
Heilong melihat ke tempat sekelompok harimau salju yang sedang memakan dua buah daging sayap naga yang tadi dia berikan dan melihat bahwa mereka sudah menghabiskan kedua sayap naga pemberiannya tadi.
“ Sepertinya mereka sudah selesai makan. Ayo kita kesana, ” ajak Heilong.
“ Baiklah. Mari nak kita ikuti tuan ke sana, ” jawab Lin Chong Wei sambil menggandeng tangan putrinya.
“ Tidak mau..!! Aku takut ayah. Harimau-harimau itu kelihatan sangat buas dan tadi mereka juga merusaha menyerang kita, ” jawab Lin Meylin menolak sambil menggelengkan kepalanya.
Heilong mengajak Lin Chong Wei dan Lin Meylin untuk menghampiri sekelompok harimau salju yang sudah selesai makan tapi Lin Meylin menolak karena ketakutan saat melihat sekelompok harimau salju yang terlihat buas itu. Setelah diberi sedikit pengertian oleh ayahnya bahwa harimau-harimau salju itu sebenarnya tidak jahat dan penyerangan yang dilakukan oleh harimau-harimau salju tadi karena mereka terpaksa sebab mereka sudah mengalami kelaparan selama berbulan-bulan, akhirnya Lin Meylin menurut dan bersedia untuk mengikuti ayahnya dan Heilong untuk pergi ke tempat sekelompok harimau salju itu tapi dia berjalan di belakang ayahnya sambil menyembunyikan dirinya seperti seorang anak kecil yang sedang main petak umpet.
“ Bagaimana rasa daging sayap naga itu, apakah enak.. ? ” tanya Heilong saat sampai di tempat para Harimau salju.
“ Sangat enak tuan dan daging sayap naga ini juga mengembalikan stamina kami yang tadinya sudah sangat lemah karena kelaparan yang kami alami selama berbulan-bulan, ” jawab pemimpin harimau salju itu sambil menundukkan kepalanya di kaki Heilong seperti seekor kucing yang sudah jinak.
“ Baiklah sekarang antarkan aku ke sungai itu. Aku ingin melihat seperti apa ular yang bisa meracuni sungai di hutan jati bersalju ini, ” perintah Heilong pada pemimpin Herimau salju
Pemimpin harimau salju itu menjawab. “ Silahkan naik ke punggungku tuan, aku akan mengantarkan anda kesana. Sedangkan dua orang itu akan di antar oleh anak buahku. ”
Pemimpin harimau salju itu menundukkan kepalanya di depan Heilong diikuti dengan dua harimau salju anak buahnya. Heilong langsung melompat ke punggung pemimpin harimau salju sedangkan Lin Meylin naik ke punggung harimau salju yang satunya bersama ayahnya.
Lin Meylin tidak berani menaiki harimau salju itu sendirian meskipun ayahnya sudah berkali-kali mengatakan bahwa harimau-harimau salju ini tidak jahat dan pemimpin harimau salju itu juga sudah menyediakan dua ekor harimau salju anak buahnya sebagai tunggangan mereka berdua.
Setelah semuanya naik ke punggung harimau salju, mereka pun segera pergi ke sungai yang jaraknya sekitar tiga kilometer.
**
Setelah lima menit penjalanan dengan menunggangi harimau salju, Heilong akhirnya sampai di sungai yang tercemar oleh racun ular salju. Air sungai yang tadinya berwarna bening kini berubah warna menjadi ungu dan di tepi sungai itu banyak sekali tergeletak bangkai-bangkai hewan liar yang mati karena meminum air sungai ini.
“ Ular itu sungguh sudah sangat keterlaluan dan tidak berperasaan. Dia telah mencemari satu-satunya sumber air di hutan ini sehingga membuat banyak sekali makhluk hidup di hutan ini yang mati karena meminum air sungai ini. ” ucap Heilong geram lalu dia memberi perintah pada harimau salju. “ Kita berhenti di sini jangan terlalu dekat dengan sungai itu. ”
Rombongan harimau salju yang mengantar mereka akhirnya berhenti setelah mendengar perintah Heilong saat mereka mencapai jarak dua puluh meter dari tepi sungai.
