
Ketika Pedang Kusanagi terlepas dari sarungnya, seketika tenaga dalam Zhou Yuan terhisap ke dalamnya.
Warna hitam pedang itu semakin pekat saat menyerap tenaga dalam Zhou Yuan, bahkan samar-samar ada serbuk kehitaman yang mengelilingi mata pedangnya.
Zhou Yuan menarik nafas sesaat sebelum menggunakan teknik pedang yang dikuasainya.
"Teknik Pedang Petir — Bayangan Halilintar!"
Zhou Yuan bergerak sangat cepat hingga tubuhnya tampak terpecah menjadi lima. Dengan teknik yang sama, lima tubuhnya bergerak bersamaan menyerang Ular Perak itu.
Ular Perak itu terkejut dan hanya bisa menahan salah satu tubuh Zhou Yuan sementara empat serangan lainnya mendarat di kulitnya. Ular itu mendesis keras saat tidak satupun dari kelima tubuh itu merupakan sebuah ilusi.
Meskipun diberkati kulit yang keras seperti besi, nyatanya Pedang Kusanagi dapat menembus sisiknya dengan mudah.
"Hm, ini lebih kuat dari yang aku duga..." Zhou Yuan merasa takjub pada ketajaman pedangnya tetapi sekarang bukan saatnya ia menilai hal tersebut.
Zhou Yuan kembali menyerang ular itu, ia bergerak sangat cepat seperti kilat sambil terus melukai ular tersebut. Dalam waktu singkat, sekujur tubuh Ular Perak sudah dipenuhi luka sayatan pedang.
Ular Perak mendesis kesakitan, ia tak bisa menghindari tebasan Zhou Yuan karena tubuhnya terlalu besar untuk melakukan itu, disisi lain ia tidak bisa menyerang balik lawannya karena Zhou Yuan menyerangnya dengan kecepatan yang amat tinggi.
Merasa nyawanya mulai terancam Ular Perak segera berbalik dan mencoba melarikan diri ke dalam gua namun Zhou Yuan yang menyadarinya tidak membiarkan itu terjadi.
"Kau ingin lari, tidak akan semudah itu-!"
Tidak hanya membiarkan tenaga dalamnya terserap oleh Pedang Kusanagi, Zhou Yuan justru mengalirkan tenaga dalam pada pedang itu.
Seketika warna hitam Pedang Kusanagi semakin pekat bahkan memancarkan aura kegelapan yang sangat kelam.
Dalam sekali ayunan yang kuat, Zhou Yuan menebas tubuh ular itu, tidak hanya melukai tetapi tubuh ular itu seketika terpotong menjadi dua.
Ular Perak mendesis untuk terakhir kalinya sebelum ia tumbang ke tanah, tidak bernafas lagi.
Zhou Yuan membeku sesaat, seolah tidak percaya ketika merasakan kehebatan Pedang Kusanagi, ia sepertinya masih dikategorikan meremehkan kekuatan pedang itu.
Mengalirkan tenaga dalam pada pedang tersebut ternyata jauh membuatnya lebih tajam. Zhou Yuan yakin tidak ada pedang setajam ini di Pusaka Kelas Awan.
"Apa jangan-jangan Pedang Kusanagi sebenarnya adalah pusaka Kelas Kuno?" Zhou Yuan menatap pedang itu, masih terkejut atas hal yang terjadi.
Zhou Yuan belum pernah melihat kualitas pusaka kelas kuno tetapi dikatakan pusaka kelas tersebut mempunyai kekuatan gaib yang bisa merubah tatanan dunia. Yang pasti kekuatan Pedang Kusanagi terlalu kuat untuk dikategorikan sebagai pusaka kelas awan.
Aura kegelapan yang menyelimuti Pedang Kusanagi perlahan menghilang setelah tenaga dalam yang Zhou Yuan alirkan kepadanya terhisap, pedang itu kini kembali berwarna hitam pekat seperti semula.
Zhou Yuan menghela nafas, ada banyak yang ia pikirkan namun bukan saatnya dirinya memikirkan hal tersebut. Zhou Yuan menyarungkan kembali Pedang Kusanagi kedalam sarungnya, ia tidak bisa memegang pedang itu terlalu lama saat tidak menggunakannya pedang itu terus menerus menyerap tenaga dalamnya.
