
Kini Mobil El melaju dengan kecepatan sedang melewati jalur yang berbeda dari sebelumnya
" Bang mampir tempar mbah Aris, mau lewat mana?" tanya Zula yang faham jalannya
" Lewat sini lebih dekat" jawab El santai dan Zula mengangguk
Zula membuka dompetnya, yang mana sama sekali tidak ada uang cash,
El di sebelahnya cuman melirik dan faham apa yang dia cari dan sempat menahan tawa kalau dia tidak punya uang cash sama sekali
Zula mengalihkan pamdangannya dan menoleh ke arah El
" Masih " jawab El sebelum Zula mengajukan pertanyaan
" Hahahahah... Sorry nanti gue ganti deh" ucap Zula lagi
" Gak banyak pun, gak usah untuk jajan loe aja" jawab El santai tanpa peritungan
Gimana tidak, El jauh lebih banyak penghasilannya dari pada Zula, walaupun semua aset penghasilan selalu di bagi bagi menurut persentasenya
El yang menjadi seorang dokter dan pimpinan rumah sakit, gajinya jauh lebih besar di banding Zula dan Al
Karena selain persentase jatah bulan dari Abahnya, mereka kan juga bekerja dan pastinya gajinya masuk rekening masing masing
" Tahanks you" ucap Zula dan El mengangguk
" Tapi Loe kocak banget bang, masak taruh kresek masukkan ke peci gitu" ucap Zula teringat akan tingkah Abangnya
" Jadi? Orang gue gak bawa tas, bawa kartu juga di peci nih, di sini" ucap El menunjuk pecinya yang di dalamnya ada nyempil kartunya
" Lha loe bawa tas dompet, gak ada uang cash, lain kali sesekali lho La, jangan ngandelin kartu doang, " ucap El lagi
" Iya biasanya ada, cuman males bawa penuh penuh lho bang, dari dulu gue nyaman pake kartu jadi jarang, pakenya" jawab Zula dan El kembali fokus
" Besok kepasar ikan lagi?" tanya El menyentil Zula
" Enggak.... Males, udah ini pertama dan terakhir gue kepasar" jawab Zula dan El ngakak
" Wkwkwkwk, gitu aja kalap banget belinya, sampe kalau di super market segini bang" sindir El dan Zulq ikut ngakak
" Tapi bener masalah harga tuh jauh banget bang, ya kalap lah, kapan lagi gitu, besok kalau mau makan beli situ aja" jawab Zula
" loe yang kepasar"
" Ogah" bantah Zula cepat
Tak lama mobil El langsung paskir di tempat biasa dia parkir saat berkunjung
Mbah Aris adalah adek dari Hamdan, atau pamannya Jihan, yang tak jarang mereka sering kesana, kecuali Zula yang baru 2 kali saja bertemu dan berkunjung saat mbahnya masih ada
Sekarang mbahnya sudah meninggal di kala Zula masih sekolah di Swiss, senggaknya sudah mengetahui cicinya yang misterius itu
Di sebelah rumah mbah Aris adalah tempat belanja ibuk ibuk, atau warung sayuran yang seadanya
Mata mereka tertuju pada mobil milik El itu
Kebiasaan orang kampung suka heran dan kepo akan hal baru yang datang di sekitarnya
Seperti saat ini, mereka heran dan berbisik tentang siapa yang hadir, padahal El kadang mampir cuman malam dan orang orang itu tidak sedang berkumpul makanya heran
Pintu mobil terbuka dan menampakkan wajah tampan dan cantik El dan Zula
Di teras rumah Iis, anak dari mega yang sedang menyapu tersenyum karena melihat Anak dari sepupunya hadir
Aris dan Mega memang sudah tua, seumuran dengan Uti mereka, yang saatnya ber istirahat saja
El membuka pintu bagasi dan menganbil box yang sedang dan tidak sebesar yang mereka bawa dari rumah
