
Zhou Yuan membuka matanya perlahan saat sebuah cahaya menyoroti wajahnya dengan lembut. Ketika pandangannya sudah jelas ia menemukan bahwa cahaya itu berasal dari matahari pagi yang hangat.
Zhou Yuan kemudian melihat sekitar dan menemukan dirinya sedang berada di suatu ruangan. Zhou Yuan tengah berbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang terselimuti kain tebal.
"Dimana ini..." Zhou Yuan memegang kepalanya yang terasa sakit sambil mencoba mengubah posisinya menjadi duduk.
Saat mengubah posisi, Zhou Yuan menemukan ada seseorang selain dirinya di ruangan itu. Orang tersebut sepertinya tengah tertidur sambil duduk dengan posisi kepalanya di atas tempat tidur Zhou Yuan.
Awalnya Zhou Yuan sempat tidak menyadarinya namun setelah diperhatikan lebih lama ia sepertinya mengenali orang itu.
Dengan rambut hitam panjang sampai sepinggang dan tubuh ramping, orang itu adalah seorang perempuan terutama pakaian yang dipakainya merupakan gaun putih yang anggun.
"Xia'er..." Gumam Zhou Yuan pelan.
Meski suara Zhou Yuan pelan namun gumaman tersebut cukup membuat orang itu terbangun, ia mengangkat kepalanya dan kemudian terlihatlah parasnya yang ternyata memang Linxia.
Linxia mengerjapkan mata bangun tidurnya beberapa kali sebelum kemudian memandang Zhou Yuan dari bawah ke atas. Satu detik kemudian ia mengubah ekspresinya menjadi keterkejutan bercampur rasa bahagia ketika menyadari Zhou Yuan sudah bangun.
"Saudara Yuan..." Linxia langsung memeluk Zhou Yuan dengan erat. "Aku tau kau akan terbangun, aku sangat merindukanmu!"
Zhou Yuan tersenyum lalu mengelus bagian belakang rambut Linxia dengan lembut, ia melihat bagaimana kekhawatiran gadisnya itu. Zhou Yuan membiarkan Linxia memeluknya begitu lama.
"Xia'er, apa sekarang kita sudah di alam lain?" Setelah Linxia melepaskan pelukannya, Zhou Yuan kemudian bertanya pada gadis itu.
Linxia tampak kebingungan dengan pertanyaan Zhou Yuan sebelum menjawabnya dengan gelengan kepala.
Zhou Yuan menggaruk kepalanya, ia yakin saat ini sudah mati. "Mungkinkah tempat ini adalah surga?" Tanyanya sekali lagi.
Linxia kali ini meresponnya dengan tertawa kecil, "Saudara Yuan, apa anda berpikir kita telah mati?"
"Bukankah seharusnya memang demikian?" Zhou Yuan mengangkat alisnya.
Linxia menggeleng. "Kita tidak mati, kita masih hidup. Sepertinya kita telah selamat dari serangan bola cahaya itu."
Linxia kemudian menjelaskan bahwa ada seseorang yang menyelamatkan mereka dan telah merawat keempatnya saat tidak sadarkan diri.
"Aku juga baru terbangun dua bulan yang lalu, aku merasa senang karena ternyata kita masih hidup." Linxia menjawabnya dengan penuh kelegaan.
"Tunggu dulu..." Zhou Yuan masih tidak mengerti situasinya. "Kita hidup, bukankah seharusnya..."
Zhou Yuan masih teringat dengan bola cahaya Xie Bui yang menembak cepat ke arah mereka berempat, pandangan Zhou Yuan menjadi gelap ketika bola cahaya itu sudah didekatnya.
Linxia mengatakan ia juga tidak mengerti situasinya lebih jelas, saat ketika tersadar pertama kali, dirinya menemukan sudah berbaring ditempat tidur seperti Zhou Yuan sekarang.
Seseorang yang menyelamatkannya mengatakan bahwa ia sudah tak sadarkan diri selama tiga hari.
"Tiga hari? Bukankah kau mengatakan itu sudah dua bulan yang lalu?"
Linxia mengangguk lalu menjelaskan kalau Zhou Yuan sudah tak sadarkan diri selama dua bulan lebih hal tersebutlah yang membuat Linxia khawatir dan menunggunya begitu lama. Linxia merasa senang karena Zhou Yuan terbangun pagi ini.
