LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V3 # CH 329 MENYELAMATKAN TAHANAN


Mereka bertiga terus di berjalan mengikuti para prajurit penjaga gerbang perbatasan itu menuju ke ruang bawah tanah seperti yang telah di perintahkan oleh pimpinan para prajurit penjaga itu.


Mereka bertiga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang sangat luas dan telah di bagi menjadi tiga puluh ruangan berukuran kecil dengan pintu yang terbuat dari jeruji besi.


Lin Chong Wei langsung terlihat sangat marah sekali karena dugaannya ternyata benar. “Ini bukanlah ruang pemeriksaan, tapi ini adalah penjara bawah tanah! Apakah kalian mau memenjarakan kita semua?”


“Tenang dulu Tuan, kami tidak memiliki ruangan khusus untuk para tamu yang menunggu selama proses pemeriksaan barang bawaan mereka. Hanya ruangan ini saja yang tersisa, ruangan ini sangat bersih dan kalian bertiga hanya tinggal di ruangan ini selama beberapa jam saja,” jawab prajurit itu berbohong untuk membuat Lin Chong Wei tenang.


“Tenang dulu Paman Lin, tempat ini sepertinya nyaman juga untuk di gunakan sebagai tempat beristirahat. Kita tunggu saja di sini sampai barang bawaan kita selesai di periksa,” ucap Heilong menenangkan Lin Chong Wei, kemudian dia menatap penjaga gerbang itu. “Berapa lama kira-kira kita harus menunggu di dalam ruangan ini?”


“Empat jam. Setelah empat jam, kami akan datang lagi kemari. Jika ternyata tidak ada masalah, maka kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian memasuki wilayah kerajaan Blue Dragon,” jawab Prajurit penjaga itu.


Heilong menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dan langsung mengajak Lin Chong Wei dan Lu Zhan memasuki salah satu ruangan kecil itu. Setelah mereka masuk, prajurit itu langsung menutup pintu ruangan kecil tempat mereka bertiga berada dan menguncinya. Lalu dia meninggalkan penjara bawah tanah itu.


“Tuan, kenapa kau tidak melawan saat mereka mau memenjarakan kita?” tanya Lin Chong Wei dengan tatapan sedikit aneh pada Heilong.


“Ini bukanlah sebuah penjara. Pintu jeruji besi yang dipakai untuk mengurung kita dalam ruangan ini, tidak lebih dari besi rongsokan saja di hadapanku.”


Heilong langsung meletakkan tangan kanannya di pintu jeruji besi itu dan mengalirkan energi elemen apinya. Api yang muncul di telapak tangan Heilong langsung membakar pintu jeruji itu tanpa ampun dan melelehkan pintu jeruji besi itu sampai menjadi cairan bijih besi yang biasanya di gunakan sebagai bahan baku para penempa.


Lin Chong Wei dan Lu Zhan mengangkat alisnya karena mereka tidak pernah menyangka bahwa kekuatan api milik Heilong akan sekuat ini.


“Aku menuruti kemauan para prajurit itu agar aku mendapatkan informasi yang aku inginkan dan menemukan dalang di balik perilaku aneh para prajurit penjaga perbatasan,” jawab Heilong menjelaskan niatnya yang sebenarnya.


“Maafkan aku tuan, aku telah salah sangka sebelumnya,” ucap Lin Chong Wei.


“Tidak apa-apa, itu adalah hal yang wajar karena aku memang tidak memberitahumu tentang rencanaku ini,” ucap Heilong.


Heilong kemudian melihat ruangan kecil yang lain dan menemukan ada beberapa orang yang sedang di kurung di dalam ruangan itu tapi keadaan mereka tidak sebaik Heilong karena kedua tangan dan kaki mereka diikat dengan sebuah rantai khusus yang membuat mereka tidak bisa mengeluarkan Qi yang ada di dalam tubuh mereka.


“Apakah kalian mengenali orang-orang yang di kurung di ruangan yang lain?” tanya Heilong pada Lu Zhan dan Lin Chong Wei.


Lin Chong Wei dan Lu Zhan langsung berjalan mengelilingi penjara yang lain. Mereka berdua melihat wajah-wajah orang yang di kurung dalam masing-masing penjara dengan teliti untuk memastikan identitas mereka.


