Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Anak Jaman sekarang


Kini mereka sudah berada di bagian bagasi, dan mengambil bagasi yang mereka bawa secara bergantian


Sebenarnya gak banyak sih barang barang mereka, yang paling banyak adalah bawaan baby Bibi yang super duper banyak banget, mulai popok dan lain sebagainya


" Huh... Akhirnya ketemu juga kopermu baby" ucap Zula sambil menarik koper baby Bibi


Soalnya koper baby Bibi sedari tadi paling terakhir munculnya


" Huh... Gemes buanget, kakak gemes ini sama baby " ucap Zula sambil mentoel pelan karena gemes sama baby Bibi yang sekarang sedang melek di gendongan Aliza


" Umi kemana mbak?" tanya Zula pada Aliza


" Masih di toilet" jawab Zain mewakili


" Aooo... Aaaooo" ucap Baby Bibi mulai ngoceh


" Eh... Ngoceh, ngoceh, tau di ajak liburan ya, seneng di ajak jalan jalan, healing, iya" ucap Zula lagi mengajak ngobrol baby Bibi


" Aaoo... Ooo" jawab baby Bibi kembali ngoceh


" Hooh... Iya, seneng..." jawab Zula lagi dan masih di tanggapi oleh baby Bibi


Dari arah toilet Jihan berjalan dan menghampiri mereka semua


" Udah sayang?" tanya Zain lembut


" Udah yuk... Jalan kita" jawab Jihan santai dan mulai mengambil baby Bibi dari Aliza


" Ayo gendong Umi yuk, kakak biar jalan sama Abang" ucap Jihan mengambil baby Bibi


" Eh gak apa apa Umi, biar sama Liza gak apa apa" jawab Aliza segan


" Enggak... Sekarang mumpung liburan, di nikmati , jadwal suamimu itu padat kalau di rumah, saat ini nikmati perjalanan liburan kita, kalau sambil momong gak jadi liburan dong" jawab Jihan mertua paling pengertian


Aliza hanya tersenyum menanggapi, padahal dia sendiri merasa gak enak banget kalau tidak bisa membantu mertuanya, tapi Jihan dan Zain adalah sosok mertua yang paling pengertian, tak jarang mereka memarahi Al yang kurang peka terhadap istrinya


" Langsung ke hotel apa kemana dulu Mi?" tanya Zain pada Jihan


" Kita cari makan dulu Yuk, udah waktunya makan siang lho, nanti cek innya pas habis sholat dhuhur jam satu, " jawab Jihan paling tau jadwal dan itung itungan masuk hotel


" Makan di mana?" tanya El kembali datar


" Ekspresimu itu lho El, mbok yang sumeh kan enak di dengar" jawab Jihan kesal kalau El kembali datar


" Iya Umi mau makan di mana?" ucap El mengulang dengan nada sopannya


" Mbok bagitu, Umi tuh paling gak tenang kalau anak anaknya nada bicaranya datar begitu, trauma Umi" jawab Jihan kembali ngomel dan Zain langsung merangkulnya


Zain tersenyum dan merangkul Jihan yang berjalan sambil ngomeli El yang beberapa hari bahkan minggu cukup membuatnya pikiran


Secara walaupun selesai masalahnya, tapi namanya orang tua pasti masih kepikiran dengan keadaan anaknya, senggaknya ikut prihatin


Tak jarang setiap malam Jihan selalu mengecek keadaan El, takut kalau El kembali nekat seperti pertama dia pisah dengan Ailza


Tapi Alhamdulillah El cukup bisa mengendalikan diri, dan masih fine fine aja sampai saat ini


" Sayang...." Ucap Zain berbisik


" Hem..." jawab Jihan menoleh pada Zain yang menggandengnya


" Jangan datar dan jutek, Abah Trauma" jawab Zain cengengesan dan langsung di cubit oleh Jihan di bagian penggingnya dan Zain menjerit kesakitan


