
Maulana kini sedang duduk di sebelah Ayahnya, Sedangkan ada cewek cantik dan tak laon adalah teman kecilnya
Bukan teman kecil aja, bahkan selama mereka sekolah sampai jenjang SMA, mereka bersama
Saat kuliah mereka baru berpisah, si gadis sekolah di Amerika, dan Maulana Kuliah di Swiss
Cewek tersebut bernama Aufilana, nama akhir yang sama sengan Maulana
Aufi panggilan yang sering di kenal, dan Lana biasa di panggilkan ke Maulana, jadi seolah nama dan diri mereka bersatu Aufilana
Dan nama keduanya adalah nama dari kakek mereka berdua yang memeberikan
Maulana sama sekali tidak menaruh kecurigaan Apapun dengan ajakan kakek neneknya dengan makan siang bareng bersama keluarga Aufi
Karena secara dia yang sudah punya calon istri kan gak kepikiran sampai situ, toh ayah dan Ibunya juga merestui jadi mungkin hanya Reunian saja sebagai tetangga dekat dulu
Setelah mereka saling ngobrol dan menghabiskan makan siangnya, kini saatnya mereka para kakek dan nenek ada yang mau di sampaikan
" Kita mulai pembahasan aja ya Burhan" ucap kakeknya Maulana
Ayahnya Maulana dan Maulana sendiri heran, tapi dia hanya mendengarkan dulu agar lebih jelas
" Ayo langsung saja Ji" jawab Burhan Kakeknya Aufi
Aufi sudah tau apa maksud kake dan neneknya, serta keluarga Aufi juga sudah tau semua, karena jujur saja dari dulu Aufi sudah mengagumi dan suka sama Maulana,
Tentunya saat kakek mereka membicarakan tentang hal ini, Aufi langsung setuju saja, dan tidak menolak sama sekali
Sekarang tinggal Maulana dan keluarganya, Kakek nenek Maulana, belum mengetahui tentang tunangannya dengan Zula,
Karena kalau sampai tahu, dan Zula belum mau atau belum siap, nanti kakeknya malah bertindak yang gak di harapkan
Dan Maulana sosok lelaki yang cinra dan sayang banget sama Zula, gak mau ambil resiko, kalau nantinya Zula justru marah dan mereka gak jadi menikah
Solanya ayahnya dan Maulana tau sifat keras kepala kakek dan neneknya, yang pengennya langsung sat set
Dan rencana memberi tahu saat Zula sudah kasih kabar dan siap menikah
" Gini Lana, Ahmad, kami ini ada maksud dan tujuan mengajak makan siang bareng di sini, salah satunya membahas tentang perjanjian kita dulu" ucap Kakek Maulana
" Perjanjian apa Bi?" tanya Ahmad
" Tentang perjodohan cucu kami, anak anak kalian " jawab Burhan kakek Aufi
Uhuk Uhuk..... Maulana seketika batuk saat mendengar jawaban kakeknya
" Maksud kakek, kakek mau jodohin Lana sama Aufi?" tanya Maulana nyolot karena perasaannya gak enak
" Ya iya, kakek sama kakeknya Aufi itu udah saling berjanji saat kalian masih kecil, mau jodohkan kalian, " jawab Kakeknya Maulana
" Gak.... Gak bisa, Lana gak mau" tolak Maulana cepat dan langsung pergi, secara dia gak bisa kalau terus terusan di sana
Mendengar mereka membahas tentang perjodohan, Maualan seolah syok, dan langsung mengingat sosok wanita yang 3 tahun lebih bersamanya, menjalin hubungan dengannya
Nazula Lailal Musthofa, gadis cantik yang selalu menjaga diri untuknya, bahkan di pegang tangannya aja sama sekali tidak mau, dan sama sekali belum pernah bersentuhan kulit selama 3 tahun lebih resmi berhubungan
" Sayang... Sayang.." Ucap Maulana saat sampai mobilnya
Di dalam Kakeknya terus meneriaki dan ahmad tidak mengejar sama sekali
" Kejar anakmu Ahmad" Ucap Kakekny Maulana
" Gak bisa Bi, Jangan, Lana punya pilihan sendiri, dan sudah mempunyai tunangan" Ucap Umi dari Maulana
