
Setelah memberi nama, setelah subuh Zain sudah selesai menguburkan ari ari anaknya, pas para santri dan anak anaknya sedang setoran dan mengaji semuanya di aula jadi mereka sama sekali tidak mengetahui
Dan setelah itu Zain kembali ke kamar untuk menghilangkan kantuk yang tiba tiba menyerangnya,
Karena sudah dua hari tidak tidur jadi kantuknya sangat melanda, begitu juga dengan Jihan dan babynya yang sudah tertidur juga di sebelahnya , dan Zain ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Baby yang ada di tengah tengah keduanya
Esok harinya, Zula yang sudah 2 hari tidak melihat abah Uminya merasa kangen, dan entah kemana kedua orang tuanya itu pergi
Cke.. Cke cke...
Zula menaik turunkan ganggang pintu gak bisa di buka karena di kunci,
" Huh... Kemana sih Abah Umi? 2 hari gak ada kabar sama sekali, padahal mau lahiran masak honey moon lagi, di rumah sakit kata bang El juga kan gak ada" batin Zula kesal sendiri Karena gak bisa buka pintu kamar abah uminya
Zula melirik ke arah meja di sebelahnya dan membuka lacinya mana taunada kunci serepnya
Kalau tidak bisa ketemua abah uminya senggaknya bisa masuk kamarnya dan menahan rasa rindu yang setiap harinya dia mengelus calon adeknya di sana
Zula kemudian membuka laci tersebut dan menemuka sebuah kartu yang bisa membuka pintu kamar Abah Uminya
Ting..... Tanda kalau kunci bisa di gunakan
Ceklek......
" Assalamualaikum...." ucap Zula pelan
Zula perlahan membuka pintu kamar Abahnya dan berjalan ke arah ranjang Uminya dan betapa kagetnya dia saat melihat abah uminya dengan bayi tampan yang tertidur di tengan tengahnya
" Kyyaaaaaaaaaa" Teriak Zula kaget dan membangunkan adek bayinya
" OOeeeek..... Ooeekkk.... Ooeeek....." tangisan bayi tersebut karena kaget suara kakaknya
" Eh.... Sayang. Sayang..." Jihan terbangun dan menenangkan
" Nak.... Kenapa kok teriak?" tanya Zain lembut karen memang gak bisa kasar sama anak
" Abah Umi... Itu adek Ula?" tanya Zula masih sangat syok
Bayi tersebut sudah terdiam dan Jihan mengangguk dan tersenyum sambil menggoyang goyangkan bedong Baby Irul
" Iya nak... Ini baby yang selalu kamu elus setiap pagi di perut Umi" jawab Zain lembut dan Zula tersenyum dan mendekat
" Subhanallah...." Ucap Zula kemudian mendekat pada adeknya dan mengelus pipinya
" Kamu cantik banget baby" ucap Zula malah merebahkan tubuhnya agar sejajar dengan adeknya
Karena bayi yang tampan biasanya terlihat cantik seperti cewek
" Kok cantik sih..." ucap Jihan menegur
" Cowok sayang adeknya, maaf ya kakak Ula, baby cowok ini" jawab Zain menjelaskan.
