Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 225 — Menelusuri Makam II


Dugaan Zhou Yuan benar, mata dari patung prajurit itu tak lama kemudian mulai bersinar merah diikuti tubuh mereka yang bergerak seperti manusia yang hidup pada umumnya.


"Pendekar Yuan, berhati-hatilah, kekuatan mereka lebih tinggi dari pasukan tengkorak itu!" Jian Chen mengingatkan.


Zhou Yuan juga merasakan demikian, meski jumlah patung prajurit itu berjumlah puluhan patung namun mereka memancarkan aura kuat ditubuhnya.


Patung-patung itu mulai melangkahkan kaki dan berjalan mendekati Zhou Yuan dan Jian Chen, ketika beberapa meter lagi patung prajurit mulai mengayunkan senjatanya.


"Kekuatan mereka setidaknya menyamai pendekar yang berada dipuncak alam kristal..." Zhou Yuan menganalisa kekuatan patung prajurit tersebut dari serangan itu.


Zhou Yuan dan Jian Chen kemudian memisahkan diri, hampir ada delapan puluh patung di ruangan itu dan mereka mempunyai kekuatan yang sama.


Ketika keduanya saling memisahkan diri, prajurit patung itu secara serempak terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama melawan Zhou Yuan sementara kelompok kedua melawan Jian Chen dengan masing-masing melawan 40 patung prajurit.


Zhou Yuan segera mengambil serangan, biarpun lawannya patung tetapi mereka memiliki tetap memiliki kelincahan serta memahami ilmu beladiri untuk menghindar, menangkis, dan menyerang.


Empat puluh patung itu menyerang Zhou Yuan bersamaan dengan cara mengepungnya dari berbagai arah. Zhou Yuan sebenarnya berdecak kagum, tidak hanya punya keahlian beladiri ternyata mereka juga mempunyai kecerdasan.


Zhou Yuan tidak membiarkan mereka bertindak sesukanya, dia menggunakan teknik pedang air yang memiliki gerakan lentur untuk menekan balik lawan-lawannya.


Patung itu tidak bisa merasakan sakit meski Zhou Yuan menggores tubuhnya, Zhou Yuan kemudian beralih menyerang bagian vital seperti leher dan kepala.


Dengan tenaga dalam yang dialirkan, Zhou Yuan memotong salah satu kepala patung itu. Hal tersebut berhasil hingga patung itu tidak lagi bergerak usai kepalanya terpisah dari tempatnya.


Zhou Yuan tidak menunggu lebih lama sesudah mengetahui kelemahannya, dia kembali memberikan tebasan yang lain dan menghancurkan patung-patung yang tersisa, membutuhkan waktu satu jam lebih hingga ia bisa menghabisi 40 patung itu.


Di saat Zhou Yuan menyelesaikan empat puluh prajurit patung yang mengepungnya, diwaktu yang sama Jian Chen juga telah menghabisi 40 patung yang tersisa.


Ketika semua patung telah dihancurkan, dinding ruangan kembali terbuka yang menunjukkan lorong selanjutnya. Zhou Yuan dan Jian Chen kemudian kembali memasuki makam itu lebih dalam.


Sama dengan yang pertama, dilorong makam akan ada jebakan yang lain dan kali ini jauh lebih mematikan, untungnya bagi kemampuan Zhou Yuan dan Jian Chen hal itu bisa dilewatinya tanpa harus usaha yang berarti.


Di ruangan selanjutnya, ruangan ketiga tidak berbeda jauh dengan ruangan kedua yang berisi patung namun yang membedakan jumlah patung di ruangan ini jadi lebih sedikit, tepatnya ada 10 patung prajurit.


Mata patung itu kembali bersinar dan mulai hidup kembali, Zhou Yuan merasakan aura yang terpancar dari patung ini jauh lebih kuat dari 80 patung sebelumnya.


Zhou Yuan dan Jian Chen kembali memisahkan diri untuk melawan lima patung prajurit dari setiap bagian mereka.


Zhou Yuan menjadi orang yang pertama untuk menyerang, dia mengayunkan pedangnya namun sesaat tidak menduga patung ia bisa menghindari ayunan serangannya.


Mata Zhou Yuan menyipit, melihat dari kelincahan prajurit patung itu Zhou Yuan menebak kekuatan mereka berada di alam cahaya dengan 2 meridian yang terbuka.


Zhou Yuan menarik nafas dingin, dia tidak menduga menelusuri makam kuno akan menemukan mahluk sekuat ini.


"Gelombang Ombak!"


Zhou Yuan menggunakan teknik pedangnya, ayunannya meningkat lebih kuat serta dilapisi tenaga dalam yang besar, dalam sekali jurus, Zhou Yuan memotong tubuh prajurit patung itu menjadi dua.


