
Hujan baru mereda setelah dua hari lamanya, Zhou Yuan sudah memulihkan tenaga dalamnya kembali namun ada satu hal yang membuat pemuda itu tidak bisa pergi dari kota ini.
Saat Zhou Yuan berisitirahat di kamarnya, indra pendengarannya yang tajam bisa mendengar obrolan yang terjadi di penginapan itu meski ia tidak berniat mengupingnya.
Zhou Yuan mungkin tidak akan tertarik ke sembarang topik dari obrolan para tamu penginapan namun kali ini ada satu hal yang membuat Zhou Yuan penasaran.
Para pengunjung penginapan di kota ini sedang hangat membincangkan sebuah makam kuno yang baru ditemui beberapa hari lalu.
Makam itu tidak sengaja ditemukan oleh pekerja tambang disekitar kota ini, makam yang gelap dan misterius namun memancarkan aura pembunuh yang kuat di dalamnya.
Seharusnya dengan adanya aura pembunuh itu sudah cukup membuat orang berpikir dua kali untuk tidak memasuki makamnya namun memang sifat dasar manusia, terkadang rasa penasaran jauh lebih menyiksa daripada rasa takut.
"Kau sudah mendengarnya bukan, ada suara raungan di makam itu, aku cukup yakin ada siluman yang berada di sana dan menjaga makamnya." Celetuk salah satu pengunjung yang sedang berbicara dengan temannya.
"Menjaga makam? Kenapa siluman harus menjaga makam, bukankah yang terpenting bagi mereka hanya makan dan memburu."
"Apa kau bodoh, tentu saja artinya makam itu memiliki harta karun didalamnya. Seseorang yang membuat makam itu pasti mengetahui akan ada banyak yang menelusurinya jika makamnya ditemukan, sebab itu mereka menaruh siluman di sana."
Zhou Yuan mendengar percakapan itu dilantai keempat, selama dua hari terakhir telinganya memang tidak lepas mendengar bahasan tentang makam tersebut.
Zhou Yuan jadi penasaran sehingga ketika hujan sudah reda ia segera pergi ke makam yang dimaksud oleh mereka. Dari kota itu sebenarnya tidak terlalu jauh sehingga Zhou Yuan bisa ke sana dengan waktu cepat meskipun berjalan kaki.
"Makam ini terlalu mencolok, pantas saja tempatnya menarik perhatian banyak orang..." Zhou Yuan menggelengkan kepala setelah tiba ditempat makam kuno tersebut.
Makam yang ada di depan Zhou Yuan memang bekas dari pertambangan, pintu makam itu berwarna emas mengkilap dan sedikit terbuka, dalam sekali lihat saja, seseorang justru ingin masuk ke sana selepas melihat pintu makam tersebut.
Meski Zhou Yuan memperhatikan makam itu dari jauh tetapi ia bisa merasakan ada aura pembunuh yang samar-samar dirasakan didalamnya.
"Aura pembunuh ini bahkan lebih pekat dari aura pembunuh pemimpin Gunung Tengkorak, sudah berapa banyak nyawa yang telah diambil oleh mahluk di makam itu..." Zhou Yuan tersenyum tipis, sadar makam kuno itu jauh lebih berbahaya dari dugaannya.
Selain merasakan aura pembunuh Zhou Yuan juga sebenarnya merasakan ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
Seperti yang dikatakan banyak orang, ada kemungkinan seekor siluman mungkin sudah tinggal di sana dan kekuatannya mungkin tidak bisa diremehkan.
Zhou Yuan menatap pintu makam itu sambil menganalisanya, jika dugaannya tidak salah usia makam itu mungkin sudah cukup lama berkisar ratusan atau bahkan seribu tahun.
Selama beberapa hari rumor makam ini terdengar, belum ada seorang pendekar yang berani masuk ke dalam. Mereka yang memiliki kemampuan cenderung lemah lebih memilih menunggu pendekar kuat untuk mencoba melihat makam tersebut terlebih dahulu.
Zhou Yuan tidak bisa gegabah untuk langsung ke makam itu, ia kembali ke kota sebelumnya untuk mengumpulkan informasi terlebih dahulu.
Selamat tiga hari berikutnya Zhou Yuan masih berada di kota itu, awalnya kota yang disinggahi Zhou Yuan terbilang sepi namun karena berita makam kuno itu semakin menyebar luas, akhirnya para pengunjung dari luar kota mulai berdatangan kesini.
Tidak lama setelahnya Zhou Yuan juga mendengar bahwa ada seseorang yang mencoba membuka makam kuno tersebut.
Benar saja, ketika dibuka pintu masuk makam itu seekor beruang yang sudah berubah menjadi siluman muncul di sana, hewan yang memancarkan aura pembunuh sebelumnya adalah berasal dari beruang tersebut.
Siluman beruang itu memiliki ukuran tubuh yang besar dengan bulunya yang dipenuhi percikan petir.
