LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V2 # CH 171 PERINTAH


Dewi teratai putih pun melakukan hal yang sama. Dia mendekatkan tangan kanannya ke cermin komunikasi dewa dan menyentuh gambar tangan kanan Heilong sambil berucap.


“Anakku ... ”


Kedua telapak tangan mereka seakan-akan saling bersentuhan jika saja tidak dibatasi oleh cermin itu.


Sedikit keterkejutan tampak di wajah Divine Beast Genbu, namun dia memilih untuk diam karena tidak ingin mengganggu momen yang bahagia itu.


“Kau sudah besar nak. Maafkan ibu karena ibu tidak bisa merawatmu sejak kamu lahir ke dunia,” ucap dewi teratai putih meneteskan air mata.


“Ibu tidak perlu minta maaf. Itu semua bukan kesalahan ibu tapi itu adalah takdir. Aku sudah sangat bahagia hanya dengan melihat foto-foto yang ibu tinggalkan dan aku tidak pernah merasa ibu meninggalkanku karena ibu selalu hidup di dalam hatiku,” jawab Heilong yang juga berlinang air mata.


Cukup lama Heilong dan dewi teratai putih mengobrol berdua di depan cermin. Sementara Bianca dan Divine Beast Genbu hanya diam sambil mendengarkan apa yang ibu dan anak itu ceritakan setelah tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama.


Dewi teratai putih menceritakan pada Heilong bagaimana penderitaannya saat dia terdampar di benua Atlantis sendirian sampai dia bertemu dengan leluhurnya dan dibawa ke Alam Dewa untuk dilatih menjadi seorang Dewi.


Sedangkan Heilong menceritakan pada ibunya tentang masa kecilnya. Bagaimana dia tumbuh dalam perawatan ayahnya sampai pada akhirnya dia mengalami suatu perampokan yang membuat dirinya terlempar di planet Dreamland. Dia juga tidak lupa menceritakan pertemuannya dengan leluhurnya di dunia game sehingga dia mengetahui informasi tentang penyebab semua bencana yang menimpa dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


“Aku ingin menyampaikan satu hal padamu. Meskipun kamu sudah mengetahui siapa dalang di balik bencana yang menimpa kita, kamu jangan terlalu gegabah untuk membalas dendam. Buatlah dirimu menjadi lebih kuat dulu, ibu tidak ingin melihatmu mati sia-sia hanya karena dendam. Karena musuhmu ini bukanlah musuh sembarangan tapi dia adalah raja iblis yang ada di dunia tengah,” ucap Dewi Teratai Putih.


“Raja iblis di dunia tengah?!" tanya Heilong terkejut.


“Apakah Divine Beast Genbu dan leluhur kita telah menceritakan padamu tentang Dark Etheroz?” Dewi Teratai Putih balik bertanya pada Heilong.


“Benar, mereka menceritakan padaku bahwa Dark Etheroz dulunya adalah seorang dewa yang melakukan kesalahan yang sangat besar sehingga dewa tertinggi menghukum Dark Etheroz dengan membuangnya ke dunia bawah dan menjadi iblis.,” jawab Heilong.


“Cerita sebenarnya bukanlah seperti itu. Dewa tertinggi mengatakan padaku awalnya dia hanya membuang Zero ke dunia tengah dengan harapan dia bisa menyadari kesalahannya dan bisa naik kembali ke dunia atas untuk menjadi dewa. Tapi setelah sampai di dunia tengah, kebencian Zero pada para dewa menjadi semakin besar. Sampai suatu ketika dia menemukan sebuah portal yang menuju ke dunia bawah dan pergi ke dunia iblis. Di dunia iblis, dia diangkat menjadi murid langsung dari Raja Iblis. Raja iblis menurunkan semua ilmunya kepada Zero dan menjadikannya penerusnya. Setelah berhasil menyerap semua ilmu dari raja iblis, raja iblis lalu memerintahkan Zero untuk kembali ke dunia tengah dan menjadi raja iblis dunia tengah. Dia kemudian mengganti namanya menjadi Dark Etheroz,” jelas dewi teratai putih.


“Jadi begitu cerita yang sebenarnya. Aku akan selalu mengingat pesan ibu. Mulai hari ini aku akan terus bertambah kuat agar aku bisa membunuh Dark Etheroz,” jawab Heilong dengan mata berapi-api.


Setelah puas mengobrol dengan Heilong, Dewi Teratai Putih kemudian kembali bendiri di samping Bianca. Mata Heilong langsung tertuju pada gadis yang ada di samping ibunya.


