
Jihan makin merasakan sakitnya kontrasi yang semakin ke sini semakin bertambah, dan semakin cepat hilang timbulnya
Zain melihat wajah Jihan yang sudah mringas mringis makin tidak tega, dan terasa ikut kesakitan
" Sayang gimana?" tanya Zain lagi
" Elus pungung Umi Bah" jawab Jihan masih terus menahan kontraksi
Sudah sehari semalam mereka tidak keluar dari kamar, Jihan sudah merasakan itu, tapi rasanya kalau harus kembali ke RS dia sudah tidak sanggup,
Apa lagi dokter specialis kandungan di rumah sakit terdekat maupun di rumah sakitnya yang sekarang adalag laki laki, makanya kalau USG Jihan sering kali di tangani El sendiri gak mau yang lain
Dan dulu terakhir dia lahiran yang melihat ke istimewaannya adalag dokter perempuan, dan kali ini sulit menemukan itu, ada kenalannya cuman di Pusat Ibu Kota Jadi Jihan enggan
Makanya Jihan males dan gak mungkin di bantu lahiran sama El juga, walaupun anaknya sendiri
Selain itu, kelahiran anaknya saat Ini Jihan enggan di ketahui banyak orang, bahkan Abah Hasan dan Umi Zahra juga tidak mengetahui keberadaan mereka yang dua hari di kamar tanpa ketemu,
Zain nurut saja, walau hatinya dag dig dug dueeer karena ada nyeri sedep takut kehilangan
Zain terus mengelus punggung Jihan yang sedari radi tiduran miring ke kiri,
" Laahaulaa walaa kuwwataa illa billah...." ucap Jihan sambil menahan sakit
Jihan berkali kali menghembuskan nafasnya, tarik nafas buang nafas secara berlahan untuk menetralkan rasa sakitnya
" Sakit sayang?" tanya Zain sudah berlinang air matanya
" Iya Bah.... Haduh..... Huh.... Ya Allah..." ucap Jihan terus menyebut dan mengingat asma Allah
" Abah Umi minta tolong boleh?" Ucap Jihan lirih
" Apa sayang?" tanya Zain lagi
" Gelar karpet yang Umi beli beberpaa waktu lalu Bah," ucap Jihan yang menyimpannya di tempat gantinya
Dengan sigap Zain bangkit dari duduknya yang ada di sebelah Zula, dan pergi ke ruang ganti pakaian untuk mengambil karpet tersebut
Setelah itu Zain di minta Jihan untuk menyiapkan alat medisnya dan juga meja serta beberapa perlengkapan bayi dan melahirkan yang sudah di siapkan dan di rencanakan
Jihan akan berusaha melahirkan normal segampang dan seperti melahirkan Zula dulu
Setelah semua siap sesuai intruksi Jihan, Zain kembali mendekat pada Jihan
" Gimana lagi sayang? Sayang udah mau melahirkan?" tanya Zain lembut
" Sepertinya Bah, ini udah gak ada jeda sama sekali kontraksinya, Umi minta tolong, bantu Umi untuk tiduran di karpet itu" ucap Jihan dan Zain langsung mengangguk
" Kita kerumah sakit aja ya sayang" pinta Zain sudah gak kuat melihat wajah Jihan
" Enggak Bah.." jawab Jihan sambil menangis
" Abah Gak sanggup Mi, melihat Umi kesakitan, seperti ini? Apa nanti Abah sanggup membantu Umi untuk lahiran nanti?" tanya Zain lagi sudah menangis dan memeluk Jihan
" Ini yang Umi rasakan saat melahirkan Bah, dari awal, dan sering kali Umi lakukan sendiri, Kalau Abah gak mau bantu Umi, udah keluar aja, Umi bisa sendiri" jawab Jihan kembali emosi
Zain gak bisa menjawab lagi, hanya linangan air mata yang keluar, dan terus memeluk Jihan yang makin merasakan kesakitan
Jihan sudah mengeluarkan tanda tanda kelahiran sejak kemaren malam, dan sudah 2 malam Jihan tidak tidur begitu juga dengan Zain yang tidak bisa memejamkan matanya melihat dirinya sakit
Saat anak anaknya mengetuk pintu kamarnya pun tidak pernah di bukakan, dan kalau menelfon mereka selalu bilang sedang di luar dan meminta mereka untuk menggantikan pengajian di Pesantren
