
Zhou Yuan menatap jasad siluman beruang itu beberapa saat sebelum menghela nafas panjang, melawan raja siluman selalu pekerjaan yang tidak mudah baginya.
Zhou Yuan mengeluarkan pedang Kusanagi lalu membelah kulit beruang itu, ia mengalirkan tenaga dalam yang sangat besar untuk membedah kulit beruang yang keras tersebut sebelum menarik permata siluman di baliknya.
Karena telah menjadi raja siluman membuat permata di dalamnya cukup besar dan memiliki kepadatan yang tinggi.
Zhou Yuan tersenyum lebar, andai di makam ini tidak ada barang berharga sekalipun permata siluman ini sudah cukup baginya.
Setelah mengurusi jasad beruang itu Zhou Yuan kembali membuat api untuk menerangi sekitarnya, akibat ia bertarung sebelumnya membuat bola-bola api yang dibuatnya jadi padam.
Zhou Yuan kemudian melihat ada sebuah lorong yang menuju ruangan lain, ia berpikir harus masuk ke sana, sebagai seseorang yang pernah ke makam kuno dua kali, Zhou Yuan sadar pasti ada barang berharga di ujung makam.
Zhou Yuan kembali melanjutkan perjalanan menelusuri makam tersebut. Dia sudah bersiaga, khawatir ada siluman lain yang menunggunya di depan.
"Ini..."
Setelah melewati lorong makam yang panjang, Zhou Yuan tidak disambut beruang lagi melainkan sebuah pemandangan ruangan yang dipenuhi batu ametis.
Batu ametis itu memancarkan cahaya keunguan, membuat seisi ruangan makam jadi terang olehnya. Batu ametis itu sepertinya terbentuk secara sendirinya oleh fenomena alam.
"Batu ametis baja?!" Zhou Yuan mengenali jenis batu itu. "Batu seperti ini sangat langka di dunia, menemukannya satu serpihan saja sudah cukup membuat seseorang jadi kaya..." Zhou Yuan tertegun tidak percaya.
Melihat melimpahnya bebatuan ametis yang terbentuk di ruangan itu akan membutuhkan waktu belasan tahun untuk di tambang. Zhou Yuan tidak menduga akan menemukan harta karun yang langka.
Batu ametis baja bukanlah batu perhiasan, ia biasanya akan dibuat sebagai senjata atau baju pelindung bagi pendekar. Kualitas senjata dari batu ametis baja sangat tinggi sehingga memiliki harga yang mahal.
"Aku mungkin menemukan tambang berharga disini tapi aku tidak punya waktu untuk menambang mereka semuanya..." Zhou Yuan menggaruk kepalanya.
Zhou Yuan akhirnya memutuskan untuk melewati tambang batu ametis itu, ada ruangan lain tak jauh darinya yang lebih menarik perhatian.
Sebuah ruangan yang kosong namun cukup luas, ruangan sunyi dan juga gelap. Di sana ada batu besar yang terbentuk tinggi, yang menarik perhatian, ada sebuah pedang yang tertancap di atasnya.
Zhou Yuan tidak langsung melirik pada pedang itu melainkan ada sebuah tulisan di batunya.
'Jika kau membaca tulisan di batu ini berarti takdir telah memperbolehkan seseorang menemukan makamnya. Pedang yang tertancap di atas adalah pedang bernama Ingrid, dia adalah pedang yang hidup dan mempunyai nyawa sendiri...
'Aku telah menaruh raja siluman untuk menjaga pedang Ingrid agar tidak ada orang sembarangan yang bisa mendapatkannya. Hanya mereka yang ditakdirkan yang layak menggunakan pedang itu.
'Tetesilah darah pada Pedang Ingrid maka dia akan menjadikanmu sebagai majikannya. Pedang itu mungkin cerewet, tapi dia adalah pedang yang penurut...'
Zhou Yuan mengerutkan alis membaca tulisan batu tersebut, di beberapa bagian ia tidak memahaminya terutama di kalimat terakhir, ia tidak mengerti maksud pedang yang cerewet.
Disisi lain Zhou Yuan memahami bagaimana pedang di batu itu sangat berharga sehingga harus di jaga raja siluman.
Untuk mengalahkan beruang tadi sebenarnya sangat sulit, butuh enam orang pendekar Alam Cahaya dengan 5 meridian yang terbuka agar bisa melumpuhkannya.
Zhou Yuan mulai melayang di udara lalu mendekati pedang Ingrid yang tertancap di batu, setelah melihatnya lebih dekat, Zhou Yuan baru menyadari kalau pedang itu tampak indah dengan warna mata pedangnya yang kehijauan menyala.
Sesuai yang dituliskan di batu tersebut, Zhou Yuan mengigit ibu jarinya hingga berdarah lalu meneteskannya ke arah pedang itu.
Pedang Ingrid tak lama kemudian bergetar hebat usai darah mengenai permukaan pedangnya, di waktu yang sama ia juga mulai bersinar kehijauan.
Zhou Yuan mengambil jarak melihat reaksi pedang Ingrid, ia tidak yakin tapi mendadak firasatnya terasa ganjil.
Benar saja, getaran pedang Ingrid tidak lama kemudian berhenti sebelum tiba-tiba ia melayang di udara, terlepas dari batu yang menahannya.
