
Soni membawa Ailza ke kamar yang sudah di bokingnya sejak datang siang tadi
Ailza juga ngikut dan nurut nurut aja sama Soni, karena kepolosan dan kelembutan yang begitu akut membuatnya asal ngikut aja
" Kok kesini?" tanya Ailza saat sudah sampai di kamar hotel Soni
" Kamu gak lupa kan apa yang sering kita lakukan dulu setelah pulang kuliah maupun sekolah?" tanya Sonu sambil merebahkan tubuhnya di kasur
" Apaan? Dulu kan cuman ciuman dan pengang pengangan, dulu masih polos belum berani" jawab Ailza yang memang dulu hanya berciuman, dalam arti Ailza masih perawan dan belum di incipi Soni sama sekali
" Sekarang gimana udah berani? Udah mau nikah beraeti udah berani dong" ucap Soni mendekatkan diri pada Ailza
" Kita udah gak ada hubungan Son, " Jawab Ailza lagi
" Gue tau, Kamu belum bisa melupakan aku, kamu masih sering kepoin media sosialku, dan kamu masihnsering chat aku juga" jawab Soni gak kehabisan akal untuk merayu Ailza
" Ya kan teman Son, dan sekarang aku udah punya tunangan, udah jadi milik orang" jawab Ailza
" Ya makanya itu, sebelum kamu di cicipi dan resmi jadi milik suamimu, aku mau mengincipimu dulu, prawanmu harus jadi ada di tanganku" jawab Soni egois
" Aku yang jagain kamu, aku yang lindungim kamu, masak tunanganmu yang menikmati prawanmu" ucap Soni makin gak terkontrol
" Kamu maunya gimana?" tanya Ailza lagi
" Layani aku malam ini" jawab Soni sudah gak waras lagi
" Aku tau kamu masih sayang sama aku, dan aku tau kamu masih cinta sama Aku" ucap Soni tepat di telinga Ailza yang sudah merinding rasanya
Ailza sudah gak bisa tenang lagi, dan butuh air untuk bisa menetralkan dirinya, karena apa yang di katakan Soni memang benar adanya, melupakan ke indahan punya Soni memang belum bisa di lupakan
Terkadang masih kebayang bayang kebesaran dan kepolosan serta warna pink yang sangat mulus milik Soni yang belum bisa menerobos miliknya
Sedangkan pacaran dengan El hanya cuman jalan bareng, pegangan aja enggak bisa , apa lagi pelukan sampai lihat punya El dan mengelusnya, karena El sangat terjaga orangnya, namanya santri di tambah anak Kyai lagi
" Mau minum?" tanya Soni dan Ailza mengangguk
Soni tersenyum dan berdiri untuk mengambilkan minum untuk Ailza, di meja hotel Soni memasukkan Serbuk Per******ng ke dalam gelas Ailza, untuk menambah g******h dalam tubuh Ailza
Soni memberikan air itu pada Ailza, dan Ailza yang sangat gugup langsung meneguknya sampe habis dan mengembalikan gelas tersebut pada Soni lagi
Ailza masih duduk rapi, dan soni kembali dengam berada di belakang Ailza dan memegang kedua punda Ailza
" Lepas ya,... Pasti gerah" ucap Soni sambil melepas hijab Ailza
Ailza tetap diam dan polos, serta menurut aja saat Soni melepas Jilbabnya
Soni menghembuskn nafanya di bagian Leher Ailza setelah Melepad Hijab Ailza
Ailza langsung merinding di tambah desiran darah yang mulai memanas dari reaksi dari obat yang Soni berikan
Aolza makin gak karuan dan Soni tersenyum kecut melihatnya dan siap menikmati keparawanan Ailza
Soni mulai melepas baju Ailza, dan gak berhenti henti sampe semua terlepas begitu juga dengan bajunya yang ikut semua terlepas hingga terjadi kejadian terlarang di antara ke duanya
Sama dengan Ailza dan Soni, Al dan Aliza gak keluar kamar sejak kemaren
Bedanya antara Soni /Ailza dan Al/Aliza cukup jauh, kalau Soni dan Ailza tentu haram dan sangat terlarang berbeda dengan Al dan Aliza yang mendapat pahala dunia akhirat
______________
2 minggu berlalu,...
