Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 179 — Akhir Pertempuran


Semua perhatian segera tertuju ke atas langit, baik pihak petugas akademi maupun pasukan ras manusia binatang terkejut melihat seekor burung api terbang di udara.


Douma dengan kecepatan terbang yang tinggi dapat dengan mudah melenyapkan lawan-lawannya dalam sekali semburan api, hampir separuh manusia elang yang ada di atas langit sudah hilang dan berubah menjadi debu.


"Bukankah itu Burung Phoenix, bagaimana dia ada disini?"


"Tidak mungkin, seharusnya mahluk lagenda itu tidak nyata, aku tidak percaya dia adalah Burung Phoenix sungguhan?"


Pertempuran dalam sekejap langsung terhenti, semua pandangan tertuju ke Douma yang terus membakar lawan-lawannya di atas langit.


Tidak peduli manusia elang terbang dengan kecepatan yang tinggi di udara, mereka semua tetap mati oleh burung api tersebut.


Dalam hitungan menit pasukan manusia elang yang memenuhi udara telah lenyap seluruhnya, api hijau Douma begitu mengerikan sampai manusia elang yang terkena apinya tidak sempat mengembuskan nafas sebelum tiba-tiba ia menghilang menjadi debu.


Setelah semua pasukan manusia elang sudah dihabisi olehnya, Douma segera mengincar pasukan manusia binatang yang ada di darat.


Tidak hanya pasukan dari ras manusia binatang saja melainkan prajurit dari Kekaisaran Matahari juga ikut diincar olehnya.


Kekuatan yang ditunjukkan Douma membuat semua yang melihatnya menatapnya ngeri termasuk di pihak petugas akademi. Membutuhkan beberapa waktu untuk mereka menyadari incaran Douma adalah pasukan musuhnya.


Douma tampak tidak peduli dengan bangunan hancur yang dilewati tubuh besarnya, Burung Phoenix itu segera menyemburkan api kembali, membakar tanah serta pasukan manusia binatang.


"Kalian semua pergi ke aula akademi, Ketua Xiong sudah memberi instruksi agar para murid dan petugas segera berkumpul di sana!" Seru Tetua Ling dengan lantang.


Hanya para Tetua saja yang mengetahui rahasia keberadaan Douma di akademi, mereka sudah mengetahui kekuatan Douma dan mereka yakin, Akademi ini kemungkinan akan hancur oleh kekuatan Burung Phoenix tersebut.


Bunyi Lonceng dibunyikan di atas menara, para petugas maupun murid akademi tidak mempunyai waktu melihat aksi Douma, mereka dengan cepat-cepat pergi ke tempat yang lebih aman.


Disisi yang lain, pasukan ras manusia binatang dan prajurit Kekaisaran Matahari sudah tidak memperdulikan lagi penyerang ini, yang dipikirkan otak mereka sekarang adalah lari secepat yang mereka bisa.


Melihat rekan-rekan mereka mati tanpa perlawanan membuat pasukan lawan jadi begitu ketakutan.


Mereka mencoba kabur namun usaha mereka terasa sia-sia karena Douma bergerak di udara, manusia elang yang terbang saja bisa dengan mudah dikejar oleh Burung Phoenix itu apalagi mereka yang ada di darat.


"Kalian ingin kabur, jangan bermimpi!" Douma mendengus kesal, mulai meningkatkan serangan apinya ke tingkat yang lebih besar lagi.


Jiwa-jiwa yang terbunuh oleh api hijau Douma mulai berkumpul dan diserap oleh Burung Phoenix tersebut, hal itu sedikit demi sedikit membuatnya jadi lebih kuat lagi.


Douma memang sudah memiliki kekuatan yang tinggi sekarang namun itu belum mencapai kekuatan maksimal dirinya.


Selain tidak bisa kemana-mana karena segel yang mengurungnya, kekuatan Douma juga telah di segel ke tahap tertentu. Douma mengambil jiwa yang dibunuhnya untuk memulihkan kekuatannya seperti dahulu.


Dengan cepat arus pertempuran berubah, jika awalnya pasukan ras binatang diposisi yang menguntungkan kini situasi terbalik dengan mereka yang dikejar-kejar.


Pasukan ras manusia binatang dan prajurit Kekaisaran Matahari mulai berlarian meninggalkan Akademi. Dalam waktu singkat, semua pasukan musuh sudah meninggalkan area pertempuran.


Douma memang cepat menghabisi lawan-lawannya namun karena jumlah mereka yang sangat banyak sehingga ia tak bisa membunuh seluruhnya.


