Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Ngidam tengah malam


Malam harinya mereka kembali je SRG, dengan mengunakan pesawat jet pribadi milik keluarganya


Di dalam pesawat mereka sudah menempatkan diri di bangku masing masing, agar bisa tertidur pulas


Karena kebetulan suasana udah sangat malam dan membuat mereka sudah ngantuk berat, karena jadwal terbangnya di jam 00:00


Sengaja mereka mengambil jam segitu karena El masih ada janji dengan teman temannya, dan Zula serta Al juga masih pengen jalan jalan di ibu kota


" Gue pengen tau lho rasanya perjalanan darat SRG ke JKT" Ucap Zula sembari menungu pesawatnya lepas landas


" Udah pernah belum sih kalian?" tanya Zula lagi


" Belum, jawab Al terlupa kalau masa kecilnya dia pernah di bawa Jihan ke Jakarta hanya menggunakan bus mini atau Travel


" Gue pernah bawa mobil sendiri tapi" jawab El yang dulu pernah bawa mobilnya dari JKT ke SRG


" Seru gak bang? capek gak?" kepo Zula yang rasanya pengen tooring


" Gue tuh pengen banget lho tooring kayak dulu lagi, jalan jalan muncak, daki gunung, nyelam seru lho" ucap Zula lagi karena selama berjumpa dengan Abah Uminya dan kedua abangnya Justru Zula di sibukkan dengan kegiatan belajarnya dan apa lagi sekarang kerja gak ada lemburnya


" Kalau di bilang capek enggak sih, masih muda gue bawa mobil 4 jam dari JKT ke SRG, tapi berangkatnya tengah malam, biar sepi jalanan dan tenang" jawab El menanggapi


Sesaat kemudian pesawat mereka lepaa landas dan terbang di angkasa, mereka berhenti sejenak untuk bercerita bahkan sampai ketiduran dan tidak lanjut lagi ceritanya


Di Ndalem keluarga Al Musthofa, Di tengah malam seperti ini, tiba tiba Jihan terbangun karena pengen makan mie instan


Sudah lama banget dia tidak makan mie instan, sebagai petugas ke sehatan Jihan sangat menghindari Mie instan, bahkan anak dan suaminya juga di larang makan mie instan


Tapi entah rasanya pengen banget Mie Instan kali ini, dan dia membangunkan Zain yang ada di sebelahnya


Karena rasa takut dan merinding setiap kalinya sering kali menghampirinya


Dulu dia tidak pernah takut sama siapapun, bahkan Jihan berfikir setan aja takut sama dia,


Tapi di kehamilannya saat ini, dia seolah ada rasa takut yang menghampirinya, bahkan ke kamar mandi saja minta di temani, padahal kamar mandinya ada di kamar yang sama


" Bah.. Abah..." Ucap Jihan lembut membangunkan Zain


Zain masih belum terbangun karena dia sendiri juga capek dan ngantuk berat mungkin, tadi di jam 11 malam barusan Jihan makan dan kembali muntah muntah lagi,


Dan baru setengah jam terlelap Jihan kembali terbangun, dan membangunkan Zain


Mungkin ini kemauan adek bayi yang Jihan kandung untuk memberi ganjaran pada Abahnya, yang dulu sering mengabaikan Uminya


" Abah Sayang..." panggil Jihan sambik menggoyang goyangkan tubuhnya


" Hem... Gimana sayang?" tanya Zain masih dengan mata terpejam


" Umi pengen makan mie instan Bah" jawab Jihan lembut


Sebenarnya Jihan gak enak kalau harus membangunkan Zain yang barusan terpejam, tapi mau minta tolong sama siapa kalau tidak sama suaminya sendiri,


Zain kembali tidak menjawab dan tertidur lagi, Jihan memajukan bibirnya kesal karena suaminya tidak lagi menjawab,


Apa lagi saat ini dia sangat pengen banget dan gak mau di tahan, ah.. Namanya juga bu mil ngidamnya suka dadakan dan gak mau di tahan lagi


" Bah.... Mau temani Umi bikin mie instan?" tanya Jihan lagi dengan Zain yang sama sekali tidak menjawab


