
El dan Heny sudah berada di rumah abah mereka, dan sedang main dengan kedua bocil yaitu Bibi dan juga Alwi
Sedari tadi Zain juga menunggu kedatangan Zula dan juga Ryan, yang biasanya juga datang seperti minggu kemaren mereka juga datang, cuman sampe sekarang mau magrib belum juga datang
Apa lagi Zula anak kesayangan Abahnya, yang bahkan setiap hari selalu di telfon kalau sedang tidak sibuk
" Sayang... Zula coba telfon, kok gak datang datang dia" Ucap Zain pada Jihan
" Dari tadi Umi telfon lho Bah, gak ada jawaban, lagi ada lembur apa meeting dadakan paling gak" jawab Jihan juga menunggu kedatangan Zula
" Entah gak faham juga Abah Mi, abah juga baru pegang ponsel ini" jawab Zain sambil menunjukkan ponselnya
" Ya udah... Udah mau magrib masuk aja dulu, nanti datang sendiri" jawab Jihan dan Zain nurut
Setelah itu, mereka masuk dan tak lama suara adzan magrib berkumandang
Mereka semua jamaah di aula pesantren, dan lanjut untuk setoran para santri sampai isya' tiba
Kalau ada El, Heny, Zula dan Ryan cepet selesai dan cepet kumpul bareng bareng,
Setelah setoran mereka lanjut sholat isya' dan setelah itu lanjut makan malam sama sama
Zain sedari tadi mulai gelisah terus kepikiran anaknya, bukan hanya Zain saja, tapi Jihan juga
Cuman kan Jihan gak selebay dan se heboh Zain kalau soal anak perempuan satu satunya itu
" Adekmu coba di telfon Al, El, jam segini kok gak datang datang, mana gak ngabari lagi" Ucap Zain sudah ke sekian kalinya
" Kami WA di grub gak ada nyaut lho Bah, di telfon malah gak aktif sama sekali" jawab El sedang makan
" Udah makan dulu, " Ucap Jihan paling sebel kalau suaminya mulai heboh sendiri
Dari pada kena semprot dia sendiri juga lapar, jadi Zain akhirnya makan dulu baru nanti cari info
Memang Zula dan Ryan sama sekali gak kepikiran soal ponsel, dari tadi Ryan sibuk membersihkan muntahan Zula yang terus terusan
Dan sikap manja Zula, di tambah Badannya Zula yang sangat lemes membuatnya gak bisa apa apa
Bukan gak bisa apa apa sih, cuman gak mau ninggalin Zula jauh jauh dan hanya di sebelahnya Zula terus
Zula masih berada di dekapannya, dengan Ryan yang tidak memakai baju sama sekali, hanya bawa celana boxer saja karena untuk menghangatkan tubuh Zula
" Mau minum?" tanya Ryan dan Zula menggelengkan kepala
" Mau makan Buah??" tanya Ryan lagi dan Zula masih menggelengkan kepala
" Ya udah kita sholat dulu, habis itu bobok nyenyak ya" Ucap Ryan dan Zula hanya mengangguk
" Jawab dong sayang.. Suaranya mana" Ucap Ryan lembut
Zula menggelengkan kepalanya karena dia takut kalau ngomong malah muntah
" Adek takut hookkk" Jawab Zula kembali mual
" Udah udah gak usah, ayo wudhu dulu sholat dulu ya" jawab Ryan sangat perhatian
Di rumah Zain, Zain sudah selesai makan, dan langsung kepikiran menelfon Irfan untuk cari info
" Assalamualaikum Fan... Di mana sekarang?" tanya Zain to the poin
" Waalaikumsalam pak.. Ini di pesantren, nyambang anak anak gimana pak?" jawab Irfan bertanya balik
" Zula sama Ryan belum sampai sini nih, kira kira mereka kemana ya, apa ada lembut atau meeting dadakan ya, soalnya nomer mereka juga gak aktif" Ucap Zain
" Oh... Gak ada kalau meeting, kalau lembur enggak juga, entah kalau lagi lembur bikin cucu untuk bapak" Gurau Irfan santai
" Gue serius Fan" jawab Zain dan Irfan tertawa
" Enggak pak bercanda, tapi mereka justru pulang agak pagi, katanya Zula masuk angin kurang enak badan, jadi mungkin sedang istirahat di rumah" jawab Irfan kembali serius
" Ya Allah.... Okey okey, makasih assalamualaikum...." Ucap Zain cepat tanpa menunggu jawaban dari Irfan
" Gimana Bah?" tanya Jihan yabg sedari tadi menunggu
