Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Merinding


Tamu yang datang semakin membludak, Zain sebagai tuan rumah walaupun berduka tetap menemui tamu tamunya


Kepulangan saudaranya seperti Baha' dan Fani tentu tertunda, dan gak mungkin untuk pulang hari ini,


Dan hari semakin sore, bahkan mereka semua terlupa akan puasanya, duka mendalam yang mebgiringi keliarga Al Musthofa


Untuk sore nanti semua makanan di handel dan dikirim dari resto, dan perispan untuk mengaji di rumah sudah di persiapkan oleh beberapa karyawan Zain yang siap mendapat utusan dari Irfan


Irfan Faham dengan apa yang harus dia lakukan saat ini, dan untuk persiapn tentu sudah di pesan untuk 7 hari ke depan


7 hari kedepan para santri ngaji habis isya' tertunda dulu, dan ikut mengaji dengan para tamu di aula maupun di halaman rumah


Tung tung tung .. Buk buk buk...


Suara beduk magrib sudah terdengar, mereka tidak kembali berkumpul, dan justru terpelencar dengan tamu yang masih berdatangan


" Alhamdulillah.... Udah magrib pak, mari buka puasa dulu" Ucap Zain pada tamunya


" Silahkan, di situ untuk makan dan minumnya" ucap Zain sambil mempersilahkan tamunya


Jihan dari dalam keluar mencari suaminya, tau dia gimana suaminya gak bisa makan tanpa dirinya apa lagi dalam suasana seperti ini


Sedari tadi mau mendekat tamu terua berdatangan dia sendiri harus menyambut tamunya yang tak ada habisnya


Bahkan baby Bibi harus minum ASI yang ada di frezer, dan Jihan tidak menemuinya sama sekali dan Bibi sama kedua kakaknya Aliza dan Zula di lantai atas


Al dan El juga sibuk sendiri menemui tamunya yang dari kampus sekolah maupun dari rumah sakit


Tamu terbanyak memang dari Zain dan Jihan, sedangkan dari keluarga Fani besan maupun saudaranya belum pada sampe


" Ayo mbk... Makan dulu, udah waktunya buka, batalkan puasa dulu" Ucap Jihan pada Tamu tamu


" iya Umi trimakasih" ucap Tamunya lembut


Padahal dirinya juga seolah mau makan gak ada seleras sama sekali dan gak tau apa nanti rasanya


Jihan masih berjalan mencari Zain, dan sambil menyapa tamunya hanya sekedar untuk menawarkan buka puasa yang sudah di sediakan


Bahkan seperti orang pesta menyediakan makan untuk buka puasa dengan menu prasmanan


Bukan tidak berduka dan bermewahanz tapi menghormati tamu apa lagi di bulan puasa salah satu ibadah yang nantinya di hadiahkan pada almarhum almarhuman


" Abah ..." Panggil Jihan lembut


Zain menoleh dan langsung mendekat serta merangkul istrinya


" Makan dulu ya, Umi Ambilkan" Ucap Jihan lembut


" Umi Udah batal puasanya?" tanya Zain balik dan Jihan menggeleng


" Ya udah Abah duduk dulu, Umi ambilkan minum kita sama sama batakkan puasanya" jawab Jihan dan Zain mengangguk


Masyaallah luar biasa, istri yang pernah di sakitinya sampai saat ini masih sayang, masih menemani apapun keadannya masih selalu berada di sampingnya


Sama sekali gak kenal lelah, dari kemaren sama sekali tidak tidur, bahkan semalaman menggendong Bibi yang sangat rewel


Dari jauh Al terlihat sedang menghubungi seseorang siapa lagi kalau bukan Aliza, Al memibta kalau Aliza untuk segera buka puasa, kalau gak ada makanan ya seadanya dulu, karena Al khawatir dengan Aliza yang sedang hamil dan momong adeknya, ya gimana lagi Uminya sedang repot


Walaupin ada Zula ya Al faham gimana adek perempuannya itu kalau sama adek bontot bayinya itu


" Al batalkan dulu puasanya" ucap Jihan menghampiri Al yang baru selesai telfon


" Iya Mi" jawab Al singkat dan mengambil minum dari Uminya yang membawakan


Jihan masih mikir anaknya juga,walaupun sudah berkeluarga, dan setelah memberikan minum pada suaminya dia juga mengambilkan untuk anak anaknya


