
“Sebenarnya aku memang ingin menjodohkan dia dengan cucuku mengingat beda usia mereka cuma tujuh tahun. Menurut berita yang aku dengar, Putra Mahkota Kerajaan Blue Dragon saat ini baru berusia tujuh belas tahun. Tapi ternyata adikmu dan pemuda itu sudah menjalin suatu hubungan, jadi aku terpaksa harus mengurungkan niatku,” jawab Kaisar Fu Hao sedikit kecewa.
“Tidak usah kecewa. Serahkan hal itu pada mereka saja karena merekalah yang akan menjalaninya. Bukankah seorang raja biasanya memiliki banyak istri, mungkin saja cucumu kelak bisa menjadi salah satu dari istrinya. Jika cucumu setuju dan tidak mendapat perlawanan dari istrinya yang lain maka hal itu bisa saja terjadi,” ucap Kaisar Xuan Wu menghibur Kaisar Fu Hao.
“Kau benar juga. Aku sendiri juga memiliki beberapa orang selir. Jika kau berkata begitu maka aku jadi lega,” jawab Kaisar Fu Hao.
“Oh, iya. Mengenai cucumu itu, apakah benar saat ini dia sedang berada di Hutan Jati Bersalju?” tanya Kaisar Xuan Wu.
“Benar sekali. Waktu itu menantuku Lin Chong Wei hanya mengatakan padaku bahwa dia ingin membawa putrinya ke Benua Utara agar putrinya menjadi lebih aman karena Benua Utara ini dijaga langsung oleh Divine Beast Genbu. Dan baru beberapa hari yang lalu aku mendapatkan lokasi pasti dimana keberadaan cucuku saat aku bertemu dengan Divine Beast Shen Long,” jawab Kaisar Fu Hao.
“Jika memang seperti itu maka kita harus segera pergi ke Hutan Jati Bersalju,” seru Kaisar Xuan Wu.
“Memangnya ada apa di hutan itu? kenapa kau jadi terlihat begitu cemas.” tanya Kaisar Fu Hao.
“Setahun yang lalu aku mendengar kabar bahwa satu-satunya sungai yang ada di Hutan Jati Bersalju telah tercemar oleh racun ular yang sangat aneh sehingga membuat hewan-hewan yang ada di sana kabur dari hutan itu atau mereka mati disekitar sungai. Aku sudah beberapa kali mengirim prajuritku tapi tidak pernah ada yang kembali setelah mereka memasuki hutan itu,” jawab Kaisar Xuan Wu.
“Apakah kau tidak pernah berniat untuk melihat secara langsung ke dalam hutan? Kau adalah seorang Kaisar kenapa kau bisa begitu ceroboh, bagaimana jika ternyata tempat itu telah dijadikan markas dari Klan Iblis,” tegur Kaisar Fu Hao.
“Waktu aku akan pergi ke sana, tiba-tiba terjadi serangan besar dari Klan Iblis di sekte yang di pimpin adikku. Jadi aku mengurungkan niatku untuk pergi ke sana tapi aku telah memerintah para prajuritku untuk mengungsikan semua penduduk yang tinggal di sekitar sana dan menjaga dengan sangat ketat jalan untuk masuk ke dalam hutan,” jawab Kaisar Xuan Wu memberi penjelasan.
“Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau begitu. Maafkan perkataanku barusan. Semua ini memang gara-gara Kerajaan Klan Iblis yang tidak ada henti-hentinya untuk menekan kita, padahal kita telah memenjarakan pemimpin mereka di dalam penjara es abadi,” ucap Kaisar Fu Hao mengepalkan tangannya, terlihat sedikit kemarahan dimata Kaisar Fu Hao saat membicarakan tentang Kerajaan Klan Iblis.
“Kita lupakan sejenak tentang hal itu. Sekarang kita harus segera pergi ke Hutan Jati Bersalju untuk menjemput menantu dan cucumu,” ajak Kaisar Xuan Wu.
“Kau benar, ayo kita pergi sekarang,” jawab Kaisar Fu Hao.
Kaisar Fu Hao dan Kaisar Xuan Wu langsung memanggil Beast mereka dan terbang dengan mengendarai Beastnya masing-masing ke arah Hutan Jati Bersalju.
