LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 90 KIRIN ES VS BUAYA SALJU ( PART 1 )


Heilong segera melihat ke arah palung sungai es berdarah. Dia bisa melihat seekor Buaya Salju yang seluruh tubuhnya telah dilindungi oleh perisai air yang sangat tebal dan terdapat kawah yang cukup besar di tempat Buaya Salju berada. Sepertinya belum lama ini ada sebuah benda yang sangat besar telah menghantam tempat itu.


“Tzuyu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Heilong bertanya pada Feng Tzuyu yang sudah sering datang kemari.


“Sepertinya Kirin Es sudah sembuh dari lukanya dan datang untuk membalas dendam pada Buaya Salju. Coba lihat di atas tebing sebelah sana,” tangan Feng Tzuyu menunjuk sebuah tebing di dekat Sungai Es Berdarah.


Heilong mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Feng Tzuyu dan dia melihat seekor Kirin Es berdiri di puncak tebing.


Tubuh Kirin Es itu berwarna putih seputih salju dan di sekitar tempat dia berdiri terdapat pusaran badai salju yang mengitari tubuhnya.


Dari sorot matanya yang menatap Buaya Salju dengan tajam dan berapi-api serta energi es dan anginnya yang meledak-ledak, Heilong bisa menebak bahwa Kirin Es itu dalam keadaan sangat marah.


“Tzuyu, mari kita lihat lebih dekat lagi. Aku rasa ini adalah kesempatan kita untuk mendapatkan Mustika Air Buaya Salju karena Kirin Es itu pasti berniat untuk membunuh Buaya Salju. Saat Kirin Es itu berhasil membunuh Buaya Salju, kita akan punya kesempatan untuk mengambil Mustika Air Buaya Salju karena aku sangat yakin Kirin Es itu akan meninggalkan mayat Buaya Salju setelah dia berhasil membunuhnya,” ucap Heilong.


“Kenapa Bai gege bisa seyakin itu? Bukankah Mustika Air Buaya Salju itu bisa meningkatkan kekuatannya jika dia mengambilnya,” balas Feng Tzuyu.


“Jawabannya sangat sederhana karena Buaya Salju itu telah membunuh anak-anak Kirin Es. Coba kamu pikir baik-baik siapa yang mau menyimpan benda milik makhluk yang membunuh anaknya, jika dia tidak meninggalkannya maka dia pasti akan menghancurkannya,” jawab Heilong.


“Yang Bai gege katakan cukup masuk akal. Kalau begitu ayo kita cepat kesana .Kita harus mengambil mustika itu sebelum Kirin Es menghancurkannya.”


Feng Tzuyu langsung mengajak Heilong pergi ke tempat pertempuran antara Kirin Es dan Buaya Salju.


Mereka berdua segera meninggalkan taman. Tapi saat melewati pintu gerbang, mereka berdua dihentikan oleh enam orang bertopeng dan berpakaian serba hitam.


“Paman Wong biarkan kami lewat.” ucap Feng Tzuyu.


“Tuan Putri anda mau kemana malam-malam begini?” tanya Wong Gie.


“Kami akan pergi ke tempat pertempuran Kirin Es dan Buaya Salju karena ini adalah kesempatan terbaikku untuk mendapatkan Mustika Air Buaya Salju,” jawab Feng Tzuyu.


“Maafkan kami Tuan Putri, tempat itu sangat berbahaya. Kami tidak bisa mengijinkan anda pergi ke sana. Jika sesuatu terjadi pada Tuan Putri, Perdana Menteri Yang Zhu pasti akan menghukum kami dengan sangat berat. Belum lagi jika Kaisar mengetahui hal ini, maka kami bisa dihukum mati,” ucap Wong Gie.


“Mustika Air Buaya Salju ini sangat penting untuk penyembuhanku, tapi aku juga tidak bisa membahayakan keselamatan kalian. Baiklah kalau begitu, Paman Wong Gie kamu ambillah gulungan surat ini. Jika sesuatu terjadi padaku, berikan surat itu pada Ayah. Di dalam surat itu tertulis bahwa aku melakukan ini atas kemauanku sendiri dan aku meminta ayahku untuk tidak menghukum kalian jika terjadi sesuatu padaku.” Feng Tzuyu segera memberikan sebuah gulungan surat berwarna emas pada Wong Gie.