Zhou Yuan juga mendengar ada beberapa dari pendekar yang mencoba peruntungan untuk melawan siluman beruang itu namun berakhir dengan tragis saat melakukannya.
Beruang itu memiliki kekuatan yang setidaknya mencapai pendekar Alam Cahaya, tidak hanya besar, siluman yang sama juga telah mempunyai kecerdasan sampai tahap tertentu.
Zhou Yuan juga sempat mengamati siluman beruang itu, setidaknya dari kekuatan yang dilepaskan beruang petir itu, ia bisa mengimbangi kekuatan seorang pendekar dengan empat meridian yang terbuka.
Zhou Yuan akhirnya kembali ke kota, ia masih berpikir membuat rencana agar bisa masuk ke dalam makam itu tetapi tanpa disadari pendekar yang lain.
'Mungkin aku harus ke serikat pahlawan, siapa tahu ada informasi yang masih kuperlukan...' Zhou Yuan menggaruk kepalanya.
Zhou Yuan akhirnya mengunjungi serikat pahlawan yang ada di sisi barat kota, bangunan serikat di kota itu tampak mencolok karena memiliki bangunan yang megah dan besar dibandingkan bangunan disekelilingnya.
Di pintu masuk ada dua orang yang berjaga, mungkin karena suatu alasan mereka hanya memperbolehkan para serikat saja yang boleh masuk ke dalamnya.
Zhou Yuan akhirnya mendatangi dua penjaga itu lalu memberikan lencana serikat yang menandakan dirinya pahlawan kelas C.
"Anak muda, berapa usiamu?" Tanya salah satu penjaga itu.
Zhou Yuan mengerutkan dahi, "Delapan belas tahun, apakah ada masalah?"
"Sayang sekali kau masih belum cukup umur, pergi dari sini, hari ini serikat pahlawan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang!" Penjaga itu mengusir Zhou Yuan.
Zhou Yuan menghela nafas sebelum mengeluarkan kantong kulit berisi kepingan emas dan memberikan pada dua penjaga itu.
"Sekarang, apa aku boleh memasukinya?"
Dua penjaga itu terkejut dengan nominal yang diberikan Zhou Yuan, mereka sebenarnya diperintahkan untuk tidak sembarang mengijinkan orang lain masuk ke serikat namun setelah melihat koin emas yang diberikan pemuda itu, sulit bagi mereka untuk menolak.
Keduanya saling pandang sebelum mengangguk pelan, mereka yakin atasan mereka tidak akan menyadari kalau Zhou Yuan masuk.
Dua penjaga itu kemudian memperbolehkan Zhou Yuan masuk ke dalam serikat, mereka tampak lebih hormat sesudah disumpal oleh uang.
Saat memasuki serikat, Zhou Yuan mendapati di dalamnya sudah banyak pendekar yang telah berkumpul. Zhou Yuan menaikan alisnya, kini ia menyadari kenapa penjaga itu melarang sembarang orang masuk.
Hampir semua pendekar yang ada disini adalah pendekar Alam Emas ke atas, Zhou Yuan juga melihat ada tiga diantara mereka yang sudah mencapai Alam Kristal dan satu di Alam Cahaya dengan meridian satu yang terbuka.
Kedatangan Zhou Yuan tidak terlalu disadari oleh yang lain karena mereka terlalu sibuk berdiskusi tentang rencana makam kuno, kebanyakan dari mereka membuat kelompok dan berpikir untuk mengalahkan siluman beruang.
Zhou Yuan kemudian duduk di salah meja yang kosong sambil mengamati situasi, para pendekar serikat pahlawan ini nyatanya lebih tertarik untuk membahas makam kuno daripada menjalankan misi.
Saat Zhou Yuan masih mendengarkan, tiba-tiba ada dua orang bertopeng duduk di meja Zhou Yuan.
"Maaf, bolehkah kami duduk disini?" Kata salah satu dari orang bertopeng itu, suaranya terdengar seperti seorang laki-laki.
Zhou Yuan mengangguk, lagi pula tidak ada meja yang kosong saat ini selain mejanya.
"Sepertinya anda sedang mencari informasi tentang makam kuno itu bukan?" Orang bertopeng itu berbicara kembali. "Kami juga, aku dan istriku saat ini sedang berencana menelusuri makam kuno itu, hanya saja masih membutuhkan banyak informasi..."
Dua orang itu akhirnya membuka topengnya, kini Zhou Yuan bisa melihat keduanya, satu seorang pria yang berusia 20 tahun, memiliki mata emas yang indah dan berwajah tampan sementara satu lainnya adalah perempuan yang memiliki paras cantik yang luar biasa.
Pria bermata emas itu tersenyum ramah, "Perkenalkan Pendekar Yuan, namaku Jian Chen, dan gadis di sampingku ini adalah istriku, Niu Meily..."
Kedua orang bertopeng itu akhirnya memperkenalkan namanya.
Zhou Yuan terkejut, ia cukup yakin baru bertemu mereka di kehidupannya namun tidak menduga orang yang disebut Jian Chen ini sudah mengetahui namanya.