
Tamu yang datang semakin membludak, Zain sebagai tuan rumah walaupun berduka tetap menemui tamu tamunya
Kepulangan saudaranya seperti Baha' dan Fani tentu tertunda, dan gak mungkin untuk pulang hari ini,
Dan hari semakin sore, bahkan mereka semua terlupa akan puasanya, duka mendalam yang mebgiringi keliarga Al Musthofa
Untuk sore nanti semua makanan di handel dan dikirim dari resto, dan perispan untuk mengaji di rumah sudah di persiapkan oleh beberapa karyawan Zain yang siap mendapat utusan dari Irfan
Irfan Faham dengan apa yang harus dia lakukan saat ini, dan untuk persiapn tentu sudah di pesan untuk 7 hari ke depan
7 hari kedepan para santri ngaji habis isya' tertunda dulu, dan ikut mengaji dengan para tamu di aula maupun di halaman rumah
Tung tung tung .. Buk buk buk...
Suara beduk magrib sudah terdengar, mereka tidak kembali berkumpul, dan justru terpelencar dengan tamu yang masih berdatangan
" Alhamdulillah.... Udah magrib pak, mari buka puasa dulu" Ucap Zain pada tamunya
" Silahkan, di situ untuk makan dan minumnya" ucap Zain sambil mempersilahkan tamunya
Jihan dari dalam keluar mencari suaminya, tau dia gimana suaminya gak bisa makan tanpa dirinya apa lagi dalam suasana seperti ini
Sedari tadi mau mendekat tamu terua berdatangan dia sendiri harus menyambut tamunya yang tak ada habisnya
Bahkan baby Bibi harus minum ASI yang ada di frezer, dan Jihan tidak menemuinya sama sekali dan Bibi sama kedua kakaknya Aliza dan Zula di lantai atas
Al dan El juga sibuk sendiri menemui tamunya yang dari kampus sekolah maupun dari rumah sakit
Tamu terbanyak memang dari Zain dan Jihan, sedangkan dari keluarga Fani besan maupun saudaranya belum pada sampe
" Ayo mbk... Makan dulu, udah waktunya buka, batalkan puasa dulu" Ucap Jihan pada Tamu tamu
" iya Umi trimakasih" ucap Tamunya lembut
Padahal dirinya juga seolah mau makan gak ada seleras sama sekali dan gak tau apa nanti rasanya
Jihan masih berjalan mencari Zain, dan sambil menyapa tamunya hanya sekedar untuk menawarkan buka puasa yang sudah di sediakan
Bahkan seperti orang pesta menyediakan makan untuk buka puasa dengan menu prasmanan
Bukan tidak berduka dan bermewahanz tapi menghormati tamu apa lagi di bulan puasa salah satu ibadah yang nantinya di hadiahkan pada almarhum almarhuman
" Abah ..." Panggil Jihan lembut
Zain menoleh dan langsung mendekat serta merangkul istrinya
" Makan dulu ya, Umi Ambilkan" Ucap Jihan lembut
" Umi Udah batal puasanya?" tanya Zain balik dan Jihan menggeleng
" Ya udah Abah duduk dulu, Umi ambilkan minum kita sama sama batakkan puasanya" jawab Jihan dan Zain mengangguk
Masyaallah luar biasa, istri yang pernah di sakitinya sampai saat ini masih sayang, masih menemani apapun keadannya masih selalu berada di sampingnya
Sama sekali gak kenal lelah, dari kemaren sama sekali tidak tidur, bahkan semalaman menggendong Bibi yang sangat rewel
Dari jauh Al terlihat sedang menghubungi seseorang siapa lagi kalau bukan Aliza, Al memibta kalau Aliza untuk segera buka puasa, kalau gak ada makanan ya seadanya dulu, karena Al khawatir dengan Aliza yang sedang hamil dan momong adeknya, ya gimana lagi Uminya sedang repot
Walaupin ada Zula ya Al faham gimana adek perempuannya itu kalau sama adek bontot bayinya itu
" Al batalkan dulu puasanya" ucap Jihan menghampiri Al yang baru selesai telfon
" Iya Mi" jawab Al singkat dan mengambil minum dari Uminya yang membawakan
Jihan masih mikir anaknya juga,walaupun sudah berkeluarga, dan setelah memberikan minum pada suaminya dia juga mengambilkan untuk anak anaknya