Tapi mereka gak mau menyerah, kalah tidak bisa dapatkan atau jodohkan Aufi dengan Maulana, mereka akan membawanya ke jalur hukum tentang perjanjian yang pernah mereka buat
Entah bisa entah enggak, intinya kalau kemauan mereka gak terpenuhi mereka akan tuntut
" Calon siapa? Gak usah ngada ngada kamu" bentak neneknya Maulana
" Kalian gak pernah cerita soal ini, siapa calonnya batalkan" tambahnya makin marah"
"Siapa Mad?" tanya kakek Maulana
" Ada adek angkatannya di Swiss, orang Indonesia" jawab Ahmad datar
" Orang mana?? Indonesia?? pasti sekolah di Swiss karen beasiswa, sudah biasa," jawab Kakeknya seolah merendahkan kebiasaan orang Indonesia
" Kamu lihat, gimana kerja sama Abi sama keluarga Pak Burhan, sampai sekarang masih lanjut, Abi gak mau tau, Pokoknya harus, dan lepaskan orang Indonesia itu" tambah kakeknya gak mau tau
" Bi... Perusahaan kita juga kerja sama dengan perusahaan calon mertuanya Lana" bantah ayah Maulana
" Cih... Sekaya apa calon besanmu itu, gak ada tandingannya sama pak Burhan" jawabnya malah sampai kemana mana
Melihat keluarga Maulana berantem sendiri, keluarga Aufi permisi untuk pulang dan menunggu keputusan
" Saya tunggu besok jawabannya Ji, jangan harap hubungan kita baik baik saja kalau gak bisa menepati perjanjian" ucap Pak Burhan mengancam demi cucu satu satunya
Mereka saling bersalaman dan kemudia pergi meninggalkan mereka
" Pikir mateng mateng ucapan Abi, kita lanjut di rumah aja" ucap Kakek Mulana dan ikut pulang juga
Di mobil Maulana masih frustasi, dia akan kekeh menentang kemauan konyol kakek dan neneknya itu
Dia memang kenal baik dengan Aufi, tapi perkenalan baiknya gak mau sampai jenjang pernikahan juga
Dan ingin rasanya Maulana menghubungi Zula, tapi sedari tadi ponselnya gak aktif karena sedang berada di pesawat
Ingin banget Maulana menyampaikan semuanya, tapi lisannya seolah kelu, sangat sulit untuk mengucapkan kata kata yang pastinya akan melukai hati Zula
Melihat Zula yang pernah ketiduran sampai ngigo menagis aja rasanya ikut sakit,
Hanya mengigo, dan bukan kenyataan, mungkin hanya mimpi saja, rasanya ikut sedih
Apa lagi kabar seperti ini, apa yang akan terjadi nanti, gimana tangisan Zula nanti, gimana rasa sakit dan luka yang dia torehkan di hati Zula nanti
Membayangkan Hal itu Maulana seolah sudah merasakan sakit hatinya, apa lagi kalau benar terjadi itu sudah pasti menjadi bencana bagi hidupnya
Maulana sudah menangis sambil memegang ponselnya, saat kakeknya datang kakeknya langsung mengambil ponsel Milik Maulana
" Kakek kembalikan" marah Maulana
" Gak... Gak akan pernah, ini kakek kembalikan setelah kamu sah menjadi suami Aufi" jawab Kakeknya mengancam dan menyita ponselnya
" Gak.... Itu gak akan pernah terjadi " bantah Maulana yang menolak keras
Kakeknya gak peduli dan supirnya langsung melajukan mobil menuju rumah Maulana, sesuai printah bos besarnya
Malam harinya,... Di waktu Turky, pesawat Zula akhirnya landing, menggunakan pesawat jet pribadi membuat perjalanan mereka lebih cepat pas saat magrib mereka sudah tak off dan langsung sholat di bandara setempat
Zula membuka ponselnya dan mengaktifkan kembali ponselnya, di sana banyak panggilan tak terjawab dari Maulana, dan pesan yang terung memanggilnya dengan sayang banyak banget
Tapi karena Zula akan memberi kejutan pada Maulana, Zula nemilih membiarkan agar Maulana makin khawatir padanya dan makin terkejut saat Zula datang padanya nanti