Zula dan El kini jalan berdua di bagian belakang dengan El yang merangkul pundah adek kesayangannya itu


" Andai loe bukan adek gue La, kita udah punya anak kali ya" ucap El yang dulu pernah mencintai Zula begitu juga sebaliknya


" Ya gak perlu di andai andai bang... Orang kenyataannya kita saudara sedarah" jawab Zula santai dan merangkul pinggang El


" Elo nampaknya agak kurusan deh bang, diet?" tanya Zula sambil memijat lengan dan badan El sambil berjalan ke arah lobi bandara


" Diet karena makan hati, " jawab El singkat


" Alah kalau gue makan hati mah makin gemuk, justru makin ngemil" jawab Zula santai malah sebaliknya


" Lain lah, gue gak nafsu makannya apa lagi kalau ingat penghianatan yang dia berikan, rasanya gak bisa nelen ludah sendiri" jawab El terus terang


" Mulai sekarang stop jangan di ingat lagi, untuk apa gak penting, yang penting sekarang nikmati kita healing" jawab Zula kembali menghibur El


Hingga tak terasa mereka bertemu dengan mobil yang menjemput mereka di bandara,


Dan sebelum ke hotel yang berada di pesisir pantai, lebih tepatnya Villa, karena Yang di boking awalnya hotel, cuman kurang leluasa dan gak bisa kumpul Zain minta ganti ke Villa saja


" Langsung ke Villa ya Mi, Abah Ganti Villa barusan, gak nyaman kalau di hotel" jawab Zain menjelaskan


" Terserah Bah, tapi katanya mau makan dulu" tanya Jihan lagi


" Makan di Villa aja lah, Abah berubah pikiran, lebih prifat" jawab Zain yang paling seneng dan nyaman kalau khusus keluarganya aja


" Jangan bilang Umi lagi yang suruh masak, ogah" jawab Jihan yang tau akal pikiran suaminya yang lebih doyan masakan istrinya


" Kalau gak mau masakin ya biar kak Liza aja yang masak" jawab Zain santai


" Gak nawarin Zula bah?" tanya Zula dengan penuh percaya diri dan


" Wkwkwkwkwkwkkwkwk..... Yang ada habis itu kita semua diare gak jadi healing" jawab El dan Al sambil tertawa ngakak


Zula sadar diri karena dia memang paling gak tau dan gak bisa yang namanya masak dan gak pernah


Ya jaman sekarang, order bentar datang gak perlu repot repot untuk masak dan bau asap dapur


" Gue gak kebayang betapa menderitanya Maulana nanti kalau jadi suamimu" ucap Al meledek


" Ya bahagia dong, kenapa jadi menderita" jawab Zula gak terima


" Ya iya, tiap hari kelaperan istrinya gak bisa masak" jawab Al lagi makin meledek


" Sorry ya pak, gue orang sibuk, sibuk kerja dan lain sebagainya, jaman sekarang, sebelum subuh aja warung nasi sarapan pagi udah buka, gak repot dan gak perlu capek capek masak, bau asep dapur" jawab Zula sok elit


Tapi memang Elit sih, ya namanya juga anak jaman sekarang, dia bangga dengan prestasi dan kadang kekurangannya saja di banggakan


" Masak ya tiap hari mau di kasih makan warteg terus La" jawab Al lagi yang merasa istrinya serba bisa


" Pembantu, lagian di rumah kan banyak yang ikut dalem, setiap hari ready makanan, ngapain susah, iya kan Bah" jawab Zula santai gak mau banyak mikir


" Iya sayang" jawab Zain lembut


" Iya sayang... Lembut banget kalau sama putri kesayangannya " cibir Jihan pada Zain


" Ya enggak... Sama siapapun kan Abah memang lembut, apa lagi sama Umi, kasar sedikit alamat gak bisa masuk kamar, " bantah Zain yang sama sekali gak pernah kasar setelah huru hara perang badai melanda rumah tangganya