LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V2 # CH 149 GAME THE POWER OF JAVA ( PART 3 )


Suara warok suromenggolo membuat tubuh Heilong sedikit bergetar. Suara ini mengandung energi tenaga dalam yang sangat kuat sampai menusuk ke dalam tulang. Heilong dengan cekatan segera menyelimuti tubuhnya dengan aura energi es untuk menahan tekanan tenaga dalam yang dikeluarkan oleh warok Suromenggolo.


“ Bagus sekali anak muda. Aku mengakuimu kehebatanmu karena kamu bisa dengan mudah menahan tekanan tenaga dalamku. Tidak banyak orang yang bisa lepas dari kekuatan tekanan tenaga dalamku, sepertinya kamu memang layak untuk menjadi lawanku. ”


Warok Suromenggolo memuji kemampuan Heilong yang dengan mudah bisa lepas dari pengaruh tekanan tenaga dalamnya. Selama dia menjadi seorang warok di tanah jawa tidak banyak orang yang bisa dengan mudah melepaskan diri dari tekanan kekuatan tenaga dalamnya termasuk musuh bebuyutannya Warok Gunoseco. Warok Suromenggolo memang dikenal sebagai warok paling sakti dimasanya. Dia kemudian mengangkat cambuknya tinggi-tinggi agar Heilong bisa melihatnya dengan jelas.


“ Anak muda apakah kamu bisa melihat cambuk tali kolor pusaka di tangan kananku ini.. ? " tanya Warok Suromenggolo dengan suara yang penuh wibawa bak seorang kesatria.


“ Aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, ” jawab Heilong.


“ Kalo begitu akan aku sebutkan peraturan di permainan ini. Kamu hanya perlu merebut cambuk ini dari tanganku. Jika kamu berhasil merebut cambuk ini dari tanganku, maka aku akan mengaku kalah. Kamu bebas menggunakan jurus, senjata ataupun cara apapun untuk merebut cambuk tali kolor pusaka ini , ” ucap warok Suromenggolo.


“ Jadi aku cuma harus merebut cambuk itu darinya dan aku bebas menggunakan cara apapun. Ini sangat mudah buatku, aku cuma harus mengalihkan perhatiannya lalu dengan cepat mengunakan jurus langkah angin pemecah badai untuk bisa dengan cepat sampai di dekatnya tanpa dia ketahui dan merebut cambuk pusaka itu dari tangannya. Sepertinya aku akan memenangkan pertarungan ini dengan cepat, ” pikir Heilong sambil tersenyum.


Heilong mulai menggunakan jurus ilusi esnya untuk mengecoh perhatian warok Suromenggolo. Sepuluh bayangan yang sangat mirip dengannya dalam sekejap muncul di dunia ilusi ini dan mengelilingi tubuh warok Suromenggolo. Bayangan-bayangan itu mulai bergerak untuk menyerang warok Suromenggolo, diam-diam Heilong menyelinap di antara bayangannya untuk semakin memperpendek jaraknya dengan tempat warok Suromenggolo berdiri. Saat dia akan menggunakan jurus langkah angin pemecah badai untuk merebut cambuk tali kolor pusaka itu, tiba-tiba warok Suromenggolo memutar-mutarkan cambuknya dia atas kepalanya dan mulai menyerang setiap bayangan Heilong dengan cambuk tali kolor pusaka miliknya.


“ Ceterrrr... Ceterrrr... Ceterrrr... ”


Setiap kali cambuk itu mengenai bayangan Heilong maka bayangan itu akan langsung terbakar dan menghilang. Tidak butuh waktu lama bagi warok Suromenggolo untuk menghancurkan setiap bayangan ilusi Heilong akhirnya dia berhasil menghancurkan semua bayangan ilusi Heilong hanya dalam waktu lima menit. Sekarang hanya tinggal tubuh asli Heilong yang terlihat di depan matanya, dia lalu mengerahkan semua tenaganya untuk memukul tubuh Heilong dengan cambuknya.


“ Ceettteeerrrrr..... ”


Cabuk itu berhasil mengenai punggung Heilong. Punggung Heilong serasa remuk bak sebuah ranting pohon kering yang di sapu badai. Tapi untungnya saat dia berhasil menyelesaikan ujian neraka es di makam es seribu pedang, divine beast Genbu telah menggunakan cangkang kura-kura emas miliknya untuk memperkuat tubuh Heilong sehingga tubuh Heilong menjadi tubuh emas yang sekeras baja. Dia hanya merasakan kesemutan di sekitar punggungnya dan tidak ada satupun tulangnya yang patah.


