
Prabu Angling Dharma menunjuk kolam ikan yang ada di depannya dengan jari telunjuknya. “Kamu lihatlah kolam ikan yang ada di depanmu itu anak muda, kolam ikan itu sangat luas bahkan luasnya hampir sama dengan luas sebuah danau. Di dalam kolam itu ada banyak sekali balok-balok kayu yang disusun secara vertikal, balok-balok kayu itu sengaja disusun secara vertikal agar bisa digunakan sebagai pijakan kaki saat kita berada di atas kolam. Kita akan bertarung satu lawan di atas kolam itu dan siapa yang jatuh lebih dulu ke dalam kolam maka dia akan kalah.”
“Baiklah, Aku mengerti,” jawab Heilong sambil menganggukkan kepalanya lalu dia melompat ke dalam kolam dan berpijak pada salah satu balok kayu yang ada di tengah kolam.
Prabu Angling Dharma pun segera menyusul Heilong. Dia langsung melompat ke dalam kolam dan berpijak di salah satu balok kayu yang ada di depan Heilong. Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya seperti orang yang sedang menantang musuhnya.
“Kamu seranglah aku lebih dulu anak muda. Kamu bebas menyerang tubuhku di bagian mana saja dan kamu juga bebas menggunakan senjata apa'pun yang kamu inginkan untuk menyerangku. ”
Kali ini Heilong berniat untuk menyerang dengan tangan kosong karena dia melihat prabu Angling Dharma juga tidak mengeluarkan senjata pusaka miliknya dalam pertarungan ini.
Heilong segera mengalirkan energi angin miliknya menuju ke kedua kakinya dan energi es di telapak tangan kanannya. Lalu dia berlari menggunakan Jurus Langkah Angin Pemecahan Badai.
Hanya dalam hitungan detik, dia sudah sampai di belakang tubuh prabu Angling Dharma. Dia lalu menyerang punggung prabu Angling Dharma dengan menggunakan Jurus Tapak Es Membelah Laut.
Tapi ternyata serangan itu gagal. Saat pukulan telapak tangan kanan Heilong hampir mencapai punggung prabu Angling Dharma, prabu Angling Dharma segera menggerakkan tangan kanannya ke belakang dan mencengkram tangan kanan Heilong yang sudah di selimuti dengan energi es yang sangat kuat.
Prabu Angling Dharma lalu melemparkan tubuh Heilong ke depan. Beruntung Heilong mampu mengendalikan keseimbangannya saat dia mendarat di salah satu balok kayu sehingga dia tidak terjatuh ke dalam kolam.
Heilong tidak menyerah, dia segera berdiri dan melakukan gerakan jurus yang sama untuk menyerang prabu Angling Dharma. Namun kali ini dia merubah arah serangannya.
Kali ini Heilong mencoba menyerang dari arah samping, tapi tidak ada satupun serangannya yang berhasil mengenai tubuh Prabu Angling Dharma. Berkali-kali serangannya dapat di tangkis dengan mudah oleh prabu Angling Dharma hanya dengan menggunakan satu tangan saja padahal dia sudah mencoba menyerang dari berbagai arah.
Prabu Angling Dharma seperti orang yang memiliki mata di belakang kepalanya saat menangkis semua serangan yang datang ke arahnya.
“Kenapa anda bisa sangat mudah menebak arah datangnya seranganku? Apakah anda memiliki mata di belakang kepala anda?” tanya Heilong dingin menatap prabu Angling Dharma sambil mengingat kembali gerakan tangan prabu Angling Dharma yang bisa mencengkram tangannya dengan tepat, padahal matanya tidak sedang menghadap ke arahnya.
“Aku tidak memiliki hal semacam itu anak muda, sepertinya kamu terlalu sering bertemu dengan para siluman sehingga memiliki pemikiran yang aneh seperti itu. Aku hanya menggunakan jurus Dasendria untuk melihat setiap pergerakan dari otot-otot yang ada di tubuhmu saat kamu akan mulai bergerak untuk menyerangku,” jawab Prabu Angling Dharma.
“Hanya itu saja?!” lanjut Heilong bertanya karena tidak percaya.
