
Kini mereka semua sudah kembali mengaji, dan Ryan di sana sudah dama seperti santri, ikut mengaji sampai khatam di waktu sore sebelum magrib,
Khusus 7 hati kepergian abah Umi, acara ngaji kitab sore oleh Al di ganti khataman Al Qur'an, oleh para keluarga dan santri
Terhitung dalam sehari mulai habis subuh sampai saat ini terhitung ada 40 Khataman
Dan di akhiri doa bersama di Makam Abah Hasan dan Umi Zahra dan nanti malam lanjut untuk tahlil bersama di rumah
Usai jamaah Sholat magrib, Ryan Irfan kembali kerumah dan buka bersama di rumah Zain,
Tak lama setelah buka bersama, datang beberapa tamu salah satunya yaitu Ilma dan juga Tasim yang ikut menghadiri 7 hari walaupun mereka banyak santri juga
Setelah itu kini semuanya berkumpul di ruang tamu dan lanjut untuk sholat tarawih di masjid bagi yang putra dan putri ikut sholat tarawih di aula pondok
Kebetulan Ismi dan Ilma sedang berhalangan, dan mereka menemani baby Bibi
" Jadi kamu dari pagi tadi di sini Say?" tanya Ilma pada Ismi
" Iya, Papanya ngajak pagi tadi, soalnya Ryan gak ada teman kerja jadi kayak mager juga" jawab Ismi
" Ryan siapa?" tanya Ilma gak faham
" Rekan kerjanya papanya, tekan kerja Zula juga kan anak buah pak Zain" Jawab Ismi menjelaskan
" Yang ganteng sebelah El tadi?" tanya Ilma yang tadi sempat fokus sama Ryan
" Iya..." Jawab Ismi sambil mengayun baby Bibi
" Oalah... Tak kira suaminya Zula" jawab Ilma yang sudah mengetahui juga soal Zula
" Apaan, identitas Zula sebagai anak dari pak Zain itu belum di ketahui banyak orang, cuman kata Jihan ĺ Abah Hasan pergi, Abah Hasan sempat memperkenalkan Zula sebagai cucunya dan anaknya pak Zain" Jawab Ismi menjelaskan
" Oalah... Masyaallah.. Jadi kemungkinan ya cuman kalanvan sini, kata Papanya orang kantor sama sekali gak ada yang tau mengenai siapa Zula" tambah Ismi dan Ilma mendengarkan ceritanya
" Kok gitu sih, nanti kayak Jihan dulu, Mas Tasim suka sama Jihan, ehnternyata sudah jadi istri orang" sambung Ilma
" Ya begitulah sahabat kita, nurun sama anaknya," jawab Ismi dan Ilma menganguk
" Kalau calon Zula orang Turki say, " jawab Ismi
" Masak? Terus yang German,? Kemaren kan katanya mau dapat mantu orang Jerman, gimana undangannya udah tak tunggu lho gak ada kabar lagi" ucap Ilmi yang masih belum faham
" Sampe Naifa tanya kapan sih Jihan mantu lagi, karena kemaren mau nengok babynya katanya sekalian nunggu Mantu, kan Jihan pernah cerita mau mantu" ucap Ilma yang belum tau ceritanya
" Oalah... itu toh, ya kan gagal say, sudah sebulanan kayaknya gagal nikahnya, calon istrinya El balik lagi sama mantannya entah gimana, orang malah pindah ke sini kok, menikah sama orang sini juga ceritanya, Jihan sih belum cerita cuman El yang kami tanya beberapa waktu lalu" jawab Ismi menceritakan dan jadinya mereka ghibah saat berkumpul
" Oalah ya Allah... Ya tau sendiri sj Naifa gimana,? Anaknya selusin belum sama sekali balikin gawan Jihan, kalau ngirim seabrek,mungkin se truk katanya kalau balikin" ucap Ilma yang mendengar curhatan Naifa
Secara mereka sekarang jadi saudara yang pastinya sering kali mengabari