“ Hebat sekali kekuatan tubuhmu anak muda. Biasanya seseorang yang terkena sabetan cambukku maka tulang-tulangnya akan langsung remuk, tapi sepertinya tubuhmu masih baik-baik saja. Padahal aku tadi memukulkan cambukku dengan sangat keras ke tubuhmu. ”


Rasa kagum warok Suromenggolo pada Heilong semakin bertambah saat mengetahui kekuatan tubuh Heilong. Dulu saat dia bertarung melawan adiknya yaitu warok Surohandoko yang merupakan salah satu warok terkuat selain dirinya, beberapa tulang warok Surohandoko langsung patah saat menerima cambukan darinya.


“ Terima kasih atas pujiannya tuan. Aku merasa sangat tersanjung, ” ucap Heilong tersenyum untuk menghormati musuhnya karena meskipun mereka sedang bertarung, Heilong sama sekali tidak merasakan niat membunuh dari warok Suromenggolo. Ini seperti seorang guru yang sedang menguji muridnya.


Heilong kembali berkonsentrasi untuk mengumpulkan energinya dan mengeluarkan jurus sembilan rantai pembeku es karena dia berpikir agar dia bisa dengan mudah mengambil cambuk pusaka itu maka dia harus menghentikan pergerakan dari warok Suromenggolo terlebih dahulu.


Sembilan rantai yang terbuat dari es muncul dan langsung bergerak untuk menjerat setiap bagian tubuh warok Suromenggolo dan mengunci gerakannya. Bukannya takut tapi warok Suromenggolo malah tersenyum saat tubuhnya terjerat oleh rantai-rantai es yang dikeluarkan Heilong.


“ Anak muda sepertinya kamu meremehkan kukuatan tubuhku. Saat aku menjadi warok sudah banyak musuh-musuhku yang telah mencoba menghentikan gerakanku dengan cara membelenggu tubuhku dengan rantai. Tapi aku selalu dapat melepaskan rantai-rantai itu dengan mudah. Sepertinya setelah ini kamu harus memikirkan cara lain untuk bisa menghentikan gerakanku. ”


“ Tarian Kedigdayaan. ” Teriak warok Suromenggolo.


“ Ning... Nang... Ning... Gong... ”


“ Tet... teret.. ret... Tet... teret. .ret... ”


Tiba-tiba suara gamelan dan terompet yang tadi sempat hilang, muncul kembali entah dari mana datangnya. Warok Suromenggolo mulai menarikan tarian Kedigdayaan, setiap gerakan dari tarian ini menggambar sosok pria yang gagah perkasa. Tarian ini mirip dengan tarian warok dalam kesenian Reog Ponorogo tapi di setiap gerakan tarian ini dipenuhi dengan kekuatan tenaga dalam. Saat dia menghentakkan kakinya ke tanah, tanah itu menjadi bergetar seakan-akan terjadi sebuah gempa dan kedua rantai es yang membelenggu kedua kakinya langsung hancur. Ketika dia mengerakkan tangannya hembusan angin yang kuat muncul dari tangannya, gerakan tangan yang terkesan luwes ini memiliki kekuatan untuk menghancurkan sebuah batu yang sangat besar. Ketika dia selesai menari, semua rantai-rantai es yang membelenggu dirinya telah hancur lebur menjadi bubuk tepung. Heilong sempat mencoba untuk mendekati tubuh Warok Suromenggolo saat dia menarikan tarian kedigdayaan untuk mengganggu gerakan tariannya tapi tubuhnya langsung terpental akibat tekanan tenaga dalam yang dimilik warok Suromenggolo.


“ Gerakan tarian yang sangat kuat, ” pikir Heilong sambil menatap warok Suromenggolo.


Heilong yang merasa sedikit terpojok, diam-diam mengeluarkan pedang taring putih miliknya dan mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu jurus pedang membelah bumi. Dia menebaskankan jurus pedangnya ke arah warok Suromenggolo namun warok Suromenggolo tak gentar, Dia menyabetkan cabuknya untuk melawan jurus Heilong.


“ Duar.... Duar.... Duar... ”


Kekuatan pedang dan Kekuatan cambuk saling beradu di udara dan menghasilkan suara ledakan seperti petir yang menyambar-nyambar. Kedua jurus ini memiliki kekuatan yang seimbang. Kekuatan fisik dari penggunanyalah yang menjadi hasil dari pertarungan ini.


*****


Jurus Tarian kedigdayaan adalah karangan author sendiri.


Author pernah berpikir untuk mengangkat kesenian dari daerah asalnya di dalam novel karangannya agar kesenian yang sangat indah ini tidak hilang termakan oleh Zaman, Tapi belum menemukan plot yang pas dan akhirnya sekarang adalah plot yang tepat untuk lebih memperkenalkan kesenian ini.


Yang setuju silahkan tulis " Salam budaya "