Douma tidak mengejar mereka lebih jauh saat dirasa kekuatan yang dikumpulkannya merasa cukup.


"Aku hanya berjanji untuk membantu menyelamatkan akademi, urusan mereka masih hidup bukanlah urusanku..." Douma melihat pasukan musuh yang mulai pergi, setelahnya dia mengepakkan sayapnya dan mulai terbang ke atas langit yang tinggi.


Tidak lama kemudian Douma sudah tidak terlihat lagi, Burung Phoenix itu meninggalkan pegunungan Akademi secepat kecepatan cahaya.


***


Di saat awal kemunculan Douma, lima pemimpin regu dan Liu Zhangyang sudah menyadari lebih awal dibandingkan pasukannya.


Mereka tentu terkejut dengan kemunculan Burung Phoenix itu apalagi tampak terlihat Douma berada di pihak akademi.


"Akademi ternyata memelihara monster seperti ini, aku tidak menyangka?!"


Lizi Ao sampai tertegun melihat burung api itu terutama kekuatan yang ditunjukkannya, melihat pasukannya mati dengan waktu singkat membuatnya menyadari bahwa mereka bukan lawan burung api itu.


"Kenapa terdiam? Kalau kau ingin melanjutkan pertarungan ini aku masih bisa meladeni kalian sampai akhir!" Guan Ning berusaha tersenyum meski saat ini luka-luka memenuhi tubuhnya.


Guan Ning juga ikut terkejut dengan kemunculan Douma namun perhatiannya tetap tertuju pada dua lawannya. Melawan dua pemimpin regu secara bersamaan membuatnya diposisi yang kurang diuntungkan terutama setelah mengalami luka.


Lizi Ao menatap Guan Ning dengan dingin sebelum mengajak Shang Hai di sampingnya untuk pergi meninggalkan akademi.


Lizi Ao tidak memiliki cara untuk mengatasi Burung Phoenix tersebut, ia yakin jika pertarungan dilanjutkan dirinya bisa menjadi incaran burung api tersebut. Lizi Ao tidak mau mengambil resiko lebih jauh, ia dan Shang Hai kemudian pergi meninggalkan Guan Ning sendiri.


Guan Ning menghela nafas setelah melihat kepergian dua lawannya, andai pertarungan terus berlanjut maka ia bisa terluka lebih dari ini.


Guan Ning lalu duduk bersila sebelum menghentikan pendarahan luka-lukanya dengan tenaga dalam. Dia melihat sekitar, usai Lizi Ao dan Shang Hai pergi, dua pemimpin regu yang lain juga ikutan pergi termasuk Liu Zhangyang.


"Kau sadar bukan setelah apa yang kau lakukan disini, Kekaisaran Matahari akan menjadi musuh bagi tiga Kekaisaran?!" Qiusui memberikan pernyataan.


"Tidak perlu mengingatkanku, sejak awal aku sudah mengetahui resiko yang terburuk." Liu Zhangyang tersenyum tipis. "Lagipula aku tidak berencana damai dengan kalian, aku menginginkan perang dan wilayah."


Liu Zhangyang bersama pemimpin regu gamma, Hua Sha, sudah berhenti bertarung dengan Qiusui sejak kemunculan Douma.


Liu Zhangyang jelas tidak puas akan berakhir seperti ini meski tidak mengungkapnya secara langsung, dia yakin bisa menghabisi Kaisar Bintang itu jika diberi waktu yang cukup namun kedatangan Burung Phoenix mengganggu rencananya.


Hua Sha disampingnya juga beranggapan serupa, andai mereka melanjutkan pertarungan akan membutuhkan waktu lama untuk melukai apalagi membunuh Qiusui.


"Kita akan bertemu lagi, mulai saat ini Kekaisaran Matahari akan menyatakan perang pada ketiga Kekaisaran, sebaiknya kalian bersiap untuk seranganku selanjutnya..." Liu Zhangyang tertawa sebelum menyarungkan pedangnya dan berbalik.


"Kupikir kau akan kecewa karena rencanami sekarang gagal." Qiusui tersenyum sinis.


"Sejak awal aku tidak terlalu berharap penyerangan ini akan berhasil, meski harus kuakui membunuh para kaisar memang bukan hal mudah untuk dilakukan."


Setelah berucap demikian, Liu Zhangyang melangkah pergi disusul Hua Sha setelahnya. Keduanya bergerak meninggal area akademi.