" Yaaah Dek kok cowok sih... Kakak gak ada kawan dong kalau cowok, cantik sendiri ini nanti gak ada tandingannya" ucap Zula merasa kecewa tapi tetap bahagia
" Gak apa apa, yang penting putri cantik kesayangan Abah udah ada dan cuman kamu" jawab Zain yang mencium kening Zula berkali kali
" Bentar ya baby.. Kamu tak masukkan kedalam grub keluarga dulu biar pada nyusul ke sini" Ucap Zula sambil meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya
Zula langsung video call ke grub WA ghibah, yang cuman ada dia Al dan El
Pas mereka berdua juga sedang siap siap untuk berangkat kerja dan hendak sarapan seperti dirinya sebelumnya
Bahkan mereka saat ini sudah berada di ruang makan, bersama Abah Hasan dan Umi Zahra juga
Ponsel El dan Al berdering kompak
" Ngapain nih anak, udah berangkat duluan paling nih" ucap El sambil mengangkat panggilan
" Iya, dia memang udah turun duluan tadi?" jawab Al yang juga hendak mengangkat panggilan videonya
Dan kompakan melihat wajah cakep baby di layar keduanya
" Assalamualaikum Abang Abang tampan" ucap Zula mewakili adeknya
" Waalaikumsalam..." jawab keduanya masih bingung sendiri dengan wajah baby tersebut
" Namanya siapa bah?" tanya Zula pada Zain
" Labib Muhasibi Khoirul Musthofa" jawab Zain lagi
" Iya itu... Kenalkan nama saya itu tadi, karena panjang banget sih," ucap Zula masih menghadapkan kameranya pada baby mungil yang sudah bangun dengan mata bulatnya
" Anak siapa La?" tanya Al yang belum faham
" Loe di kamar Abah Umi,?" tanya El langsung faham dan mematikan sambungan Video callnya
" Itu anak Umi Bang, Umi udah lahiran paling" jawab El sambil berdiri
" Maksudnya?" tanya Al masih belum faham
" Pagi pagi masih loding aja" jawab El kesal
El tanpa babibu langsung menggendong Umi Zahra agar bisa langsung ke lantai dua kamar abah Umi mereka
" Mbah Umi mau di bawa kemana nak?" tanya Umi Zahra lirih dan kaget
" Umi udah lahiran kayaknya mbah, jadi mbah sekalian El bawa, El gendong biar gak kesulitan" jawab El sembari menggendong Umi Zahra
Al di bawah juga menyusulnya dengan memapah Abah Hasan untuk menyusul Umi Zahra
Kini El sampai di kamar Umi dan Abahnya, yang masih terbuka pintunya dan menurunkan Umi Zahra tepat di depan ranjang Abah dan Uminya
" Assalamualaikum..." ucap El setelah menurunkan Umi Zahra
" Waalaikumsalam.." jawab mereka dan terduduk
" Umi gimana kondisinya? Kok gak ada kabari El kalau lahiran, lahiran di mana? Sama dokter siapa? Umi sehat gak ada keluhan apa apa kan?" tanya El sangat khawatir pada Uminya
Karena dia tau kondisi uminya yang hamil tua apa lagi pas waktu hamil snagat ringkih dan lemah, dia sebagai petugas medis tentu tau apa resikonya
" kamu tenang aja nak... Umi baik baik saja, Umi sehat dan selamat serta adeknya" jawab Jihan dan memeluk El yang ada di sebelahnya
" Umi semalam lahiran sama dokter Zain Musthofa" jawab Zain membanggakan dirinya sendiri tepat di saat Abah Hasan dan yang lain sampai
" Preeeet....." jawab Al mencibir
" Idih gak percaya....." jawab Zain lagi
" Gimana ceritanya sih?" tanya El penasaran
Kemudian Jihan bercerita dan membagikan alasannya kenapa gak mau kerumah sakit, dan pengen di kamar berdua aja sama Zain
Semuanya mendengar dengan sek sama cerita tersebut di tambah Zain yang bercerita perjungan Uminya selama 2 hari tanpa keluar kamar sama sekali
" Masyaallah... Indahnya dan Nikmatnya" Ucap Aliza yang cukup terenyuh
" Besok gitu ya Mas" ucap Aliza pada Al
" Hehe... Umi dokter dan El juga dokter sayang, ada rumah sakit, gratis, Mas gak mau ambil resiko" jawab Al cengengesan
" Huuu..... Bikinnya aja semangat" saut El sama Zula membuat semuanya tertawa
Mereka semua kemudian mengucapkan selamat pada Jihan dan Zain dan tak lupa menimang anggota baru di keluarga Al Musthofa tersebut
Apa lagi Zula poll posesif yang gak boleh di gendong oleh siapapun
" Gak usah kerja La, udah loe alih profesi jadi baby susternya Baby, gak usah datang ke kantor" ucap El kesal melihat keposesifan Aliza
" Gak apa apa, okey siap, gue malah gak ketemu sama orang 99% kayak Ryan, " jawab Zula enteng
" Asal gajinya tetap sama dengan gaji gue sekarang" jawab Zula enteng gak mau di nego
" Yang bener aja, gaji baby suster gajinya puluhan juta, santri sini nanti mending sif sifan La, untuk jadi baby suster untuk sangu bulanan mereka " jawab El mencibir Zula
" Ya beda dong... Gue siap sigsain seharunya gajinya makin besar ya gak bah" jawab Zula dan mendapat senyuman dari Zain yang mengelus kepala Zula
" Jadi panggilannya siapa ini Bah Mi?" tanya Zula sambil memangku Adeknya
" Irul aja ya, atau siapa lah, Jangan Al, El , Il , Terus Ul Dong, bisa sih kalau Ul, tapi kan Mbah Utinya udah Ul namanya" jawab Jihan lagi