Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Kumpul rame


" Kalau balas dendam enggak sih say, cuman sepertinya berlebihan aja abahnya, sikit sikit baqa rumah sakit gitu aja sih" jawab Jihan yang merasa Zain berlebihan


" Padahal gue rasa pas Hamil El dan Zula juga sama rasanya, seperti ini, cuman kan dulu gue ada tujuan, ada penyemangat, dan pokoknya harus, harus bisa bekerja dan bangkit, gak boleh ngeluh" tambah Jihan lagi


" Tapi dulu pas loe hamil anak anak elo yang tanpa sepengetahuan Pak Zain, ada gak sih rasanya pengen mendekat, di sayang sauang di manja di peluk, merasa begitu gak?" tanya Naifa menyaut


" Soalnya gue gitu lho Say, pokoknya Hamil tuh harus di ketek suami, gak boleh pergi pergi, kalau pergi ngikut" tambah Naifa lagi


" Pantesan aja tiap tahun manak, orang gak mau di tinggal, " sindir Ilma membuat mereka tertawa


" Ada lah.... Pasti itu, waktu hamil anak ke dua, yang keguguran, gue pengen banget nyanding, entah apa kayaknya jumpa, pas kondangan, terus kalau hamil El, kan dia waktu itu koma, kalay kangen ya mendekat, tapi habis itu perang kan, gue udah pasrah, bahkan gue ilfeel banget sama dia, kalau lihat muka dia tuh rasanya pengen nangis aja, tapi pas Hamil Zula, ada kangen banget, apa lagi anak anak sudah di pesantren, gue tidur sendirian, kangen pelukan hangat suami tuh kangen banget , muntah di tolongin, pangen makan di suapin, tapi namanya lagi tidak baik baik saja ya, jadi gue tuh gengsi lah, ibaratnya kalau mau bilang gue kangen, pengen ketemu pengen di peluk, sedangkan waktu itu kehamilan gue tutupi, bahkan alamat gue aja bersifat rahasia, ketemu sekali juga untuk membongkar masalah saja, dan itu membuat gue jengkel, jadi gak mungkin lah gue yang marah jengkel tiba tiba minta di peluk, " jawab Jihan bercerita panjang dan membuat mereka tertawa dan menggelengkan kepala


" Dulu sempet gue pengen menyerah, mau mengesampingkan ego gue, demi anak gue yang sepertinya pengen kenal dan di ketahui Abahnya, tapi kan perlu tak pertimbangkan lagi, dari pada gue dan jabang bayi gue jadi korban lagi, mending lanjut ke komitmen lah, dan itu semua cukup menjadi pelaharan berharga dalam hidup rumah tangga gue, kalian tetap baik baik saja, jangan kayak gue" ucap Jihan dan memeluk teman temannya


Mereka ikut haru mendengar cerita Jihan yang cukup mengharukan itu, hingga mereka mengusap air matanya masing masing karena sudah tumpah tadi


Ceklek,... Pintu terbuka oleh abah abah kyai


" Assalamualaikum...." ucap Fahri yang ikut hadir di sana, dan masuk bareng dengan Tasim,Irfan dan Zain


" Waalaikumsalam..." jawab Mereka para bu nyai menyaut


" Kok masuk sih,.... Tamunya?" tanya Jihan melihat Zain


" Break sayang.... Pada kangen istrinya nih.... " jawab Zain duduk di salah satu sofa


Sedangkan Fahri sudah membaringkan tubuhnya di sofa panjang


Mereka memang sudah biasa bersama dan sudah seperti sodara sendiri


" Bu Nyai Jihan..." panggil Fahri


" Dalem pak Yai Fahri" jawab Jihan santai


" Bentar lagi udah mau punya cucu kok malah mau punya anak juga sih buk?" ucap Fahri santai


" Lha kenapa? Besok kalau lahir malah dapat cucu sekalian anak" jawab Jihan juga santai


" Momong cucu dan anak jadinya buk" saut Irfan


" Lha kenapa? Udah tua ya kerjaannya momong cucu sama anak, ngapain lagi?" saut Zain sambil meminum air yang Ismi siapkan untuk para lelaki


" Iya sih.... Loe enak, pak, uang datang sendiri" jawab Fahri lagi


" Udah tua masak mau kerja aja, orang anaknya udah di sekolahin gantian anaknya yang lanjutin" jawab Zain tenang


" Sultan Ri... Sultan" ucap Tasim lagi


Mereka lanjut ngobrol santai seolah sedang reunian bersama karena memang jarang berjumpa kacuali Jihan dan Ismi yang sudah seperti keluarga


Dan tiba tiba Zula masuk karena mau melihat keadaan Uminya


Ceklek...


