
Kemampuan pedang Zhou Yuan sudah meningkat melebihi kemampuannya di kehidupan pertama, teknik Pedang Lima Elemen yang ia pelajari selama tiga tahun ini membuat pemahamannya terhadap seni pedang meningkatkan ke tingkatan yang lebih tinggi.
Salah satu teknik pedang elemen saja sudah dianggap teknik pedang tingkat tinggi di dunia persilatan apalagi Zhou Yuan yang menggunakan lima teknik pedang elemen sekaligus, permainan pedangnya jadi jauh lebih mematikan.
Ketua penyamun menelan ludah menyaksikan semuanya, pandangannya pada Zhou Yuan mulai bergeser seiring waktu sampai ada perasaan takut di hatinya.
Ketakutan itu mulai menjadi nyata dalam waktu semenit ke depan, Zhou Yuan berhasil menghabisi separuh jumlah bawahannya dan terus berkurang setiap detiknya hingga jumlah mereka tinggal puluhan saja.
Aksi tersebut membuat para penyamun baru tersadar dengan kekuatan Zhou Yuan, mengeroyoknya tidak bisa membuat Zhou Yuan terbunuh dan sejak awal, jumlah mereka sama sekali tidak berarti di hadapan pemuda itu.
Mereka segera mengambil jarak takut menjadi sasaran pedang Zhou Yuan selanjutnya namun Zhou Yuan tidak membiarkan itu terjadi.
"Kalian ingin pergi, akan kubantu kalian pergi ke alam baka..." Zhou Yuan tersenyum dingin. "Pedang Lima Elemen — Bayangan Halilintar!"
Tubuh Zhou Yuan terpecah menjadi lima bagian diri, setiap dari cerminannya langsung menyerang ke arah berbeda dan membunuh setiap penyamun yang berada dalam jangkauan serangannya.
Para penyamun terkejut dengan teknik tersebut dan mereka tidak siap Zhou Yuan tiba-tiba menjadi banyak, jurus itu membunuh sepuluh penyamun yang lain.
Lutut para penyamun menjadi lemas, mereka merasa tidak berdaya melawan Zhou Yuan. Mereka ingin lari tetapi tubuh mereka terlalu gemetar untuk melakukan itu.
Zhou Yuan membunuh para penyamun tanpa menunjukkan ekspresi keraguan di hatinya, pandangannya masih jernih membuat para penyamun menduga bahwa Zhou Yuan adalah kriminal tingkat tinggi.
Zhou Yuan berniat membunuh lebih banyak lagi namun teriakan Ketua penyamun menghentikan ayunannya.
"Berhenti, jika kau terus membunuh anggota-anggotaku maka kau harus bersiap melawan sosok yang ada di belakang kami!" Ketua penyamun tidak punya cara lain, ia merasa tidak bisa lolos dari Zhou Yuan jadi sekali lagi dia mengancamnya.
Zhou Yuan mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
Ketua penyamun berusaha memberanikan dirinya menjelaskan walau perkataannya sedikit bergetar. Dia mengatakan bahwa alasan kelompoknya memeras desa itu karena ada sebuah organisasi di belakangnya yang memerintahkannya.
"Jika kau membunuh kami maka organisasi itu akan murka dan mengejarmu sampai keseluruh dunia. Kau tidak akan selamat... Meminta maaflah sekarang sebelum semuanya terlambat..." Ketua penyamun berkata lantang, berusaha menutupi kecemasannya.
Zhou Yuan menggeleng pelan, tanpa mendengar omongan Ketua penyamun itu ia bergerak lagi menyerang penyamun terdekat. Zhou Yuan mulai melakukan aksinya kembali.
Senyuman Ketua penyamun memudar berganti perasan takut menyelimutinya bahkan lebih dari sebelumnya.
Zhou Yuan tidak hanya terpengaruh dengan ancamannya, malah membantai para penyamun yang tersisa tanpa belas kasih.
Para penyamun itu merasa tidak yakin bisa lolos dari Zhou Yuan sehingga mereka berusaha melawan sampai akhir, berharap Zhou Yuan bisa dikalahkan dengan jumlah seperti itu tanpa tahu yang dilakukan mereka tidak berbeda jauh dengan mengantarkan nyawa.
Ketua penyamun hendak lari namun ia merasa tindakannya akan membuatnya terbunuh lebih cepat. Sebelum dia menemukan ide yang lain Zhou Yuan sudah menghabisi seluruh bawahannya.
Zhou Yuan mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yamg menempel, pandangnya tertuju ke Ketua penyamun lalu melangkah ke arahnya.
"Baiklah, aku sudah muak pada kalian. Jika kau masih menyayangi nyawamu berbicaralah, katakan siapa dalang dari kalian."
Kali ini Ketua penyamun tidak memiliki keberanian lagi untuk mengancam, dia sudah sangat ketakutan melihat tatapan dingin Zhou Yuan. Akhirnya menjelaskan semua yang diketahuinya termasuk organisasi di belakang mereka.
