
Xie Jin semakin kewalahan menghadapi bayangan Linxia, semakin banyak ia menghancurkan bayangan gadis itu maka semakin banyak pula bayangan Linxia yang bermunculan.
Xie Jin tidak mengerti bagaimana cara kerja ilusi yang dibuat Linxia hingga bisa seperti itu.
Kini dihadapan Xie Jin, tubuh Linxia telah pecah menjadi 20 orang, Xie Jin yang telah terpojok serta tubuhnya mengalami beberapa luka akhirnya memilih menyerah.
Sesudah Xie Jin mengatakan menyerah, ilusi Linxia mulai hilang dan tersisa adalah tubuh Linxia yang asli.
"Bagaimana, bagaimana kau melakukan itu?" Xie Jin berkata lemas, ia penasaran cara Linxia membuat ilusi bayangan yang tidak bisa dihancurkan itu.
"Itu tidak lebih dari ilusi biasa yang mengunci indra seseorang, ketika kau mendengar suara dengung saat pedang kita berbenturan tadi, disitulah kau telah terkena ilusi yang aku buat." Linxia menjawabnya sambil tersenyum tipis.
"Ilusi suara..."
Xie Jin akhirnya mengerti cara ilusi gadis itu, ia pernah mendengar bahwa suara juga dapat membuat seseorang terkena ilusi namun Xie Jin tidak menduga bahwa perantaranya ketika pedang keduanya berbenturan.
Harus Xie Jin akui teknik pedang Linxia adalah teknik pedang yang baru ia temui di dunia persilatan.
Xiong Bian mengumumkan kemenangan Linxia sekaligus memanggil peserta selanjutnya yang akan menjadi lawan gadis itu.
Sama seperti Zhou Yuan, Linxia harus melawan ketiga lawannya untuk lolos ke Babak Utama, kebanyakan dari peserta yang melawan gadis itu semuanya adalah orang berbakat seperti Xie Jin namun dengan mudah, Linxia dapat mengalahkan mereka.
"Pertandingan selanjutnya, peserta bernama Liu Yuwen dan peserta Gong Yun segera ke atas arena..."
Ketika nama Liu Yuwen disebutkan, para murid akademi khususnya para gadis mulai menjerit pada pemuda tersebut. Para penonton seketika menjadi riuh karena peserta yang didamba-dambakan akhirnya bertanding juga.
Zhou Yuan mengerut dahi melihat reaksi penonton tersebut lalu melirik orang yang dinamai Liu Yuwen itu, ia tersenyum tipis saat mengetahui alasan dibaliknya.
Liu Yuwen adalah seorang pemuda yang berusia 18 tahunan, dia mempunyai perawakan gagah, tenang, serta berkharisma.
Tentu yang membuat para wanita menjerit bukan karena sebab tersebut melainkan karena wajah Liu Yuwen yang sangat tampan.
Liu Yuwen melambaikan tangan kepada para penggemarnya khususnya para gadis, membuat mereka menjerit kegirangan.
Pandangan Zhou Yuan jatuh ke arah Yifei disampingnya, ia ingin melihat reaksi gadis itu. Tidak sesuai dengan dugaan Zhou Yuan Yifei tidak terlalu peduli setelah melihat ketampanan Yuwen.
"Ada apa?" Yifei mengangkat satu alisnya saat pandangan ia dan Zhou Yuan bertemu.
"Ehem, tidak ada, aku hanya berpikir kau tidak seperti mereka..." Zhou Yuan menunjuk ke arah para gadis yang tergila-gila pada Liu Yuwen.
"Hmph, aku tahu dia tampan tetapi dia bukan tipeku..." Yifei memutar matanya dengan malas.
Zhou Yuan tersenyum tipis, menggaruk kepalanya, memilih tidak melanjutkan percakapan.
Liu Yuwen sudah masuk ke arena pertandingan lalu tak lama kemudian lawannya datang, seorang peserta dengan memakai golok sebagai senjata utamanya.
Liu Yuwen sendiri adalah pendekar pedang, terlihat dari senjatanya yang tersarung di pinggangnya.
"Sebuah kehormatan bisa melawanmu Saudara Liu..." Peserta golok itu memberikan hormatnya.
Selain Liu Yuwen adalah murid jenius di akademi, dia juga mempunyai latar belakang yang besar yaitu merupakan putra dari Kaisar Matahari.
"Tidak perlu sungkan, kita sama-sama peserta jadi tidak perlu formal seperti itu, anggap saja kita berada di status yang setara..." Liu Yuwen memberikan hormat juga, tersenyum dengan ramah.
Perasaan peserta itu merasa menjadi baik, ia sebenarnya sedikit sungkan karena harus melawan seseorang yang memiliki latar belakang tinggi. Melihat senyum ramahnya, peserta golok itu tidak akan ragu lagi untuk menyerang Liu Yuwen.
"Hm, pemuda itu ramah juga..." Zhou Yuan mengelus dagunya, memuji sikap Yuwen yang rendah hati.
Peluit dari Xiong Bian kemudian dibunyikan, peserta yang memakai golok itu menarik senjatanya dan mulai menyerang Liu Yuwen.