" Bah... Abah Jihan pengen Mie" tambah Jihan memelas


Zain sangat trauma dengan panggilan nama itu, yang mana Dulu sangat menyakitkan banget dia mendengar hal itu, seolah Jihan menganggap dirinya bukan istri dari Zain lagi


" Kok pake nama sih, jangan gitu sayang" ucap Zain langsung memeluk Jihan takut kalau Jihan marah lagi, karena cukup dulu aja Jihan marah padanya yang sangat lama dan panjang


Jihan tersenyum dan membalas pelukan Zain dengan erat


" Kok bangun kenapa sayang? baru sebentar lho boboknya, ayo bobok lagi" ucap Zain mengelus kepala Jihan


Zain terkadang masih bersikap manja dan bahkan sering kali memanjakan Jihan, dengan cara bicaranya yang kadang alay seperti anak muda walaupun usia mereka sudah terbilang tua


" Umi mau makan mie Instan bah" jawab Jihan agak tidak enak


Zain tau ini bukan ke inginan istrinya, tapi calon buah hatinya, karena Zain juga faham kalau istrinya menghindari Mie instan


" Oalah... Ya udah Abah buatkan ya, Umi mau di sini apa ke dapur sama Abah?" tanya Zain lagi


" Ikut" jawab Jihan dan Zain mengangguk


Keduanya berjalan berdampingan keluar dari kamar dan menuruni tangga menunu ke dapur


Sesampainya di dapur Jihan di minta Zain untuk duduk di kursi meja makan aja, sedangkan Zain lanjut memasak mie instan yang di inginkan Jihan,


Untung ada Mie instan di dapur, karena biasanya tidak ada stok sama sekali, mungkin anak anak mereka yang kemaren sempet nyolong makan mie instan


Tak lama kemudian Mie sudah matang dan Zain menyajikan untuk Jihan tanpa mencampurkan minyaknya, karena kalau berbau Minyak Jihan pasti langsung muntah dan gak jadi makan mungkin


" Silahkan Umi sayang.. Makan ya biar ada isinya perutnya, " ucap Zain sembari mengelus perut Jihan yang agak menonjol itu


Dengan lahap Jihan memakannya, dan tak lupa doa juga sudah dia ucapkan, Zain tersenyum melihat istrinya makan dengan lahab bahkan sampai habis tak tersisa


" Alhamdulillah..." ucap Jihan saat selesai makan


Setelah makan Jihan minta kembalu untuk ke kamar, untuk ber istirahat, begitu Zain yang sangat mengantuk banget juga mau langsung ikut tidur dan istirahat


Baru mak Seer tidur ayam Jihan kebangun dan


" Hueek..... Soor...." tiba tiba muntahan kembali dia keluarkan dan membuat Zain kaget banget


Soalnya Jihan muntah di kasurnya, dan mengenai slimut yang menutupi tubuh mereka


" Masyaallah sayang..." ucap Zain dan terduduk lalu menghidupkan lampu kamarnya yang tadi sudah di ganti dengan lampu tidur


" Hueek..... Hueek.... Soooorrrr" muntahan terus keluar dari mulut Jihan, dan Zain membiarkan Jihan mutah di kasurnya walau mengotori seprai dan slimutnya


Zain juga membantu memijat tengkuk Jihan dengan lembut agar Jihan agak enakan mengeluarkan muntahannya


Muntahan demi Muntahan terus Jihan keluarkan bahkan gak peduli dan jijik pada selimut yang banjir muntahan tersebut,


Hingga akhirnya sampai di muntahan terakhir yang sangat pahit dan warna kuning


Zain yang sudah hafal langsung membantu melepas semua pakaiannya yang terken muntahan, dan lanjut ke pakaian Jihan, kemudian memindahkan Jihan yang sudah lemes tak berdaya ke sofa untuk ber istirahat sambil menunggu Zain yang membersihkan muntahan dan mengganti seprainya


Setelah semua selesai, bahkan sampai mereka tidak menyadari kalau Al, El, Zula sudah sampai rumah dan masuk ke kamar masing masing


Zain kembali memindahkan Jihan ke kasurnya, dan memeluknya erat


Di pelukan Zain, Jihan justru menangis tersendu sendu, bahkan isakan tangisnya terlihat sangat mendalam banget Zain kaget dan kira kira apa yang membuat Jihan seperti itu