Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Belum Siap jauh


Pagi setrlah sholat subuh karena tidak sedang di rumah sendiri, Zain kembali ke kamar dan tidur ngelonin baby Bibi yang masih bobok ganteng


Sedangkan yang lain juga sama, Jihan pun seolah mager untuk bikin sarapan, karena biasanya di komplek sini pagi ada yang jual sarapan nanti biar beli aja pikirnya


Sebenarnya masih ada sih sisa makanan semalam yang bisa di angetin tapi intinya masih ngantuk dan masih pada mah tidur


" Muuaach... Muuaach.. Sedep banget ini bauknya, sedep muuach.." Berkali kali Zain mencium pipi gembul halus baby Bibi yang sama sekali gak gerak


" Mapan lagi Mi?" tanya Zain saat Jihan kembali ke kamar


" Iya, semuanya tak suruh tidur lagi, Heny sama Aliza yang mau masak Umi suruh ayo tidur lagi gitu" jawab Jihan sambil naik ke atas ranjang


" Sarapan nanti beli di depan aja ya bah, Sesekali lah, Umi istirahat" sambung Jihan yang padahal sa gat mager


" Setiap hari Umi capek ya dek ya, sesekali istirahat katanya" ucap Zain pada baby Bibi yang masih tidur dan menyindir Jihan


Jihan hanya tersenyum dan membaringkan tubuhnya di sebelah baby Bibi, kemudian memeluk baby Bibi


" Mager ya bah, sesekali aja" ucap Jihan dengan mata terpejam


" Iya Umi" jawab Zain yang mengelus kepala Jihan


Jihan sudah mulai merem dan Zain yang awalnya ngantuk justru malah kepikiran denga putri kesayangannya


" Sayang..." panggil Zain lembut


" Hem.." Jihan masih nyaut dan tetap merem


" Kok semalam Abah kembalikan ya Rumah Ryan, kenapa gak abah tahan aja, nanti Setelah nikah Zula di bawa lagi sama Ryan, untuk tinggal di rumahnya" ucap Zain baru kepikiran


" Di bawa gak apa apa dong, namanya juga istrinya, ngikut sama suami" jawab Jihan masih tetap merem


" Kok gitu sih Mi?" protes Zain gak terima


" Lha jadi? Ya wajar dong kalau Zula ikut suaminya, seperti saat ini Heny dan Aliza juga ikut suaminya kan, Umi juga ikut abah, jauh dari orang tuanya, Kalau udah jadi istri orang Abah gak boleh larang larang" jawab Jihan yang akhirnya bangun dan duduk kembali


" Tapi Abah gak bisa jauh dari anak anak Mi, tau sendiri kalau di rumah malah belum pulang gimana Abah" jawab Zain seolah belum siap


" Ya kan Ula udah sering pergi keluar negri ,jauh dari Abah dari Umi, dia sudah mulai mandiri, Abah juga udah percaya dan nitipin pak Ryan, ya kalau sudah jadi istri pak Ryan ya biar mau di bawa kemana toh sama suaminya" jawab Jiha n memberi pengertian


Bukannya gak sayang justru Jihan memberi kesempatan pada anak anaknya untuk hidup lebih mandiri


Karena sudah berkeluarga itu bukan lagi urusan orang tuanya, dan sebagai orang tua juga tidak boleh ikut cempur


" Berat ya Mi, melepas anak perempuan" Ucap Zain tiba tiba


" Lha jadi?? Selama ini gak lihat gimana menantu anda di lepas sama orang tuanya, istri anda di lepas sama orang tuanya?" tanya balik Jihan dan Zain mengangguk merenungi


"Mulai saat ini Abah gak boleh egois, Abah harus pikirin anak anak juga, mereka sudah berkeluarga dan ada prifasi masing masing, Abah sebagai orang tua itu harus mendukung, jangan terlalu parno, ingat dari kecil Umi sudah lepas mereka di pesantren, sampai kuliah juga sendiri jauh lagi, itu artinya melatiha mereka untuk hidup mandiri, dan tidak bergantung pada siapapun, kalau mereka punya pilihan, tugas kita cuman 3, mendoakan, memberi dukungan dan memberi modal, modal udah kan, sekarang tinggal kita dukung dan kita doakan yang terbaik untuk mereka" sambung Jihan dan Zain mengangguk membenarkan


" Kuatkan niat batinnya ya Abang sayang, kalau memang Zula di bawa ke SRG, Umi yakin, El juga minta pindah, ke jarak yang lebih dekat, biar gak jauh, itu juga kayak kita dulu kan, setiap jum'at sore pulang, malam senin baru kembali ke SRG, mudah kan?" tanya Jihan lagi dan Zain lagi lagi mengangguk


" Gitu aja kok repot" ucap Jihan kembali narik selimut dan memeluk Baby Bibi


Ya Zain masih merasa bersalah banget pada anak anaknya, yang jadi korban keegoisannya,


Tapi apa boleh buat ucapan istrinya memang ada benarnya, mereka waktunya mandiri dan mempunyai prifasi sendiri sendiri


Zain yang mau ikut merem dan memeluk baby Bibi, eh malah si baby kebangun


" Bah.... Mi" Ucap Baby Bibi pada Abah Uminya


" Bangun sayang... Bobok lagi yuk" ucap Zain pada baby Bibi


" Enggak.." jawab baby Bibi menggelengkan kepalanya


" Mau ngapain Dek?" tanya Jihan sambil merem


" Main" jawabnya singkat


" Ya udah sana main sama Abah, keluar Umi ngantuk" jawab Jihan masih merem


" Okey lah.. Yuk lihat tv di luar" jawab Zain yang akhirnya mengalah dan menggendong baby Bibi keluar


