
Aliza kembali menangis dan makin menjadi di saat Al menertawakannya
" Mas Ih... Masak Ences anaknya mau di buat sumber mata air" jawab Aliza sambil menangis
" Ya katanya bisa buat Wudhu orang sekampus, ya sekalian lah, Biar ngirit Abahnya, bayar air mahal lho sayang" jawab Al masih bercanda
" Huuu.. Huuu.. Umi anak Umi nakal Mi" tangis Aliza makin menjadi lagi dan Al tertawa kemudian mendekapnya makin erat
" Iya ya... Kita Terbang sore ini ya ke Riau, siap siap dulu ya sayang" ucap Al menenangkan Aliza
" Beneran?" tanya Aliza sudah berhenti menangis
" Hoax sayang" jawab Al dan Aliza kembali menangis lagi
" Eh.... Ayo sayang, udah udah gak boleh nangis, siap siap ya, sore kita terbang" jawab Al dan Aliza mengangguk
" Gak boleh nangis sayang, Mas paling gak bisa lihat istri mas Menangis, Mas kebawah dulu pamit sama Abah Umi ya, jangan nangis lagi" jawab Al dan mengelus kepala Aliza
Aliza mengangguk dan akhirnya lega karena Al menyetujuinya
Al turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke pintu untuk keluar kamarnya,
Al mulai menuruni tangga menuju kamar baby Bibi yang di sana Zula masih belajar memangku terlebih dahulu
Jihan sebenarnya sangat ngantuk, cuman mau tidur khawatir kalau Zula apa apain, adeknya, apa lagi kalau sampai jatuhkan baby Bibi, bisa bahaya nanti
" Assalamualaikum..." ucap Al saat masuk
" Waalaikumsalam.. Lho gak kembali ke kampus Al?" tanya Jihan sambil rebahan di sebelah Zula
" Enggak lah, ada istri weka weka aja dulu" jawab Zula sudah faham
" Weka weka apaan? Gara gara loe tuh,... Kompor " jawab Al mendekat pada Zula
" Wkwkwkwkw... Majur?" tanya Zula tertawa ngakak
" Laaa..... Jangan kenceng kenceng nangis adeknya" ucap Al mengingatkan dan benar baby Bibi langsung kaget dan nagis
Ooeeek..... Ooeek.... Ooeeekk
" Cup cup cup.... Sayang maaf ya dek ya...maaf kakak gak sengaja" ucap Zula menenangkan Bibi
" Horok.... " ucap Al menakut nakuti
" Enggak anak baik, gantenh sholeh, paati diem" ucap Zula lagi dan baby Bibi masih nangis
Jihan sengaja membiarkan biar Zula tanggung jawab saat adeknya nangis di buatnya, tapi saat itu Zain datang dan masuk kedalam kamar mereka
" Kenapa Nak?" tanya Zain ke Zula
" Tuh Bah, anak baby Abah di kagetin tawa Zula" jawab Al mengadu
" Kan reflek Bang, enggak ya sayang ya.... Mau nen ya... Yuk nen Yuk" Ucap Zula mengalihkan dan mau di berikan pada Jihan
" Mi... Tolong Mi.." panik Zula gak bisa mindahin Baby Bibi
" Tolong lah Bah, Umi ngantuk banget ini, Abah udah dapat tidur tadi" jawab Jihan pasrah
" Lha kok gak tidur aja kan, udah ada Zula yang nungguin" jawab Zain mendekat pada Zula dan mengambil baby Bibi
" Ya gimana mau di biarkan, dan tidur, mindahin adeknya aja gak bisa, guleng glempang anaknya Bah, " jawab Jihan dan Membuat Al kembali ngakak dan Baby Bibi makin nangis
" Haa.. Tanggung jawab loe bang, nangis Baby" gantian Zula menyalahkan
" Gendong tenangkan" tambahnya sambil menunjuk Al
" Cup cup cup sayang..... " ucap Zain menenangkan dan langsung perlahan terdiam
" Tapi dari dulu kan memang semua anak Abah anteng dan diem kalau di gendong Abah" jawab Zain menuadari hal itu
" Tapi Ula kan gak pernah di gending dan di timang Abah sejak bayi" ucap Zula merasa ada sengatan kecil menusuk hatinya