Jihan tidak mau membuat kehebohan tentang kelahiran anaknya yang ke 5 ini, yang dia inginkan hanya tau tau bayinya sudah lahir dengan sehat dan selamat sempurna, serta kebahagiaan orang orang di sekitarnya
Dan selama di kamar, mereka makan dengan beberapa stok yang ada di kamarnya, dan untungnya persiapan itu sudah Jihan cukupi, dengan menyediakan microwef juga di sana
" Sayang..... Bantu Umi" ucap Jihan lagi dengan suara yang lemah
Zain menyerah dan menggendong Jihan ke bawah untuk di baringkan ke karpet yang sudah Zain gelar
Zain juga memberikan 3 bantal yang di tumpuk untuk bersandar Jihan, serta mengambil beberapa lembar karpet khusus lahiran,
Zain juga menggelarnya seperti Yang Jihan perintahkan tepat di bawah Jihan dengan beberapa lapis yang sudah di sediakan
Zain kembali ke atas Jihan dan bahkan menjadi pangkuan bagi Jihan, Zain mengelus kepala Jihan yang mulai berkeringat dan punggungnya yang mulai basah dengan keringat
" Bah.... Celana D******m Umi belum di lepas" ucap Jihan membuat lelucon dadakan
" Eh.... Iya sayang...." jawab Zain garuk kepalanya yang tidak gatal
Zain kembali ke bawah dan membantu Jihan untuk melepas calana d******mnya, melihat hal yang istimewa sudah mulai membukaan Zain sangat kaget dan melotot
" Sayang.... Kok lebar" ucap Zain kaget
" Umi udah pembukaan sayang, rasanya udah mau mengejan" jawab Jihan semvari berpegangan pada bantalnya
Zain kembali ke atasnya lagi dan kembali menyemangat dan membantu Jihan untuk memberi kekuatan
" Rambut Umi kedepankan sayang" ucap Jihan lagi dan Zain membantunya
" Huh...... Huh.... Ya Allah lancarkan persalinan Istri hambamu ini ya Allah" Ucap Zain berdoa sambil ikut merasakan hembusan nafas yang sangat berat dan cepat
Padahal Jihan yang hendak melahirkan belum mulai megejan dan Zain yang sudah mengejan duluan
Kedua tangan Jihan berpegangan pada lengan Zain dengan sangat kuat dan bahkan mencengkeramnya
" Bismillahirrohmanirrohim....." Ucap Jihan sambil tarik nafas sangat dalam
" Eeeeeeeekkkhhhh........ " Teriak Zain ikut mengejan juga
Jihan terhenti karena perutnya bukan terasa kencang lagi
Jihan kembali melakukan hal yang sama begitu juga dengan Zain yang makin tegang, di tambah cengkeraman Jihan yang makin kuat serta menarik dan menjambak rambut Zain yang masih panjang di bagian depan, yang biasanya di sisir kebelakang
Zain tidak terasa karena dia ikut tegang juga, hingga
" Eeeeekh....... Pyar..." di pengejanan yang ke berapa akhirnya air ketuban Jihan pacah, membuat jalan lahir baby ke 5 semakin gampang
Zain sebenarnya penasaran apa yang pecah barusan, tapi Jihan masih petentengan sehingga membuatnya gak bisa meninggalkan Jihan dan melihatnya kebawah
" Bah.... Air ketuban Umi udah pecah, Umi mau mengeluarkan anak kita, Abah pindah ke depan gak apa apa" ucap Jihan agar ada yang memegangi atau menyambut anaknya langsung
Zain mengangguk dengan keadaan wajah dan badan yang sudah basah berketringat
Perlahan Zain membaringkan Jihan kembali dan pindah ke bagian depan,
Zain makin melotot matanya saat melihat rambut sang jabang bayi yang mulai kelihatan,
" Tangan Abah siap siap untuk menyanbut baby ya" ucap Jihan dan Zain langsung melakukannya dengan hati yang gemeteran rasanya
" Bismillahirrohmanirrohim.....Ya Allah ya Robbi... Eeeekh......" satu pengejan untuk membantu mendorong dan ....
OOOEEEK....... OOOOEEEK.... OOOEEEK.....
