Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Nyeplos


Ailza kembali menampakkan wajahnya dan memandang balik El yang ada di seberang sana


" Hay.... Siapa?" tanya El pasa Ailza


" Enggak... Tadi teman manggil, gimana tadi sampai mana pembahasan kita?" tanya Ailza lagi yang sudah menetralkan suasana


" Kira kira kalau pernikahan kita di ajukan mau gak?" ucap El kembali membahas


" Di ajukan berapa bulan lagi sayang?" tanya Ailza sok romantis


" Kalau 2 bulan lagi, kesepakantan kita kan 3 bulan lagi, dan kamu baru pindah ke sini 1 bulan setelah praktek, jadi aku ajukan jadi 2 bulan lagi, setelah praktek langsung pindah sini aja, kerjakan skripsi di sini aja, nanti tak bantu" jawab El menjelaskan


" Okey deh... Jadi nanti aq agak mudur gak apa apa ya, 2 minggu sebelum hari H, baru pindah ke sana, soalnya mau ngurus surat suratnya dulu dong, untuk imigrasi, kan lumayan, visa dan yang lain" jawab Ailza dan El mengerti


Kemudian mereka mengobrol dan tak lama saling pamit karena El yang seharian belum gendong baby Bibi


Padahal bila di katakan dia sangat mager banget apa lagi melihat tingkah abangnya pada Aliza saat di mobil tadi


Panas dingin rasanya pengen dang masuk gue milik istrinya nanti


Tapi semua kembali dia tahan karena belum waktunya, dan di sela kecapean dia saat ini, mulai menuruni tangga untuk menghampiri baby Bibi


" Assalamualaikum..." ucap El saat masuk ke kamar Beby Bibi


" Waalaikumsalam..." jawab Jihan dan Zula yang juga ada di sana


" Loe seharian bener jadi baby Suster La? Mangku seharian gitu?" tanya El sambil duduk di sebelah Uminya


" Iya dong.. Kakak yang baik hati dan sholehah gitu, " jawab Zula ngasal


" Mana? Pagi cuman di lihati aja, gak ada tuh bantuin gendong apa lagi ganti popok, mangku juga baru siang tadi, gitu bingung gimana, anteng aja kayak patung" jawab Jihan membantah pengakuan modus Zula


" Ya Mi.... Gitu banget sama Ula, di nakmpakkan lah Mi, gimana perhatian Ula sama Baby, jangan terang terangan gitu" jawab Zula membuat El tertawa


" Umi jujur apa adanya sayang, jam 10 pagi sampai jam 2 siang kamu di atas, 4 jam sendiri ya, ke sini setengah 3, dan asar tadi di tinggal sholat dulu, dan baru 40 menit mangku lagi, sedari tadi cuman di lihatin aja sayang, Umi tau, Umi aja sampe gak bisa tidur gara gara khawatir adeknya di glundungin ke bawah" jawab Jihan dan Zula justru cengengesan


" Huuu.... Sok bener lho, mana pake alasan gak kerja lagi cuman karena baby lahir, bilang aja kalau mager" jawab El sambil menonyor kepala Zula


" Ih.... " Kesal Zula ingin membalas sampainterlupa kalau dia sedang gendong baby Bibi, dan hampir aja jatuh


" Zula...." teriak Jihan dan Zula baru sadar


" Sorry Baby... Hehehe Maaf Mi lupa" jawab Zula kembali nyengir


" Itu tuh, kalau bener ngundung gimana adeknya, haduh haduh repot" jawab Jihan menepuk Jidatnya


" Sini Biar Abang gendong" ucap El sambil mendekat dan menggendong baby Bibi


" Jangan sok jagoan bang, gak bisa nanti" ucap Zula sambil melihat El yang mengambil baby Bibi


" Abang dokter jangan di ragukan dong kak Ula, jangankan gendong baby, gendong istri aja sanggup kak Ula" ucap El sambil mewakili Baby Bibi