Saat di depan TV ternyata Alwi juga di sana bersama dengan Abahnya


" Tuh Alwi udah bangun" ucap Zain mendekat pada Alwi dan Al yang sedang nonton kartun


" Awi main yuk" ajak Bibi pada ponakan kecilnya


" Bibi udah angun" jawab Alwi yang menoleh pada Bibi


" Mau main apa?" tanya Al menoleh


" Babah Awi tama Bibi" pamit Alwi dan Al mengangguk


Akhirnya Alwi dan Bibi di ajak Zain keliling komplek dengan jalan kaki, ya sesekali rutinitas kakek sekaligus Abah dari Bibi dan Alwi ini tak jarang mengajak jalan kedua bocil ini


Kedua bocil ini terus ngoceh di gandengan kanan kiri Zain, tak jarang para warga menyapa mereka, apa lagi Zain yang keluar pastinya sudah faham semuanya siapa sosok Kyai yang sekarang menggantikan sesepuh ternama, yaitu Abah Hasan abahnya Abah Zain


Zain mengajak mereka berdua ketaman bermain, di komplek tersebut,


Baby Bibi sudah sekolah di Play Grub Al Musthofa, pas kalau sabtu minggu kan libur jadi ini pas hari libur


Mereka berdua mainan ditaman bermain setempat dan Zain mengawasinya sambil ngobrol dengan para bapak bapak yang momong anaknya juga


Setelah puas Zain pun mengajak mereka pulang, saat hendak pulang Zain melewati pedagang sarapan di sana dan sekalian pikirnya dan memerdekakan istri dan menantu


Ya apa salahnya kan sekalian jalan, Zain membeli banyak sarapan untuk orang rumah, sekaligus membayar semuanya yang di jual dan memberi gratis bagi yang membelinya nanti


Ya namanya pak bis kemana mana nyangking tas dan uang, apa lagi sama anak dan cucu yang gak tau nanti di jalan minta apa


Setibanya di rumah Zain mendapati Zula Al dan El sedang nonton TV bertiga


" Assalamualaikum" Ucap Zain dan kedua bocil


" Waalaikumsalam...." jawab mereka bertiga menoleh


" Baby.... Dari mana ini tadi?" ucap Jihan langsung menghampiri kedua bocil kesayangannya


" Main" jawab Bibi dan Zula mencium mereka bergantian


" Mantap.... Belum mandi pasti bau encut, sana mandi" Ucap Zula tapi masih memeluknya dan mencium mereka


" Itu apa Bah?" tanya Zula melihat Abahnya menaruh plastik di atas meja


" Sarapan, tolong pindahkan ke piring nak" jawab Zain dan Zula berdiri kemudian mendekat


Zula mulai mengambil piring dan tempat untuk sarapan yang Zain beli


Begitu juga dengan El yang mendekat dan duduk di sebelah Zain sambil menyomot gorengan dan memakannya


" Ryan pulang jam berapa semalam La?" tanya El tiba tiba


" Jam berapa ya, sekitar jam 11 kayaknya" jawab Zula santai


" Mau bangunin udah pada tidur semua, jadi dia gak sempat pamit lah" jawab Zula masih menuang sayurnya


" Pulang ke SRG langsung?" tanya Al yang sama menyomot gorengan


" Katanya kalau mulai ngantuk mau cari penginapan, tapi subuh tadi bangunin Ula udah di rumah katanya" jawab Zula masih menyiapkan yang lain


" Udah pindah ke rumahnya sendiri?" tanya Zain dan Zula mengangguk


" Berarti gak tidur tuh anak, langsung pulang terus pindahan" jawab Zain dan Zula kurang tau tentang hal itu


" Emangnya mobilnya di mana sih Bah? Kotor gak rumahnya?" tanya Zula sambil memunguti sampah bekas bungkus sayur dan lauk lainnya


" Ya di sana, Selalu di bersihkan lah, gak kosong juga ada yang nempati beberapa orang, yang menjaga dan membersihkan itu" jawab El yang faham


" Terus orang itu gimana pas Bang Ryan pindah?" tanya Zula kepikiran


" Ya udah di kode kali La, sama orang orangnya Abah, khawatir banget sama calon suaminya yang kecapean" jawab Al dan Zula nyengir


" Bangunin Umi sama Istri istri kalian gih, sarapan kita" Ucap Zain pada anaknya


Tapi karena kedua bocil sudah ribut yang di dalam kamar juga sudah terbangun


" Wow.... Sudah penuh, siapa nih yang masak" ucap Jihan sambil gendong baby Bibi


" Kamu La yang masak?" tanya Aliza dan Heny hanya tersenyum di belakang mereka


" Wah iya dong... " jawab Zula santai dan senyam senyum sendiri


" Zula masak?? tak bayar " jawab El dan Zula termanyun manyun


Mereka pun lanjut sarapan bersama dan sambil ngobrol ringan


" Rencana mau pada kemana?" tanya Jihan yang faham kalau weekand mereka sering ada agenda


" Nanti siang Ula mau keluar, Mulai prewed" jawab Zula santai


" Temanya berantem di kantor" saut Al ngasal