
“Wow … Ini benar-benar hebat.”
Heilong sangat penasaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh kedua sayap barunya itu. Pikirannya mulai dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Seberapa cepat saat terbang? Seberapa tinggi kedua sayap ini mampu membawanya mengarungi cakrawala.
Tanpa berpikir panjang, Heilong segera terbang menembus langit dengan mengepakkan kedua sayap barunya itu. Dia terbang bagaikan seekor phoenix yang memiliki kecepatan paling tinggi di antara semua burung yang ada di alam semesta ini.
Hanya dalam beberapa menit saja, Heilong sudah mengelilingi tempat ini sebanyak sepuluh kali.
“Kekuatan yang dimiliki kedua sayap ini memang sangat luar biasa. Kedua sayap ini mampu membawaku terbang melebihi kecepatan terbang yang dimiliki Gremlin. Tapi sayangnya aku tidak bisa membawa orang lain saat aku terbang dengan menggunakan sepasang sayap ini.”
Heilong akhirnya mendarat setelah dia puas mencoba kemampuan terbang kedua sayap barunya ini sambil menikmati pemandangan Dunia Bawah Laut yang ada di dalam Dunia Eksternal ini.
Tiba-tiba perasaan tidak nyaman muncul di dalam pikirannya.
“Kedua sayap ini memang memiliki kekuatan yang sangat mengagumkan. Mungkin saja kedua sayap ini akan menjadi kartu trup terakhirku saat aku berada dalam pertarungan antara hidup dan mati. Aku tidak boleh menunjukkan kedua sayap ini dengan mudah di hadapan musuh-musuhku.”
Suara Galene tiba-tiba muncul dari dari dalam Dunia Jiwa Heilong dan menjawab kebimbangan Heilong.
“Kau jangan khawatir. Kau bisa mengendalikan kedua sayap itu dengan sesuka hatimu hanya dengan menggunakan pikiranmu saja. Cukup kau bayangkan di dalam pikiranmu bahwa kedua sayap itu tidak ada, maka kedua sayap itu akan menghilang. Dan jika kau ingin menggunakan kembali kedua sayap itu, maka kau bisa memanggilnya dengan cara membayangkan ada sepasang sayap di punggungmu.”
Heilong kemudian memikirkan bahwa sepasang sayap yang ada di punggungnya itu telah menghilang. Dan dalam sekejap mata, sepasang sayap yang indah itu benar-benar menghilang dari punggungnya.
Setelah dia berhasil mengatasi masalah tentang kedua sayap barunya itu. Heilong kemudian melanjutkan perjalanannya menyusuri tempat ini. Dia ingin mencari semua benda pusaka yang tersimpan tempat ini karena menurut pemikirannya seharusnya masih banyak benda pusaka lain yang tersimpan di tempat ini. Sebab, biar bagaimana manapun juga tempat ini adalah makam dari seekor naga yang berasal dari Alam Dewa.
Heilong berjalan menyusuri setiap bagian dari tempat ini dengan teliti, termasuk sebuah Goa yang ada sekitar bebatuan karang yang cukup terjal. Namun, Heilong sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan dia sudah mencoba untuk menyusuri tempat ini berulang-ulang, namun hasilnya tetap sama.
“Kenapa di tempat ini sama sekali tidak ada benda pusaka? Bukankah Guru mengatakan padaku bahwa tempat ini adalah makam dari tubuh fana Naga Air Es yang merupakan Beast kontrak milik seorang Dewi yang sangat sakti,” ucap Heilong sambil terus mencari benda pusaka yang ada di tempat ini karena dia masih belum percaya jika tidak ada benda pusaka lain di tempat ini.
Sampai akhirnya seekor Kepiting Cahaya Pelangi datang menghampirinya karena dia tidak tahan melihat Heilong terus menyusuri tempat ini tanpa hasil.
“Anda sudah terlambat, Tuan. Beberapa bulan yang lalu, ada seorang pendekar yang masuk ke dalam tempat ini dan menguras semua benda pusaka yang ada di tempat ini kecuali Pedang Paus Biru. Karena pendekar itu tidak bisa menyentuh Pedang Paus Biru,” ucap Kepiting Cahaya Pelangi itu menatap Heilong.
Semua Kepiting Cahaya Pelangi menjadi tunduk pada Heilong setelah Galene masuk ke dalam Dunia Jiwa miliknya. Mereka semua menganggap Heilong adalah dewa pelindung mereka.
“Kalau begitu sudah tidak ada lagi yang bisa aku ambil dari tempat ini. Lebih baik aku segera keluar dari tempat ini dan melanjutkan perjalananku menuju ke Istana Giok Biru,” balas Heilong.
Namun, Heilong tidak terlalu mengenal tempat ini. Sudah hampir satu jam dia berjalan untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Tapi dia belum juga menemukan tanda-tanda adanya sebuah tempat yang merupakan pintu keluar dari Dunia Eksternal ini.
Heilong akhirnya kembali bertanya pada Kepiting Cahaya Pelangi tadi. “Bisakah kau memberitahuku jalan keluar dari tempat ini?”
“Bisa. Ikutilah saya dari belakang, Tuan. Saya akan menunjukkan jalan keluar dari tempat ini,” jawab Kepiting Cahaya Pelangi.