" Eh iya jago" ucap Zula kagum


" Jago dong.... Ya kan Baby, Abang tuh merindukan adanya baby sejak kecil, tapi baru keturutan sekarang, baby Boy lagi, tos dulu dong" ucap El sambil memainkan tangan baby Bibi


" Kakak Ula besok suaminya harus lebih pinter ya, kasian kalau punya baby Mboknya gak bisa ngurus , ancur nanti jadi peyek anaknya, senggaknya ada bapaknya yang bisa ngurus" jawab Al mewakili Baby Bibi


Sesaat kemudian Zain kembali menyusul ke kamar baby Bibi, dan berkumpul di sana


" Eh... Udah sama Abang aja" ucap Zain melihat El gendong Baby Bibi


" Bah..." ucap El lagi menyapa Zain


" El sebenarnya capek banget lho hari ini, cuman lihat baby kok ilang ya capeknya" ucap El masih menimang nimang


" Berarti sekarang baby penghilang capek abang dan kakak, gue juga tadi kesal sama Ryan 99, tapi dekat baby ilang juga capeknya" jawab Zula mengikuti


" Huh.... Alamak.... Ngikut aja kaka" jawab El lagi


Dan sesaat kemudian Zula terasa perutnya pengen ke kamar mandi dan buang hajad


Zula pamit dan menginggalkan ruangan tersebut, dan itu kesempatan El untuk ngomong sama Abah Uminya soal pernikahannya


" Bah Mi..." ucap El serius


Zain dan Jihan kompak menatapnya, dan menunggu kata selanjutnya


" Kalau pernikahan El di ajukan boleh gak?" tanya El lagi


" Boleh aja" jawab Zain santai


" Kenapa tiba tiba minta di ajukan?" tanya Jihan yang tidak memberi jawaban langsung


" Ya gak sabar aja, gak tahan hidup sendirian mulu" jawab El santai


" LDR sih" jawab Jihan dan El tersenyum


" Gak sabar masuk gua paling" saut Zain lagi dan


Plaak.... Satu pukulan mendarat di pundak Zain


" Mbok di saring kalau ngomong bah" bantah Jihan kesal


" Udah dewasa gak perly sarjngan kelapa, adanya mau menikah salah satu yang di inginkan tuh itu lho mi, Abah gak munafiq, " jawab Zain to the poin no filter


"Dulu saat kita jauh, dan baikan hal utama yang di lakukan juga itu, karena hanya itu " tambah Zain lagi makin menjadi


" Tapi benar lho Mi, dan El penasaran emang seenak apa sih?" tanya El terus terang


Kalau udah sama Abah Uminya tuh now filter filter loos pokoknya tanpa malu, karena itu termasuk ilmu pengerahuan sosial budaya pernikahan


" El..." cela Jihan


" Soalnya gini, tadi Abang kan ngambil surat keterangan di Rumah sakit, dia gak buka pintu apa lagi turun, pas kaca di buka sedikit gak sengaja El lohat mbak Liza yang merem melek, sambil gigit bibir bawahnya, dan gak sadar enrah sedang bayangin apa sampai gak sadar ada El di luar jendela, setelah El tamatkan, tangan Abang ternyata masuk ke sana, pantesan mbak Liza sampe kenikmatan gitu" jawab El bercerita dan membuat Zain dan Jihan kaget saling pandang


" Jadi El penasaran lah, seenak apa dan senikmat apa sih, sampe segitunya do mobil masih bisa begitu, sambil nyetir lagi" tambahnya dan Zain tersenyum kikuk dengan Jihan sambil garuk kepala yang tidak gatal, dan salah tingkah


El makin mengerutkan keningnya, melihat kekompakan salah tingkah Abah dan Uminya, sampe garuk garuk kepala


" Jangan jangan Abah Umi juga gitu saat di mobil?" tanya El langsung nyeplos