
“Mereka berdua kembali ke Istana Es Seribu Pedang karena kau pergi terlalu lama. Tapi Divine Beast Genbu mengatakan bahwa dia akan segera datang kemari saat merasakan aura kedatanganmu. Lebih baik kalian berdua duduk di sini sebentar sambil menunggu kedatangan Divine Beast Genbu,” ucap Heilong sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya untuk mempersilahkan mereka duduk.
Xue Xian Hou mengajak Xue Xiang duduk di kursi yang ada sisi lain dari meja itu, dia sengaja tidak duduk di samping Heilong karena dia sudah mengetahui niat Heilong mempersilahkan dirinya untuk duduk di sampingnya hanyalah agar Heilong lebih mudah untuk menggodanya.
Heilong langsung mengerti jika Xue Xian Hou mungkin merasa malu jika dilihat oleh muridnya saat duduk di sampingnya, dia hanya tersenyum kecut saat rencananya itu ternyata tidak berjalan dengan lancar karena Xue Xian Hou sudah bisa membaca niatnya.
“Sudah berapa lama Divine Beast Genbu pergi dari tempat ini? Kenapa mereka berdua belum juga datang ke tempat ini? ” tanya Xue Xian Hou membuka obralan.
“Mereka berdua langsung pergi sejak kamu meninggalkan tempat ini. Harusnya Divine Beast Genbu sudah merasakan kehadiranmu, mungkin saja sebentar lagi mereka berdua akan datang. Kau sabar saja menunggu di sini, bukankah sekarang ada Xue Xiang yang akan selalu menemanimu. Aku akan pergi ke dapur dan membuat minuman seperti kemarin karena kemarin aku mengambil buah terlalu banyak jadi masih banyak sisa di dapur,” ucap Heilong lalu dia berdiri dan pergi menuju ke dapur.
“Tunggu …,” seru Xue Xian Hou menghentikan Heilong, lalu dia menatap Xue Xiang. “Xiang'er kamu tunggu di sini sebentar. Jika Divine Beast Genbu dan Kakekku sudah datang, minta mereka berdua untuk menunggu sebentar. Aku akan membantu Heilong membuat minuman di dapur agar lebih cepat, kau pasti sudah sangat haus'kan?”
“Baik. Guru, aku memang sudah sangat haus karena aku sama sekali belum minum apa'pun sejak pertemuan besar tadi. ” jawab Xue Xiang menganggukkan kepala.
Xue Xian Hou langsung menyusul Heilong dan mereka berdua pergi ke dapur.
Ketika sampai di dapur, Heilong langsung mengeluarkan satu set pisau dapurnya dan mengambil pisau berelemen angin yang paling besar. kemudian dia mengambil enam buah kelapa muda dan membelah bagian atas kelapa itu lalu menaruh semua air kelapa muda itu ke dalam sebuah panci.
Di sisi lain, Xue Xian Hou langsung menyalakan kompor batu bara karena Heilong meminta dia untuk merebus Jahe Phoenix dan juga Ginseng Api Merah. Dia kemudian mengambil mengambil sebuah panci berukuran cukup besar lalu mengisi panci itu dengan air sampai memenuhi tiga perempat bagian dalam panci itu kemudian memasukkan kedua bahan tadi ke dalam panci sebelum dia menaruh panci itu di atas kompor.
Sambil menunggu air rebus itu mendidih, Heilong langsung mengutarakan niatnya untuk segera meninggalkan tempat ini.
“Sebentar lagi aku akan segera pergi meninggalkan tempat ini,” ucap Heilong menatap mata Xue Xian Hou.
Xue Xian Hou merasa sedikit terkejut karena permintaan Heilong ini begitu mendadak. “Kapan kau akan meninggalkan sekte ini?”
“Sebelum malam tiba, aku harus segera pergi dari sekte ini agar aku sudah sampai di kota Waerebo saat malam tiba,” jawab Heilong.
“Bukan, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Xue Xiang ataupun yang lainnya. Tapi aku merasa jika aku sudah terlalu lama di tempat ini. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Benua Timur sekarang, padahal Divine Beast Seiryu sudah memberiku kabar jika bangsa iblis sudah mulai mengirimkan beberapa mata-matanya untuk menyusup ke dalam Kerajaan Blue Dragon,” jawab Heilong memberi penjelasan.
“Jika itu yang terjadi maka aku tidak akan melarangmu tapi kau harus tetap hidup dan sering-seringlah berkunjung ke tempat ini jika kau ada waktu luang karena mulai sekarang aku tidak akan keluar lagi dari sekte ini kecuali ada urusan yang sangat penting sehingga mengharuskan aku keluar dari sekte ini. Mulai sekarang, aku harus memusatkan semua perhatianku untuk melatih Xue Xiang karena aku hanya punya waktu tiga tahun untuk mendidiknya agar dia siap menjadi seorang Master Sekte yang akan menggantikanku,” ucap Xue Xian Hou.
“Setelah tiga tahun aku pasti akan datang kemari dan melamarmu. Aku berjanji,” ucap Heilong serius sambil menatap mata Xue Xian Hou.
“Baik, aku akan menunggu saat itu tiba. Pastikan bahwa kau masih tetap hidup selama kau berada di Benua Atlantis karena musuh-musuh yang akan kau hadapi di dalam Pagoda Raja Api bukanlah musuh biasa. Aku mendengar dari Gurumu bahwa lawanmu yang ada di dalam Pagoda Raja Api, semuanya adalah makhluk setengah dewa,” jawab Xue Xian Hou.
“Jadi Guru menceritakan hal itu padamu?! Apa saja yang diceritakan Guru padamu?” tanya Heilong sedikit gugup karena dia takut rahasia tentang Long Bai akan terbongkar.
“Cuma itu dan tentang kalung Pure Heart yang ada di leherku. Tidak ada yang lain, kenapa kamu terlihat begitu panik?! Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?” tanya Xue Xian Hou mendekatkan wajahnya.
“Tidak ada, aku sama sekali tidak memiliki rahasia lagi. Aku tadi takut jika Guru menceritakan hal yang aneh-aneh,” jawab Heilong mengelak.
Tiba-tiba panci yang di gunakan untuk merebus Jahe Phoenix dan juga Ginseng Api Merah berbunyi, pertanda bahwa air yang ada di dalam panci itu telah mendidih dan mengagetkan mereka berdua yang sedang berbicara dengan sangat serius.
Heilong segera mengambil panci itu lalu memasukkan air rebusan dari kedua bahan tadi ke dalam panci yang berisi air kelapa muda dan mencampurnya.
Setelah itu, Xue Xian Hou mengambil panci yang berisi air hasil campuran antara air kelapa muda dan air rebus dari Jahe Phoenix dan juga Ginseng Api Merah yang ada di depan Heilong lalu memasukkan air itu ke dalam batok kelapa yang sudah dia tata di atas meja dapur.
“Minumannya sudah jadi. Aku akan membawa dua batok kelapa ini ke depan karena Xue Xiang pasti sudah sangat haus. Sisanya kamu yang bawa,” ucap Xue Xian Hou sambil membawa dua buah batok kelapa berisi minuman pergi dan meninggalkan lima buah batok kelapa yang lain untuk di bawa Heilong.
“Guru, minumanmu dan Xue Lian aku tinggal di sini,” ucap Heilong sambil membawa tiga buah batok kelapa keluar.
Heilong meninggalkan dua buah batok kelapa di atas meja dapur karena dia sangat paham dengan sifat Gurunya yang tidak suka keramaian saat makan dan Dao Xue Lian juga memiliki sifat yang sama.