Tubuh orang-orang yang di kurung di penjara itu tampak lemas dan banyak sekali bekas luka cambukan di tubuh mereka, sepertinya orang-orang ini di paksa untuk mengatakan sesuatu tapi mereka tetap diam dan tidak mengatakan apa'pun, karena itu mereka di siksa dengan hukuman cambuk.


Lu Zhan menjadi semakin marah saat melihat sebuah medali berwarna hijau yang ada di kalung mereka. Medali itu adalah tanda bahwa orang itu telah menjadi bagian dari Pavilliun saung bambu.


Lu Zhan langsung berlari menghampiri Heilong. “Lapor Guru, mereka semua adalah anggota dari Pavilliun Saung Bambu. Saingatku mereka adalah rombongan kloter ketiga yang membawa bahan makanan untuk Restoran Bulan Merindu yang akan di bangun di dekat Mansion Keluarga Long.”


Heilong langsung mengepalkan kedua tangannya. Amarah yang sangat besar bisa terlihat di mata Heilong. “Kurang ajar sekali para prajurit penjaga perbatasan itu. Aku akan menjadi siapa yang telah memerintah mereka untuk menyiksa orang yang mengirim barang-barang ke Mansion Keluarga Long.”


“Guru, cepat tolong mereka. Keadaan mereka semua sangat lemas. Mereka sepertinya sudah berhari-hari tidak diberikan makanan dan terus disiksa,” ucap Lu Zhan memohon.


“Baiklah, aku akan membuatkan sup untuk menyembuhkan mereka semua. Kau perhatikan'lah caraku membuat sup ini karena aku juga ingin sekalian mengajarimu untuk membuat sup ini.” ucap Heilong.


“Siap, Guru!” jawab Lu Zhan semangat karena dia akan mendapatkan resep makan yang baru lagi.


Heilong langsung mengeluarkan peralatan memasak dan juga sebuah meja memasak dari dalam gelang Galaxynya. Dia juga mengeluarkan beberapa buah-buahan dan rempah-rempah yang dia dapatkan dari Hutan Northland, Danau Es Seribu Pedang dah Benua Selatan.


Heilong lalu meletakkan bahan-bahan itu di atas meja dan mengelompokkan bahan-bahan itu berdasarkan tempat dia mendapatkan bahan makanan itu, lalu dia menyebutkan nama masing-masing bahan itu pada Lu Zhan.


“Yang ini adalah Ginseng Es Seribu Tahun, Kelapa Salju dan Strawberry Es Seribu Tahun. Aku mendapat ketiga bahan ini dari Danau Es Seribu Pedang.”


Heilong kemudian menunjuk bahan makanan yang ada di sebelah bahan makanan yang dia dapat dari Danau Es Seribu Pedang.


“Sedangkan untuk bahan-bahan yang ini, aku dapatkan saat aku berada di Hutan Northland. yang ini namanya Apel Raja Emas, Nanas Seratus Duri, Melon Anggur Hijau, Semangka Dewi Bulan, Buah Naga Dewa.”


Heilong lalu berpindah ke kelompok bahan makanan yang terakhir. “Ini adalah bahan makanan yang terakhir, aku mendapatkan bahan makanan ini dari Benua Selatan. Ini adalah Jahe Phoenix, Kurma Api Emas dan Ginseng Api Merah.”


Lu Zhan mendengarkan Heilong menyebutkan nama masing-masing bahan makanan sambil mengingatnya baik-baik.


Heilong lalu mengambil Strawberry Es Seribu Tahun, Apel Raja Emas, Nanas Seratus Duri, Melon Anggur Hijau, Semangka Dewi Bulan, Buah Naga Dewa dan Kurma Api Emas. Dia kemudian mengeluarkan Pisau Taring Singa miliknya dan memotong buah-buahan itu menjadi potongan tipis-tipis.


Setelah itu, Heilong meredam semua potongan buah itu dengan air yang berasal dari Kelapa Salju. “Buah-buahan ini tidak boleh di rebus karena khasiatnya akan hilang jika terkena hawa panas. Jadi kita hanya bisa memotong tipis-tipis lalu merendamnya selama beberapa menit sampai semua sari buahnya keluar. Yang akan kita manfaat nanti adalah air dari sari buah ini.”