“Ya, cuma itu saja. Perlu kau ketahui bahwa gerakan otot manusia lebih cepat dari gerakan manusia itu sendiri, sehingga aku bisa menebak semua gerakan yang akan kau gunakan untuk menyerangku. Itulah alasan kenapa aku bisa menebak dengan tepat arah datangnya seranganmu dan menangkisnya dengan sangat mudah,” jawab prabu Angling Dharma sambil menunjukkan kedua matanya yang diselimuti dengan aura berwarna ungu pada Heilong.
“Rupanya di dunia ini ada jurus semacam itu. Jika aku dapat memiliki jurus seperti itu aku pasti bisa mengalahkan lawan-lawanku dengan sangat mudah, ” pikir Heilong.
Prabu Angling Dharma terus mengamati Heilong saat dia sedang berpikir lalu mencoba menegur Heilong. “Apa yang kamu pikirkan anak muda? Apakah kamu tertarik untuk memiliki ilmu Dasendria ini. Sayang sekali aku tidak bisa mewariskan ilmu ini padamu karena ilmu ini hanya bisa di dapatkan jika seseorang telah menyelesaikan meditasi yang sangat ketat untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada di dalam hatinya. Untuk saat ini, sepertinya tidak mungkin bagimu untuk mempelajari jurus ini karena hatimu masih dipenuhi dengan dendam.”
Heilong mengerti apa maksud dari perkataan Prabu Angling Dharma. Memang saat ini hatinya masih dipenuhi dengan dendam pada para perampok yang menyerangnya saat dia pergi bersama dengan Sherly ketika dia masih berada di bumi.
Di tambah lagi dendam Long Bai pada orang-orang yang menyerangnya saat dia berada di Benua Timur. Bagaimanapun juga dendam Long Bai adalah dendamnya dan dia harus membantu Long Bai untuk membalaskan dendamnya itu karena saat ini rohnya berada di dalam tubuh Long Bai.
Memang sangat sulit bagi Heilong untuk mempelajari ilmu Dasendria saat ini karena secara jelas prabu Angling Dharma telah mengatakan bahwa Ilmu Dasendria ini tidak dapat diwariskan secara instan kepada orang lain dan jika ingin mendapatkan ilmu Dasendria ini maka orang itu harus berlatih keras dengan cara meditasi yang sangat ketat untuk membersihkan segala macam bentuk sifat buruk pada diri manusia yang selama ini ada di dalam hatinya.
“Sebenarnya aku memang berkeinginan untuk memiliki ilmu Dasendria itu tapi sepertinya jalan untuk mendapatkan ilmu itu tidaklah mudah. Aku akan berusaha mencari cara untuk mempelajari ilmu itu di lain waktu, sekarang tujuanku adalah mengalahkan anda agar aku bisa maju ke stage terakhir, ” jawab Heilong yang berusaha fokus ke tujuan awalnya memasuki stage ke tiga ini.
Tiba-tiba Heilong merasa ingin segera menyelesaikan game ini dan pergi ke gudang pusaka yang ada di dalam pesawat Max Lightning. Di dalam gudang pusaka itu dia pasti bisa menemukan cara untuk mempelajari ilmu Dasendria di salah satu rak kitab pusaka yang ada di sana.
Semangat Heilong tiba-tiba bangkit kembali. Dia mengepalkan kedua tangannya dan berkata. “Tidak ada jurus di dunia ini yang tidak memiliki kelemahan. Aku harus mencari kelemahan dari jurus ini secepat mungkin agar aku bisa segera memenangkan pertarungan ini.”
Heilong tiba-tiba teringat dengan salah satu kalimat yang di ucapkan oleh prabu Angling Dharma saat dia menjelaskan alasan kenapa dia bisa dengan mudah menghindari serangan-serangan yang dilakukannya.
“Sepertinya tadi dia mengatakan bahwa dia harus melihat pergerakan otot-otot yang ada di tubuhku untuk dapat menebak serangan-serangan yang akan aku lakukan berikutnya. Itu artinya jika dia tidak bisa melihat tubuhku maka dia tidak akan bisa menebak serangan yang akan aku lakukan. Akhirnya aku menemukan sedikit celah pada jurus itu,” gumam Heilong dalam hati dengan senyum menyeringai menghiasi wajahnya.