Seperti Al dan Kini pindah ke El, yang sedang ngobrol dengan para dokter yang hadir
" El buka dulu nak" ucap Jihan kembut sambil memverikan segelas es sirup untuk El
" Dokter Jihan kami turut berduka cita ya" Ucap salah satu dokter yang baru hadir
" Terimakasih dokter sudah berkenan hadir, ayo buka puasa dulu dokter silahkan" jawab Jihan ramah dan donter tersebut mengangguk dan tersenyum
" Mau makan?" tanya Jihan lagi
" Abah udah makan kurma Mi, umi makan gih, nanti harus nyusuin baby" jawab Zain teduh sambil mengunyah kurma yang di ambil dari hadapannya
Ya sebelum magrib tiba para santri juga menyediakan kurma di meja meja yang ada di hadapannya
" Udah Umi makan Kurma aja" jawab Jihan dan duduk di sebelah Zain
Zain kembali menggenggam tangan istrinya yang kiri, karena yang kanan masih mengambil kurma
" Sabar ya... Tabah, Semua sudah bagian dari Abah Dan Umi" Ucap Jihan yang mengelus tangan Zain lembut
Sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua, tapi kehilangan orang tua untuk selama lamanya itu sangat menyakitkan, dan ini Yang Zain rasakan saat ini
Zain hanya menjawab dengan angukan kepala dan terus mengelus tangan istrinya
Malam harinya setelah isya' pengajian kembali di lakukan, pembacaan yasin dan tahlil bersama para santri dan para warga yang hadir
Bukan orang biasa, dan wajar saja kalau yang hadir ribuan orang, di tambah santri yang bagitu banyak dan banyak yang mendoakan
Setelah acara terlaksanakan, kini para santri ber gotong royong untuk mbersihkan halaman rumah dan juga aula pesantren
Kini Zain dan Jihan sudah berada di kamarnya,
Di situ tangis Zain yang sudah di tahan sejak pagi tadi tumpah di pangkuan istri tercintanya
Jihan ikut kembali nangis dan mereka sama sama menangis
Sosok suami yang jarang menangis, menangis karena menangisi dan menyesali kesalahannya, kini kembali menangis saat kehilangan kedua orang tuanya untuk selama lamanya
Jihan tidak bisa berkata kembali, dan hanya bisa mengelus dan menenangkan suaminya
Hingga akhirnya Zain tertidur karena sedih campur capek yang luar biasa
Perlahan Jihan membaringkan Zain, dan bangkit dari duduknya untuk mengambil baby Bibi di kamar Aliza yang mana seharian di tinggal olehnya.
Jihan berjalan dan suasana sudah sepi, Jihan mulai merinding, entah kenapa, suasananya seolah mencengkam
Apa lagi baru saja di rumah ini ada 2 penghuni yang meninggal pago tadi, rasanya makin merinding
Mau minta tolong untuk di anter gak mungkin soalnya Zain baru saja tidur dan pasti capek
Jihan langsung berlari menaiki tangga hingga sampai di depan kamar El dengan nafas terengah engah
" Huh... Ya Allah... Tenang Han, gak ada apa apa" Ucap Jihan masih agak merinding
" Tok tok tok... Al, Aliza .. Al" ucap Jihan mengetuk pintu
Ceklek.... Pintu terbuka karena memang Al belum tidur
" Assalamualaikum..." ucap Jihan langsung masuk
" Waalaikumsalam.." jawab Al dan kembali menutup pintu kamarnya
" Mau ambil baby Mi? Udah tidur biar di sini aja gak apa apa" ucap Al tumben gak keberatan
" Umi seharian belum gendong Lho Al, Liza udah tidur juga?" tanya Jihan yang belum melihat
" Iya tuh ngeloni adeknya" jawab Al dan Menunjuk ke arah Aliza dan Baby Bibi
Jihan tersenyum lalu mendekat
" Sayang... " Panggil Al pada Aliza
" Udah biar tidur... Umi mau ambil Bibi aja" jawab Jihan dan mendekat lalu mengangkat baby Bibi perlahan
" Udah sana tidur, udah malem" Ucap Jihan dan pamot keluar
Al ikut mengantarnya keluar dan sampai depan pintu Jihan balik badan
" Al anter Umi turun dong" ucap Jihan yang terasa gak berani