
Heilong seperti menemui sebuah jalan buntu karena yang dia tahu lawan dari kayu adalah api. Sedangkan kekuatan api miliknya sama sekali tidak berpengaruh pada pintu gerbang kayu itu.
Dia terus berpikir dengan keras sambil bermeditasi untuk menjernihkan pikirannya, secara perlahan dia merasakan udara di sekitar istana ini menjadi semakin sejuk dan muncul suara gemericik air yang turun dari langit.
Heilong tiba-tiba merasa sangat mengantuk ketika tubuhnya merasakan udara yang sangat sejuk ini. Dia langsung membuka matanya karena dia takut tertidur sebab dia ingat bahwa saat ini dirinya sedang dalam ujian yang diberikan oleh Divine Beast Seiryu.
“Rupanya yang membuat udara di tempat ini menjadi semakin sejuk adalah hujan. Sudah lama aku tidak melihat hujan. Aku jadi teringat dengan Bumi.”
Tanpa sadar, Heilong berjalan ke luar dari Istana kayu milik Divine Beast Seiryu dan menikmati segarnya air yang turun dari langit ini. Segala beban yang ada di dalam pikirannya langsung hilang saat kepalanya terkena tetesan air hujan ini.
Saat menikmati air hujan inilah, mata Heilong tiba-tiba tertuju pada sebuah kayu kering yang tergeletak di tanah. Permukaan kayu itu semakin lama menjadi semakin rapuh saat di terjang oleh air hujan yang sangat deras ini secara terus-menerus.
Kayu kering itu akhirnya hancur setelah sebuah angin yang sangat kencang tiba-tiba muncul dan menghantam kayu yang sudah rapuh itu dengan kecepatan tinggi.
Heilong langsung tersenyum saat melihat kejadian yang ada di depannya. “Akhirnya aku menemukan cara untuk menghancurkan pintu kayu itu. Tapi aku tidak memiliki jurus menyerang yang menggunakan energi elemen air. Semua jurus elemen air yang di ajarkan Divine Beast Genbu adalah jurus penyembuhan.”
Sebuah kitab berwarna biru langsung ke luar dari dalam Dunia Jiwanya, diikuti dengan suara Li Ziqi yang juga muncul secara tiba-tiba.
“Pelajarilah jurus yang ada di dalam kitab itu. Dengan memberimu kitab itu, aku sama sekali tidak melanggar peraturan karena kau tetap harus berusaha dengan kekuatanmu dan caramu sendiri. Aku juga tidak memberitahukan apa'pun yang berhubungan dengan ujianmu. Kitab itu bisa dianggap sebagai sebuah senjata yang kau miliki.”
“Kau tenang saja Tuan Putri. Kau memang tidak melanggar peraturan, Heilong tetap bisa melanjutkan ujian yang aku berikan.”
Suara Divine Beast Seiryu kembali muncul dan memberitahu pada Heilong bahwa dia masih bisa melanjutkan ujiannya. Tapi suara ini hanya bisa didengar oleh Heilong dan Li Ziqi saja karena Divine Beast Seiryu langsung mengirim suara ini ke telinga mereka berdua untuk menyembunyikan keberadaan Li Ziqi dari semua orang yang ada di dalam Istana Kayu miliknya.
“Kitab Pusaran Air Mengguncang Langit.” ucap Heilong membaca judul kitab itu.
Heilong lalu membaca kitab itu dengan dengan penuh konsentrasi, butuh waktu sekitar satu jam untuk memahami semua kalimat yang ada di halaman pertama karena terdapat banyak sekali istilah-istilah yang sangat rumit.
Heilong kemudian lanjut membaca ke halaman berikutnya dan dia baru berhenti saat mencapai halaman kesepuluh karena halaman kesepuluh adalah akhir dari tingkat dasar jurus ini.
“Ternyata aku harus menggabungkan energi air dan energi angin lalu membuat waterspout terlebih dahulu agar aku bisa mengeluarkan jurus ini.”
Waterspout adalah sebuah pusaran air yang naik ke langit karena di sebabkan oleh sebuah fenomena alam tertentu.