" Zula sakit katanya, Mungkin itu mereka gak kesini" jawab Zain dan bangkit dari duduknya
" Ayo siap siap, kita kerumah Zula" sigap Zain kalau sudah berurusan sama anak wedok
" Kok kesana dia ga ke sini?" tanya Jihan kaget
" Umi bawa alat medisnya sekalian ya" Ucap Zain sudah grasak grusuk
Setelah itu semuanya di minta untuk siap siap juga untuk berangkat ke rumah Zula
Di rumah Zula baru selesai sholat dan kembali berbaring, tak lama lagi dia munrah lagi, dan hawanya sangat mual banget
" Bang boleh minta masker" Ucap Zula agar gak bau apa apa lagi
Entah kenapa Zula bingung sendiri ada apa dengan dirinya yang justru makin parah sakitnya
Ryan mengambilkan masker untuk Zula dan kemudian, kembali mendekat pada Zula
" Ini sayang... Sini Abang kasih setiker aroma terapi, biar gak mual lagi" Ucap Ryan dan Zula hanya bisa mengangguk
Setelah itu Zula langsung memeluk Ryan dengan erat dan menangis
" Makasih... Sayang, udah mau jagain Ula," Ucap Zula sambil memeluk Ryan
" Kok malah nangis sih, ini kewajiban abang sayang, " jawab Ryan membalas pelukan Zula
" Adek semangat ya, adek mungkin capek, lekas sehat ya, " Ucap Ryan lagi dan Zula makin.menjadi tangisannya
Ryan terus menenangkan Zula , dan terus memberi pengertian, karena tugas seorang suami itu seperti itu, bukan membiarkan istrinya kesakitan sendiri dan menangis lagi lagi malah menyakiti dan membuat istrinya menangis
Cukup lama, hingga suara bell rumah berbunyi
" Adek sini dulu ya... Ada tamu, coba Abang bukakan dulu" Ucap Ryan dan Zula mengangguk
Ryan kamudian ke ruang ganti dulu dan memakai kaosnya, serta sarungnya kembali dan keluar untuk membuka pintu utama
Ryan menghidupkan kembali lampu di lanrai dasar yang sebelumnya sempet di matikan
Ceklek... Pintu terbuka
" Assalamualaikum.." Ucap Zain dan Jihan serta lainnya
Bibi sudah tertidur di perjalanan tadi, begitu juga dengan Alwi yang tidur di gendongan Abahnya
" Waalaikumsalam... Abah Umi, Bang kak, masuk masuk" Ucap Ryan kaget dengan kehadiran mereka
" Ya Allah..maaf Umi abah, Ryan gak kerumah hari ini" Ucap Ryan langsung to the poin
" Zula mana?" tanya Zain khawatir
" Di kamar Bah, Mi, mari" Ucap Ryan mempersilahkan mereka
Zain dan Jihan langsung naik ke atas dan di ikuti oleh anak anak mereka, sampai tiba di kamar Zula
" Assalamualaikum..." Ucap Zain dan yang lain
" Waalaikumsalam..." jawab Zula lemah
" Ya Allah.... Putri Abah" Ucap Zain mendekat pada Zula
" Abah Umi" Ucap Zula langsung pecah dengan Zain yang langsung medekat dan memeluk putri kesayangannya
" Abah... Umi.... Hiks hiks.." Ucap Zula kembali menangis
" Iya sayang... Abah sama Umi di sini" jawab Zain lembut dan memeluk Zula erat
Dan Zain malah curiga dengan Ryan ,
" Gimana sakitnya Yan?? Lemes banget kayaknya" Tanya El sambil membaringkan Bibi di sofa kamar mereka
" Pagi tadi lesu letih, istirahat katanya pusing, terus kami pulang, mau langsung ke Abang, ke rumah sakit, gak mau, minta pulang minta kerokan, minum anget anget, makan juga, habis itu muntah muntah sampai saat ini, gak berhenti, untuk buka mulut aja rasanya mual katanya" jawab Ryan bercerita apa adanya
" Coba Umi priksa dulu, bawa alat medis tadi?" tanya El dan Jihan langsung bangkit dan menganbil tasnya
El dan Jihan mendekat karena mereka yang faham dan akan memeriksa Zula
Tanpa alat El juga sebenarnya bisa dan sudah bisa menebak dari keluhan yang Zula rasakan dan Ryan ceritakan barusan
" Kamu apakan putri Abah Yan?" tanya Zain tajam sambil menatap Ryan di saat Jihan dan El memeriksa Zula
" Gak di apa apain bah, cuman di ajak buat cucu untuk Abah dan Umi, nih srdang OTW di dalam rahim Zula" jawab El santai dan memeluk adek kesayangannya itu