Ya sebenarnya mereka punya grub juga, aktif juga sering ngobrol bareng juga, cuman masak Naifa mau ngomong soal kado di grub juga kan gak mungkin
" Alah say, aku anak dua ya kalau suruh mengembalikan kayak apa yang Jihan belikan yo... Ku tak mampu.." jawab Ismi dan di benarkan sama Naifa
" Lagian memang dia gak minta juga kan say, seneng kalau kumpul aja, dia cuman suka ngaish gitu toh memang ada yang mau di kasihkan" jawab Ilma mengerti soal Jihan
Hari ini hari terakhir sangat buanyak yang datang, untuk berkatnya pun sudah sedia banyak banget yang sudah di letakkan satu persatu tempatnya dan para santri juga mulai sibuk sejak siang tadi
Setelah acara selesai Ilma berniat langsung izin pulang, karena meninggalkan anak dan satri juga di rumah
" Gak nginep aja Mbak? Nginep ngapa, masih muat kok rumahku" ucap Jihan menahan Ilma
" maaf dek, tai sendiri aq ninggal santri di rumah, lain kali aja insyaallah " jawab Ilma lembut
" Yah loe juga mau langsung pulang say?" tanya Jihan pada Ismi
" Ya iya dong, nanti pagi suamiku kerja say" jawab Ismi lembut
" Berangkat dari sini aja say, habis sahur aja pulangnya, kamarnya masih muat kok, masih bisa menampung keluarga kalian, tenang aja ya Say" Ucap Jihan membujuk Mereka berdua
" Saya tau say.. hotel bintang 9 di sini gak ada duanya, anak cucu bu Fani aja muat kok, apa lagi cuman kami" jawab Ismi dan menjadi tawaan bagi Fani yang mendengarnya
" Lain kali aja ya say.. Besok lagi" jawab Ismi lagi dan mau gak mau Jihan mengizinkan
Kemudian mereka bertiga berjalan menuruni tangga untuk menyusul suami suami mereka yang berada di lantai bawah
" Kalian lho, beneran dong nginep sini, sesekali aja, kemaren kan gak jadi" Ucap Jihan masih memohon,
" Tuh gak lihat suami kita udah pada nunggu beb" jawab Ismi santai
" Pak Irfan, gus Tasim mau langsung pulang?" tanya Jihan sambil mengikuti para temannya mendekat pada suami masing masing
Mereka langsung menoleh ke asal suara dan menghentikan obrolan mereka dengan Zain dan Ryan juga
" Mau pulang toh?" tanya Zain lagi
" Iya udah malam, " jawab Tasim sambil melihat jam di tangannya
" Nginep ngapa, sahur sekalian, nanti pulangnya habis sahur aja, " ucap Zain pada mereka
" Saya kerja pak nanti pagi, " jawab Irfan menyaut
" Kerja berangkat dari sini, bareng Zula, masak mau pulang juga Kamu Yan" Ucap Zain lagi pada Ryan
" Iya pak, saya bareng sama pak Irfan tadi" Jawab Ryan sopan
" Nih anak jangan suruh nginep sini pak, yang ada kita semua begadang, mendengar debatannya sama Zula" saut Irfan dan membuat semua tertawa
" ya udah lah ya, kami pulang dulu insyaallah lain waktu silaturrahmi lagi" Ucap Zain sambil berdiri
" Yah Gus Tasim... padahal saya masih mau reunian nih" Ucap Jihan melas
" Sama mantan?" saut Al keceplosan
Spontan semua menoleh ke arah Al yang sudah nyengir
" Mau reunian katanya bah, sama om Irfan, " jawab Al mengulang langsung dapat tatapan tajam dari Uminya
" Oh ya... Kan nanti pas hataman ada reunian juga santri muda, datang kan El, yang tua enggak bu nyai Jihan, kita reuni kalau tamu lebaran sudah sepi" jawab Tasim mengalihkan pembicaraan, karena melihat istrinya yang sudah mulai berubah mukanya