Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Peran Orang Tua


Jihan kini menangis di pelukan El, Jihan selalu berharap, anak anaknya tidak pernah merasakan apa yang pernah dia tasakan dulu,


Jihan selalu berharap agar kisah cinta dan rumah tangga anak anaknya nanti mulus lembut seperti sutra, seperti jalanan Toll yang gak pernah ada hambatan,


Bukan seperti jalan rumah tangganya dulu yang penuh dengan badai dan geronjalan


Tapi ternyata Allah memberi jalan lain, Jihan gak bisa berontak, karena mungkin ini jalan hidup anaknya


" Kamu kuat Nak, Putra Umi semua kuat, semua Hebat, walau hanya melewati ujian seperti ini, kamu harus kuat, " ucap Jihan dengan tangisan dan meraih wajah El yang jauh lebih tinggi darinya


Secara perawakan El yang sekarang besar tinggi brewok, bahkan lebih tinggi dari Abahnya, membuat Jihan sebenarnya kesulitan untuk meraih wajah dan mengusap air mata El


" Kamu harusnya bersyukur, Allah memberitahu kamu, kalau dia bukan yang terbaik untukmu, coba kamu bayangkan kalau hal itu baru kamu ketahui setelah kamu menikah dengannya, itu tandanya kamu akan di beri yang terbaik lagi oleh Allah, " ucap Jihan terus menyemangati El dan El menangis kembali di pelukan Uminya


Dan memang sosok utama yang akan ada dalam hidupnya adalah Uminya, yang dalam keadaan apapun selalu ada untuknya


Semua mendekat, ikut memeluk El dan Jihan, sehingga semua berpelukan, kecuali baby bibi yang sudah bobok di kamarnya


Dan mereka semua juga memberi semangat pada El untuk kembali bangkit dan gak boleh lama lama terpuruk, karena kalau lama lama terpuruk takutnya jadi depresi , seperti yang Zain alami dulu


" Okey sekarang panggil mbak La, biar di beresi dulu kamar Abang" ucap Zain pada Zula yang mengangguk


Semua keluar saat Zula kembali datang dengan beberapa ART,dan santri putri, sedangkan El masih berada di pelukan Umi Jihan, dan Abah Zain, di ruang tengah lantai 3, tepatnya di depan kamar El


Untungnya malam ini, Abah Hasan dan Umi Zahra sedang tidak ada di rumah, Alias mulai dari beberapa hari yang lalu di jemput oleh Adam dan Istrinya untuk di antar terapi di daerah Baha' kalau Ada makin repot karena mengagetkan beliau yang mempunyai riwayat jantung juga


" Sampun Umi Abah" ucap Santri putri pamit


" Oh iya makasih mbak" jawab Zain dan santripun turun meninggalkan mereka


" Udah istirahat, " ucap Jihan pada El yang sedari tadi terdiam


Al yang biasanya menggojloknya atau justru meledeknya, saat ini tidak, ini tidak main main dengan El, kalau dia gak mau terluka baku hantam dengan El, di tambah Omelan dan semprotan dari Jihan


El kini kembali ke kamarnya, dan di temani oleh Zain dan Jihan, karena sudah tengah malam, Zula juga kembali ke kamarnya sendiri, dan Al menghampiri Aliza yang sudah terlelap di kamar baby Bibi


Peran orang tua kini Zain dapatkan kembali, di saat anak anaknya sedang tidak baik baik saja, dalam arti sedang bermasalah,


Dengan keberadaannya di samping anaknya itu cukup membuat anaknya tenang, dan merasa di temani,


Zain gak bisa di pungkiri, yang awalnya mengira Jihan cukup lebay, karena El bukan anak kecil lagi, tapi Peran Ibu di sini sangat di butuhkan, dan Hal itu membuat Zain akhirnya tau betapa pentingnya peran orang tua


Dan Zain sadar betapa beratnya di Jihan di masa itu, harus menjadi ibu dan ayah bagi anak anaknya, masih dengan tekanan batin yang menimpanya, di kala pengorbanannya yang sama sekali gak dia hargai, dan justru menghina dan melecehkannya