“ Kalian semua tunggulah di sini, akan sangat berbahaya jika kalian terlalu dekat saat aku sedang bertarung dengan ular salju itu. Ular salju itu bisa saja menyemburkan bisanya untuk menyerang kalian. Apapun yang terjadi jangan pernah mendekat sampai aku berhasil membunuh ular salju itu. ” ucap Heilong lalu dia turun dari punggung pemimpin harimau salju dan pergi mendekati sungau itu.
“ Pedang es sembilan badai. ”
“ Boom... Boom... Boom.... Boom... Boom... Boom.... Boom... Boom... Boom.... ”
Sembilan suara ledakan terdengar secara bersamaan saat sembilan bola es yang terbentuk dari jurus pedang Heilong menyentuh air sungai dan membuat air sungai itu menyembur ke atas akibat ledakan dari kekuatan bola es yanh berisi kekuatan elemen es dan angin lalu secara perlahan membekukan daerah di sekitar ledakan itu.
“ Sssstttt.... Ssssttttt.... ”
Seekor ular salju raksasa sepanjang dua puluh meter muncul dari dalam sungai dalam ke adaan yang sangat marah. Sisik ular salju itu berwarna putih mengkilap seperti sebuah permata dan sorot mata ular salju itu menatap tajam ke arah Heilong seperti ingin segera memangsa Heilong.
“ Siapa yang berani mengusik ketenanganku, ” ucap ular salju itu dingin.
“ Aku...!! ” teriak Heilong dengan suara lantang, dia kemudian menunjuk ular salju itu dengan pedang yang ada di tangannya. “ Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau mencemari air di sungai ini dengan racun ularmu sehingga mengusik ketenangan semua makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya dari air sungai ini dan kau juga membuat banyak sekali hewan-hewan yang tak berdosa mati karena meminum air sungai ini. ”
“ Aku sudah menjadikan sungai ini tempat tinggalku jadi aku melarang siapapun mendekati sungai ini. Siapapun yang mencoba mendekati sungai ini maka akan mati, ” jawab ular salju menatap Heilong tajam.
“ Mereka adalah hewan-hewan lemah yang menggantungkan hidupnya dari sungai ini, apakah kau tidak bisa berbagi dengan mereka dan hidup saling berdampingan.? ” tanya Heilong.
“ Ha... Ha... Hidup berdampingan dengan yang lemah...?? Sejak kapan ada aturan seperti itu di dunia ini. Ingatlah di dunia ini hanya yang kuatlah yang akan hidup sedangkan yang lemah akan mati seperti para hewan yang ada di tepi sungai ini, ” balas ular salju dengan tawa mencibir.
“ Sepertinya kau sudah bisa ditolong lagi. Sebanyak apapun aku berusaha membujukmu untuk mau berbagi sungai ini dengan makhluk hidup yang lainnya, kamu pasti akan menolak tawaranku itu. Karena itu aku akan menggunakan pedangku untuk berbicara denganmu, ” ucap Heilong geram sambil menggenggam pedang taring putih dan bersiap untuk menyerang ular salju itu.
“ Sssstttt.... jadi kau mengancamku anak muda. Majulah dan buktikan kemampuanmu. Tunjukkan padaku bahwa kau bisa membuatku untuk meninggalkan sungai ini, ” balas ular salju itu sambil berdesis dan menjulurkan lidahnya.
Heilong yang sudah sejak tadi tangannya merasa gatal karena ingin segera mencincang-cincang ular salju yang sangat sombong itu, langsung melompat ke arah ular salju itu berada dan mengayunkan pedang taring putihnya untuk memotong ekor ular salju itu.
Ular salju itu seperti bisa membaca gerakan Heilong. Dia segera menggeser ekornya ke samping untuk menghindari serangan pedang Heilong lalu kemudian memukulkan ekornya kepunggung Heilong dengan kuat sampai menimbulkan suara dentuman yang sangat keras dan membuat tubuh Heilong jatuh ke dalam sungai yang airnya beracun itu.
“ Tuan... ”
Teriak Lin Chong Wei dan Lin Meylin bersamaan saat melihat tubuh Heilong tenggelam ke dalam air sungai beracun itu. Mereka berdua sangat cemas dengan keselamatan Heilong terutama Lin Meylin yang sudah merasakan sendiri betapa ganasnya racun ular itu yang membuat dirinya tak sadarkan diri selama delapan jam dan hampir mati.