Seperti Al dan Kini pindah ke El, yang sedang ngobrol dengan para dokter yang hadir


" El buka dulu nak" ucap Jihan kembut sambil memverikan segelas es sirup untuk El


" Dokter Jihan kami turut berduka cita ya" Ucap salah satu dokter yang baru hadir


" Terimakasih dokter sudah berkenan hadir, ayo buka puasa dulu dokter silahkan" jawab Jihan ramah dan donter tersebut mengangguk dan tersenyum


" Mau makan?" tanya Jihan lagi


" Abah udah makan kurma Mi, umi makan gih, nanti harus nyusuin baby" jawab Zain teduh sambil mengunyah kurma yang di ambil dari hadapannya


Ya sebelum magrib tiba para santri juga menyediakan kurma di meja meja yang ada di hadapannya


" Udah Umi makan Kurma aja" jawab Jihan dan duduk di sebelah Zain


Zain kembali menggenggam tangan istrinya yang kiri, karena yang kanan masih mengambil kurma


" Sabar ya... Tabah, Semua sudah bagian dari Abah Dan Umi" Ucap Jihan yang mengelus tangan Zain lembut


Sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua, tapi kehilangan orang tua untuk selama lamanya itu sangat menyakitkan, dan ini Yang Zain rasakan saat ini


Zain hanya menjawab dengan angukan kepala dan terus mengelus tangan istrinya


Malam harinya setelah isya' pengajian kembali di lakukan, pembacaan yasin dan tahlil bersama para santri dan para warga yang hadir


Bukan orang biasa, dan wajar saja kalau yang hadir ribuan orang, di tambah santri yang bagitu banyak dan banyak yang mendoakan


Setelah acara terlaksanakan, kini para santri ber gotong royong untuk mbersihkan halaman rumah dan juga aula pesantren


Kini Zain dan Jihan sudah berada di kamarnya,


Di situ tangis Zain yang sudah di tahan sejak pagi tadi tumpah di pangkuan istri tercintanya


Jihan ikut kembali nangis dan mereka sama sama menangis


Sosok suami yang jarang menangis, menangis karena menangisi dan menyesali kesalahannya, kini kembali menangis saat kehilangan kedua orang tuanya untuk selama lamanya


Jihan tidak bisa berkata kembali, dan hanya bisa mengelus dan menenangkan suaminya


Hingga akhirnya Zain tertidur karena sedih campur capek yang luar biasa


Perlahan Jihan membaringkan Zain, dan bangkit dari duduknya untuk mengambil baby Bibi di kamar Aliza yang mana seharian di tinggal olehnya.


Jihan berjalan dan suasana sudah sepi, Jihan mulai merinding, entah kenapa, suasananya seolah mencengkam


Apa lagi baru saja di rumah ini ada 2 penghuni yang meninggal pago tadi, rasanya makin merinding


Mau minta tolong untuk di anter gak mungkin soalnya Zain baru saja tidur dan pasti capek


Jihan langsung berlari menaiki tangga hingga sampai di depan kamar El dengan nafas terengah engah


" Huh... Ya Allah... Tenang Han, gak ada apa apa" Ucap Jihan masih agak merinding


" Tok tok tok... Al, Aliza .. Al" ucap Jihan mengetuk pintu


Ceklek.... Pintu terbuka karena memang Al belum tidur


" Assalamualaikum..." ucap Jihan langsung masuk


" Waalaikumsalam.." jawab Al dan kembali menutup pintu kamarnya


" Mau ambil baby Mi? Udah tidur biar di sini aja gak apa apa" ucap Al tumben gak keberatan


" Umi seharian belum gendong Lho Al, Liza udah tidur juga?" tanya Jihan yang belum melihat


" Iya tuh ngeloni adeknya" jawab Al dan Menunjuk ke arah Aliza dan Baby Bibi


Jihan tersenyum lalu mendekat


" Sayang... " Panggil Al pada Aliza


" Udah biar tidur... Umi mau ambil Bibi aja" jawab Jihan dan mendekat lalu mengangkat baby Bibi perlahan


" Udah sana tidur, udah malem" Ucap Jihan dan pamot keluar


Al ikut mengantarnya keluar dan sampai depan pintu Jihan balik badan


" Al anter Umi turun dong" ucap Jihan yang terasa gak berani