Heilong langsung menyebut nama Bianca karena dia sangat yakin bahwa gadis yang ada di samping ibunya itu adalah Bianca. Bianca hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum. Heilong merasa sedikit heran dengan perubahan sikap Bianca yang menjadi lebih pemalu.


“Jadi kamu masih mengenal gadis ini. Benar gadis ini adalah putri Bianca, dia adalah putri kesayangan dari raja unicorn Vechio. Sebenarnya tujuan ibu mencarimu kali ini juga ada hubungan putri Bianca. Ibu telah menganggap putri Bianca seperti menantu ibu sendiri karena itu ibu ingin kamu segera menikahi Putri Bianca.”


Tanpa basa-basi lagi Dewi Teratai Putih langsung mengatakan tujuannya mencari Heilong. Heilong merasa sedikit terkejut karena ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan ibunya tapi ibunya malah langsung memintanya untuk menikahi gadis yang hanya pernah dia temui sekali saja dan itupun juga di dunia game.


“Tapi ibu, kami hanya bertemu sekali saja,” sanggah Heilong.


“Maaf aku nak tapi kali ini ibu tidak bisa menerima alasan apapun. Ini adalah perintah dari ibu. Bianca adalah seorang gadis yang baik dan cantik terlebih lagi ibu sudah dekat dengannya dan menganggap dia seperti putri ibu sendiri. Kamu telah mempermalukan dia sedemikian rupa saat kamu sedang bertarung dengannya di dunia game dan kamu juga sudah memegang tanduknya jadi kamu harus bertanggung jawab dengan cara menikahinya.” Dewi Teratai Putih menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “Saat ini ibu adalah dewi pelindung bangsa unicorn jika kamu bersikeras untuk menolak rencana pernikahan ini maka dengan berat hati, ibu terpaksa akan menghukummu dengan tangan ibu sendiri. Ibu mohon jangan mempersulit ibu.”


Bianca langsung memegang tangan kiri dewi teratai putih dan menggelengkan kepalanya. “Ibu, jika kak Heilong tidak bersedia menikahiku maka jangan dipaksa. Aku akan menunggunya sampai dia mencintaiku dan bersedia untuk menikahiku. Sebenarnya yang di katakan kak Heilong memang benar, kami memang hanya pernah bertemu sekali saja jadi wajar jika kak Heilong menolak rencana pernikahan ini karena belum ada cinta diantara kami.”


“Tapi putri, aku telah melihat sendiri bahwa kamu sangat mencintai putraku bahkan kamu bersedia dihukum oleh ayahmu sendiri demi mempertahankan cintamu itu. Meskipun kamu bisa menerima semua ini tapi bagaimana dengan ayahmu apakah dia juga akan menerima keputusan ini sama sepertimu,” ucap dewi teratai putih menatap mata Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya saja dan raut wajahnya tampak mulai bersedih. Heilong merasa kasihan melihat Bianca karena dia telah membaca buku tentang bangsa unicorn yang diberikan oleh Li Ziqi. Di sana tertulis jika pria yang telah memegang tanduk seorang gadis dari bangsa unicorn menolak untuk menikahi gadis dari bangsa unicorn itu maka pria itu harus dihukum mati tapi jika gadis itu ingin pria itu tetap hidup maka gadis itu harus rela hidup dalam pengasingan sampai pria yang memegang tanduk unicornnya bersedia untuk menikahinya.


“Tunggu ibu. Aku bersedia untuk menikahinya. Aku akan menikahinya saat aku menyelesaikan ujianku di pagoda delapan raja karena di sanalah aku bisa bertemu kembali dengan Bianca,” jawab Heilong.


Dewi teratai putih kemudian meminta jawaban dari Bianca. “Bagaimana apa kamu bersedia untuk menunggunya sampai di pagoda raja api.”


Bianca langsung menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. “Saya bersedia Ibu.”


“Baiklah. Kalau begitu sudah diputuskan. Aku akan menikahkanmu dengan putri Bianca saat kamu berada di pagoda raja api. Ibu dan putri Bianca akan menunggumu di sana.”


Heilong menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju.


“Baiklah kalau begitu ibu harus mengakhiri pembicaraan ini. Kamu jagalah dirimu baik-baik, meskipun ibu tidak ada di dekatmu ibu akan selalu memperhatikanmu dari jarak jauh.”


Setelah selesai berpamitan gambar yang muncul di cermin komunikasi dewa itupun menghilang.