Umi Jihan sudah masuk ke masa masa HPL, dan tinggal menunggu Hari yang makin mendekat untuk menyambut kedatangan Anak ke 5 nya,
Zula yang paling exetit untuk mempersiapkan kelahiran adeknya, bahkan Zula sudah mempersiapkan tempat tidur untuk calon adeknya yang saat ini belum di ketahui jenis kelaminnya
Zula mempersipkan kelahiran adeknya mulai baju popok dan lain sebagainya tentunya pake Uang gajinya sendiri, karena meresa hal yang baru yang akan menambah warna dari hidupnya
" Bah.... " ucap Jihan saat mereka berada di dalam kamar
" Gimana sayang? Udah terasa mau lahiran?" tanya Zain sangat antusias di setiap detiknya
Zain benar benar menepati janjinya, dia akan menjaga dan menunggu mulai Jihan hamil sampai melahirkan dan ikut membesarkan anaknya yang sudah terlewatkan dulu pada kakak dan abang abangnya dulu
" Hm... Gak tau, tapi Abah jangan kemana kaman ya kita di kamar aja, " jawab Jihan yang sudah merasakan kontraksi kecil
" Kalau udah terasa ayo kita stanbay di rumah sakit aja ya sayang" ucap Zain yang sudah sangat khawatir
" Enggak... Umi mau di rumah aja, gak mau kemana mana" jawab Jihan sambil menahan karena merasa kontraksi lagi
" Tapi sayang..... Umi gak bisa melahirkan sendiri" jawab Zain meragukan Jihan
" Terus siapa yang bantuin Abah?" jawab Jihan mulai naik emosinya
" Bukan gitu sayang.. Kalau mameng Umi udah merasakan kontraksi ayo sekarang kita ke rumah sakit, kita pwrlu bantuan yang lain," jawab Zain lagi
" Abah gak bisa bantuin sendirian," jawab Zain lagi
" Umi juga gak bisa lahiran sendirian" tambahnya serba salah mau ngomong apa
" Kalau Abah gak mau menemani Umi, keluar dari kamar sini, udah 2 kali Umi melahirkan sendiri tanpa Abah, " jawab Jihan sudah esmosi tinggi
Zain terdiam dari seribu bahasa, dalam hatinya dia khawatir akan kondisi istrinya yang perlu penanganan, tapi kalau Jihan sudah seperti itu dia gak tau harus menjawab apa lagi
" Iya Abah temani, Umi maunya gimana?" tanya Zain lembut dan dia harus bersabar
" Umi hanya minta, temani Umi Bah, Umi gak mau ke rumah sakit, Umi gak mau keluar kamar dan gak mau apa apa, cukup temani Umi di kamar bah, itu aja" jawab Jihan mulai melemah
Zain sangat khawatir, tapi dia harus kuat, harus bisa dan harus mengikuti istrinya dari pada nanti memancing kambali emosi Jihan
" Iya Abah temani sayang.... " jawab Zain pasrah dan gak tau nanti apa yang terjadi
Apa lagi sesuai anjuran dokter, Kelahiran dan kehamilan Jihan saat ini banyak resiko, melihat Usia Jihan yang tidak muda lagi, bahkan sudah lanjut karena sudah kepala 4, di tambah pernah lahiran secar juga, jadi kemungkinan kalau bisa harus di bawa ke Rumah sakit
Tapi entah, Qodarullah, Zain hanya bisa pasrah, dari pada menyakiti hati istrinya
" Temani Umi dalam keadaan Apapun Bah" ucap Jihan memeluk lengannZain kuat karena berpapasan dengan kontraksi yang dia rasakan