
Kedatangan Air pertama ke rumah Uti dan kakungnya tentu membuat heboh para penduduk Al Musthofa, apa lagi Zain dan Jihan yang snagat antusias banget
" Cucu kakung cucu kakung" Ucap Zain mendekat pada Aira
" Cucunya mengkek dan rewel Bah" Ucap Zula masih capek rasanya
Gak pernah jalan jauh, apa lagi vonceng motor ini di ganjar sama anaknya yang minta jalan
" Rewel kenapa? Haus paling" jawab Jihan yang seolah berebut dengan Zain pada Aira
Sudah hampir seminggu gak ketemu jadi mungkin mereka kangen
" Di ajak naik mobil sama sekali gak diam nangis aja, di ajak turun baru diem, jadi ibuknya jalan karena gak sabar lihat Aira nangis Bah Mi" jawab Ryan bercerita
" Alah ya Allah.... Biar Ibuknya sehat" Ucap Jihan pada baby yang sudah di gendongannya
" Ck.. La.. Jangan ibuk ngapa La, geli gue dengernya kayak mak mak aja" ucap El mendengar Jihan memanggilnya ibu
" Jadi apa? Bunda apa mamah, apa gimana?" jawab Zula pada El
" Nah itu bagus sayang, bunda.." Ucap Ryan pada Zula
" Nanti di manggilnya Nda, kayak teman aja" jawab Zula masih gak suka
" Mama aja dek, apa mamy" jawab Heny memberi rekomendasi
" Jangan dong, kan mamy udah kak Heny, yang lain gitu, " Ucap Zula lagi
" Heboh ya, perkara panggilan, sudah sebulah Aira bingung mau panggil Emboknya apa" jawab Jihan menyindir mereka
" Udah mama Zula, papa Iyan titik" jawab Ryan memberi keputusan
" Wokey..." jawab Zula mengacungkan tangannya
" Masuk yuk, ada makanan gak sih, laper nih" Ucap Zula maklum busui yang pastinya cepet laper
" Ayo ayo masuk, udah masak banyak mbaknya" jawab Zain menggandeng pundak Zula
Zula sedang makan, dan kini Heny dan El momong baby Aira, di kamarnya, sedangkan Zain dan Jihan, baru sebentar gendong Aira tamunya datang
Aira berada di tengah antara mereka, dan mereka bercerita tentang kisah nabi yang indah..
Hal itu menjadi kebiasaan saat Aira berjumpa dengan ke duanya hingga .....
3 Tahun kemudian hal yang sama masih mereka lakukan untuk Aira
" Jadi kancilnya di tangkap sama pak tani ya Pi" Ucap Aira pada El
" Iya sayang... Karena kancilnya sudah nakal mencuri buah mentimunnya pak Tani" jawab Heny sambil mengelus rambut Aira
Aira sudah berusia 3 tahun, dan El serta Heny sama sekali belum mempunyai keturunan,
Mereka terus bersabar dan ber ikhtiar, bahkan semua progaram sudah mereka jalani beberapa kali, dan gagal,
6 tahun sudah mereka menikah dan belum di beri amanah anak oleh Allah
Tapi mereka tidak sepi, rumah mereka yang dekat dengan Ryan dan Zula, yang selalu wellcome pada mereka untuk membawa Aira pulang maupun main
Dan bahkan Aira sudah seperti anaknya sendiri, dengan panggilan mamy papy, bagitu juga dengan anak Al, yang mana Alwi dan Zea juga memanggil dengan panggilan yang sama Papy El dan Mamy Heny
Cuman mereka jarang berjumpa, jadi lebih akrab Aira karena setiap hari pasti sama mereka
Apa lagi El dan Heny kompak mengambil sift malam biar siang visa main sama Aira,
Jadi sejak baby suster Aira nikah, di usia Aira yang 3 bulan, El dan Heny pindah sift kerja, dan praktek sehingga bisa jagain Aira juga hingga saat ini, dan Aira cuman di jagain suster 2 bulan saja, selebihnya sama El dan Heny
" Papy, Aira mau ngantuk, Aira mau Bobok" Ucap Aira pada El
" Ayo bobok cantik yuk, Mamy Heny keloni" jawab Heny dan Aira langsung mapan
Tak lama ponsel El berdering dan bunyi panggilan dari pihak rumah sakit
" Assalamualaikum... Iya Hallo" ucap El menerima panggilan dari pihak RS
"....."