Kepiting Cahaya Pelangi itu langsung membawa Heilong masuk ke dalam Goa dan menyusuri lorong yang cukup panjang.
“Untung saja Kepiting ini membantuku menyusuri lorong yang gelap ini. Jika tidak, mungkin kepalaku akan berkali-kali membentur stalagtit yang ada di Goa ini,” ucap Heilong saat melihat batu-batuan tajam yang mirip seperti sebuah tombak.
“Terima kasih karena telah mengantarku. Aku berjanji bahwa aku akan menjaga bangsa kalian agar terus hidup dan bisa berkembang biak,” ucap Heilong dengan tulus.
“Kapan kira-kira Tuan akan membawa kami pergi dari tempat ini? Kami juga sangat merindukan Dunia Luar karena tempat itu adalah tempat kami dilahirkan,” tanya Kepiting Cahaya Pelangi meminta kepastian.
“Setelah aku menggantikan posisi Kakekku menjadi seorang Kaisar. Ketika aku menjadi seorang Kaisar, aku akan membuat sebuah peraturan yang akan melindungi kalian. Aku akan menghukum mati, siapapun yang berani memburu kalian karena kalian akan aku jadikan sebagai hewan yang dilindungi Kerajaan.”
Setelah selesai mengobrol dengan Kepiting Cahaya Pelangi yang mengantarnya, Heilong segera melompat ke dalam cermin itu dan akhirnya berhasil keluar dari Dunia eksternal.
Heilong akhirnya sampai di sebuah jurang yang cukup curam setelah berhasil menembus cermin itu. Tapi dari jurang ini, Dia bisa melihat bagian belakang Istana Giok Biru dengan sangat jelas.
“Ternyata Istana Giok Biru itu cukup luas juga. Tapi aku tidak tahu dimana ibu dan bibi Shen Ai Zhi berada. Lebih baik aku menyamar untuk mencari keberadaan mereka.”
Heilong segera melintasi jurang itu dengan menggunakan sepasang sayap miliknya dan mendarat tepat di halaman belakang Istana Giok Biru.
Heilong lalu mengeluarkan peta yang diberikan Shen Yu dan segera mencari di mana letak dapur Istana ini.
Setelah mengetahui lokasi pasti dari dapur ini, Heilong kemudian menyamar menjadi seorang pelayan dan segera pergi menuju ke dapur istana.
Saat ini waktu sudah sudah menunjukkan tengah malam, dapur Istana ini pun sudah menjadi tempat yang sangat sepi layaknya sebuah rumah kosong.
Di dapur ini hanya ada seorang kepala koki yang sedang mengecek persediaan bahan makanan. Seorang kepala koki selalu menjadi orang terakhir yang berada di dapur karena dia harus memantau persediaan bahan makanan yang ada di dalam dapur.
Heilong segera menyerang bagian leher kepala koki itu sampai kepala koki itu jatuh pingsan dan tergeletak di lantai. Dia kemudian menyamar sebagai kepala koki dan segera menyembunyikan tubuh kepala koki yang asli di tempat yang sangat jarang dikunjungi orang.
Setelah urusan penyamarannya selesai, tiba-tiba Heilong mendengar suara langkah kaki seorang prajurit sedang berjalan menuju ke arah dapur.
“Kenapa ada prajurit yang datang ke dapur tengah malam begini? Apakah di Istana ini ada pemeriksaan saat tengah malam. Aku tidak boleh panik agar prajurit itu tidak curiga.”
Heilong langsung mengambil kertas catatan bahan makanan yang tergeletak di tanah dan melanjutkan pekerjaan kepala koki itu untuk mengecek bahan makanan.
Seorang prajurit akhirnya sampai di dapur itu, dia sangat terkejut saat melihat Heilong karena dia tidak pernah melihat Heilong sebelumnya.
“Siapa kau? Dan di mana kepala koki yang seharusnya ada di tempat ini?” seru prajurit itu bertanya sambil mengarahkan senjatanya ke arah Heilong.
“Saya adalah seorang Koki baru yang sengaja dipekerjakan di dapur ini untuk membantu persiapan acara pernikahan yang beberapa hari lagi akan diselenggarakan. Kepala koki sengaja meninggalkan saya sendirian di dapur ini agar saya bisa mempelajari semua bahan-bahan makanan yang ada di tempat ini dengan tenang,” jawab Heilong.
Prajurit itu segera menurunkan senjatanya. “Oh, jadi kau adalah seorang koki baru. Untung saja aku tidak melukaimu. Jika kepala koki itu sampai tahu bahwa aku mengarahkan senjata milikku padamu, dia bisa sangat marah dan tidak akan lagi memasakkan makanan enak untukku.”
“Anda tidak perlu khawatir, aku tidak akan menceritakan kejadian ini pada kepala koki,” balas Heilong.
“Baguslah kalau begitu. Apakah kau bisa memasak?” lanjut prajurit itu bertanya.
Heilong langsung tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Jika aku tidak bisa memasak mana mungkin aku bisa menjadi seorang Koki. Lebih baik aku berlatih ilmu beladiri agar bisa menjadi seorang prajurit seperti anda.”