“Aku mengerti Guru, aku sudah mencatat semua penjelasan Guru dalam pikiranku,” jawab Lu Zhan.


Heilong kemudian mengambil Ginseng Es Seribu Tahun, Jahe Phoenix dan Ginseng Api Merah. Dia kemudian memasukkan ketiga bahan itu dalam keadaan utuh tanpa di potong, ke dalam sebuah panci dan merebusnya. “Untuk ketiga bahan ini, sama sekali tidak boleh dipotong karena aliran energi yang ada di dalam rempah-rempahan ini bisa rusak jika terpotong. Kita harus merebusnya secara utuh dan biarkan energi yang ada di dalam rempah-rempah itu keluar sendiri bersama dengan sarinya saat di rebus.”


“Guru, apa nama sup penyembuh ini?” tanya Lu Zhan berhenti menulis.


“Nama sup penyembuh ini adalah Sup Berkah Alam karena semua bahan-bahannya bisa di temukan dengan mudah dari alam. Kegunaan dari sup ini adalah untuk memulihkan Qi seseorang yang telah terkuras sampai habis dan menghilang segala jenis racun yang ada di tubuh orang itu,” jawab Heilong.


Sambil mendengarkan penjelasan dari Heilong, Lu Zhan terus mencatat setiap kata-kata yang terucap dari mulut Heilong sampai akhirnya dia berhasil menulis resep Sup Berkah Alam dengan sempurna.


Setengah air rebusan rempah-rempah itu telah matang dan menjadi dingin, Heilong kemudian mencampurkan air rebusan itu dengan air rendaman buah-buahan tadi ke dalam sebuah panci yang cukup besar.


“Aku akan menghancurkan semua pintu jeruji besi yang mengurung mereka. Setelah itu, kalian berdua masuklah ke dalam masing-masing ruangan dan berikan sup penyembuh ini pada mereka semua. Katakan pada mereka semua untuk berkumpul di depanku saat tubuh mereka telah pulih karena aku akan menghancurkan rantai-rantai yang membelenggu kekuatan mereka,” ucap Heilong memberi perintah lalu dia langsung berjalan mengelilingi penjara bawah tanah itu dan menghancurkan pintu jeruji besi itu satu-persatu dengan menggunakan kekuatan apinya.


Lu Zhan dan Lin Chong Wei juga bergerak cepat. Mereka berdua mengambil sup yang ada di panci besar itu dan memindahkannya ke beberapa mangkuk kecil agar lebih mudah diberikan pada orang-orang itu. Mereka berdua mulai berkeliling untuk membagikan sup penyembuh itu setelah Heilong berhasil menghancurkan semua pintu jeruji besi yang ada di depan setiap ruangan.


Setiap orang yang meminum sup itu, maka raut wajahnya akan langsung berubah. Dari yang tadinya pucat, langsung menjadi cerah kembali dan tampak berenergi. Mereka semua lalu berjalan menuju ke ruangan Heilong dan berdiri di sana.


“Apakah semuanya sudah berkumpul di sini karena aku akan menghancurkan semua rantai-rantai ini dengan sekali tebasan,” tanya Heilong.


“Di ruang tahanan yang ada di pojok sana masih ada seorang pria dengan kondisi yang sangat lemah,” jawab Lu Zhan.


“Siapa orang itu? Apakah dia juga bagian dari rombongan ini?” lanjut Heilong bertanya.


“Orang yang di ruang tahanan itu bukan anggota dari Pavilliun Saung Bambu karena dia sudah ada di tempat ini sebelum kami datang. Sepertinya dia telah di tahan di tempat ini dalam waktu yang sangat lama karena tubuhnya sudah sangat lemas bahkan untuk bicara saja dia sudah tidak mampu,” ucap salah seorang anggota Pavilliun Saung Bambu yang baru saja di selamatkan Heilong.


“Apakah keadaan orang itu memang separah itu?” tanya Heilong menatap Lu Zhan yang baru saja melihat keadaan orang itu.


“Benar, Guru. Bahkan sup ini tidak memberikan reaksi apa-apa saat aku minumkan padanya,” jawab Lu Zhan.