Mengingat Anak, dia merasa kalau dia satu satunya anak yang gak dapat kasih sayang dan terabaikan sejak bayi
Merasakan kehangatan pelukan kedua orang tua, terutama Abahnya gak pernah dia rasakan
Sedangkan Anak anak lainnya sedari bayi selalu di timang dan di gendong oleh Abahnya dan juga Uminya
Semua terhenti dan terdiam di kala ucapan tersebut keluar dari mulut Zula, dan menjadi keheningan tersendiri,
Dan kebetulan ada santri yang baru lewat mengambil piring kotor bekas Zain makan tadi
" Kan.. Kan... Berarti bener kalau Zula anak angkat" batin santri langsung pergi sebelum mendengar apa yang sebenarnya
Zula tersenyum dan menyadari kalau ucapannya barusan membuat kecanggungan keluarganya
" Tapi Ula bahagia, tetap bahagia, karena sekarang Ula sudah kumpul sama keluarga Ula, Dan tambah baby baru yang akan menambah keramaian dan warna hidup kakak ya sayang" ucap Zula mengalihkan pembicaraan dan suasana
" Abah ingat dulu, pas Kamu masih baby, dan tinggal sama mvak Della, kamu nangis juga, dan diem saat abah timang, sama seperti baby ini, walau dulu cuman sekali saja" jawab Zain teringat masa itu
" Masak Bah? " tanya Zula yang sudah lernah dengar cerita tapi lupa
" Iya dong... Kananak pertama mbak Della dan Mas Imam, si Adij, lha kan sebelum si Adij ada, kamu sama Mbak Della, sebelum di pesantren" jawab Zain dan mereka mangangguk
Mereka lanjut ngobrol sampai Al terlupa akan maksud dan tujuannya samapi di susulin oleh Aliza
" Assalamualaikum..." ucap Aliza masuk
" Waalaikumsalam..." jawab Al dan lainnya
" Udah mas?" Tanya Aliza gak sabar lagi
" Masyaallah lupa, Zula sih, ngomong mulu" jawab Al baru teringat kembali
" Aku lagi, kenapa mbak Liza? Mau berangkat sekarang?" tanya Zula sudah faham
" Mau kemana?" tanya Zain cepat sambil menidurkan Baby Bibi di timangannya
" Ke Riau" jawab Al singkat
" Ngapain? Tempat Uti kan?" tanya Jihan lagi
" Ngidam sampai jengkol lete buatan Tente Luna, harus ke Riau dong" jawab Zula yang langsung faham
" Top kak Liza... Lanjut, susahkan suamimu, jangan biarkan ngidammu jadi mendem, " ucap Zain merasa senang kalau Al yang mendapat tugas baru
Memang begitu jadi calon bapak, berani berbuat berani bertanggung jawab, apa lagi soal ngidam
Apa lagi Zain udah di buat ngiri sama Al, yang bisa mudah dan tetap bisa celap celup, sedangkan dulu dia harus puasa,
" Kalau bisa nanti di sana minta apa aja yang enggak ada, yang susah di cari, " tambah Zain seolah terbalas dendamnya
" Apaan sih bah, seneng banget anaknya sengsara" kesal Al pada Zain
" Ya harus dong kenapa tidak, dulu pas Umi hamil kamu, Abah juga bela belain sore nganter ke Riau, buat makan jamur doang, habis itu minta pulang, dulu gak ada pesawat jet pribadi, sekarang udah di fasilitasi, telfon siapkan dan Cuus sampai, banyak yang jemput gak sampe ileran nungguin jemputan" jawab Zain membuk semuanya apa yang pernah di lakukan dirinya dulu pada Jihan saat hamil Al
" Setuju" ucap Zula girang
" Jangan lupa kalau pulang bawakan yang banyak untuk Ula ya mbak, Muuach... The best deh kamu dek, tau aja kalau Ante pengen itu" jawab Zula sambil mengelus dan mencium perut Aliza
" Ogah, binti males La" jawab Al cepat
" Ogahnya cowok pakenya Bin," bantah Zula balik