" Laa... Tolong tutup" ucap El dan Zula segera menutupnya
" Assalamualaikum...." Ucap El dan Zula kompak
" Waalaikumsalam..." jawab Iis pada mereka
" Bunda...." Ucap Zula memanggilnya bunda dan bersalaman padanya
" Ato masuk dulu, ya Allah Bawa Apa El repot repot kalau ke sini bawa bawa" ucap Iis pada El yang mengangkat box ikan tersebut
El tidak menjawab dan langsung masuk dan meletakkan box di lantai
Box terlihat bersih dan gak tau isinya apa, soalnya memang sanggup menahan air
" Ini tadi dari mana kok pagi pagi udah sampe sini" ucap Iis mengikuti dan mereka duduk di atas karpet lantai rumah mbahnya itu
" Nganter Zula bund, katanya survai mau dagang ikan di sana" jawab El santai sengaja memakannkan Zula
" Eh... Ya jangan, masak mau jualan ikan, cantik cantik sekolah tinggi kok jualan ikan di pasar, jangan, " jawab Iis melarang
" Katanya tempat yang tepat ubtuk investasi bund, happu banget tadi kepasarnya" jawab El masih bergurau
" Mosok heppy? Pasar becek kayak gitu lho, kotor La" jawab Iis lagi yang duduk di sebelahanya
" Entah tuh Abang.... Kesel kali Ula tuh bund, Ula aja kapok gak mau kepasar lagi" jawab Zula dan El kembali ngakak
Tak lama di sela obrolan dan candaan mereka mbah yang di nanti datang dari arah depan, dan mbah Putrinya alias mega datang dari belakang
" Lho lho putune datang" ucap Aris pada Zula dan El
" Apa kabar Mbah?" tanya Zula mencium tangan adek dari kakeknya itu
" Ya begini lah ndok keadaan mbah,, " jawab Mega ikut duduk di sebelah Iis
" Sini Buk, tak bikinkan minum dulu mereka" ucap Iis pamit kebelakang
" Kakung masih obatnya?" tanya El karena dia sering mampir nganter obat dan memeriksa aris mapun mega
" Masih El, tinggal seminggunan paling, " jawab Iis berteriak dari dalam
" Ya udah nanti El bawaka lagi kalau udah habis, udah jangan jenuh di rumah aja, udah tua mbah, mau ngapain" ucap El lagi
" Iya nang mbah ya di rumah terus gak pernah kemana mana" jawab Aris sambil menyelonjorkan kakinya
" Lha ini bok apa?" tanya Aris yang tpat di sebelah Box
" Oh itu ikan mbah, tadi kami dari pasar ikan, tak lihat jalannya gak asing sekalin mampir" jawab Zula ramah
" Ya Allah iwak apa mbah, kok sampe sak box" penasaran mega dan bergerak mendekat
Aris membukanya perlahan, dan Mega melihatnya
" Masyaallah.... kok banyak banget, larang iki nang" ucap aris kaget
Tak lama Iis kembali dengan nampan berisi air minum
" Apa pak?" tanya Iis melihat orang tuanya membuka isi box
" Udang dikit untuk lauk bunda" jawab Zula pada Iis
" Ya Allah, kalau ke sini mbok gak usah repot repot, udah sini aja, kami setiap beberapa minggu sekali merepotkan abangmu, untuk priksa mbahmu, ini malah bawa segitu banyaknya," ucap Iis merasa gak enak
" Gak merepotkan mbah, orang cucunya dokter kok repot, sekalian orang gak setiap hari juga, " jawab Zula ramah
" Lha kemaren katanya mau nikah kok gak jadi kenapa?" tanya Iis menyangkut El lagi
El tersenyum dan menatap Zula
" Iya kan, kemaren bilang sama mbah, El kasih obatnya banyak sekalian ya mbah, nanti kalau El repot gak bisa mampir, mau mempersiapkan pernikahan, dulu kan bilang gitu toh El" ucap Mega teringat dan El masih senyam senyum