
Jihan berdiri dan memghampiri Zain yang masih bobok ganteng,
Semakin dekat Jihan justru semakin gak tega, apa lagi kringat Zain yang semakin berkucuran karena suhu kamar baby Bibi, berbeda dengan suhu kamar mereka
Perlahan Jihan duduk di sebelah Zain, dan mengelus lembut pipi brewok Zain
" Bah Abah..... Sayang.... Abah..." ucap Jihan lembut dan halus
Aliza kaget dengan perlakuan Jihan yang ternyata sangat lembut, yang mana biasanya ngomel sekarang tiba tiba lembut
" Hem.... Iya Mi, gimana?" tanya Zain sambil mengibas ngibaskan kaosnya yang sudah basah
" Mana Baby Mi?" tanya Zain melihat Baby Bibi gak ada di sebelahnya
" Tuh sama kakaknya, Tadi nangis Abah gak denger, tidurnya terlalu nyenyak, dan bahkan sampe gak denger anaknya nangis" jawab Jihan
" Ah masak?" kaget Zain melihat Baby Bibi di pangkuan Aliza
" Iya untung ada kakaknya yang denger, langsung di gendong" jawab Jihan lagi dan Zain lega
" Alhamdulillah.... Lho kak Liza, pinter banget ngerawat baby Bibi?" ucap Zain saat melihat Aliza yang sudah lincah
Zain dan Jihan memanggil Aliza dengan sebutan kakak untuk memanggilkan anak anaknya, yaitu adek adek dari Al, apa lagi sekarang ada baby Bibi yang masih bayi
" Dulu dia sebelum kerja dan Kuliah, pernah momong anak tetangga, yang Ibunya pekerja, jadi dari bayi sudah pinter ya kak, sudah terbiasa" ucap Jihan bercerita dan Aliza tersenyum dan mengangguk
" Gak kayak Umi dulu" cibir Zain sambil menarik hidung Jihan
" Aduh Abah..... " keluh Jihan kesakitan
" Dulu cengeng Umimu ini kak, apa lagi ngerawat si Al, gendong aja gak bisa, anaknya nangis ikut nangis" ucap Zain kembali bercerita seperti Jihan
" Udah tau kak Liza, Umi barusan cerita " jawab Jihan lagi
" Tapi habis itu, Umi makin lincah, saking lincahnya ngurus 2 anak, tanpa bapak bisa, " tambah Jihan santai, dan malah di dekap Zain
" Pake baby Suster ya, sendiri dari mana?" cibir Zain lagi
" Yang penting bisa bayar sendiri, gak minta" bantah Jihan dan Zain makin mesra dengan Jihan
" Udah mandi sana lah, udah jam berapa sekarang, bau kringat, bentar lagi dhuhur, jamaah, " ucap Jihan mengusir Zain yang sangat berkeringat
" Okey okey siap...... Abah ke kamar dulu" jawab Zain dan sambil berdiri
" Baby Maafkan Umi ya.. Yang teledor" ucap Zain mendekat pada Baby Bibi
" Kok Umi....." bantah Jihan
" Iya ya... Abah, maaf ya sayang... Nanti bobok sama Abah lagi" jawab Zain dan mencium baby Bibi di pangkuan Aliza, kemudian keluar kamar Baby Bibi
Jihan kembali mendekat pada Aliza yang masih memberi susu pada Baby Bibi, sehingga baby Bibi kembali tertidur lagi
Jihan dan Aliza masih saling ngobrol, dan berbincang bincang, serta bercerita masa masa mereka remaja dulu
Aliza snagat bersyukur dan beruntung mendapat mertua seperti Jihan, yang sangat hamble dan nasional, sangat ceria dan biasa kepadanya
Sehingga membuatnya jauh cepet akrab tapi dengan batas tertentu, yaitu dengan batas kesopanan yang tidak pernah di jauhkan,
Aliza selama Al melarang untuk datang ke kampus, sama sekali gak pernah ikut ke sana, dan di rumah menemani Umi Jihan dan Umi Zahra,
Tapi Aliza sesekali masih mengikuti kuliah secara online, ya namanya kampus milik suaminya, suka hati dong mau kuliah model apa
