waktu itu, dan memberi kesempatan gue untuk dekat dan damai hingga kita bertemu sebagai JODOH DUNIA AKHIRAT Amin.." ucap Ryan gak mau basa basi
" Istri gue udah care sama keluargamu, dan Elo, seharusnya sadar, elo dulu salah, gak usah cari gara gara lagi, gak usah du ulang dan di ulas lagi, penyembuahannya bukan hal mudah, 2 tahun lebih bukan hal singkat, dan stop gak perlu di bahas lagi" Ucap Ryan lagi pada Maul
" Dan kami walcome kalau loe mau damai dan kembali berteman, tapi gak perlu di bahas masa lalu, kita udah punya keluarga masing masing, kalau elo mau tetap istri dan gue musuhin elo, lanjut aja apa tujuan elo" jawab Ryan lagi dan Maul mulai berfikir
" Gue minta maaf" jawab dia spontan
“ Gue minta maaf, kalau gue salah, gue sadar gue gak bisa bahagiaan Zula, gue hanya bisa mencintai tapi juga menyakiti “ jawab Maul sadar diri
“ Ya udah kalau begitu plis jangan ungkit lagi masa lalu kalian, selain gue sakit hati, cara penyembuhannya itu gak mudah” jawab Ryan apa adanya
“ Terimakasih sudah bersedia mendampingi dan menjadi penyembuh luka yang pernah gue goreskan, jangan pernah sakiti dia, cuman gue saja cukup sekali” ucap Maul akhirnya menyadari
“ Gue tau gimana jadi dia, dan gue gak akan lakukan hal yang sama seperti yang elo lakukan kepadanya, dia berlian hidupku” jawab Ryan dan Maul spontan mendekapnya
“ Terimakasih” Ucap Maul terharu
“ Jadikan kami saudara, kami gak mau bermusuhan lagi” Ucap Maul dan Ryan mengangguk
Di dalam Zula masih sibuk milih baju untuknya dan juga Ryan, Ya Ryan sosok yang nurut banget sama Zula, apa lagi soal fashion, walaupun dia punya karakter fashion sendiri tapi semanjak jadi suami Zula, Ryan jadi makin percaya kalau Zula sangat mengenal Fashion,
Makanya butik Jihan Aulia Collection menjadi milik Zula karena Zula yang bisa mengelola
“ Adek mau yang mana? Ini ya cocok benget nih, “ Ucap Zula sambil memberikan pada anak dari Maul
“ Udah bawa tante” jawab Aufi segan
“ Udah bawa ganti banyak ya... Enaknya, gak susah nyari, tante malah gak bawa apa apa, dadakan” jawab Zula ramah
“ Dadakan apa ini, ada kerjaan apa gimana? Kok sampai gak bawa baju” tanya Aufi kembali memastikan
Zula tersenyum dan sambil mengajak Audi duduk untuk menyelesaikan pembayaran atau size yang di minta oleh Zula
“ Enggak sih, malah gue sudah lama gak kerja, nganggur di rumah, lagi mabok jadi free di rumah aja, ini mukjizat lagi seger segernya sekarang, biasanya kayak krupuk melempem “ jawab Zula santai sambil bercerita
“ Iya katanya ada yang seperti itu, tapi saya dulu pas hamil Alhamdulillah enggak kenapa napa” jawab Aufi ikut bercerita
“ Agak manja itungannya” Ucap Zula dan Aufi tersenyum
“ Gak apa apa, kan wanita memang perlu di manja” jawab Aufi ramah
“ Jadi rencana berapa lama di sini ? Apa sekalian kerjaan suami selesai?” tanya Aufi masih mengira mereka kerja
“ Oh.. Enggak... kami gak kerja sih, cuman pengen menghirup udara Paris ceritanya, ngidam ya, hehe” jawab Zula tetap santai
“ Oh... begitu, rencana berapa lama?” tanya Aufi karena biasanya kalau ikut travel di jadwal sekian hari
“ Nanti kalau udah bosan pengen pulang baru pulang” jawab Zula santai