Zhou Yuan mengatur nafasnya, ia tidak menduga akan sebegitu melelahkannya melawan prajurit itu. Zhou Yuan berisitirahat sejenak sebelum mulai melanjutkan menelusuri makam.


Dinding kembali terbuka sesudah keduanya menghabisi sepuluh patung prajurit, jebakan di lorong makam semakin banyak dan lebih mematikan dari sebelumnya.


Zhou Yuan harus menggunakan teknik sisik naganya setiap detik untuk melindungi tubuhnya karena tidak yakin bisa menghindari semua jebakan itu.


Berbeda dengan Zhou Yuan memiliki kesulitan tersendiri, disisi lain Jian Chen justru tampak tidak terlalu kerepotan dengan jebakan makam-makam itu.


Berkat pengalaman serta kemampuannya yang tinggi dia mampu mengatasi setiap rintangan yang datang dengan mudah.


Keduanya terus memasuki makam lebih dalam, semakin dalam keduanya menelusuri makam tersebut semakin tinggi juga baik rintangan atau halangannya.


Zhou Yuan mengatur nafasnya yang tidak teratur, setelah lebih dari dua belas jam dia menelusuri makam, tenaga dalamnya sudah terkuras cukup banyak.


"Pendekar Yuan, kalau anda mau kita bisa beristirahat terlebih dahulu disini..." Jian Chen menyadari situasi Zhou Yuan jadi menghentikan menelusuri makamnya.


Jian Chen tampak tidak kelelahan meski keduanya menulusuri makam secara bersamaan, nafas pemuda itu masih teratur.


Zhou Yuan mengangguk, ia memilih tempat untuk berisitirahat untuk memulihkan tenaga dalamnya kembali. Dengan permata suliman yang dimiliki ia dapat mempercepat pemulihan tenaga dalam tersebut.


"Pendekar Jian, katamu kau berada di Benua Daratan Timur, bagaimana anda tiba kesini? Bukankah samudera antar benua sangat luas?" Di saat berisitirahat Zhou Yuan bertanya dan mencoba lebih akrab dengan Jian Chen.


"Aku menggunakan sebuah kendaraan khusus agar bisa kesini, bukan kapal tapi sebuah kendaraan kereta kuda yang bisa melayang di udara."


Zhou Yuan mengerutkan dahi, tampak tidak memahami maksud kereta kuda yang bisa melayang tersebut.


"Pendekar Yuan, kulihat kau dan aku mempunyai kesamaan, mungkin suatu hari kau bisa pergi ke benua berbeda yang lebih luas, misalnya Benua Daratan Tengah."


Zhou Yuan menahan nafas, ia pernah mendengar Benua Daratan Tengah dari gurunya, menurut sepengetahuannya benua itu memiliki luas wilayah yang lebih besar dari Benua Daratan Utara dengan beladiri mereka lebih maju.


"Pendekar Jian, apa anda juga pernah ke Benua Daratan Tengah?" Zhou Yuan menyipitkan matanya, ia yakin pemuda dihadapannya telah berkunjung ke banyak tempat di dunia ini.


Pemuda itu mengangguk, "Sepenjang hidupku aku belum pernah melihat sebuah tempat yang lebih banyak kejahatan dibandingkan di sana, kehidupan benua timur dan benua utara terasa lebih damai dibandingkan Benua Daratan Tengah yang seperti hukum rimba."


Jian Chen menghela nafas sebelum memaksakan untuk tersenyum, "Meski demikian bagi mereka yang memiliki kekuatan yang tinggi mereka bisa bergerak bebas dimana saja tanpa khawatir dengan bahaya. Dengan kekuatan, anda bisa mendapatkan apa yang anda inginkan..."


Zhou Yuan setuju dengan ucapan Jian Chen, dengan kekuatan, seseorang bisa mendapatkan yang lain seperti uang, tahta, atau kekuasaan.


Kekuatan yang tinggi mampu dapat melindungi diri dengan baik dan yang paling penting dengan kekuatan, seseorang tidak akan tertindas.


Setelah lebih dari dua jam Zhou Yuan beristirahat, ia berhasil memulihkan sebagian besar tenaga dalamnya kembali. Zhou Yuan juga sebenarnya tidak enak hati membuat Jian Chen terus menunggunya.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk memasuki makam lebih dalam, di ruangan yang kesekian kalinya, Zhou Yuan dan Jian Chen kali ini dikejutkan dengan siluman yang luar biasa besar seukuran bukit.


Seekor siluman Laba-laba yang usianya sudah ribuan tahun telah menunggu kedatangan keduanya, belum mereka beraksi siluman laba-laba itu sudah melepaskan aura pembunuh yang pekat.