Untuk malam ini, Jihan sangat fokus pada El, apa lagi kejadian tadi yang cukup membuatnya takut dan truma, pada El yang hendak mengakhiri hidupnya


" Umi gak pernah mau anak umi merasakan apa yang pernah Umi rasakan El, Umi hanya berharap kalian punya masa depan dan jalan hidup yang bahagia, bukan menyakitkan seperti yang Umi alami" ucap Jihan lirih sembari mengelus kepala El yang sudah terlelap


Saking capeknya menangis dan sedari kemaren juga tidak bisa tidur, karena mungkin mendapat kenyamanan dari pelukan Umi tercinta


" Maafin Abah ya Mi, dulu Abah pernah menyia nyiakan Umi, Abah pernah membuat hidup Umi menderita, Abah pernah membuat Lautan Air mata dalam hidup Umi, " ucap Zain langsung menyaut dan seolah menjawab Ucapan Jihan barusan


Jihan mengangguk dan tersenyum kemudian terlelap dengan terus memeluk anak Bujangnya yang ada di tengah di antara mereka


" Bang... Sarapan dulu" ucap Zula saat masuk ke kamarnya


" Nanti" jawab El datar


Habisnya Zula cuman nawarin aja gak di bawain ya datar lah


" Mandi mandi dulu sana lho biar seger, lihat muka loe lecek banget, kalah cakep sama Bibi" ucapnya lagi dan tidak di jawab Oleh El


El berdiri dan mengambil handuknya, tanpa sepatah katapun pada Zula,


" Hem.... Bagitu amat ya, kalau sedang patah hati" ucap Zula kemudian keluar lagi


Zula kembali ke kamarnya dan mengambil tasnya, untuk segera berangkat kerja,


Sebelum berangkat tak lupa pamit dulu pada Abah Uminya dan juga Baby Bibi tentunya


" Abang sudah bangun belum La?" tanya Jihan


" Udah, gue tawarin makan jawabnya nanti" jawab Zula bercerita


" Nawarin aja, gak di bawain ya nanti lah" saut Al yang juga mau pamitan pada Aliza yang sedang menggantikan baju baby Bibi


Jihan sangat letih, dan bahkan habis subuh tadi cuman nyusuin baby Bibi dan kembali tidur lagi, dan titip baby Bibi pada Aliza


" Terus sekarang sedang ngapain?" tanya Jihan lagi


" Mandi tadi" jawab Zula dan lanjut pamit untuk berangkar kerja


" Ya udah hati hati, nanti di bawah minta sama mbaknya untuk nganter sarapan Untuk Abang ya, " Ucap Jihan pada Zula


" Biar Abah aja yang nganter Mi" ucap Zain dan berdiri menghampiri Zula


" Udah ayo kebawah bareng Abah" ucap Zain merangkul Zula


" Kasian Abang ya Bah, di hianati cintanya" ucap Zula dan Zain tersenyum tanpa menjawab


Jihan masih menunggu Aliza selesai merapikan baby Bibi dan gantian kembali menyusui


" Gantengnya.... Semalem rewel gak sama Mbak?" tanya Jihan pada baby Bibi yang sudah di pangkunya


" Enggak ya ganteng ya, Gak rewel kok" ucap Aliza menjawab


" Pinternya, semalam Umi temani Abang Dulu, Abangnya lagi rewel" ucap Jihan lagi sambil mengelus kepala baby Bibi


" Sekarang gimana Kondisi El Mi?" tanya Aliza lagi


" Ya begitu mbak, doain ya... Semoga selepas ini dia dapat yang terbaik untuknya lagi" ucap Jihan dan di aminkan oleh Aliza


" Ya udah mbak, temani dulu tuh Abangnya Bibi yang satu itu, sepertinya minta jatah sesuatu dari tadi gak berangkat berangkat" ucap Jihan yang mana melihat Al yang masih mematung di dekat Aliza


" Hehehe... Iya Umi" jawab Aliza tersenyum dan Al juga langsung membawa Aliza keluar kamar baby Bibi