LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 85 KELEMAHAN KIRIN ES


Sesampainya di dapur, Heilong hanya melihat Lu Zhan karena ini sudah larut malam dan restoran ini juga sudah tutup. Para pekerja yang lain juga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat.


"Guru,ada apa guru ke dapur larut malam begini? Apakah guru ingin dibuatkan sesuatu untuk makan malam?” tanya Lu Zhan yang langsung menghampiri Heilong ketika melihat dia datang.


“Kali ini aku ingin memasak sendiri. Kamu sebaiknya memperhatikanku saat memasak makanan ini dan jangan lupa mencatat resep makanan yang aku buat kali ini karena makanan ini tidak kalah enak dengan tahu tek tek kemarin,” jawab Heilong.


“Baik guru.”


Lu Zhan segera mengambil kertas dan alat tulis lalu duduk di sebuah bangku yang ada di sudut dapur. Di sana dia bisa dengan leluasa memperhatikan Heilong yang sedang memasak.


Heilong lalu pergi ke rak penyimpanan bahan makanan untuk mengambil beberapa bumbu dan bahan makanan yang dia butuhkan.


Sesampainya di rak penyimpanan, Heilong segera mengambil Bawang merah, Bawang putih, Kluwek, Cabe merah, Ketumbar dan Kemiri.


Dia lalu menumbuk semua bahan itu sampai benar-benar halus dan kemudian menumisnya sampai harum.


Setelah itu dia mengambil Serai, Daun jeruk, Lengkuas dan segera memasukkannya ke dalam tumisan bumbu tadi.


Setelah menumis sebentar, Heilong kemudian menambahkan air dan kaldu daging sapi ke dalam tumisan tadi dan menunggu sup itu sampai mendidih.


Sambil menunggu sup itu mendidih, Heilong mengambil dua buah tahu putih dan memotongnya kotak-kotak kecil lalu merebusnya sampai matang.


Setelah sup itu mendidih Heilong lalu menambahkan Garam, Gula, Daun bawang dan rebusan tahu putih tadi.


Heilong lalu mengambil sup itu dan meletakkanya ke dalam dua buah mangkok lalu menaburinya dengan Bawang goreng di atasnya.


Lu Zhan yang sejak tadi duduk sambil mengamati Heilong memasak akhirnya berjalan mendekat.


“Guru, apa nama dari sup ini? Kenapa kuahnya berwarna hitam,” tanya Lu Zhan yang agak terkejut ketika melihat kuah berwarna hitam di dalam mangkok.


“Ini namanya sup hitam putih. Di luar kamu bisa melihat sup yang berwarna hitam tapi saat kamu mengambil isinya kamu akan mendapatkan tahu putih yang sangat enak karena sudah bercampur dengan kuah hitam yang gurih ini,” jawab Heilong sambil mengambil tahu putih yang ada di dalam sup menggunakan sendok.


“Kamu juga boleh mencobanya kalau mau. Kebetulan tadi aku memasak sup ini dengan porsi yang agak banyak. Jangan lupa berikan satu mangkok juga untuk paman Yang Zhu,” perintah Heilong.


“Siap guru,” jawab Lu Zhan.


Heilong segera membawa makanan itu ke tempat Yang Tzuyu.


Setelah melihat Heilong pergi meninggalkan dapur, Lu Zhan segera mengambil beberapa tahu putih dan memotongnya kotak-kotak kecil seperti yang sudah dilakukan Heilong tadi.


Dia lalu mengambil tiga mangkok yang satu untuk tuan Yang Zhu sedangkan untuk yang dua lagi dia berencana untuk makan bersama Li Mei.


**


Dia atas atap, Yang Tzuyu cuma melihat indahnya langit malam sambil menunggu kedatangan Heilong.


“Berhentilah menggodaku dengan memanggilku tuan Putri karena cuma seorang gadis biasa. Bau masakan itu sangat harum, makanan seperti apa yang kamu masak?” tanya Yang Tzuyu yang sudah terlihat tidak sabar untuk segera mencicipi makanan ini.


“Ini namanya sup hitam putih. Mari kita makan bersama.”