Tangisan seorang bayi yang langsung di tangan Abahnya,
Zain langsung menangis tak karuan saat melihat bayinya yang telah lahir dan langsung di terimanya dengan tangannya dari rahim Istrinya
" Subhanallah Walhamdulillah .... Anakku" ucap Zain dengan tangisan yang semakin pecah
" Umi.... Anak kita Mi..." ucap Zain dan Jihan tersenyum
" Sini Bah, taruh sininya Umi" ucap Jihan sambil membuka tempat yang dia maksud yaitu ASI nya
" Alhamdulillah...Anak Umi Abah,.. " ucap Jihan menerimanya
" Kain basah Bah" pinta Jihan pada Zain yang sudah menyiapkannya
Pelan pelan Jihan mengelap wajah bayi yang masih menangis dengan kencang itu, dan menberikannya asupan pertamanya yang ada dalam diri Uminya
Jihan tersenyum haru, dengan Zain yang terua di sebelahnya dan sekarang masih menangis dan mencium kepalanya tanpa henti dengan ucapan Trimakasih
" Anak Umi....." Ucap Jihan lembut sambil mengelus kepala bayinya yang masih penuh darah
" Sama sama Abah.... Umi juga terimakasih atas kerja samanya Abah" jawab Jihan dengan tangan satunya yang mengelus wajah Zain
" Sayang tolong ambilkan alat itu, untuk memotong tali pusarnya" ucap Jihan pada Zain dan langsung gerak cepat
" Gimana masangnya?" tanya Zain lagi dan Jihan mengajarkannya dan memberikan pengarahan pada Zain sampai tali pusarnya terpotong
Jihan kemudian memasukkan rambutnya yang ter urai ke depan, ke dalam mulutnya sehingga pengen muntah dan keluarlah ari arinya dengan sangat mudah
" Alhamdulillah...." Ucap Jihan saat merasa gerenjelan itu keluar dari jalannya
" Itu ari arinya baby sayang?" tanya Zain dan Jihan mengangguk
" Abah ambil dan bersihkan di washtafel ya, tolong masukkan dulu ke dalam itu" ucap Jihan sambil menunjuk tempat yang di maksud
" Tapi maaf bah, sebelumnya siapkan meja pendek itu dulu, Umi mau bersihkan baby dulu" ucap Jihan dan Zain menyiapkan
Sebelum menyiapkannya Zain juga membersihkan lemek lemek yang sudah berlumuran darah tersebut dan di masukkan kantong yang sudah di sediakan sebelumnya, .Jihan masih menimang nimang anaknya dan setelah semua siap, Zain gak langsung pergi tapi justru masih menunggu Jihan dan melihat Jihan membersihkan bayinya sendiri
Setelah selesai, Jihan juga memakaikan baju serta popoknya pada babynya juga, sampai bersih, dan meminta Zain agar di letakkan di kasur terlebih dahulu,
Setelah babynya di letakkan di kasur Zain mulai membantu Jihan bebersih, dan membersihkan ari arinya
Setelah semua bersih dan ari arinya di simpan terlebih dahulu Kini Zain mendekat dan mengadzani babynya
Dengan suara merdu dan Jihan yang memangku anaknya, Zain berkumandang adzan dengan tetesan air mata yang tak berhenti mulai dari pertama baca sholawat sebelum adzan sampai selesai dan mencium kepala Jihan serta bayinya di jam tepat jam 4 menjelang subuh
Yang mana babynya lahir di jam setengah 3 malam tadi,
Zain sangat terharu, akhirnya bisa menepati janjinya walau belum sepenuhnya, setelah kedua anaknya terlewatkan
" Masyaallah.... Ganteng banget ini, Mirip siapa ini?" ucap Zain sambil mengelus pipi putranya
Bayi Jihan yang ke 5 ini bukan kembar, tapi cuman satu karena Jihan tidak program kembar dan juga keduanya tidak ada keturunan kembar
Jadi satu saja cukup, dan hatahnya kembali laki laki,
" Mirip Abah lah, semuanya mirip Abah, Umi gak kebagian" jawab Jihan yang ikut menimang babynya
" Kakak Ula pasti cemberut ini nanti pagi, kalau tau babynya cowok, gak punya teman cewek, jadi cantik sendiri lagi deh" ucap Jihan lagi karena selama Jihan hamil Zula kalau gak capek dan gak pergi pergi, selalu absen untuk mengelus perut Uminya, dan selalu meminta baby cewek biar ada temannya
Eh... Sekarang justru yang keluar cowok, dan gak sesuai apa yang di inginkannya
" Mau di kasih nama siapa Abah?" tanya Jihan sambil menatap Zain
" Labib Muhasibi Khoirul Musthofa" Jawab Zain dengan tegas tapi penuh kelembutan
" Masyaallah.... Nama yang ganteng kayak orangnya" jawab Jihan dengan senyuman bahagia atas kelahirannya baby ke 5 nya, dengan gampang sehat selamat dan sempurna