Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Kekecewaan


" Umi Ih... Gak kasian anaknya, " ucap Zula kesal sama Uminya


" Ya gimana? Itu taunggung jawabmu Nak" Jawab Jihan kadang merasa kasian


" Ya umi sama Abah kan yang nikmati hasilnya, mana gajinya paling gede lagi" Bantah Zula gak terima


Zain dan Jihan seolah menahan tawa dan saling pandang, tentu ya, secara mereka pemilik perusahaan tentu gajinya paling besar dan tinggal nunggu transferan masuk


" Ya kamu sih, di suruh ngaku anak siapa gak mau, kalau kamu udah terang terangan kan malah enak gajimu juga besar" jawab Jihan membalilkan omongan


" Tau Ah.. Pokoknya Ula gak mau cek sekarang, males, Biar abah aja" jawab Zula merajuk


" Tanggung jawab Zula" ucap Jihan lagi


" Plis deh mi, kali ini aja, ya bah ya, Ula gak nyuruh Umi, Ula minta tolong Abah" jawab Zula masih males


" Udah Mi, biar abah Cek sebentar, deket juga lho" Ucap Zain gak tega dan gak bisa menolak kalau soal Zula


" Bah..." Ucap Jihan masih menahan


" Ayo Tahan Abah Lagi, Ula gak pulang kerumah nanti malam" ucap Zula mengancam


" Jangan dong, udah udah.. Abah aja yang ngecek ya, Ula di kantor aja pasti banyak kerjaan, puasa puasa panas juga di sana" jawab Zain dan membuat Zula tersenyum sumringah


" Makasih Abah, muuach.. Sayang Abah" ucap Zula girang


" Sama sama Sayang... Sayang kamu juga" Jawab Zain lembut


Jihan gak bisa menahan lagi, ya gimana lagi Zain juga paling gak bisa kalau bicara soal Zula, dia masih merasa jadi orang tua yang banyak dosa sama Zula,


Setelah panggilan di matikan, Zain pun menatap Jihan yang hanya terdiam


" Gak apa apa, Umi tau kan gimana rasanya Zula,? Abah bahkan belum pernah melakukan apapun, biar kasian anaknya" Jawab Zain lembut


" Nanti kebiasaan Bah" jawab Jihan lagi


" Gak apa apa, kebiasaa asal sama Abahnya sendiri bukan sama orang lain" jawab Zain dan bangkit dari duduknya


" Abah ke Rumah sakit cabang dulu ya, Umi di rumah aja" ucap Zain dan Akhirnya mau gak mau Jihan meng iyakan


Zain siap siap untuk ke lokasi, dan sebelumnya tentu menghubungi Irfan untuk segera menyusul, secara Irfan kan asistennya, dan apa yang terjadi di kantor


" Ini semua gara gara Elo Yan" Ucap Irfan setelah menerima telfon yang akhirnya kena imbasnya juga


" Kenapa jadi gue pak? Ada apa?" tanya balik Ryan


" Ya loe sih pagi tadi kenapa gak kontek Zula lagi, gue akhirnya yang turun ke lapangan" jawab Irfan kesal


" Lha kan memang kita mau turun ke lapangan pak" jawab Ryan lagi masih bingung


" Kita Gue aja, kalian berdua gak" bantah Irfan segera mencari berkasnya


" Kok bisa, bapak sama siapa? Pak Zain?" tanya Ryan lagi


" Sama siapa kalau gak pak Zain? Buk Jihan?" kesal Ryan dan langsung berjalan ke luar ruangannya


Ryan di belakangnya mengikutinya dan sampai lah di ruangan pembuat perkara siapa lagi kalau bukan Zula


" La... Memang loe ya" ucap Irfan pada Zula


Zula tidak menjawab dan mengangkat bahunya sambil membuka fokus ke laptoonya yang sudah mulai bekerja


" Gue mager pak, udah gak apa apa, bapak gak usah pulang sekalian nanti malam ikut ngaji di rumah" jawab Zula santai sambil menggerakkan jarinya di atas kayboard