Zhou Yuan teringat bahwa ia mengalami luka yang parah sesaat sebelum diserang Xie Bui tetapi kini ia merasakan tubuhnya sudah pulih kembali meski dirinya terasa begitu lemas.
Ini menunjukkan kalau orang yang menyelamatkannya telah merawat dirinya dengan baik, Zhou Yuan ingin berterimakasih sebesar-besarnya pada orang itu andai jika bertemu dengannya.
"Xia'er, apa yang lain juga baik-baik saja?"
Linxia mengangguk, dia mengerti yang dimaksud Zhou Yuan adalah Yifei dan Xiao Rou.
"Mereka baik-baik saja hanya belum terbangun seperti dirimu, menurut Nona Yun kondisi keduanya sudah membaik dan akan sadar tidak lama lagi."
Zhou Yuan bernafas lega dan ikut senang dengan kondisi Yifei dan Xiao Rou, Zhou Yuan mengelus pipi Linxia lembut, sepertinya gadis itu adalah yang pertama kali sadar diantara mereka, Zhou Yuan melihat Linxia begitu mengkhawatirkan dirinya saat ia sedang tak sadarkan diri.
"Maaf karena membuatmu khawatir seperti ini..." Zhou Yuan merasa bersalah. "Kau tampak lebih kurus dari sebelumnya."
Meski tetap terlihat cantik namun kondisi Linxia sedikit tidak terlalu baik, tubuhnya tampak lebih kurus dari seingatnya.
Hal itu memang benar karena saat Zhou Yuan dan lainnya tak sadarkan diri, Linxia jarang makan kecuali karena terpaksa. Dia tidak cukup berselera untuk makan karena pikiran-pikirannya dipenuhi kecemasan memikirkan kondisi Zhou Yuan yang tak kunjung bangun.
Wajah Linxia menjadi merah ketika Zhou Yuan menyinggung hal tersebut, ia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena tidak mau Zhou Yuan melihat kondisinya dalam seperti ini.
Keduanya membicarakan topik yang lain tetapi sepuluh menit kemudian ada seorang gadis yang masuk ke dalam ruangan Zhou Yuan.
"Nona Yun..." Linxia segera beranjak dan memberi hormat pada gadis itu.
Gadis itu mengangguk pelan pada Linxia sebelum menoleh ke arah Zhou Yuan, "Sepertinya anda sudah tersadar, aku merasa senang kau baik-baik saja." Gadis itu menyapa Zhou Yuan dengan ramah.
"Terimakasih karena telah menolong dan merawatku..." Zhou Yuan memberi hormat pada gadis itu dengan menundukkan kepalanya.
Gadis yang disebut Linxia itu nyatanya adalah seorang perempuan muda yang usianya terlihat belasan tahun bahkan hampir sama dengan umur Zhou Yuan. Gadis itu bernama Yun Bailian menurut cerita dari Linxia.
Yun Bailian memiliki paras yang tak kalah cantik dengan Yifei, berkulit putih, tubuhnya begitu ramping dengan rambut pendek sampai sebahu.
Zhou Yuan bisa merasakan gadis itu memancarkan aura kharismatik yang membuat siapapun memandangnya akan merasa hormat padanya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Nenekku menemukan kalian sudah terbaring dihalaman rumah dengan kondisi terluka..." Bailian mengangguk pelan.
Yun Bailian menjelaskan Zhou Yuan dan lainnya muncul ketika sebuah portal terbentuk di halaman rumahnya. Portal itu mengeluarkan mereka berempat yang sudah pingsan ketika muncul.
Zhou Yuan terkejut ketika Bailian menyinggung portal, ia semakin tidak memahami dengan yang terjadi karena seharusnya mereka berempat saat ini masih di akademi.
"Menurut Nenek, kalian sepertinya terbawa oleh portal yang tidak stabil dan muncul secara acak di halaman rumahku. Aku juga menemukan cermin ini..." Bailian menunjukkan sebuah cermin yang kini sudah retak lalu memberikannya pada Zhou Yuan.
Zhou Yuan menerima cermin itu, tidak salah lagi kalau cermin yang diberikan Yun Bailian adalah cerminan portal miliknya yang ia beli dari pelelangan.
Sesaat Zhou Yuan jadi teringat detik-detik sebelum ia terkena energi cahaya Xie Bui, cermin portalnya terjatuh dan mengalami keretakan. Ingatan Zhou Yuan menjadi segar kembali ketika mengingat sebuah portal muncul sedetik sebelum energi bola cahaya Xie Bui mengenainya.