**
Hutan Jati Bersalju.
Heilong yang sedang memasak hidangan utama di dapur yang ada di dalam pesawat Max Lightning, saat ini dia sedang menunggu roti yang dia panggang di dalam sebuah oven yang ada di sisi kanan dapur.
Setelah lima belas menit roti itu akhirnya matang dan dia langsung menghias roti itu agar lebih mengundang selera makan saat itu.
“Guru ayo kita makan bersama di taman, Lin Chong Wei dan Lin Meylin sudah lama menunggu kita di sana,” ajak Heilong sambil membawa nampan yang penuh dengan makanan.
“Kau pergi saja ke sana sendiri. Aku merasa tidak nyaman jika harus makan bersama dengan banyak orang yang tidak aku kenal. Kau taruh saja makanan untukku di atas meja ini,” jawab Li Ziqi sambil menunjuk sebuah meja yang ada di sebelahnya.
Sesuai dengan permintaan Li Ziqi, Heilong langsung meletakkan sebuah roti berukuran besar yang memang sudah dia siapkan khusus untuk Li Ziqi karena dia merasa tidak enak jika Gurunya harus berbagi makanan dengan orang lain.
“Apa nama makanan ini?” tanya Li Ziqi sambil menunjuk roti yang ada di depannya.
“Ini adalah Roti Dewa Bulan. Di dalam roti ini terdapat buah-buahan yang aku pakai untuk membuat Es Buah Dewa. Karena bentuknya yang bulat sempurna dan berwarna putih seperti bulan maka roti ini diberi nama Roti Dewa Bulan,” jawab Heilong.
“Silakan. Apa mau aku temani makan juga?” tawar Heilong.
“Boleh, kamu duduk sebentar di depanku. Temani aku makan sampai selesai setelah itu baru kita berdua pergi ke taman,”
Li Ziqi meminta Heilong untuk duduk di kursi yang ada di depannya, kemudian dia memotong roti itu menjadi dua bagian. Setengah bagian dia makan sendiri dan yang
setengahnya lagi dia berikan pada Heilong.
Mereka berdua memakan roti itu dengan lahap sambil diselingi dengan obrolan-obrolan kecil tentang kehidupan masa lalu mereka.
*
Setelah satu jam, Heilong akhirnya keluar dari dapur. Tapi Li Ziqi tidak ikut dengannya karena Li Ziqi memutuskan untuk kembali ke dunia jiwa Heilong setelah perutnya kenyang. Dia ingin beristirahat dengan santai menikmati masa-masa damai.
“Paman Lin Chong Wei, Meylin makanan kalian sudah datang,” Seru Heilong dari belakang yang mengagetkan mereka berdua.
Lin Meylin langsung berbalik dan melihat nampan berisi penuh dengan makanan yang ada di tangan Heilong. Matanya terus tertuju pada sebuah roti yang berada di tengah-tengah nampan.
“Kakak roti itu apa namanya?” tanya Lin Meylin sambil tangannya menunjuk Roti Dewa Bulan.
“Ini?!” Heilong balik bertanya sambil menunjuk roti yang dimaksud Lin Meylin.
“En.” Meylin menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
“Ini namanya Roti Dewa Bulan. Kamu mau memakan roti ini?” tanya Heilong sekali lagi untuk menggoda Lin Meylin.
Lin Meylin kembali menganggukkan kepalanya.
Heilong langsung memotong roti itu menjadi dua bagian dan memberikannya pada Lin Chong Wei dan Lin Meylin.
“Kakak tidak ikut makan?” tanya Lin Meylin saat melihat Heilong memberikan semua potongan roti itu pada dirinya dan ayahnya.
“Aku sudah kenyang,” jawab Heilong singkat.
“Tidak. Kakak tetap harus menemaniku makan,”
Lin Meylin langsung mengambil pisau yang ada di atas nampan dan memotong kue yang ada di piringnya menjadi dua, lalu dia memberikan yang setengahnya pada Heilong.
“Ini untuk Kakak. Kita makan bersama sekarang. Jangan menolak!!” seru Lin Meylin.
Heilong pun menurut dan mereka bertiga makan bersama.