Heilong segera memberikan sup itu pada Yang Tzuyu.


Yang Tzuyu pun segera mengambil sendok dan mencicipi sup itu. “Hemmm, sup ini sangat enak dan gurih. Bai gege memang koki yang hebat.”


Mereka berdua makan sup itu sampai habis lalu kembali duduk bersantai menikmati indahnya langit malam.


“Tzuyu apa sekarang kamu bisa mengatakan rahasia tentang kirin es itu?” tanya Heilong.


Yang Tzuyu berdiri dan berjalan di sisi atap di mana dia bisa melihat seisi kota dengan jelas dan mulai menjelaskan tentang kelemahan kirin es.


“Kirin itu takut pada api dan kelemahan terbesarnya ada di tanduknya. Jadi kita harus memotong tanduknya dengan menggunakan elemen api. Jika kita berhasil memotong tanduknya, maka semua kekuatannya akan menghilang dan tubuhnya akan melemah. Kebetulan aku adalah seorang kultivator elemen api. Aku pasti bisa membantu Bai gege mengalahkan kirin es itu.”


Yang Tzuyu mengulurkan tangan kanannya dan api berwarna biru muncul di telapak tangannya. Api ini sedikit berbeda dari api lainnya karena warna birunya juga memancarkan sedikit warna keemasan.


"Tapi, tingkat kultivasimu saat ini masih sangat rendah. Ini akan sangat berbahaya sekali jika kamu mendekati kirin es itu, bahkan aku sendiri merasa ragu apakah aku bisa menghadapi kirin es itu,” ucap Heilong.


“Tenang saja, yakinlah padaku. Aku pasti akan baik-baik saja jika menghadapi kirin es itu,” ucap Yang Tzuyu tersenyum.


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji padaku. Jika keadaan menjadi semakin berbahaya, aku akan menahan kirin es itu dan kamu harus pergi melarikan diri ke tempat yang aman,” ucap Heilong menatap mata Yang Tzuyu.


“Aku tidak bisa berjanji karena aku sudah memutuskan untuk menemanimu meskipun dalam keadaan yang sangat bahaya sekalipun.” Yang Tzuyu mendekatkan tubuhnya ke arah Heilong dan meletakkan kepala di dadanya. “Entah mengapa saat pertama kali melihatmu aku merasakan kita telah ditakdirkan untuk hidup bersama. Kamu adalah satu-satunya pria yang dapat menarik perhatianku dan membuatku jatuh cinta. Berjanjilah untuk menjagaku selamanya.”


“Jadi rupanya begitu, sepertinya dewa benar-benar membantuku kali ini,” gumam Heilong dalam hati ketika melihat liontin kalung yang dipakai oleh Yang Tzuyu mengeluarkan sinar ungu yang redup.


Rupanya Yang Tzuyu memiliki pecahan dari kalung pure heart.


Heilong lalu meletakkan tangan kanannya di pundak Yang Tzuyu seperti seseorang yang sedang memeluk kekasihnya dan berkata. “Aku berjanji. Aku akan menjagamu seumur hidupku.”


Yang Zhu yang ada di lantai dua restoran dapat melihat Yang Tzu dan Heilong berduaan di atas atap, dia kemudian tersenyum sambil berkata. “Akhirnya Tuan Putri dapat menemukan jodoh yang tepat untuknya.”


“Tzuyu kapan kita pergi ke pulau salju hijau?” tanya Heilong.


“Kita akan pergi besok lusa. Besok aku akan mulai menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan selama perjalan. Bai gege sebaiknya kamu juga membuatkan beberapa makanan kering yang cukup enak untuk makanan kita selama perjalanan. Hehe …” ucap Yang Tzuyu tertawa kecil.


“Tenang saja, aku tidak akan pernah membiarkanmu kelaparan selama kamu berada di dekatku,” ucap Heilong sambil tangannya masih memeluk Yang Tzuyu.


Mereka berdua menikmati cuaca malam yang dingin bersama.


Salju pun mulai turun secara perlahan. Sedangkan di atas mereka, cahaya aurora sedang menari-nari dengan indah di langit malam.