Terkadang Kedua wanita itu juga sering kali yang namanya ghibah, apa lagi kalau ada brita dari para santri, yang berakhir di ndalem ibu nyai, huh.. Makin heboh
" Belum tuh Mi, Liza juga belum melihat dek Ula turun, paling masih sibuk Mi, " jawab Aliza lagi
" Itu anak kayak Umi kak, kalau lagi mager ya mager, tapi kalah lagi ada kerjaan sudah lupa apa yang di kerjakan sebelumnya, gak ingat waktu dan capek, " jawab Jihan yang menjadi fotocopian dari Zula, eh kebalik deng
" Tapi dulu Umi gak kenal yang namanya mager, rajin terus" jawab Jihan membuat Mereka kembali tertawa
Sesaat kemdian di obrolan keduanya, Al yang mulai saat ini selalu pulang tengah hari, walau nanti habis makan sholat istirahat dia kembali ke kampus, tapi kalau siang selama Aliza di rumah selalu pulang terlebih dahulu
Al sebelumnya mencari Aliza di kamarnya, tapi kosong dan malah cuman menu Zula yang ada di ruang tengah sedang kerja juga
Bahkan Al juga mencari Aliza di dapur tempat para santri memasak bareng bareng,dan gak ketemu
Sampai akhirnya Al ketemu sama Zain yang hendak ke masjid Al Musthofa, dan memberi tahu kalau Aliza di kamarnya baby Bibi
" Assalamualaikum..." Ucap Al saat masuk
" Waalaikumsalam.." jawab Aliz dan Jihan di dalam
" Di sini ternyata, Mas cari di semua sudut ruangan gak ada ternyata lagi temani baby baru" ucap Al sambil duduk di sebelah Aliza
Al mengelus lembut kepala baby Bibi yang masih ngenyot dodotnya, dan Al juga memerhatikan baby Bibi yang nampaknya ada kemiripannya dengannya
" Muuuaacch...." cium Al ke pipi Aliza
" Eh... Salah, mau ke baby, keliru ke kakaknya" ucap Al modus
" Modus.... Modus" ucap Jihan dan Al tertawa sehingga membuat Baby Bibi kaget
" Al..... Kaget adeknya" ucap Jihan untung baby Bibi tidak menangis ataupun tersedak
" Gak apa apa ya Dek, besok kalau besar jagoan kayak Abang," jawab Al kembali mengelus baby Bibi dan menciumnya
" Jangan dek.. Jangan, jadi cowok kayak Bang El aja, kalau Bang Al, lola kepekaannya limit" jawab Aliza cepat dan Jihan mengacungkan kedua jempol tangannya
" Jangan kayak Abah , jangan kayak Bang Al, bener kurang peka, kayak Bang El aja" jawab Jihan terang terangan
" Tapi wajahnya kok ada mirip miripnya sama Al ya Mi" ucap Al memandang lekat wajah baby Bibi
" Namanya Abangnya mas, " jawab Aliza lembut
" Besok kalau anak kita udah lahir kira kira jadi bestie apa jadi Musuh nih?" ucap Al lagi
" Kok Musuh sih ngomongnya Bestie donk" bantah aliza lagi
" Entah tuh.. Bapak macem apa ini" ucap Jihan menepuk Al dengan batal
" Ya mana tau, besok baby di belikan ini, Al gak mampu, kan kayaan Kakeknya dari pada Abahnya" jawab Al santai sambil terus mengelus kepala Baby Bibi
" Maaf Mi, suka ngelantur anaknya" ucap Aliza mentoel lengan Al
" Aman Kak, Umi faham" jawab Jihan dan Al pura pura gak dengar
" Nanti kalau ino di belikan abahnya, cucunya apa gak sekalian toh Al, begitu juga, kalau kamu belikan anakmu, adeknya di belikan juga, biar sama gak berantem dan jadi bestie" jawab Jihan dengan logika
" Memang agak pekok kok Mi, biar lah Mi, " jawab Aliza pada Jihan yang sekrang tertawa
" Pekok pekok, ini dosenmu lho yank di kampus, mau dapat nilai E?" ucap Al seolah mengancam
" Lha Mas, emang mau gak dapat jatah? Hayoooo" jawab Aliza kembali mengancam