Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Pertama kali ke pasar


Di Fajar yang masih gelap gulita, sehabis sholat subuh Zula sudah memanasi mobilnya, yang berniatan untuk ke salah satu tempat di sebuah tempat penjualan seafood


Yang mana di sana tersedia banyak seafood yang pastinya menggugah jiwa para emak emak tukang masak apa lagi tukang makan


Dan di situ sudah langganan resto milik keluarganya juga, yang setiap hari di setirin dari sana


Kali ini dia sudah janjian dengan El untuk pergi ke sana sendiri, demi apa ? Tentunya demi nenek kakeknya


Kata Uminya kalau kesana pagi banget soalnya itu namanya pasar pagi, di jam 7 pagi udah mulai sepi


Tadi Zula gak ikut jamaah sholat subuh, jadi ketika adzan berkumandang dia langsung wudhu sholat kobliayah dan lanjut sholat shubuh, sehabis langsung menghampiri El yang ternyata baru bangun dan meminta dirinya untuk panasi mobil dulu


Tak lama El datang dengan membawa box, putih tempat ikannya nanti


" Untuk apa?" tanya Zula lagi


" Untuk tempat ikan, biar gak bau mobilmu" jawab El sembari membuka pintu bagasi mobil Zula


Slep.... Pintu kembali tertutup saat El selesai meletakkan dua box besar di dalam


" Ayo" ucap El yang langsung berjalan ke bagian kemudi


Zula mengikutinya san langsung duduk di samping El,


Ini kali pertama Zula datang ke pasar sana, dan mungkin baru pertama ke pasar juga


Seumur umur tuh anak gak pernah tau rasanya kepasar, bentuk dalamnya kayak apa sama sekali belum pernah


Mobil baru berjalan keluar gerbang pesantren Zula sudah menempati posisi wenak di dalam mobilnya, dengan mengubah sandaran kursi yang di dudukinya


" Ya Elah... Anak orang" ucap El sambil melirik Zula


Tak lama adek perempuannya itu sudah pulas, dan mungkin sudah berlayar ke mimpi indahnya


Terlihat begitu tenang dan cantik serta manis dengam gaya tidur yang imut, El sesekali memandangi wajah Adeknya itu


" Cil bocil, kenapa gue dulu bisa jatuh cinta sama elo sih" ucap El lagi samb mengelus kepala Zula


" Mungkin kalau tidak jatuh cinta kita gak akan kenal, dan mungkin kita gak tau kalau kita saudaraan ya La, Dunia memang indah, dengan berbagai macam kisah" Ucap El lagi yang tentunya tidak mendapat jawaban dari Zula


20 menit mobil melaju ini tepat berada di tengah kota DMK, yang mana penuh dengan mobil mobil para pedagang di pasar kota


El berkali kali ngerem mendadak karena banyak para ibuk ibuk yang membawa dagangannya dengan keranjang di belakang yang nyalahin aturan lalu lintas


Lampu Sean motornya nyala di sebelah kanan, tapo beloknya ke kiri, dan itu mungkin jadi ciri khas para mak mak rempong


Karena sering rem dadakan, Akhirnya Zula terbangun dari tidur pulesnya


" Kenapa sih bang gitu amat ngeremnya" ucap Zula kesal dan mengolet sebentar


" Ck... Lihat tuh para pedagang yang mempunyai jalan ini, kesel gak" jawab El fokus pada jalanan yang sangat rame


Zula menegakkan sandarannya kembali dan duduk tegak kemudian melihat pemandangan para pedagang yang mengangkut dagangannya ke pasar


" Wah bahaya ibu itu Bang Awas" ucap Zula sambil melotot


" Tau kan,.. Gimana gak rem dadakan mulu coba, ya Allah.. " Ucap El yang cukup teruji kesabarannya


" Hooam...." Zula tidak langsung menjawab dan malah menguap terlebih dahulu


" Paling SIMnya nembak itu" ucap Zula lagi


" Kayak yang ngomong enggak aja" jawab El dan malah Zula nyengir


" Ya masak gitu banget lho bang, lihat tuh, hih miris, kalau gue lewat jalan kampung ketemu mereka mending biar jalan aja dulu" jawab Zula ikut ngomel juga


