
Jihan kemudian berlari mengejar Zain, dan langsung mencekal Zain dengan sekuat tenaga
Secara, badan Zain yang sangat besar kekar, dengan Jihan yang kecil mungil jauh dari kata kuat, dan harus pake tenaga dalam
" Bah...." Sentak Jihan dan Zain berhenti di sebelah pagar tangga
" Umi... Abah Gak terima, kalau Anak kesayangan Abah di Hina sama mereka" Jawab Zain lagi masih sangat emosi
" Dan dulu Abah dengan senang hati menghina dan melecehkan Umi?" tanya Jihan balik dan membuat Zain terdiam seketika
" Abah dulu dengan mudah menghina dan menginjak nginjak harga diri Umi, itu bangga? Bukan salah?" tambah Jihan dengan tatapan sadis
" Umi buka kesayangan Abah?" tambah Jihan lagi dan Zain gak bisa berkata lagi
" Jangam bilang lain cerita, semua sama, kita sama sama pernah berburuk sangka, kita pernah saling membenci, dan kembali saling mencintai" ucap Jihan untuk tidak terdengar dan di lihat siapa siapa
" Bicara yang bijak sana, jangan pake emosi, ingat anda ini panutan di sini, gak pantas berbicara dan mengambil tindakan untuk anak sendiri, semua yang ada di sini itu anakmu juga bah, tanggung jawabmu, orang tua mereka menitipkan anak anak mereka pada Abah, jangan pilih kasih, mencoba adil, " tambah Jihan mulai membuat Zain luluh
Walaupun hati tetap sakit dan dongkpl karena tidak terima, cumanada benarnya juga apa yang Jihan katakan kepadanya
" Udah ya, Plis, saling memaafkan memberi wejangan yang bijak sana,kalau gak bisa biar Umi aja" Ucap Jihan dan langsung turun tanpa menunggu jawaban dari Zain
Dan mau gak mau Zain tetap ikut pada Jihan yang mulai menuruni tangga untuk menyusul Zula yang sedang berada di ruang tengah lantai dasar
Zula sedang mengaji dengan Qur'an di tangannya, walaupun pandangan matanya di lain tempat, karena dia sudah hafal di luar kepala
" La..." panggil Jihan menghampirinya
Zula menoleh tanpa menjawab karena mulutnya masih mengaji dan hanya memandang Umi Jihan
" sayaqulussufaha.... Ila ahirihi..." Zula masih mengaji karena baru mendapat 1 juz dan akan beralih di juz 2
Zula masih melanjutkan sampai akhir ayat dan berhenti sejenak karena Uminya sudah duduk di sebelahnya
" Ada apa Mi?" tanya Zula lagi setelah berhenti
" Masih lama?" tanya Jihan singkat
Zula gak menjawab dan langsung menatap Jihan
" Hem.... Gini? ini nih, tiba tiba ada santri yang ketuk pintu Umi, katanya mau minta maaf sama kamu, mungkin tadi mbak Atik gak lihat kamu deh, katanya sih banyak orang ada apa?" jawab Jihan menjelaskan dan bertanya balik
" Udah Ula duga" Ucap Zula membuat Uminya mengerutkan keningnya
" Maksudnya?" tanya Zain yang langsung duduk di sebelah Zula
" Makanya kalau Mbah Abah ngaji ikut, jangan pulang dulu, " jawab Zula karena Zain tadi sempat pulang duluan, ya habis dari toilet masjid gak balik lagi karena segan dengan banyak orang dan satri
" Lha kenapa memang?" tanha Jihan pelan pelan karena masih sangat pagi, jam 6 pagi, El aja masih tidur gak ikut ngaji
" Tadi mbah Abah ngenalin Ula, sama semua orang, kalau Ula anak Abah Umi dan Cucu mbah" jawab Zula bercerita
Jihan dan Zain kaget dan saling pandang, mereka tau cerita Zula banyak haters tapi Zula gak pernah menyebut siapa siapanya, dan cuman Nada doang yang dia gamblang menunjuk dengan muka kesal dan penuh amarah
" Udah ah... Gimana terusnya jangan saling tatap gitu nanti n*****u" jawab Zula lagi kesal pada muka Abah Uminya yang selalu terlihat romanse