" Baik kami segera ke sana" jawab El cepat
" Ada apa Papy? Ada orang sakit ya" tanya Aira lembut dan gak jadi merem
Aira sosok gadis pengertian banget, karena Zula selalu mengajarkan kalau Aira harus tetap sopan,dan gak boleh manja berlebihan pada mamy Heny dan papy El,
Dan Zula juga cerita kalau Papy El dan Many Heny adalah dokter, suatu saat papy dan mamy akan pergi cepet cepet untuk menolong orang sakit dan Aira harus bisa mengerti
Alhamdulillah Aira bisa mengerti itu semua, dan bisa menerimanya, hingga Aira faham seperti ini
" Iya sayang..." jawab El lembut
" Aira sama Mama sama papa aja deh, ke kantor, Mami Heny sama papi El selamatin orang dulu, " jawab Aira sudah begitu faham
Aira menggelengkan kepalanya, dan bangkit dari tidurnya
Dan itu sudah hal biasa, kalau El dan Heny dapat callingan, Aira sering di susulkan ke kantor, tapi gak sering juga sih, dan cuman beberapa bulan sekali saja pas kebetulan El san Heny di butuhkan di luar sift seperti saat ini
" Papi siap siap gih, mamy siapkan Aira dulu, sekalian Papy telfon Zula suruh nunggu di lobi" Ucap Heny dan El menganggul
El bangkit dari duduknya dan mencoba menghubungi Zula sambil siap siap tak lupa kecupan lembut El daratkan di kening Heny
" Hallo La... Loe tunggu di lobi ya, gue ada oprasi dadakan, nanti Aira gue anter ke sana" Ucap El pada Zula dan kemudian di iyakan sama Zula
Heny menyiapkan Aira mulai dari tasnya dan juga menyisir dan mengganti bajunya, kemudian menyiapkan dirinya juga untuk siap siap ke rumah sakit
Kini mereka bertiga berada di mobil, dan sudah perjalanan menuju kantor yang searah dengan rumah sakit, dan melewatinya
Aira duduk di belakang, sendiri, dengan menggunakan tas kecilya dan juga rambutnya yang ikal panjang dan di beri pita cantik di belakang sambil memandangi jalanan
Tak lupa di tangannya yang selalu memegangi permen saat pulang dari rumah El dan Heny, ya itu kesukaan Aira memang , dan El serta Heny tentu memberikan permen yang sehat untuk Aira bukan yang asal asalan
Sesampainya di kantor Zula sudah menunggu Aira di Di lobi
Zula sudah melambaikan tangannya di saat tau mobil Abangnya masuk area kantor
" Mama...." Teriak Aira pada Zula
" Iya itu mama" Ucap Heny lembut
Dan mobil El berhenti di hadapan Zula persis
" Udah mbak di dalam aja, buru buru kan, biar Ula yang buka" Ucap Zula saat Heny menurunkan kaca mobilnya
" Maaf ya dek" Ucap Heny
" Gak apa apa, makasih lho udah di anter ke sini" ucap Zula sambil membuka pintu
" Mama...." Panggil Aira dan Zula menggendongnya
" Iya sayang mama, muuach..." Ucap Zula mencium Aira dan menutup pintunya lagi
" Langsung La" Ucap El lagi
" Iya bang hati hati" jawab Zula dan El kembali menjalankan mobilnya
Zula menggendong Aira masuk ke dalam kantor dan bangak karyawan yang menyapanya
" Baby udah makan belum?" tanya Zula sambil menggendong Aira
" Udah, tadi sama sayur, sama salmon" jawab Aira ceriwis
" Enak dong," ucap Zula di sepanjang jalan menuju lift
Aira hanya mengangguk sebagai jawaban
" Nakal gak?" ucap Zula lagi
" Enggak..." jawab Aira agak tinggi suanya
" Lho kok marah, " tegur Zula
" Mama tanya terus kan baby gak pernah nakal" jawab Aira dan Zula tertawa
Kini mereka sampai di lantai atas dan Aira turun dari gendongan Zula dan berlari ke ruangan Papanya
Bocah 3 tahun itu sudah faham di mana tempat kerja Papanya
" Assalamualaikum Papa" Ucap Aira sambil mendorong pintu ruangan Papanya
" Waalaikumsalam " Jawab Ryan meletakkan penanya dan melihat ke arah pintu
" Putri papa" ucap Ryan langsung mendekat dan menggendongnya
Zula mengikutinya dari belakang dan tersenyum melihat Aira yang mesra dengan Papanya
" Baby ngantuk Papa" Ucap Aira pada Ryan
" Aduh duh... Udah waktunya bobok siang ya, ya udah mau bobok di kamar situ??" tunjuk Ryan pada salah satu sekat dan ruangan yang ada di ruangannya
Aira mengangguk dan Ryan membawanya ke sana, ruangan itu ada semenjak Zula hamil, dan untuk istirahat dan sekarang untuk ninu ninu sama Abang Ryan
Ngadi ngadi\= petingkah\= aneh aneh 🙂🙂
oh ya, reader tercinta ada yang baca novel di PF oranye?? Mampir juga ya, author ada juga di sana,
Judul: Misteri Jodohku, masih baru barunya, liris siang tadi 😁