Heilong kemudian mengeluarkan pedang taring putihnya dan mengangkat pedang itu ke atas secara vertikal. Lalu memutarkan pedangnya searah jarum jam.
"Ilusi Es ”
Heilong menggunakan jurus ilusinya dan segera muncul puluhan bayangan yang mirip dengannya. Bayangan-bayangan itu langsung pergi untuk menyerang prabu Angling Dharma.
Saat prabu Angling Dharma sedang disibukkan dengan serangan-serangan dari bayangan Heilong yang datang secara bertubi-tubi dari segala arah, Heilong menyimpan kembali pedang taring putihnya dan berjalan sedikit menjauh dari area pertarungan.
Prabu Angling Dharma menyadari bahwa semua bayangan Heilong ini adalah bagian dari jurus ilusi, tapi ada sedikit perbedaan antara jurus ilusi yang selama ini pernah dia jumpai dengan jurus ilusi yang dikeluarkan oleh Heilong.
Jurus ilusi yang biasa dia jumpai tidak akan bisa melukai musuhnya karena bentuk mereka yang sebenarnya tidak lebih dari sekedar bayangan, tapi jurus ilusi yang digunakan Heilong mampu membuat bayangan yang bisa melukai lawannya.
“Anak muda ini rupanya memiliki jurus ilusi tingkat tinggi yang belum pernah aku jumpai sebelumnya,” pikir prabu Angling Dharma sambil terus menangkis setiap serangan yang dilakukan oleh bayangan Heilong.
Prabu Angling Dharma mulai merasa kewalahan saat menghadapi bayangan-bayangan ilusi yang dibuat oleh Heilong karena bayangan-bayangan ini seperti tidak ada habisnya.
Setiap kali bayangan itu dihancurkan maka akan segera muncul bayangan yang baru dengan jumlah yang berlipat ganda. Jurus ilusi es ini memang berbeda dengan jurus ilusi es yang dipakai saat melawan Mahapatih Gajah Mada.
Jurus ilusi yang digunakan untuk melawan Mahapatih Gajah Mada adalah jurus ilusi es yang di ajarkan oleh Long Bao sedangkan jurus ilusi yang digunakan untuk melawan Prabu Angling Dharma adalah jurus ilusi es warisan Divine Beast Genbu.
"Aji Mliwis putih,” seru prabu Angling Dharma sambil mengangkat telapak tangan kanannya ke langit dan tubuhnya memancarkan aura berwarna keemasan seperti seorang dewa.
Hujan pun secara perlahan turun dari langit dan segera menghilangkan semua bayangan ilusi Heilong, beberapa saat kemudian ilusi yang dibuat oleh Heilong benar-benar menghilang.
Air hujan ini seperti bisa menetralkan segala macam jurus, untungnya Heilong yang menggunakan jurus aji mundri telah berlari sedikit menjauh dari tempat prabu Angling Dharma berdiri sehingga dia tidak terkena air hujan itu.
Prabu Angling Dharma akhirnya menurunkan tangan kanannya dan hujan pun berhenti tapi dia merasa ada sedikit yang aneh karena dia tidak melihat Heilong padahal dia telah menghancurkan jurus ilusi yang di buat oleh Heilong.
“Kemana anak muda itu pergi? Apakah mungkin tubuhnya akan hancur saat jurus ilusinya aku hancurkan? Jika benar begitu maka jurus ilusi ini hampir sama dengan jurus ilusi yang pernah digunakan oleh siluman mimpi dari negeri sebrang.”
“Tapak Es Pembeku Angin.”
Tiba-tiba teriakan Heilong muncul dari belakang tubuh Prabu Angling Dharma dan mengejutkan Prabu Angling Dharma yang sedang berpikir untuk mencari keberadaanya. Teriakan ini diikuti dengan sebuah pukulan di telapak tangan kanan Heilong yang sudah diselimuti dengan energi es yang sangat kuat.
“Boom ...”