" Ayo ke Aula dulu" jawab Zain lagi dan mereka bertiga berjalan ke Aula seperti biasa melalui pintu trobosan yang tidak pernah hilang itu
Kini semua para mantan haters Zula yang bertaubat sudah berkumpul di Aula
Zaon langsung menempatkan diri di bangkunya, dan sudah tersedia mic untuk menyampaikan sesuatu
Sedangkan Zula dan Jihan ada di kanan kirinya
Jihan sudah berkali kali mengkode Zai agar tidak emosi dan mengontrol emosinya
Kini keduanya masih terdiam dan sesekali Jihan menjawil kaki Zain untuk kembali mengingatkan
Sengaja memakai Mic, karena di Aula yang sebesar itu gak mampu kalau hanya berbicara melalui lisan saja
Dan para santri selalu menyiapkan sebelum Abah Zain hadir
Dan kini semuanya sudah pada anteng dan mendengarkan apa yang akan Abah Zain sampaikan
" Assalamualaikum wr wb" Ucap Zain dengan tatapan yang cukup membiat nyali para santri menciut
Kembali Jihan mencibit paha Zain tadi gak di gubris,
Menahan amarah jauh lebih susah dari pada menahan rasa sakit cubitan dari Jihan
" Waalaikumsalam wr wb" jawab para santri dengan kompak dan menundukkan kepalanya .
" Sebelum Abah Kesini, ada beberapa santri yang mewakili kalian semua dalam rangka mau minta maaf pad Zula,? Karena Dulu sering mengejek dan menghina Zula, betul?" tanya mereka dan menajawab jujur dengan kompak
" Terus apa tujuan kalin dulu mengeluarkan kata kasar dan gak pantas di dengan pada Zula?" tanya Zain dengan penuh ketegasan
Sama sekali tidak ada yang menjawab, dan pada menundukkan kepalanya
" Salamatul ingsan Fi Hifdzil lisan" ucap Zain lagi memperingarkan
" Selamatnya manusia itu tergantung pada lisannya, kalau kalian bisa menjaga lisan kisan kalian, gak mungkin kalian susah payah seperti ini, lanjut tidur sebenatar atau murojaah, kan enak, waktu belajar belajar sholat sholat ngaji ngaji makan makan, tinggal itu aja tanpa mengusik hidup orang lain" Tambah Zain memberi petuah lagi
" lagian apa keuntungan kalian mengejek Zula,? Bahkan apa yang kalian pikir itu tidak benar, dan jadinya suudzon " tanbah Zain lagi makin panjanga
Zain memberi petuah petuah pada santri yang pernah membuli Zula, dan bahkan Abah Zain sempat mengungkapkan gak terima juga, tapi langsung di jawel sama Umi Jihan
" Untuk masalah itu saya sendiri gak bisa ikut campur, dan saya sebagai Abah hanya bisa memaafkan saja, cuma ini urusannya sama Zula, Abah tidak berani okut campur, Allah sendiri tidak pernah ikut campur dengan urusan hambanya yang satu dengan hambanya yang lain, Begitu juga dengan Abah" ucap Abah Zain pada mereka
" Silahkan kak Ula" ucap Zain mempersilahkan Zula
Tanla Ragu Dan dengan sikap santai Zula geser ke bagian abahnya tadi tak lupa ngucap salam juga lada mereka
Perwakilan dari mereka salah satunya menyampaikan apa maksud mereka dan Zula tersenyum menanggapinya sebelum menjawab
Zula menarik nafas dulu saat perwakilan mereka di doannya pas
" Saya gak tau harus berkata bagai mana, , tapi beberapa waktu lalu saya di wejang oleh mbah Abah dan mbah Umi, untuk jadi seseorang dan wanita seperti Umi" jawab Zula merangkul Umi Jihan yang ada disebelahnya
" Untuk tetap menjadi wnita yang kuat, yang sabar, dan tanpa balas dendam, pada siapapun, dan hari ini saya akan belajar, menjadi orang yang cinta damai dan memaafkan kalian semua" jawab Zula sudah membuka hatinya karena ingat dengan wejangan yang mbah ya berikan kepadanya