Zhou Yuan mengeluarkan pedang ayahnya kembali lalu kemudian menghampiri jasad ular itu dan membelah tubuhnya, sebuah permata siluman muncul dengan ukuran yang jauh lebih besar dari yang ia dapatkan sebelum-sebelumnya.
"Aku berharap itu dirimu sebab itu aku datang, dan ternyata kau memang ada disini..."
Zhou Yuan mengenalnya karena gadis tersebut adalah Yue Linxia. Gadis itu kemudian mendarat di dekat Zhou Yuan.
"Nona Yue..." Zhou Yuan tersenyum canggung, ia teringat belum mengabari gadis itu kalau dirinya masih hidup setelah dikejar kelompok bertudung sebelumnya. "Maaf aku belum mengabarimu, Aku harus-..."
Linxia menggeleng pelan. "Tidak perlu meminta maaf atau sejenisnya, aku lah yang seharusnya berkata demikian. Yang terpenting sekarang kau baik-baik saja."
Zhou Yuan bisa melihat Linxia merasa lega setelah mengetahui dirinya selamat meski gadis itu tidak mengekspresikannya secara langsung.
"Dan aku..." Linxia melirik Zhou Yuan ragu-ragu. "Aku berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkanku dari mereka."
Zhou Yuan mengerutkan dahi, pipi gadis itu sedikit memerah ketika mengucapakan demikian.
"Ehem, apa kau mengalahkan ular ini?"
Linxia buru-buru mengalihkan topik untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, gadis itu jadi salah tingkah karena Zhou Yuan menatap wajahnya selama beberapa saat.
Zhou Yuan mengangguk sebelum mengalihkan wajahnya dari Linxia "Dia adalah ular yang menjaga tempat ini, ular berjenis Sisik Perak."
"Ular Perak!" Gadis itu terkejut. "Aku tidak tahu ada ular langka di gunung bambu ini."
Linxia nyatanya mengenal ular di depannya, memang seperti yang dikatakan gadis tersebut Ular Perak sangat langka untuk ditemui.
Di dunia persilatan, Ular Perak yang sudah diburu dapat diolah kulit sisiknya yang keras untuk digunakan sebagai baju pelindung. Di pasaran pun mereka memiliki harga jual yang mahal.
"Kau sepertinya masih menyembunyikan kekuatanmu?" Menyaksikan Zhou Yuan sendirian disini menunjukkan bahwa laki-laki itu adalah yang membunuh ular tersebut.
Linxia sudah menduga Zhou Yuan menyembunyikan kemampuannya namun tidak menduga kekuatannya bisa membunuh Ular Perak.
Dalam sekali lihat, Linxia sadar ular itu adalah siluman yang sudah mencapai usia ratusan tahun, kekuatannya bahkan lebih kuat dari babi hutan besi yang pernah mereka temui beberapa hari lalu.
Zhou Yuan tidak menjawabnya, sebenarnya kalau bukan memakai Pedang Kusanagi, ia tidak yakin bisa mengalahkan ular itu.
Karena keduanya telah bersama, Zhou Yuan kemudian memberi tahukan tujuannya untuk menelusuri gua besar di depan mereka.
"Sebenarnya alasan lain aku kesini karena ingin memasuki gua itu, dari petunjuk cahaya yang aku dapat gua ini adalah tempat tumbuhnya Anggrek Bulan..." Linxia menghentikan ucapannya saat melihat jasad ular raksasa itu, mengingat kalau dirinya terlebih dahulu datang mungkin ia harus terlebih dulu melawannya.
Zhou Yuan mengangguk pelan, tidak perlu penjelasan lain karena sepertinya Linxia sudah mengetahui informasinya.
Zhou Yuan dan Linxia kemudian memasuki gua besar tersebut, awalnya Zhou Yuan berpikir gua itu akan gelap jika semakin lama memasukinya namun diluar perkiraan, gua itu justru memiliki pencahayaan tersendiri.
Gua itu dipenuhi kunang-kunang dan jumlahnya semakin banyak ketika masuk lebih dalam, membuat guanya jadi terang.
Kunang-kunang yang ada di gua mengingatkan Zhou Yuan tentang petunjuk mengenai Anggrek Bulan. Semakin banyak cahaya di suatu tempat maka semakin dekat ia dengan Anggrek Bulan.
Sekitar beberapa menit mereka melangkah, akhirnya keduanya berhenti di ujung gua. Tepat yang bersamaan ada cahaya terang yang bersumber dari ujung gua itu.