***
"Kini desa kalian sudah aman, aku telah mengatasi para penyamun itu." Zhou Yuan menjelaskan situasinya pada Kepala desa dan penduduk yang lain mengenai apa yang terjadi. "Mungkin kalian akan terkejut melihat keluar desa, tapi aku sarankan jangan melihatnya."
Zhou Yuan menyarankan agar mereka mengambil jalan lain jika mau keluar dari desanya kalau tidak mau melihat sesuatu yang mengerikan.
Kepala Desa mengangguk, sejak tadi ia dan yang lainnya menunggu Zhou Yuan di balik gerbang tanpa tahu apa yang terjadi di sana. Melihat Zhou Yuan baik-baik saja dan selamat, membuat mereka merasa lega.
Zhou Yuan awalnya berniat membeli beberapa makanan serta bumbu yang ada di desa tersebut namun Kepala Desa memberikannya secara gratis.
"Terimakasih, aku sangat berhutang budi pada kalian." Zhou Yuan menerima pemberian dari penduduk desa tersebut.
"Tidak pendekar, Kamilah yang seharusnya berbicara demikian..."
Zhou Yuan mengangguk. "Kalau begitu kita berpisah disini, senang bisa bertemu kalian." Zhou Yuan memacu kudanya, meninggalkan desa tersebut.
***
Dari desa itu, sekitar dua hari Zhou Yuan menunggangi kudanya ia menemukan sebuah kota.
Zhou Yuan singgah di kota itu, hal pertama yang ia cari ketika disana adalah mencari serikat pahlawan.
Setelah bertanya kepada beberapa penduduk setempat Zhou Yuan berhasil menemukannya, tidak sulit mencarinya karena serikat pahlawan cukup terkenal di kota ini.
Serikat pahlawan memiliki bangunan dua lantai yang mempunyai tanah yang lumayan luas, Zhou Yuan memasukinya, tampak ada beberapa orang saja di dalam sehingga kedatangan Zhou Yuan cukup disadari oleh orang lain.
"Aku ingin melaporkan bahwa aku sudah menyelesaikan misi ini..." Zhou Yuan menyerahkan surat kepala desa pada petugas administrasi yang merupakan seorang pria dua puluhan tahun.
"Oh misi dari desa ini..." Petugas administrasi sepertinya mengenal desa yang Zhou Yuan singgahi, ia mengecek surat Zhou Yuan dan mencocokkan misi yang telah di selesaikan. "Kau telah mengalahkan para penyamun itu, bagaimana cara kau menyelesaikan mereka, menangkapnya atau memenjarakannya?"
"Aku menghabisi mereka semua."
Petugas administrasi itu terbatuk-batuk, tidak menduga jawaban Zhou Yuan akan demikian.
"Hm, apa kau bilang tadi?" Memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Aku membunuh mereka, tidak ada yang aku biarkan mereka hidup."
Petugas itu melihat Zhou Yuan dari bawah sampai atas, jelas lelaki di depannya masih berusia belasan tahun.
"Setelah aku menyelidiki tentang kelompok penyamun itu, aku menaruh misinya ditingkatkan kelas B. Apa kau mengatasi mereka dengan kelompokmu?" Petugas administrasi itu berpikir mustahil Zhou Yuan mengatasi ratusan penyamun seorang diri jadi dia mengira Zhou Yuan mempunyai kelompok.
"Tidak ada, aku mengatasi mereka sendirian."
Petugas itu menggaruk kepala canggung, bingung harus berkata seperti apa. Dia berharap omongan Zhou Yuan adalah candaan namun ekspresi pemuda tersebut cukup serius.
"Ehm, boleh aku tau lencanamu?"
Zhou Yuan mengangguk dan menunjukkan lencananya yang merupakan pahlawan kelas E.
"Sulit mempercayai anda telah menyelesaikan kelompok penyamun itu sendiri tapi aku tidak punya pilihan lain karena kau benar telah menyelesaikan misinya..." Petugas administrasi lalu menaruh sebuah kantong kulit cukup besar di mejanya. "Ini hadiah untukmu."
Zhou Yuan membuka kantong kulit itu yang ternyata jumlahnya berisi ratusan koin emas. "Bayarannya lebih mahal dari yang aku duga."
Petugas administrasi mengangguk lalu menjelaskan bahwa desa yang Zhou Yuan tempati sebelumnya bukan satu-satunya yang di serang penyamun itu. Banyak desa yang melaporkan hal yang sama sehingga harga kelompok penyamun itu jadi semakin tinggi.
"Ngomong-ngomong karena kau telah menyelesaikan misi kelas B, apa kau ingin naik tingkatan ke kelas pahlawan selanjutnya?"
Menaikan peringkat pahlawan seharusnya membutuhkan waktu yang lama tetapi karena Zhou Yuan menyelesaikan misi kelas tinggi yang jauh di atas kelasnya membuat ia bisa naik walau hanya menyelesaikan satu misi.
Zhou Yuan berpikir beberapa saat untuk mempertimbangkan beberapa hal sebelum akhirnya menyetujuinya, petugas administrasi lalu memberikan lencana yang lain dimana pada lencana itu ada tulisan huruf D di depannya.