Wong Gie menerima gulungan surat itu dan berkata. “Terimakasih Tuan Putri karena telah memikirkan keselamatan kami, tapi kami tetap harus melindungi Tuan Putri. Karena itu kami enam bersaudara akan terus mengikuti Tuan Putri pergi ke tempat ini untuk menjaga keselamatan anda.”


“Baiklah, tidak masalah. Kalian boleh mengikutiku pergi ke sana,” jawab Feng Tzuyu.


Mereka semua bergegas pergi ke Sungai Es Berdarah.


**


Mereka akhirnya sampai di bukit terdekat dari tempat pertempuran itu.


“Tuan putri, sebaiknya kita menunggu di sini karena terlalu berbahaya jika terlalu dekat,” ucap Wong Gie.


“Bai gege, bagaimana menurutmu?” tanya Feng Tzuyu meminta pendapat Heilong.


“Baiklah, kami akan membuat sebuah formasi pelindung di sini untuk menambah keamanan,” ucap Wong Gie.


Keenam orang itu segera membuat formasi pelindung sehingga mereka dapat dengan tenang menonton pertarungan antara Kirin Es dan Buaya Salju.


**


Di atas sebuah tebing, Kirin Es berdiri dengan tenang sambil terus mengumpulkan energinya. Tapi, sorot matanya terus menatap ke tempat Buaya Salju berada.


“Hai kau buaya tak berperasaan!! Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sekarang aku akan membalas dendam atas kematian anakku,” Teriak Kirin Es marah.


“Bukan hanya kau yang ingin balas dendam!! Tapi aku juga ingin membalasmu karena kau juga telah menghancurkan semua telur-telurku,” balas Buaya Salju.


“Omong kosong!! Kamu jangan suka memutar balikkan fakta. Sebelum aku datang menyerang, semua telur-telurmu sudah dalam keadaan mati karena kamu telah menyerap energi hidupnya untuk menaikkan kekuatanmu,” seru Kirin Es geram.


“Haha … Ternyata kamu juga mengetahui hal itu. Aku memang meningkatkan kekuatanku dengan menyerap energi kehidupan makhluk lain,” ucap Buaya Salju tertawa keras.


“Tidak bisa diampuni!! Kamu bukan hanya membunuh anakku tapi kamu juga tega membunuh calon anak-anakmu sendiri demi mengejar kekuatan. Makhluk kejam sepertimu benar-benar tidak layak untuk hidup,” teriak Kirin Es yang semakin marah.


Heilong yang mendengar percakapan antara Kirin Es dengan Buaya Salju dari tempatnya berdiri juga ikut terpancing emosi. Dia mengepalkan kedua tangannya dan tanpa sadar memancarkan energinya yang bercampur dengan hawa membunuh. Namun Feng Tzuyu yang berdiri di sampingnya segera memegang tangannya dan menenangkannya.


“Tenangkan dirimu Bai gege, jangan sampai kamu menarik perhatian kedua Beast itu dan mengganggu pertempuran mereka,” ucap Feng Tzuyu.


Tubuh Kirin Es tiba-tiba memancarkan aura energi petir yang sangat kuat.


Buaya Salju menjadi terkejut ketika melihat ini dan berkata dengan suara lantang. “Jadi selama beberapa bulan ini selain memulihkan tubuhmu, kamu rupanya juga mempelajari kekuatan elemen petir. Tapi semua itu percuma saja karena petirmu itu tidak akan bisa membunuhku.”


Kirin Es tidak menjawab. Tapi dia terus memperkuat aura energi petir yang memancar dari tubuhnya dan memusatkannya ke tanduknya.


Energi petir itu terus mengalir ke tanduk Kirin Es dan bercampur dengan badai salju yang sejak awal sudah mengelilingi tubuh Kirin Es.


Secara perlahan, ketiga energi itu saling menyatu dan membentuk sebuah bola energi raksasa di atas Tanduk Kirin Es.


Kekuatan energi angin, petir dan es yang berada di tanduk Kirin Es ini membuat langit yang tadinya cerah sekarang mulai ditutupi mendung dengan petir yang menyambar-nyambar.


Tidak lama kemudian, kirin Es Itu terbang ke langit lalu dia memutarkan kepalanya dan melempar bola energi yang ada di tanduknya ke arah buaya salju.


"Schneesturm.” teriak Kirin Es.


Bola energi yang terbuat dari badai salju dan di kelilingi petir melesat dengan sangat cepat dan menghantam tubuh Buaya Salju.


“Boom ….”


Suara ledakan terdengar lalu diikuti petir yang menyambar dan menghancurkan daerah sekitar Buaya Salju berada.