“Kalau begitu aku akan melihat keadaan orang itu sendiri. Kalian tunggulah di sini. Jika ada prajurit penjaga perbatasan yang datang ke tempat ini, maka kalian boleh langsung membunuh mereka.”


Heilong lalu mengambil semangkuk sup berkah alam dan membawanya ke ruang tahanan yang ada di bagian paling pojok. Dia sangat terkejut saat melihat wajah orang itu.


“Guru Yi Shu!?” ucap Heilong terkejut.


Long Bai yang mendengar Heilong menyebut nama Guru Yi Shu, langsung terbangun dari tidurnya dan buru-buru keluar dari dunia pikiran Heilong.


“Di mana Guru Yi Shu? aku tadi mendengar bahwa kamu menyebutkan nama Guru Yi Shu,” ucap Long Bai yang tiba-tiba muncul dan mengambil kendali tubuh bagian kiri Heilong.


Guru Yi Shu adalah Guru yang paling menyayangi Long Bai saat dia belajar di Perguruan Awan Biru. Guru inilah yang selalu melindungi Long Bai dari siasat yang dibuat oleh Long Chen saat mereka berdua masih belajar di Perguruan Awan Biru.


“Pria yang terbaring lemah di depan kita adalah Guru Yi Shu, Sepertinya para prajurit penjaga perbatasan ini telah menyiksa Guru Yi Shu dengan sangat kejam,” ucap Heilong sambil menunjuk seorang pria yang sedang tertidur lemas di tanah.


Long Bai menatap pria yang tertidur di tanah itu dan menyentuh wajahnya dengan lembut sambil berkata dengan nada penuh amarah. “Aku tidak akan pernah memaafkan siapa'pun yang berani menyiksa Guru sampai seperti ini. Akan aku bunuh semua penjaga pintu gerbang perbatasan itu.”


Long Bai langsung berdiri dan akan meninggalkan tempat ini untuk membalaskan dendam Gurunya, tapi Heilong menahan tubuh ini untuk bergerak


“Kenapa kau menahanku? Aku ingin membunuh semua prajurit penjaga perbatasan itu karena mereka adalah pemberontak,” ucap Long Bai geram.


“Aku juga ingin membunuh para prajurit itu. Tapi menyelamatkan nyawa Gurumu lebih penting. Saat ini Gurumu belum mati, tapi tubuhnya sangat lemas karena sama sekali tidak ada Qi di dalam tubuhnya. Jika aku tidak segera menolongnya, maka dalam beberapa jam dia akan benar-benar mati,” jawab Heilong.


“Kalau begitu apa yang kau tunggu cepat kau selamat Guruku karena Guruku adalah Gurumu juga,” ucap Long Bai ketus karena melihat Heilong tidak segera menolong gurunya.


“Bagaimana aku bisa menolong Gurumu jika kamu masih muncul di tubuh ini. Kembalilah ke dunia pikiran sebentar karena aku harus menggunakan jurus elemen airku untuk menolong Gurumu,” jawab Heilong.


“Baiklah,” ucap Long Bai lalu dia kembali ke dunia pikiran.


Heilong lalu meminum sup berkah alam itu ke mulut Guru Yi Shu secara paksa dan mulai mengalir energi air di tangan kirinya.


“Teknik Penyembuhan Elemen Air — Berkah Laut”


Energi air yang memancar dari tangan Kiri Heilong langsung menyelimuti tubuh Guru Yi Shu dan membuat efek penyembuhan dari sup berkah alam menjadi berlipat-lipat ganda.


Setelah lima menit berada di dalam pacaran energi elemen air, tubuh Guru Yi Shi secara perlahan berangur-angsur mulai pulih.


“Sekarang kau boleh muncul,” ucap Heilong memanggil Long Bai.


Long Bai langsung muncul kembali dan melihat wajah gurunya yang sudah kembali cerah. “Apakah keadaan Guru Yi Shu sekarang sudah membaik?”


“Gurumu sudah pulih. Sebentar lagi dia akan tersadar. Setelah kita mendapatkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini, kita berdua akan membunuh para prajurit penjaga pintu gerbang perbatasan itu karena mereka sudah mulai melakukan pemberontakan,” ucap Heilong geram.