Zhou Yuan membelalakkan matanya sekaligus siaga untuk bertarung, pedang kehijauan itu mulai terbang ke segala arah, berbelok, meliuk, berputar, seperti pedang yang hidup.
Zhou Yuan belum pernah melihat pedang bergerak sendiri seperti itu apalagi dia melayang di udara.
Setelah bergerak kesana-kemari selama lima menit pedang itu akhirnya mulai mendekat ke arah Zhou Yuan secara perlahan, hal itu membuat pemuda tersebut menjadi waspada dan siap menarik pedangnya.
Tepat satu meter di depan Zhou Yuan, pedang Ingrid tiba-tiba berhenti di hadapannya.
"Hei, jadi kau yang membuatku terbebas, heh?!"
Zhou Yuan terkejut saat ada suara perempuan berada di dekatnya, ia menoleh tapi tidak menemukan siapapun.
"Kau lihat apa, ini aku, pedang yang kau pegang." Suara perempuan itu kembali terdengar.
Zhou Yuan menoleh ke pedang Ingrid, tidak lama kemudian seorang gadis muncul di pedang itu dan melayang di depan wajahnya. Gadis itu memiliki ukuran tubuh yang kecil, seukuran kupu-kupu, ada sepasang sayap di punggungnya dan dia memiliki wajah yang imut serta manis.
"Siluman kupu-kupu!"
Zhou Yuan terkejut setengah mati, tanpa basa-basi ia langsung melemparkan pedang Ingrid ke sembarang arah.
Ketika pedang Ingrid terlepas gadis kecil itu langsung menghilang dari pandangannya, Zhou Yuan menenangkan nafasnya, kemunculan gadis itu membuat detak jantungnya berhenti sesaat.
Beberapa saat kemudian pedang Ingrid yang tergeletak kemudian melayang lagi dan mendekati Zhou Yuan kembali.
Zhou Yuan sadar pedang itu menunggu untuk di genggam olehnya, pemuda itu memantapkan hatinya, meski ragu-ragu pada akhirnya ia memegang pedang Ingrid kembali.
"Dasar tidak sopan, beraninya kau melemparkanku seperti itu-!" Gadis kecil itu muncul kembali dan langsung menghardik tepat di dekat wajah Zhou Yuan. "Tidak berperasaan, tidak punya etika, biadab! Apa kau tidak pernah belajar sopan santun!?"
Zhou Yuan menelan ludah, meski ia lebih siap melihat gadis itu lagi namun tetap tertegun saat mendengar ucapannya yang kasar.
Zhou Yuan memandang gadis itu lebih lama, meski ia mengumpat padanya berulang-ulang kali namun karena suaranya yang terdengar imut membuat ia tidak terkesan dimarahi.
"Hei, apa kau mendengarku atau tidak, dasar tidak sopan-!" Gadis itu masih memarahi Zhou Yuan.
Zhou Yuan batuk pelan, sadar telah melakukan kesalahan pada gadis itu. "Maaf, aku tidak tahu kau ada di pedang ini, aku tidak sengaja..."
"Hmph!" Gadis kecil itu meletakan kedua tangan di pinggangnya, mendengus kesal. "Bisa-bisanya gadis cantik sepertiku di panggil siluman, memang kau pikir ada siluman kupu-kupu?!"
Zhou Yuan tersenyum canggung, "Maaf..."
Kemarahan gadis kecil itu untungnya tidak berangsur lama, ia menghela nafas panjang sebelum melipat tangannya di dada, menatap Zhou Yuan.
"Jadi kau yang meneteskan darah untukku?" Nada gadis kecil itu kini terdengar lebih bersahabat.
Zhou Yuan mengangguk untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Kemampuanmu sangat rendah tetapi untuk ukuran di dunia ini pasti kekuatanmu tidak buruk." Gadis kecil itu menatap Zhou Yuan dari bawah sampai atas. "Untuk terkurung selama ratusan tahun, sepertinya aku tidak bisa banyak memilih mendapatkan seseorang yang kuat..."
Zhou Yuan tidak yakin tapi gadis itu seperti kecewa melihat dirinya.
"Karena kau telah membebaskanku berarti selamat mulai hari ini kau akan jadi budakku..." Gadis itu membusungkan dadanya dengan bangga, seolah perkataannya seperti sedang memberikan perhargaan pada Zhou Yuan.
Zhou Yuan memiringkan kepalanya. "Bukankah seharusnya sebaliknya, aku yang kini jadi majikanmu."
"Dari mana kau mendengar omong kosong itu?"
"Dari tulisan batunya, ditulisnya begitu..." Zhou Yuan menunjukkan batu besar tempat pedang Ingrid hinggap sebelumnya.
Gadis kecil itu menoleh dan mendekati tulisan batu tersebut, membacanya. Sesaat kemudian ia menghampiri Zhou Yuan kembali dengan raut wajah yang sedikit kusut.
Gadis kecil itu batuk pelan. "Tulisan dalam batu itu salah, kau yang akan menjadi budakku, bukan sebaliknya."
Zhou menyipitkan mata. "Kau mencoba berbohong."
"Aku tidak berbohong, siapa yang kau bohongi..." Gadis itu terlihat kesal, namun pandangannya langsung berpaling dari tatapan Zhou Yuan.
Zhou Yuan menggeleng pelan, satu hal yang ia ketahui dari gadis kecil itu bahwa dia seorang pembohong dan dia tidak pandai berbohong.