Pukulan itu langsung menghantam ke punggung prabu Angling Dharma. Karena serangan itu muncul secara tiba-tiba, prabu Angling Dharma tidak sempat menangkis ataupun membuat aura pelindung untuk melindungi punggungnya. Tubuh prabu Angling Dharma akhirnya tersungkur beberapa meter ke depan setelah terkena pukulan Heilong.
Prabu Angling Dharma langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mendarat di salah satu balok kayu yang ada di dekatnya. Dia lalu berbalik dan melihat ke tempat di mana dia berdiri sebelumnya untuk melihat Heilong, tapi dia sama sekali tidak melihat Heilong berada di sana.
“Apakah anak muda ini menguasai jurus halimun sehingga dia bisa menghilang. Aku tidak bisa terus menebak-nebak seperti ini, aku akan mencarinya di dunia halimunan untuk memastikan. ”
Prabu Angling Dharma segera menggunakan jurus halimun miliknya untuk mencari keberadaan Heilong di alam halimunan.
Heilong terlihat sedikit terkejut saat melihat tubuh prabu Angling Dharma menghilang di depan matanya. “Ternyata dia juga memiliki ilmu untuk menghilangkan tubuhnya, tapi ilmu menghilang yang dimiliki prabu Angling Dharma sepertinya berbeda dengan ilmu menghilang yang aku gunakan karena saat dia akan menggunakan ilmu menghilang itu, sama sekali tidak muncul kabut tebal di sekeliling tubuhnya.”
Setelah beberapa menit menghilang, tubuh prabu Angling Dharma akhirnya muncul kembali karena dia tidak dapat menemukan Heilong di alam halimunan. Prabu Angling Dharma terdiam di tempatnya sambil berpikir.
“Anak muda itu tidak ada di alam halimunan. Bagaimana bisa terjadi hal yang seaneh ini. Apakah mungkin dia menguasai jurus itu... ” ucap Prabu Angling Dharma sambil mengerutkan keningnya.
Prabu Angling Dharma segera menggunakan jurus Dasendria untuk menyisir daerah sekitarnya dan dia melihat sebuah kabut tebal berada di sekitar tempat Heilong menyerangnya.
“Ternyata anak itu benar-benar menguasai ilmu aji mundri, pantas saja aku tidak bisa menemukannya di alam halimunan. Baiklah aku akan sedikit bermain-main dengannya, aku ingin melihat sejauh mana kemampuan ilmu beladirinya dan jurus-jurus apa saja yang dia miliki. ”
“Aji Tiwikrama.”
Tubuh prabu Angling Dharma tiba-tiba membesar dan berubah menjadi seperti seorang raksasa.
Heilong menjadi sangat terkejut saat melihat perubahan yang terjadi pada tubuh prabu Angling Dharna sampai kedua matanya tidak berkedip sedikitpun. Dia'pun tanpa sadar bergumam. “Orang ini ternyata masih memiliki jurus yang sehebat itu. Pantas saja dia disebut sebagai raja yang sangat sakti di zamannya, bahkan sampai saat ini para penduduk Bumi masih mengingat dan menghormati nama Prabu Angling Dharma. Beberapa di antara mereka bahkan berpikir bahwa prabu Angling Dharma adalah titisan dewa. ”
“Sampai kapan kamu akan terus bersembunyi dalam kabut itu anak muda? Aku dapat melihat tempatmu bersembunyi dengan sangat jelas menggunakan ilmu Dasendria meskipun aku tidak dapat melihat tubuhmu. Tapi hanya dengan mengetahui tempat keberadaanmu saja aku rasa itu sudah cukup buatku untuk dapat menenggelamkan tubuhmu ke dalam kolam ini. Sekarang cobalah kau lari dari serangan telapak tanganku ini. Haha … ” seru prabu Angling Dharma sambil tertawa terbahak-bahak.
Prabu Angling Dharma berusaha menyerang Heilong dengan telapak tangannya yang telah membesar kira-kira sepanjang lima meter. Dia memukulkan telapak tangannya ke tempat Heilong berdiri seperti orang yang sedang menepuk seekor nyamuk.
“Boom ...”