
Heilong langsung berlari ke tempat Raja Kepiting berada setelah melihat Raja Kepiting itu sama sekali tidak bisa bergerak karena dia melihat ini adalah satu-satunya kesempatan yang bagus itu membunuh Raja Kepiting itu.
Dia lalu mengangkat Pedang Taring Putih yang ada di tangannya dan langsung menebas tubuh Raja Kepiting yang membeku seperti patung.
“Slash …”
“Clang …”
Pedang taring putih ternyata menembus tubuh Raja Kepiting seperti sebuah bayangan dan membentur sebuah batu karang yang ada di belakang tubuh Raja Kepiting.Sama sekali tidak ada luka pada tubuh Raja Kepiting karena pedang taring putih milik Heilong tidak mampu menyentuh tubuhnya.
“Guru, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tubuhku menjadi seperti sebuah roh?” tanya Heilong saat melihat keanehan yang ada pada tubuhnya.
“Itu karena teknik ini juga mempercepat aliran energi yang ada di dalam tubuhmu sehingga membuat tubuhmu menjadi seperti bayangan. Setiap benda yang kau sentuh, juga akan mengalami hal yang sama,” jawab Li Ziqi.
“Ternyata tidak ada yang bisa aku lakukan pada tubuh Raja Kepiting itu, padahal ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk membunuhnya,” ucap Heilong sedikit kecewa.
“Bukankah tadi kau mengatakan padaku bahwa kau membutuhkan waktu untuk mempelajari kedua kitab itu. Lalu kenapa kau malah berubah menjadi seperti seorang pengecut yang menyerang musuhmu saat musuhmu tidak bisa bergerak. Aku ingatkan padamu, aku tidak ingin memiliki seorang murid yang pengecut karena seorang pengecut tidak akan pernah menjadi seorang ksatria yang hebat.”
Li Ziqi langsung memarahi Heilong atas tindakannya itu karena tindakan itu sama sekali tidak menunjukkan sifat seorang ksatria dan lebih mirip dengan perbuatan yang selalu di lakukan oleh bangsa Iblis.
“Aku minta maaf, Guru. Aku akan mulai mempelajari kedua kitab itu sekarang, sesuai dengan rencana awalku.”
Heilong segera menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf setelah mendapat teguran yang sangat keras dari Li Ziqi. Dia lalu mengeluarkan kedua kitab ilmu beladiri itu dan mulai membaca setiap kata yang ada di dalam kitab itu dengan penuh konsentrasi sampai-sampai dia tidak sadar bahwa dia telah memasuki posisi meditasi. Indra pendengarannya sudah tertutup secara otomatis karena dia tidak ingin mendengar suara dari luar yang bisa merusak konsentrasinya.
“Kakak, Apakah kita harus terus berjaga di sini? Saat ini dia telah memasuki alam meditasi tanpa dia sadari. Aku tidak percaya bahwa dia akan seceroboh ini,” tanya Dao Xue Lian pada Li Ziqi sambil melihat Heilong yang duduk bermeditasi di depannya dengan memegang kedua kitab ilmu beladiri.
“Dia memang sangat ceroboh. Namun dia memiliki tekad dan keberanian yang sangat kuat. Itulah rahasia kenapa selama ini dia bisa lulus dari ujian yang diberikan oleh para Divine Beast dan juga aku,” jawab Li Ziqi.
Dao Xue Lian langsung melirik Li Ziqi. “Apa mungkin karena Kakak selalu berada di dekatnya jadi dia bisa seceroboh ini karena dia tahu bahwa kakak akan selalu melindungi.”
Li Ziqi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Apa yang ingin kau katakan sebenarnya? Dia tidak mungkin menggantungkan dirinya padaku karena aku sudah pernah mengatakan padanya bahwa aku tidak akan pernah membantunya dengan kekuatanku secara langsung selain untuk latihan.”
“Benar. Raja Kepiting itu adalah lawan yang tepat untuk menguji kemampuan yang dimiliki Heilong saat ini. Jika dia berhasil mengalahkan Raja Kepiting itu dengan mudah dan tanpa pertarungan yang cukup sengit, maka dia tidak akan pernah berkembang dan mungkin dia tidak akan mau mempelajari kedua jurus yang ada di dalam kitab itu,” jelas Li Ziqi.
"Jadi kakak sudah memperhitungkan semua ini. Jangan-jangan Kakak sudah menggunakan jurus yang diajarkan oleh Dewa waktu untuk melihat masa depan pemuda ini. Sepertinya Kakak sudah mulai jatuh cinta pada Heilong,” ucap Dao Xue Lian sambil tersenyum penuh arti. Dia lalu pergi kembali ke dalam Dunia Jiwa Heilong dan meninggalkan Li Ziqi sendirian berjaga di samping Heilong.
Li Ziqi hanya diam berdiri di tempatnya sambil terus menatap Heilong dan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada tubuh Heilong.
**
Sementara itu, Guru Yi Shu dan Shen Yu sudah melakukan perjalanan dengan menunggangi kuda sejauh tiga puluh kilometer. Kuda yang mereka gunakan adalah kuda-kuda terlatih milik para prajurit pengintai. Jadi wajar saja hanya dalam waktu tiga jam saja mereka sudah menempuh jarak sejauh itu karena kuda-kuda ini juga seekor Beast yang mempelajari tentang kultivasi.
“Guru, sebentar lagi kita akan memasuki wilayah Hutan Naga Biru. Hutan ini adalah hutan terluas yang ada di Benua Timur. Apakah tidak lebih baik kita menunggu pagi saja baru kita melewati hutan ini?” tanya Shen Yu sambil terus memacu kudanya.
“Tadinya aku memang memiliki rencana untuk melewati hutan ini saat pagi telah tiba. Tapi aku sama sekali tidak menemukan pemukiman penduduk di sekitar sini. Karena itu aku memutuskan untuk menerobos Hutan Naga Biru malam ini juga,” jawab Guru Yi Shu.
Guru Yi Shu tidak bisa mengatakan pada Shen Yu bahwa dia merasakan ada aura seseorang yang sangat kuat, sedang mengikuti mereka dari belakang. Dia lalu mengeluarkan senjata pusaka miliknya sambil terus memacu kudanya agar berlari lebih kencang lagi.
Shen Yu bisa merasakan ada sesuatu yang aneh pada sikap Guru Yi Shu. Dia lalu bertanya untuk mencari tahu. “Apakah ada orang yang sedang mengikuti kita Guru?”
“Tidak, aku hanya ingin cepat sampai ke Mansion Keluarga Long. Jika kita bisa sampai lebih cepat, maka kita bisa meminta bantuan Patriarch Long Bao untuk membantu Long Bai melawan Long Chen dan Jenderal Long Yun yang sekarang berada di Istana Giok Biru,” jawab Guru Yi Shu untuk menghilangkan kecurigaan Shen Yu.
“Baik Guru, Kita juga bisa meminta bantuan pada Kaisar Long Jin juga.”
Shen Yu segera memacu kudanya dengan lebih cepat untuk menyusul Guru Yi Shu karena bisa sangat bahaya jika dia berada jauh dari Gurunya ketika melewati Hutan ini, sebab Shen Yu jarang sekali masuk ke dalam hutan ini jadi dia tidak mengenal hutan ini dengan cukup baik dan bisa tersesat kapan saja.
“Swing … Swing …”
Tiba-tiba adalah sepuluh buah pedang yang menyerang mereka dari belakang. Guru Yi Shu yang sejak tadi sudah sangat waspada, langsung menangkis semua serangan itu dengan menggunakan senjata miliknya.