“ Oh... Suaminya gak kerja?” tanya Aufi lagi dan seolah menyelidik
Ya walaupun dia anak orang kaya kan senggaknya suaminya juga berusaha, dan bekerja
“ Cuti dulu, nemenin saya, kerjaan di handel Abah” jawab Zula tetap santai
Tak lama Ryan dan Maul masuk menyusul mereka, dan tak lama juga anggota pelayan juga menghampiri mereka
“ Udah sayang?” tanya Ryan lembut dan duduk di sebelah Zula
“ Udah, ini udah di bawain juga, nih kartunya” Ucap Zula mengembalikan kartu pada Ryan
" Oh iya, ini untuk adeknya" Ucap Zula memberikan paper bag untuk anak Aufi
" Kok repot repot, gak perlu" Ucap Maul gak enak
" Gak apa apa, rezeki anak sholeh" jawab Zula akhirnya menjawab ucapan Maul setelah sekian lama
" Ya udah kalau gitu kami duluan ya, " Ucap Zula berdiri begitu juga dengan Ryan
" Dada sholeh, mbak, Maul" Ucap Zula pamit dan cipika cipiki pada Aufi dan mencium anaknya
" Makasih banyak" Ucap Mereka dan Zula Ryan mengangguk kemudian pergi
____________
Sudah berhari hari Zula dan Ryan di Paris, Zain dan Jihan juga menggantikan posisi mereka di kantor
Ya seperti yang Zula minta, awalnya bisa juga Zain pasrah pada bawahannya,
Tapi Zula selalu bilang harus Abah, gak boleh yang lain, dan alasan permintaan cucu
Seperti saat ini mereka berdua sedang sibuk bekerja di masa tuanya
" Hem.... Semua demi cucu" Ucap Jihan mendengus kesal
" Cucunya hebat, ngerjain Embahnya duluan" jawab Zain sambil memeriksa berkas
" Karena dulu Emaknya gak di perhatikan sama embahnya, makanya cucunya bales dendam" jawab Jihan dan Zain tertawa geli dengernya
Tapi memang secara logis bener juga, seolah begitu, toh meminta haknya Maminya dulu
" Oh ya Bah... Besok ada pertemuan di SLTG, Abah berangkat sendiri aja ya, Umi repot" ucap Jihan pada Zain
" Enggak... Enak aja, Abah males kalau pergi sendiri" jawab Zain menolak
" Ayo lah Bah, sekali aja, walaupun di jauh mbok di pantau juga, " jawab Jihan lagi
" Kalau Umi gak berangkat ya Abah males" tolak Zain tegas
" Biar yang lain aja yang berangkat" tambah Zain lagi
" Ya udah Umi lapor aja sama cucunya" ancam Jihan dan langsung menghubungi Zula
Langsung nyambung dong, pas di sedang pegang ponsel juga
" Iya Umi...kangen ya" ucap Zula narsis
" Lapor sayang.... Ini Abahnya gak mau turun ke lapangan, di SLTG besok" ucap Jihan kompor
" Abah.... Kenapa? Abah bosenbantuin Zula, abah udah gak mau bantuin Zula, hiks hiks hiks" Zula langsung keluar senjatanya menangis
Ya kadang suka begitu, mood moodan dan cukuo manja jauh dari Zula sebenarnya
" Enggak sayang... Okey Abah besok berangkat" jawab Zain langsung dan Zula akhirnya terdiam
" Masyaallah masyaallah... Sabar bah ya" Ucap Zain mengekus dadanya sendiri
Jihan sampai tertawa terpingkal pingkal melihat ekspresi suaminya
____
Pagi harinya Zain sudah berangkat ke SLTG, karena info jalan masih rusak bawa mobil juga susah, Zain berangkat sendiri pake kereta api seperti saat ini dia kirim ke grub keluarga
@Bani Zain Musthofa
Demi Cucu, 🤦🤦 @Ryan, Abah tunggu, tanggung jawabmu
Begitu pesan abah Zain pada grub yang ngetag Ryan di sana, dengan wajah yang begitu tampan dan tetap awet muda