“Aku akan membuat pusaran tornado air berukuran kecil terlebih dahulu karena ini adalah pertama kalinya aku menggunakan energi elemen air untuk menyerang.”
Heilong lalu mengulurkan kedua tangannya ke depan dan memasukkan energi air ke tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sudah memancarkan energi angin yang sangat kuat.
Heilong berusaha untuk menstabilkan energi angin yang ada di tangan kirinya terlebih dahulu sebelum dia menggabungkan energi angin ini dengan energi air yang ada di tangan kanannya.
Dia lalu mendekatkan kedua tangannya secara perlahan setelah energi angin yang ada di tangan kirinya sudah sangat stabil.
“Byar …. ”
“Kenapa masih gagal juga, padahal aku sudah melakukan sesuai dengan petunjuk yang ada di dalam kitab itu. Apakah ada kalimat yang aku lewatkan?”
Heilong segera mengambil kitab itu dan membaca sekali lagi. Ternyata dia memang melewatkan sebuah kalimat yang sangat penting yaitu tentang seberapa besar perbandingan antara kedua energi ini agar bisa membuat sebuah pusaran tornado air.
“Ternyata energi angin yang aku gunakan saat percobaan pertamaku itu memang terlalu besar. Pantas saja pusaran tornado air itu langsung hancur tersapu angin tornado yang ada di tangan kiriku.”
Heilong kembali memusatkan energi angin dan energi air miliknya ke kedua telapak tangannya. Kali ini dia mengurangi kekuatan energi angin yang ada di tangan kirinya sampai sepertiga dari kekuatan energi air yang ada di tangan kanannya.
“Whosh …”
Sebuah tornado air setinggi setengah meter langsung terbentuk di tangan Heilong saat dia mendekatkan kedua telapak tangannya.
“Akhirnya aku berhasil. Aku akan mencoba memperbesar ukuran angin tornado air ini.”
Heilong lalu menambah jumlah energi angin dan energi air yang ada di kedua tangannya dengan perbandingan yang tetap sama.
Pusaran Tornado Air yang ada di tangan Heilong, secara perlahan terus membesar sampai melebihi ukuran tubuhnya. Heilong baru berhenti saat pusaran angin tornado itu sudah mencapai tinggi dua meter.
“Sepertinya ini sudah cukup untuk menghancurkan pintu gerbang kayu itu.”
Heilong langsung menghantam pusaran tornado air itu ke pintu gerbang yang terbuat dari Kayu Jati Langit itu.
Pusaran Tornado Air itu terus menggerus permukaan dari pintu gerbang kayu itu seperti air laut yang menggerus permukaan tanah.
Permukaan pintu gerbang kayu itu secara perlahan mulai menjadi rapuh karena Heilong bisa melihat banyak sekali retakan-retakan kecil pada permukaan pintu gerbang itu.
“Ternyata kelemahan dari kayu ini memang serangan dari energi air. Untung saja tadi turun hujan, jika tidak maka aku tidak akan bisa menemukan kelemahan dari kayu ini. Sepertinya dewa juga ingin membantuku agar aku lulus dari ujian ini.”
Heilong lalu menghentikan Jurus Pusaran Air Mengguncang Langit dan langsung mengeluarkan kembali Pedang Bintang Api.
“Pedang Racun Api.”
Heilong segera memasukkan energi apinya ke dalam Pedang Bintang Api dan menghantamkan pedang itu dengan kuat ke setiap retakan yang ada pada permukaan pintu gerbang kayu itu.
“Boom … Boom … Boom …”
Ledakan yang sangat banyak langsung muncul secara bersama di permukaan pintu gerbang kayu itu saat ratusan bayangan pedang api menghantam permukaannya.
Pintu gerbang kayu yang sangat kokoh dan keras itu'pun akhirnya hancur berkeping-keping dan berubah menjadi abu.
Sekarang Heilong bisa melihat ibu dan juga gurunya sedang berdiri di belakang pintu gerbang kayu itu. Ternyata Divine Beast Seiryu hanya membawa mereka berdua melewati pintu itu saja dan tidak membawa mereka berdua masuk lebih jauh lagi.