"Assalamualaikum...." salam Zula masuk sendirian


" Waalaikumsalam..." jawab semuanya serempak


" Eh.... Rame banget" ucap Zula kaget di kira Umi cuman sama Abahnya ternyata banyak abah dan Umi lainnya


" Weh anak wedoknya,... Masyallah cantinya" ucap Fahri dan bangun dari tidurnya


" Om.... " ucap Zula ramah sambil bersalaman


" Tante...." tambahnya bersalaman dengan yang perempuan


" Resepsi terus.... Pokoknya" saut Irfan


" Loe mau nyumbang apa Bang?" tanya Jihan pada Fahri


" Nyumbang anak, kebanyakan anak gue Han" jawab Fahri santai


" Loe sih gak kasian sama istri sih, tiap tahun suruh hamil melahirkan terus" saut Irfan


" Ya gimana pak Irfan enak bikinnya sih" saut Fahri tanpa di sensor membuat semuanya tertawa


" Jangan di dengar" ucap Naifa pada Zula


" Udah hafal Ula tan, dari wajah om Fahri udah kelihatan kalau om Fahri gak bisa yang namanya libur" jawab Zula seketika membuat semuanya tertawa ngakak


Zula justru mengabaikan itu semua dan dan mendekati Uminya


" Umi gimana? Udah enakan?" tanya Zula mewakili abang abangnya juga yanf ikut Khawatir


Karena di sana hanya Zula yang gak di kenal sebagai anak Zain dan Jihan jadi jarang yang menyapa, sedangka El cukup mewakili Abah Uminya karena Al sebagai pengantin


" Udah udah rame gini, cuman umi gak tahan berdiri aja tadi nak, jadi milih untuk istirahat aja, " jawab Jihan lembut dan Zula tersenyum


" La... Sampe jam berapa sewanya?" tanya Irfan tiba tiba


" Sewa apa om?" tanya Zula balik


" Sewa area ini, biasanya perjam kan?" tanya Irfan karena dia yang bagian bayar


" Emang udah om bayar?" tanya Zula balik


" Ya belum, Om mah tinggal nerima bill nya aja, habis berapa" jawab Irfan santai


" Enak ya jadi sultan, ada yang tukang bayar sendiri, tinggal nunjuk" ucap Fahri lagi .


" Enak lagi elo, mantu tinggal nunjuk, anak di kuring semua di rumah, eaktu nikahkan tinggal qobiltu sah udah" saut Jihan mengalihkan pembicaraan Fahri yang selalu begitu


" Ya Elo kan bisa asal tunjuk , santri banyak karyawan banyak, rekan kerja banyak yang terbaik tinggal milih sesuai bebet bibit bobotnya" bantah Fahri lagi


" Hem.... Boro boro, nganter gue ke Luar gaes" jawab Zain sambil mencep


" La.... Gak mau produk lokal?" tanya Fahri lagi


" Yang kayak om Ula mau" jawab Ula ngasal dan membuat Fahri berbunga bunga


" Udah lah, kumpul sama mbah mbah bikin mumet bau minyak angin" ucap Zula hendak pamit


" Sewanya sampe besok Om Irfan, siapkan aja sekitar sekian M, tf bisa" jawab Zula sembari pamit dan bersalaman kembali


Zula kembali ke tempat acara, dan berjalan santai


Dari jauh Ryan datang dengan menggunakan jas hitam dan dasi kupu kupu, wajah tampan dan sangat cool banget, menjadi pusat perhatian semua cewek


Dan Ini Visualnya



Ryan kemudian berjalan cepat menghampiri Zula yang barusan dari arah penginapan


Dan langsung menarik tangan Zula secara tiba tiba


" Kawani gue La, untuk naik pelaminan, masak iya gue udah ga teng ga teng gini gak ada pasangan" ucap Ryan sambil menarik tangan Zula menuju pelaminan Al dan Aliza, tanpa peduli gimana reaksi Zula nanti