Liu Yuwen terlihat tenang sambil menghindari ayunan golok lawannya, ketika sudah menghindari beberapa serangan dia akhirnya mulai menyerang balik dengan ilmu tangan kosongnya.
Serangan Liu Yuwen sangat kuat, tubuhnya yang terlatih membuat pukulan dan tendangannya sangat mematikan. Dalam beberapa detik saja peserta yang menjadi lawan Yuwen mulai terpojok.
Liu Yuwen memutar tubuhnya dan menendang golok yang di pegang peserta itu hingga membuatnya terlepas ke udara.
Peserta tersebut mengangkat tangannya ke atas dan langsung menyerah ketika goloknya jatuh ke lantai.
Liu Yuwen tersenyum dan memberikan hormatnya pada peserta itu. "Terimakasih karena telah mengalah dan membiarkanku menang."
Peserta itu tersenyum pahit, entah harus senang atau sedih melihat rendah hati Yuwen. Dilihat sekali saja seseorang bisa melihat jelas kalau Liu Yuwen memang sangat kuat.
Liu Yuwen seketika menjadi pemenang, semua penonton yang melihat menyadari ada perbedaan jarak antara Yuwen dan lawannya meski saat ini pemuda itu tidak menggunakan seluruh kekuatan penuhnya.
"Kurasa putramu yang akan jadi juara di turnamen ini, Saudara Liu?" Guan Ning melirik ke Kaisar Matahari, Liu Zhangyang.
"Aku percaya diri dengan kemampuan putraku, menang atau tidak dia memang sudah berbakat." Liu Zhangyang tidak merespon lebih jauh sementara Guan Ning hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya.
Pertandingan selanjutnya peserta lain datang untuk melawan Liu Yuwen, tidak berbeda jauh dengan pertandingan pertama, Yuwen dapat mengalahkan musuhnya dengan mudah begitu juga dengan pertandingan ketiga.
Xiong Bian menggaruk kepala, entah karena lawan yang dihadapi Yuwen memang mudah dikalahkan atau karena pemuda itu yang sangat berbakat, semua pertandingan Yuwen hanya berlangsung tidak kurang dari dua menit.
Xiao Bian kemudian menyatakan Yuwen telah lolos dan bisa mengikuti babak selanjutnya.
"Liu Yuwen ini sangat berbakat, dia bahkan tidak menggunakan pedangnya saat bertanding." Zhou Yuan menggeleng pelan lalu melirik Yifei. "Fei'er, kau harus berhati-hati jika melawan pemuda ini..."
Yifei tersenyum tipis, sebenarnya ia percaya diri pada kemampuan teknik api biru miliknya dan yakin bisa mengalahkan lawannya asalkan di pertandingan selanjutnya itu ia tidak bertemu dengan Zhou Yuan.
Jika ia bertemu dengan pemuda tersebut, kemungkinan besar dirinya akan kalah dalam tiga kali jurus.
Usai pertandingan Liu Yuwen selesai, kini pertandingan berikutnya diisi oleh seorang gadis berambut merah, Xiao Rou.
Jika Yuwen sangat terkenal dikalangan para gadis di akademi serta banyak penggemarnya maka Xiao Rou berkebalikan darinya.
Banyak murid laki-laki langsung bersemangat sesudah Xiao Rou di arena, gadis yang selalu berekspresi datar itu hanya menoleh ke arah Zhou Yuan sebelum tersenyum.
"Hei, apa kau lihat tadi, Nona Xiao bisa tersenyum dan senyumannya itu diarahkan kepadaku!?"
"Apa kau gila, dia tadi menoleh ke arahku bukan kepadamu, tentu saja dia tersenyum kepadaku!"
"Kau sudah rabun ya? Jelas-jelas dia menatapku, aku lebih tampan dibandingkan kalian."
Zhou Yuan hampir menepuk jidat melihat kelakuan murid laki-laki didepannya yang memperebutkan sesuatu yang bodoh sementara Yifei tak kuasa untuk tertawa. Keduanya kini menyadari begitu populernya Xiao Rou di akademi ini.
Lawan Xiao Rou adalah seorang laki-laki bermana Ling Yan, Zhou Yuan mendengar bahwa Ling Yan ini adalah seorang pendekar yang menitik beratkan kemampuannya pada perubahan jenis air.
Tanpa menunggu lama setelah peluit dibunyikan, Ling Yan mengayunkan tangannya seketika tetesan air mulai tercipta di udara kosong sebelum berubah bentuk menjadi seekor ular.
Bukan hanya satu yang dibuat, Ling Yan menciptakan empat ular dengan elemen airnya sekaligus.
Xiao Rou tampak tenang melihat ular yang terbuat dari air tersebut, gadis itu mencabut pedang dan bersiap menghadapi lawannya.
Ketika Ling Yan mengayunkan tangannya sekali lagi, empat ular itu segera bergerak dan menyerang Xiao Rou.
Xiao Rou tidak tinggal diam dan mulai menghindari ular-ular air itu sambil sesekali memberikan tebasan pada ularnya yang membuat mereka jadi terbagi dua.