" Itu tuh, boro boro punya SIM, yang penting pake helm selamat udah" jawab El dan Zula terdiam sambil menggelengkan kepala


" Kita kepasat itu juga?" tanya Zula yang tidak faham


" Enggak lah... Kita kepasar ikan Ula, " jawab El sambil membelokkan mobilnya ke arah tujuan


" Ya enggak lah,.khusus ikan, cuman ada juga sih yang dagang lainnya cuman gak banyak" jawab El merasa lega karena sudah terbebas dari padetnya jalanan


" Eh bang... Ini bukannya jalan ke arah mbah Aris ya?" tanya Zula yang faham tapi jarang main ke sana


Pernah beberapa kali saja, gak banyak dan bahkan cuman dua kali saja


" Iya, mau mampir?" tanya El lagi


" Hehe... Entah lah, gak begitu akrab dan kenal sih, jadi gimana gitu" jawab Zula sambil nyengir


Mobil mereka kini terus menyusuri jalan ke arah yang di tuju, dan Zula serta El masih ngobrol dengan santai dan sesekali curhat juga


" Ini kali pertama gue ke pasar lho, sebelumnya sama sekali gak tau bentuknya dalam pasar seperti apa" ucap Zula saat El memberi kode sudah dekat dengan pasarnya


" Masak iya? Dulu pas di pondok, gak pernah main ke pasar belanja gitu" ucap El bertanya balik


" Enggak, gue kalau mau cari apa ke supermarket, gak pernah kepasar, gak tau cara bayarnya gimana? Jarang punya uang cash" jawab Zula lagi karena memang benar begitu adanya


" Elo ada masker gak?" tanya El tiba tiba


" Untuk apa?" tanya Zula balik


" Ada gak?" tany El lagi enggan memberi tahu apa tujuannya


Kepasar ikan memang tak seindah mall, atau tempat perbelanjaan, bahkan jauh dari bayangan itu


Dan Kalau El memberi tahu Zula, yang ada nanti dia sendiri yang turun, dan seterunya adeknya tidak akan pernah berpengalaman


" Ada tuh... Di dashboard, " jawab Zula


" Loe ambil deh, ada setiker aroma terapinya kan?" tanya El siap siap karena tau kan gimana baunya ikan laut


" Ada... Aman, kita pake itu?" tanya Zula dan El mengangguk


" ketemu banyak orang" jawab El dan Zula mengangguk asal menyiapkan apa yang di mibta El,


Begitu juga menyiapkan masker untuk El sekalian setelah dia memakai masker untuknya sendiri


" Weh... Keren, itu kapal ya bang" ucap Zula seolah baru melihat kapal nelayan yang paskir di sana


" Jadi bener tuh seger banget ikannya kalau langsung dari nelayan" ucap Zula lagi dan El fokus karena dia udah sampai di pasarnya


El memarkirkan mobilnya di depan puskesmas yang tak jauh di sana


" Kok kepuskesmas, Abang ada mau ambil apa dulu di sini?" tanya Zula heran sambil memberikan masker pada El


" Enggak ambil apa apa?" jawab El sambil memakai maskernya


" Kok kepuskesmas, bukannya mau kepasar ya?" tanya Zula lagi


" Iya makanya ayo turun, kita udah sampai cantik, " jawab El santai dan mengelus kepala Zula


" Berarti boxnya di bawa sekalian?" tanya Zula lagi


" Enggak lah, males" jawab El sembari bika puntu mobil dan turun


Zula ikut turun melalui pintunya dan berjalan menyusul El yany menunggunya


Zula sangat bahagia rasanya, dan entah di pagi yang masih remang remang ini mbuat dirinya seolah menampilkan semangat paginya demi kakek neneknya


" Hem. Senyam senyum aja" ucap El dan Zula menoleh dan mendekat pada El


El mwnarik tangannya dan menggandengnya, takut kenapa napa adeknya, dan takut ilang juga


Bahkan mereka layaknya pasangan kekasih yang sangat mesra


" Gue gak sabar pengen tau gimana indahnya pasar ikan" ucap Zula yang justru di takuti El