" Bawa sekalian tante Ismi, sepertinya Umi Cuman sendiri di rumah, Kak Liza ikut ke kampus bang Al juga" jawab Zula masih tetap santai


" Tapi udah ada bude deng, gak jadi, tanggung jawab, sama tugas Bapak, Udah lama kan gak jalan bareng sama pak Zain" jawab Zula seolah gak merasa bersalah


Apa lagi kalau ngomong sama anak perempuan bosnya itu haduh, mending pergi aja, ngomongnya kayak emaknya santai tapi pasti tajam lagi


Seperginya Irfan, Ryan langsung mendekat pada Zula


" Loe bilang sama pak Zain?" tanya Ryan dan Zula mengangkat alisnya sebagai jawaban


" Loe kasih apa pak Zain sampe nurut gitu?" tanya Ryan kepo


Zula menghentikan aktifitasnya dan mendekatkan mukanya pada Tubuh Ryan yang jauh lebih tinggi darinya


" Kamu nanyaa Kamu bertanyaa tanyaa?" jawab Zula nyeleneh dan kembali duduk


Ryan paling gerem kalau dengar pertanyaan hal itu


Di rumah sakit, hari ini hari di mana para peserta Koas sudah mulai pamit undur diri, terutama pada pimpinan rumahbsakit dan beberapa manager nya


Dan setelah berpamitan, El justru menahan Heny untuk tetap berada di ruangannya


" Ada apa?" tany Heny sudah menahan debaran di hatinya


Dia sendiri kalau di tanya soal El pasti selalu berdesir perasaannya


" Gak mau langsung kerja di sini aja?" ucap El menawarkan pada Heny


" Maunya gitu, tapi aturannya kan bukan seperti itu" Jawab Heny mencoba tetap tenang


El yang duduk di kursinya bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat pada Heny


" Ya udah masuk sini aja" ucap El santai dan duduk di bangku sebelah Heny


" Gue belum punya ijazah, mau dapat kerjaan apa gue di sini?" tanya El lagi


" Maunya apa?" tanya El lembut


"Apaan? " ucap Heny mulai salah tingkah


" Mau jadi asisten gue gak?" tanya El lagi dan entah Heny seolah sudah hampir hilang kendali


" Asisten pribadi gue selama lamanya, sampe maut memisahkan gue" Ucap El lagi dan Heny langsung salah tingkah


El tersenyum akhirnya Heny memperlihatkan kalau dirinya masih sayang dan pastinya ada perasaan dengannya juga


" Mau ya" ucap El seolah mendekatkan diri pada Heny


Heny menarik nafas dulu sedalam dalamnya dan..


" Beneran udah bisa move on dari mantan?" tanya Heny dengan gemeteran


El terdiam dan tersenyum pada Heny dengan tatapan yang indah


" Setelah gue menemukan Elo lagi, gue sudah lupa siapa mantan gue" Ucap El santai dan seolah memuji Heny


Dan itu membuat Heny makin gak enak hati, dan merasa dia dulu juga menerima seperti itu


" Semudah itukan perasaan lelaki terhadap wanita,? Semudah itu perasaan Loe hilang dari kata seorang mantan?" batin Heny seolah merasakan sakit yang mendalam


Entah keberanian dari mana Air matanya hendak menerobos tapi syukur masih bisa di tarik kembali


" Gue setengah mampus mau lupain elo gak bisa bisa El, Elo malah dengan mudab berkata begitu" batinnya lagi


Walaupun dia adalah menjadi wanita yang sekarang di cintai El, tapi dia juga kecewa, karena dia pernah ada di posisi di mana menjadi wanita yang begitu mudah El lupakan, hanya karena menemukan wanita lain


" Segitu mudah loe melupakan dia ? Setelah ketemu sama gue lagi?" tanya Heny to the poin dan El mengangguk dan tersenyum


" Berarti gue juga begitu ya El, dulu dengan mudah elo lupakan" jawab Heny langsung berdiri karena kecewa